Heru mengajak Ruby ke sebuah ruangan bertuliskan 'Animator Room' yang menempel di pintu. Ruangannya begitu luas. Kehadiran Ruby dan Heru menyita perhatian beberapa karyawan.
"Guys, minta perhatiannya bentar."
Heru bertepuk tangan beberapa kali untuk mendapatkan perhatian seluruh karyawannya.
"Ini Ruby, dia lulusan Seika University Kyoto-Japan. Dan dialah komikus dari The King dan Dewi Sri. Dua komik yang merajai 6 platform komik online satu tahun terakhir ini."
Perkenalan Heru langsung mendapat sahutan dan tepuk tangan dari penghuni ruangan.
"Waaah, keren keren."
"Lulusan animasi Jepang, guys!"
"Akhirnya ketemu komikusnya langsung"
Heru menatap Ruby, "sebagian dari kami pengikut komikmu."
Ruby tersipu malu, padahal selama ini dia tidak ingin mengekspos dirinya.
"Kita disini kerja santai aja. Kamu mau berangkat atau pulang jam berapa terserah kamu, kamu yang bisa atur sendiri. Tapi aku gak suka kalau karyawanku kerja lebih dari delapan jam, mengulur-ngulur waktu hingga deadline pekerjaan berantakan. Oke."
Ruby mengangguk, "Baik, Pak."
Heru mengajak Ruby pergi ke meja kerjanya, "Ini meja kerjamu. Semua yang kamu butuhkan ada disini."
"Ris! Sini Ris!"
Pria tinggi bertubuh kurus dengan rambut gondrong menghampiri Heru, "kenapa bos?"
"Ini Aris, ketua tim disini. Dia nanti yang akan menjelaskan padamu proyek apa yang akan kita kerjakan."
"Hai!" Aris melambaikan tangan malas menyapa Ruby.
Ruby hanya mengangguk dan tersenyum.
"Dia memang gitu, paling males kalau disuruh ngomong. Tapi paling jago kalau sudah gambar."
"Udah belom nih bos? Kerjaan gue gak kelar-kelar ntar," tanya Aris
"Lo kan gue suruh jelasin ke Ruby, Ris."
Aris menggaruk rambut gondrongnya. "Irma, Sini Ma." Aris memanggil seorang wanita berkerudung.
"Kenapa, Bang?" tanya Irma
"Lo jelasin ke dia tentang proyek kita, ya?" pinta Aris, "gue ngelanjutin kerjaan gue dulu bos." Aris menepuk bahu Heru lalu pergi.
Heru hanya menghela nafas. "Ya sudah, kamu jelasin ke Ruby ya. Aku pergi dulu."
"Baik, Pak." Jawab Irma
"Terimakasih, pak Heru." Ucap Ruby, mendapat anggukan dan senyuman dari Heru.
"Aku Irma." Irma mengulurkan tangan
Rubu menyambut tangan Irma, "Ruby, Mbak."
"Gue suka banget tau sama komik lo, apalagi The King! Aduuuh, karakternya bikin klepek-klepek."
"Makasih, mbak."
"Panggil Irma aja, kita seumuran kayanya." Kata Irma, "Lo gak niatan bikin season keduanya? Aduh, gur ngarep banget itu komik di jadiin drama. Pasti keren banget."
"Ma! Bahas kerjaan Ma!"
Teriakan Aris dari mejanya membuat Irma terdiam. "Iya, Bang." Sahut Irma.
Ia menekan tombol power untuk menghidupkan komputer dan tablet besar yang ada diatas meja kerja Ruby.
"Kerja disini asyik kok, By. Yang penting tanggung jawab ma kerjaan kamu. Semua disini kaya keluarga, pasti lo bakal betah."
Ruby hanya mengangguk-angguk saja.
Irma menjelaskan segala sesuatu mulai dari A sampai Z, mulai dari Ruby datang sampai jam makan siang. Entah Ruby harus bersyukur atau tidak mendengar semua penjelasan Irma yang sangat detail.
Ingin bersyukur tapi telinganya lelah, tidak bersyukur tapi ucapan Irma termasuk hal-hal yang penting.
"Udah, jangan bacot mulu!" Seorang wanita berambut panjang dan sexy menutup mulut Irma.
"Mbak Tasya! Gue lagi jelasin hal penting nih ke Ruby." Irma memprotes perlakuan temannya.
"Gue yang jauh disana aja capek dengerin lo ngomong, apalagi dia.?" kata Tasya. "Lagian lo gak mau makan siang?"
Irma berdiri, "Hah! Udah jam makan siang nih, Mbak?"
Tasya mengacuhkan Irma, "Gue, Tasya." Ia mengulurkan tangan pada Ruby.
Ruby menyambut tangan Tasya, "Ruby."
"Pergi makan, yuk." Ajak Tasya
"Iya, Mbak." Ruby berdiri.
Tasya menarik tangan Ruby dan Irma lalu keluar menuju ke dapur lantai tiga, dimana karyawan lantai tiga mengambil jatah kotak makan siang disana.
"By, Ambil jatah makan siangku aja." Tiba-tiba Heru keluar dari ruangannya dan memberi tahu Ruby.
"Tapi, Pak Heru makan siang pakai apa?" Tanya Ruby
"Aku ada jadwal makan siang diluar, jadi buat kamu saja."
Belum sempat Ruby menjawab terimakasih, Heru sudah masuk ke dalam ruangannya lagi.
"Pak Heru baik kan orangnya." Irma membanggakan bosnya.
"Percuma dah kawin, gak bisa dideketin." Sahut Tasya.
*********
Ruby tidak menyangka jam pulang kantor membuat perjalanan pulangnya lebih lama tiga kali lipat dari dari perjalanan berangkatnya tadi. Antrian di koridor busway mengular panjang, membuatnya berdiri lebih lama.
Sampai di rumah kyai Nur membuatnya langsung mandi dan sholat Maghrib sendirian. Nyai Fatimah dan Azizah ikut Kyai Nur Sholat di Masjid sekaligus mengikuti pengajian umum disana.
Setelah makan malam sendiri, Ruby segera menelpon Umminya memberi kabar jika dia sudah diterima bekerja di perusahaan Heru. Abi dan Umminya berharap Ruby bisa bekerja dengan baik sampai Iqbal kembali ke Indonesia.
Usai telpon, Ruby berencana untuk tidur karena ia merasa lelah sekali sudah berdiri lama tadi. Namun ia batalkan karena ponselnya berdering.
Ia memastikan ulang jika itu panggilan telpon, bukan nada dering pesan. Betapa terkejutnya Ruby mengetahui Iqbal sedang menelponnya.
Berulang kali Ruby berdehem mengatur suara.
"Assalamu'alaikum, Mas Iqbal?" Sapa setelah menekan tombol terima.
"Wa'alaikumsalam, Ruby. Apa kamu keberatan jika aku menelponmu?"
"Tidak, Mas. Justru aku senang bisa mendengar suaramu, walau sebenarnya aku gugup." Ucap Ruby jujur.
"Hahaha, kamu jujur sekali, Ruby."
Ruby merasa menyesal sudah terlalu jujur.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja?"
"Aku senang. Mereka semua memperlakukanku dengan baik." Jawab Ruby.
"Gedung tempatmu bekerja sangat unik, cocok untukmu yang juga unik."
"Bagaimana mas tahu?"
"Kamu mengunggahnya di instagram kan pagi ini."
"Ah iya, Benar." Ruby teringat, "Apa yang mas lakukan hari ini?"
"Aku sedang didalam bis."
"Apa mas akan melakukan perjalan jauh?" Tanya Ruby
"Lumayan."
"Kemana?" Tanya Ruby lagi "Jika mas tidak keberatan menjawabnya." Ruby sadar rasa penasarannya sudah membuatnya terlalu banyak bertanya.
Ruby hanya mendengarkan tawa dari Iqbal.
"Maafkan aku terlalu ikut campur, mas." Kata Ruby menyesal.
"Tidak Ruby, kamu tidak terlalu ikut campur. Kau juga akan segera tahu nanti." Ujar Iqbal tak mau Ruby salah paham.
"Oya? Bagaimana aku bisa tahu?"
"Bukankah kamu selalu melihat feed instagramku?"
Ruby menutup mukanya karena malu, "Bagaimana mas bisa tahu?"
"Hahaha, aku hanya menebaknya dan ternyata benar."
Ruby semakin malu mendengar jawaban Iqbal.
"Aku tutup telponnya, By. Aku sudah harus turun."
"Iya, Mas."
"Assalamu'alaikum, By."
"Wa'alaikumsalam, Mas Iqbal."
Ruby langsung membenamkan wajahnya di bantal karena merasa malu. Itulah alasan kenapa Ruby lebih suka chat daripada telpon. Ia merasa tidak terlalu pandai dalam bicara, lebih baik chat karena ia bisa berfikir lebih lama sebelum ia membalas.
**********
Berulang kali ponsel Ruby bergetar namun selalu Ruby abaikan, karena ia tak suka diganggu saat tangan dan otaknya sedang bekerja.
Akhirnya Ruby menyerah karena getaran itu sangat mengganggu. Ia membuka ponselnya, sudah lima belas panggilan tak terjawab dan lima pesan baru.
/By, Cek IG mas Iqbal Sekarang!/
Pesan singkat dari Nara membuat Ruby harus melepaskan telapak tangannya dari mousenya.
Segera Ruby membuka Instagramnya dan postingan pertama kali yang dilihat saat itu adalah seorang pria yang berfoto membelakangi kamera menghadap gedung Inwork Studio. Sangking terkejutnya Ruby hampir saja menjatuhkan ponselnya.
"Lima belas menit yang lalu?" gumam Ruby.
Ia memilih untuk mengirim foto instagram tersebut pada Iqbal.
/Apa ini benar mas Iqbal?/
/Akhirnya kamu melihatnya juga./
Ruby benar-benar terkejut melihat jawaban Iqbal. Benarkah Iqbal telah pulang ke Indonesia?
Ruby berdiri dan menghampiri meja kerja Aris.
"Bang, Aris."
"Hmm"
"Boleh saya pergi keluar sebentar? Ada orang yang sedang menunggu saya."
"Yaaaa" Jawab Aris tak peduli.
"Terimakasih, Bang." Ucap Ruby lalu meninggalkan ruangan.
Ruby sedang bingung saat ini, apakah ia harus senang atau sedih?
Ia senang karena bisa bertemu dengan orang yang selama ini ia rindukan, tetapi ia juga sedih jika harus kehilangan pekerjaan yang baru sehari ia jalani.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
/Hayo dukung author dengan selalu like, komen dan vote author yaaa/
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Hearty 💕
Iya ya katanya tunggu kurleb 5 bulan lagi
2024-02-14
1
Etih Istikomah
hah .. baru juga sehari 🙈
2023-11-28
0
Nia Sunsta
it's me
2023-09-07
2