"Permisi."
Ruby memasuki ruang casting di antar salah satu sekretaris Rika. Ada empat meja persegi panjang yang tertata membentuk huruf U dengan kursi-kursi berjajar rapi di balik meja tersebut. Sebuah papan nama kecil di atas meja berjajar rapi selaras dengan kursi. Ia mendapat tempat duduk di antara Harjito yang menyutradarai serial drama ini dan Rika sebagai casting director.
Ruby menyapa satu per satu jajaran orang-orang penting yang sudah duduk terlebih dulu. Rasa gugup Ruby sedikit memudar ketika mereka menyambut hangat kedatangannya. Ini adalah casting terakhir, setelah beberapa minggu tim produksi melakukan casting pada beberapa aktor dan aktris. Sekarang mereka mengumpulkan tiga orang yang memiliki kemampuan terbaik dalam memerankan masing-masing karakter komik The King.
Satu per satu aktor dan aktris yang terpilih masuk ke dalam ruangan didampingi masing-masing manajer. Ruby melihat satu sosok pria yang membuatnya terheran karena ikut dalam casting itu. Ya, itu Hiko. Namun ia merasa aneh dengan sikap pria tersebut, sangat berbeda dengan sosok yang ia temui sebelumnya. Di sini, Hiko terlihat sangat ramah dengan bibir yang selalu mengulas senyum.
Ruby segera menundukkan pandangannya ketika mata mereka saling bertemu, ia sangat malas sekali jika harus menyapa pria itu.
Setelah semua kursi yang disediakan terisi, salah seorang kru yang menjadi moderator membuka acara dan mulai menyebut nama aktor atau aktris yang akan memulai beracting sesuai dengan skrip yang telah diberikan.
Ruby benar-benar dibuat kagum dengan setiap penampilan singkat aktor dan aktris di hadapannya tersebut. Terutama Hiko, di balik rasa sebalnya pada pria itu tidak membuat Ruby malu mengakui kepiawaian Hiko dalam beracting.
"Sepertinya kamu sudah menemukan leadactor-nya." Bisik Ruby ketika melihat Ruby menuliskan angka yang cukup tinggi di kolom nilai milik Hiko.
Wanita berkerudung itu tersenyum kecil, "Dia cukup pandai memerankan Sadana -tokoh utama The King- Bu."
"Ya, Aku sependapat denganmu." Rika memberikan nilai cukup tinggi juga untuk Hiko.
Mereka pun kembali fokus pada penampilan peserta casting hingga melewatkan jam makan siang. Satu per satu aktor dan aktris sudah selesai menunjukkan penampilan terbaik mereka. Kini waktunya mereka istirahat sambil menunggu pengumuman dari tim produksi.
Di antara diskusi penting itu, Ruby meminta ijin meninggalkan ruangan karena ia harus melaksanakan kewajibannya. Wanita tersebut bergegas keluar ruangan, dan ketika melihat pintu lift masih terbuka, Ruby segera berlari menyelinap masuk ke dalam.
"Terimakasih," ucapnya pada seseorang yang sudah mau menahan pintu lift untuknya.
"Sama-sama," ucapnya ramah
Ruby melihat Hiko dan Genta disana, juga ada beberapa aktris lain dan manajernya. Ruby mengangguk ramah pada mereka, namun bersikap tak acuh pada Hiko.
"Mbak yang bikin The King kan?" Genta memecah kesunyian ketika pintu lift tertutup. Pertanyaan yang juga mewakili orang-orang di belakang Ruby.
"Iya, Mas. Betul."
"Saya udah baca lebih dari lima kali sejak tamat. Bagus banget ceritanya," ucap Genta semangat, "dulu ngarep juga bisa dijadikan film atau drama, Alhamdullillah sekarang keturutan. Saya suka komen loh, Tapi gak pernah dibales sama Mbaknya."
Ruby tertawa kecil mendengar celotehan pria berkacamata di sampingnya itu. "Makasih sudah suka karya saya, Mas. Maaf juga karena saya gak sempat balas komentar readers."
"Dimaafin kok, Mbak," jawab Genta cepat. "Mbak mau kemana?"
"Sholat Ashar, Mas."
"Butuh imam? Saya siap kok jadi imam, Mbak."
Ruby terkejut mendengar kalimat Genta, hal itu membuat beberapa orang di belakangnya tertawa kecil.
"Bisa aja nyari kesempatan," sahut seseorang di belakang Ruby.
"Imam Sholat ini maksudnya," ralat Genta. "Kalo mau jadi Imam keluarga juga siap sih, Mbak."
Ruby tak menanggapi celotehan Genta karena pintu lift sudah terbuka di lantai satu. Ia berpamitan terlebih dulu kemudian keluar menuju ke bagian samping gedung di mana mushola milik Star House berdiri.
Tak lama Ruby sudah menyelesaikan sholatnya, ia bergegas ke teras untuk memakai sneakers-nya. Sampai kedatangan Hiko yang berjalan kearahnya membuat Ruby terkejut.
Ruby melihat di sekitar teras, tak ada orang selain dia. Mau apa lagi dia? batin Ruby
"Gue mau lo gak lolosin casting gue," pinta Hiko
"Kenapa minta itu pada saya?"
Hiko menatap Ruby tajam, ia mendekatkan diri pada Ruby hingga wanita itu mundur selangkah. "Gue ... mau ... lo ... jangan ... lolosin casting gue!" Hiko mengeja permintaannya.
"Tapi bukan saya yang bisa menentukan hal seperti itu. Mas bisa minta tolong ke Bu Rika."
"Lo tinggal bilang aja gue gak cocok dengan karakter Sadana. Beres!"
"Tapi menurut saya, Mas cocok dengan karakter itu," sahut Ruby, "sama sama sombong." gumamnya.
"Hah?" Hiko memperjelas.
"Maaf, saya harus segera kembali."
Ruby beranjak meninggalkan Hiko tapi pria itu menarik tangannya.
"Lepas!" Ruby menarik kasar tangannya. "Kenapa mas menyentuh saya tanpa ijin?" bentak Ruby
"Salah lo sendiri gue belum selesai ngomong udah lo tinggal."
"Mas bisa panggil saya tanpa harus menyentuh saya!"
Ia sudah tak berniat lagi bicara dengan Hiko, ia kembali ke teras mushola dan masuk ke dalam tempat wudhu untuk kembali mensucikan dirinya. Sudah hal biasa bagi Ruby untuk selalu menjaga diri dalam keadaan suci.
Melihat itu membuat Hiko menjadi kesal. Ia kembali ke loby gedung Star House, menemui Genta yang menunggunya disana. Ia duduk dengan kesal di samping pria kurus berkaca mata itu.
"Kenapa lagi? Siapa lagi sekarang yang berani bikin lo badmood?" Genta sudah bisa menebak dari mimik wajah Hiko yang kesal.
"Abis ketemu cewek sok suci, cuma pegang tangan aja udah marah kaya gue ambil keperawanan dia aja!" Gerutu Hiko
"Siapa? Dimana?" Genta menegakkan duduknya menatap Hiko antusias.
"Kenapa? Mau lo kawinin?"
"Ya iyalah! Ada cewek yang lo pegang malah marah, jelas banget itu cewek baik-baik yang bisa diperjuangin."
Hiko menatap sinis manajernya yang mungkin dalam seumur hidup belum pernah merasakan punya pacar.
"Noh!" Hiko menunjuk gadis cantik yang memakai gamis strip abu-abu dan hijab biru dongker yang menjuntai menutup bagian dada sampai perutnya.
"Wah, kalau yang itu memang beda, Ko. Gue aja yakin lo goda dia kaya apa juga gak bakal mau sama lo." Mata Genta tak henti mengikuti langkah kaki wanita tersebut.
"Siapa juga yang mau sama model begituan."
Hiko mengeluarkan ponselnya dan membuka akun instagramnya. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat beberapa foto wanita wanita cantik yang terpampang di beranda IG-nya.
Selama ini, gak ada satu pun cewek yang nolak ketika gue sentuh mereka. Dan dia, yang gak sengaja gue sentuh malah marah-marah bentak gue? Anjng, sok suci banget tuh cewek! Bikin makin muak gue lihat dia!*
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan lupa selalu tinggalkan like dan comment kalian ya. Terimakasih sudah membaca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Moch Firman
sekarang aja kamu muak ya mas Hiko tunggu tanggal mainnya kamu akan bucin sama Rubby
2024-11-02
0
Erna Yunita
Anda benar mas genta.... coba si hiko diceramahi
2024-09-04
0
Abie Mas
eh ntar jadi istrinya kualat si hiko
2024-05-24
0