"Ruby!"
Langkah Ruby terhenti tepat sebelum ia melewati pintu utama gedung Inwork Studio. Ia mencari suara yang sangat ia kenal dan matanya terhenti di sosok pria tinggi berwajah teduh. Ia berjalan menghampiri Ruby.
Ruby masih mematung, ia benar-benar tidak menyangka orang yang selalu ia rindukan sedang berdiri didepannya.
"Kamu menghalangi jalan orang, By." Iqbal mengingatkan Ruby.
Ruby segera menggeser badannya menjauh dari pintu.
"Kita kesana saja." Iqbal mengajak Ruby untuk duduk di sofa yang disedikan untuk beberapa orang yang sedang menunggu di lobby.
Ruby mengikuti dibelakang Iqbal dan duduk memberi jarak disamping Iqbal.
"Kenapa mas tiba-tiba bisa sampai disini?" Tanya Ruby.
"Kamu tidak suka aku disini?" Iqbal balik tanya.
Ruby menggeleng cepat, "Tidak mas, tentu aku sangat senang lihat kamu disini."
Iqbal tersenyum, "Aku hanya ingin menemui mu sebentar. Setelah ini aku harus pergi ke Surabaya, Mas Hafidz menikah besok."
"Oya? Apa mas akan lama?" Tanya Ruby
Iqbal menggeleng, "Aku hanya empat hari disini."
Ada perasaan sedih dan juga lega di hati Ruby.
Iqbal mengambil sesuatu dari dalam koper kecilnya. "Aku membelikanmu sesuatu, semoga kamu suka." Ia memberikan kotak kecil berbungkus kertas hitam.
"Terimakasih, Mas." Ruby menerimanya.
"Aku tahu seharusnya tidak melakukan ini. Bertemu denganmu memang membuat rinduku hilang, namun itu hanya sementara. Setelah ini mungkin rindu ini akan membuat tidurku semakin tidak nyenyak."
Ruby tersenyum, "Tapi aku senang, setidaknya aku bisa melihat mas Iqbal walau sebentar. Urusan rindu biarkan hati yang mengatasi."
"Aku pergi dulu ya, By." pamit Iqbal.
"Secepat ini mas?" tanya Ruby.
Iqbal mengangguk, "Aku tidak ingin jadi alasan kamu dimarahi oleh atasanmu."
"Ah, Iya." Ruby baru teringat jika ia telah bekerja.
Iqbal berdiri dan menarik tuas kopernya membuat Ruby ikut berdiri.
"Tidak usah mengantarku, By. Kembali saja ke ruanganmu." Kata Iqbal
Ruby mengangguk, "Terimakasih sudah menyempatkan diri bertemu Ruby, Mas. Dan juga ini." Ruby mengangkat kotak kecil dari Iqbal.
Iqbal mengangguk, "Sampai jumpa di pernikahan kita, By." Ucap Iqbal
Ruby tersenyum malu, "Iya mas."
"Assalamu'alaikum. Jaga kesehatanmu, By."
"Wa'alaikumsalam, Mas."
Iqbal beranjak pergi dengan menyeret kopernya, Ruby masih belum beranjak. Ia masih ingin memuaskan diri memandangi punggung Iqbal, mencoba untuk menahan rindunya yang akan segera hadir ketika Iqbal menghilang dari pandangannya.
"By! Ngapain disini?"
Suara Tasya menyadarkan Ruby tepat setelah punggung Iqbal menghilang di balik pintu utama kantor.
"Eh, Mbak Tasya. Itu habis ada teman mampir kesini." Jawab Ruby.
Tasya melihat Iqbal dari balik kaca cendela lobby. "Cowok Lo?"
"Calon suami, mbak." jawab Ruby
"Oya? Lo mau kawin?" Tasya terkejut, melihat Ruby masih lebih muda darinya.
Ruby tersenyum, ia mulai melangkah menuju lift bersama Tasya.
"Saya masih di khitbah, mbak. Karena calon suami saya masih meneruskan studi s2-nya di Yaman."
Tasya mulai tertarik dengan kehidupan Ruby, Ruby menjawab semua pertanyaan yang diajukan Tasya padanya sepanjang dari lantai satu hingga sampai ke ruangannya.
**********
"Hah! jadi lo anak pak Kyai, By!"
Teriakan Irma membuat Ruby menundukkan kepalanya, beruntung kali ini mereka sedang makan di taman atap kantor yang siang itu tak terlalu banyak pegawai yang makan disana.
"Kok bisa?" Irma masih keheranan.
"Iya, otak gue sedari tadi mikir itu juga lho!" tambah Tasya.
Ruby keheranan, "Kok bisa apanya mbak?"
"By, yang gue tahu Biasanya anak pak kyai itu gak boleh keluar rumah, dirumah, ngajar ngaji di pesantren, trus nikah. Lha ini? Lo lulusan seika university loh! biasanya kan mereka kuliah di universitas islam." Tegas Tasya
Ruby terkekeh, "Iya juga ya, Mbak?"
Jawaban Ruby membuat Tasya dan Irma semakin keheranan.
"Orang tua lo ngebolehin?" Tanya Irma
Ruby mengangguk, "Iyalah, Mbak. Buktinya aku sampai lulus dan sekarang kerja disini."
"Ternyata kehidupan anak kyai yang gue duga selama ini salah. Gue kira persis sama yang dibilang mbak Tasya tadi." Irma masih berfikir keras.
"Ya emang rata-rata gitu sih, Ma. Cuma kebetulan Abiku memang ngebolehin aku kuliah sesuai dengan minatku mbak. Dengan syarat pengetahuan dunia dan akhiratnya harus imbang." Jelas Ruby.
"Trus, lo disini tinggal dimana?" Tanya Irma.
"Di rumah paklek saya, Ma."
"Oh, punya saudara lo disini? Kirain ngekost. Hahaha."
"Trus, di jepang tinggal sama siapa?" Tanya Tasya "Kan Jepang dipikiran gue agak-agak gimana gitu ya?"
"Ada saudara juga mbak disana." Ruby terkikih kecil, "Padahal mereka gak seperti yang kita pikirin. Disana godain cewek yang gak dikenal, ceweknya gak diterima bisa dituntut hukum loh. Jadi jarang banget ada cowok godain cewek. Andaikan mau kenalan pun juga harus dengan cara yang baik."
"Eh, keren banget ya. Andai disini juga bisa. ada cowok siul-siul genit, masukin ke penjara." kata Irma gemas.
"Lo ternyata disini?" Tiba-tiba Aris datang menghampiri
"Kenapa, Bang?" Tanya Ruby.
"Lo dipanggil Bos Heru tuh! Penting." Kata Aris lalu menghampiri beberapa temannya yang juga makan siang di atap.
"Aduh, kenapa ya?" Tanya Ruby takut.
"Paling tanda tangan kontrak, By." Jawab Tasya
Ruby berdiri, "Aku tinggal dulu ya, mbak, Ma."
"Iya, By."
Ruby pergi dengan membawa luch boxnya untuk sekalian ia letakkan di dapur lantai tiga, lalu ia pergi ke ruangan Heru.
"Langsung masuk aja, mbak. Udah ditunggu pak Heru." Kata Lena ketika Ruby sampai didepannya.
Ruby tersenyum lalu mengetuk pintu ruangan Heru.
"Ya, Masuk."
Ruby membuka pintu ruangan heru. Ada Heru, Dua orang pria yang terlihat seumuran dengan Heru dan seorang wanita paruh baya.
"Eh, masuk By. Duduk duduk." Kata Heru.
Ruby menyapa dua tamu pria Heru dengan senyuman dan duduk disamping tamu wanita Heru.
"Ruby," Ruby bersalaman memperkenalkan diri.
"Bu Rika." Wanita itu menjabat tangan Ruby
"By, Bu Rika dan teman-temannya ini dari rumah produksi. Mereka ingin membua komikmu menjadi serial drama."
"Apa pak?" Ruby tidak ingin salah dengar dengan pernyataan Heru. "Saya gak salah dengar, pak?"
"Enggak Ruby." Rika meyakinkan Ruby, "Pasti banyak sekali rumah produksi yang mau menjadikan komikmu menjadi serial drama. Karena kami beruntung bisa menemukan pembuat komik itu, jadi kami buru-buru kesini menemui kamu."
"Ya Allah, Beneran ini?"
Semua mengangguk
"Kamu bersedia?" Tanya Rika
Ruby mengangguk
Sekretaris Rika memberikan beberapa map kepada Rika.
"Ini adalah kontrak yang telah kami buat. Bacalah terlebih dahulu dan jika ada sesuatu yang kamu tanyakan, hubungi saja nomer yang ada di kartu nama ini." Rika memberikan satu map pada Ruby.
Ruby menerima map tersebut. "Baik, akan saya baca terlebih dahulu."
"Apa kamu keberatan jika kami yang memilih pemeran dalam drama ini?" Tanya Rika.
Ruby berfikir sejenak, "Saya tidak terlalu mengenal artia indonesia, Bu. Saya serahkan saja pada anda."
Rika mengangguk, "Oke kalau begitu. Saya berharap kamu akan menyetujui kontraknya."
"InshaaAllah, Bu."
Rika dan dua orang sekretarisnya berdiri.
"Pak Heru, terimakasih sekali anda mau membagi kabar gembira ini pada kami." Rika mengulurkan tangan pada Heru.
Heru menyambut tangan Rika, "Sama-sama Bu Rika, Semoga kita bisa terus bekerjasama dengan baik."
"Ruby, Saya pamit dulu. Jika kamu sudah membaca kontraknya segera hubungi kami." Kata Rika
"Baik, Bu."
"Selamat siang." Pamit Rika keluar ruangan Heru diikuti dua sekretarisnya.
"Hati-hati di jalan, bu Rika." Ucap Heru mengantar Rika hingga depan ruangannya.
Heru kembali masuk ke dalam dan duduk di sofa.
"Terimakasih sekali pak Heru membantu mempromosikan komik saya." Ucap Ruby.
Heru tersenyum, "Sudah banyak sekali yang mengincar komik kamu itu, By. Tapi mereka tidak punya akses karena kamu terlalu menutup diri. Maaf ya kalau aku tiba-tiba kasih tahu bu Rika tentang kamu. Karena aku yakin di tangan StarHouse punya bu Rika, Komik kamu akan jadi Drama paling populer."
Ruby hanya mengangguk-angguk senang.
"Kamu baca dulu aja kontraknya baik-baik, semoga kamu setuju."
"Baik, Pak. Sekali lagi terimakasih." Ruby berdiri dan meninggalkan ruangan Heru.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
/Jangan lupa dukung author dengan selalu Like, Coment, Vote dan Bintang lima/
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Wayan Raningsih
Nanti Hiko ya artis yg di pilih sama Bu Rika buat meranin tokoh utama dalam dramanya
2023-08-28
2
Wayan Raningsih
Manis banget sih mas...😍
2023-08-28
0
JunielVeloka
Apakah Hiko yang bakal jadi pemerannya🤔
2023-05-15
0