Sejak tiba di rumah kyai Nur, ia sudah menceritakan kabar gembiranya pada orang-orang terdekatnya. Abi dan Umminya, Kyai Nur sekeluarga, Iqbal dan Nara.
Usai ia memberi kabar orang terpenting dalam hidupnya, ia memutuskan untuk membaca isi kontrak dan mempelajarinya. Tetapi, ia tidak bisa berkonsentrasi membaca kontrak itu karena terlalu senang.
Ruby kembali ke tempat tidur dan merebahkan diri. Ia melanjutkan Chatnya dengan Nara yang sempat ia tunda karena ingin segera membaca isi kontraknya.
/Besok aku libur, By. Kamu main aja kerumahku. Sekalian biar kamu tahu rumahku./
"Benar juga, mending besok aku kesana." Gumam Ruby.
/Oke deh, Ra. Besok pagi aku kesana/ Balas Ruby.
Ruby meletakkan ponselnya dan mematikan lampu kamar untuk segera tidur. Ia sudah tak sabar membahas kontraknya dengan Nara.
**********
Pagi ini Ruby dan Azizah baru saja mengikuti pengajian umum di pesantren putri Darul Hikmah yang memang diadakan setiap hari minggu. Ruby bergegas membantu Nyai Fatimah untuk membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan.
"Paklek, Bulek. Ruby minta ijin habis ini ke rumah Nara, ya?" Ijin Ruby saat baru menyelesaikan sarapan paginya bersama keluarga kyai Nur.
"Nara? Sahabatmu yang di Malang itu bukan?" Tanya kyai Nur.
Ruby mengangguk, "Iya, Paklek."
"Iya. Pergi saja." Kyai Nur memberi ijin.
"Ehsan antar ya, mbak?"
"Boleh, San. Kalau kamu gak repot." Ruby menerima tawaran Ehsan.
"Enggak, Mbak. Cuma Ehsan gak bisa nungguin ya, mbak." kata Ehsan
"Iya, Ntar mbak bisa minta anter Nara pulangnya."
Ruby membantu Azizah dan Nyai Fatimah membereskan meja makan. Ia ingin membantu mencuci piring, namun sudah ada beberapa santri putri yang melakukannya. Akhirnya ia pergi ke kamar untuk bersiap-siap.
"Pagi, Ra. Dah bangun kan? Aku udah mau otewe nih ke rumah kamu." Sambil memakai tas ranselnya, Ruby melakukan panggilan telpon ke Nara.
"Iya, By. Udah terima telpon kamu berarti aku dah bangun." Sahut Nara, "Udah kamu kesini aja, aku mau mandi dulu."
"Yah...jangan donk, Ra. Aku udah tahu pasti kebiasaan mandi kamu yang lama banget itu belum berubah. Kamu mau bikin aku nunggu lama?"
"Aduh By, Ini rumah ku sendiri. Kamu bisa langsung masuk, aku mandi di kamar. Ntar kamu ketuk pintu kamar mandi deh kalau udah datang, aku bakal cepet-cepet keluar."
"Janji ya? Aku gak mau nungguin kamu lama-lama."
"Udah bawel, cepetan kesini."
"Iya iya, aku berangkat. Daaagh!"
Ruby mengakhiri panggilan telponnya. Ia menatap dirinya dicermin terlebih dahulu, memastikan semuanya rapi dan barulah ia keluar kamar.
Tak lupa ia berpamitan dengan Kyai Nur, Nyai Fatimah dan Azizah. Barulah ia menghampiri Ehsan yanh sudah menunggu di halaman rumah bersama motor maticnya.
"Ke alamat ini, San." Ruby menunjukkan sebuah maps di layar ponselnya.
Ehsan mengamati dengan jelas. "Nanti kalau sudah masuk kompleknya, mbak arahin ya." Ia memberikan helm pada Ruby.
"Siaaap." Ruby memakai Helm yang diberika Ehsan lalu naik ke atas motor. "Sudah, San."
"Oke mbak."
Ehsan mengendarai motornya menyusuri jalanan ibu kota di hari minggu pagi yang lenggang. Sesekali Ruby memberi arahan yang ia dapat dari maps pada Ehsan. Padahal Ehsan tadi berpesan jika sudah masuk komplek saja di beri arahnnya.
Perjalanan dari pesantren Darul Hikmah menuju ke rumah Nara ternyata memakan waktu lebih dari setengah jam. Membuat Ruby jadi segan pada Ehsan.
Akhirnya mereka memasuki sebuah komplek perumahan. Disini Ruby tetap memberi arahan Ehsan hingga berhenti di sebuah rumah khas perumahan. Tidak terlalu besar, hanya memiliki halaman luas tanpa pagar.
"Rumah impian Nara sekali." batin Ruby.
Ruby turun dari motor dan mengembalikan helmnya pada Ehsan.
"Ehsan pulang dulu ya, mbak." pamit Ehsan.
"Makasih ya, San. Hati-hati. "
"Iya, mbak. Sama-sama. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ruby berjalan masuk menuju ke pintu utama, ia bisa mendengar jelas musik yang Nara dengar karena sangking kerasnya.
Ruby teringat jika Nara memang tinggal terpisah dengam suaminya karena beberapa alasan tertentu yang sampai sekarang belum belum Ruby ketahui.
Biasanya di hari weekend Nara menghabiskan waktu bersama Heru, tapi entah kenapa tidak dengan weekend ini.
"Assalamu'alaikum." Ucap Ruby ketika masuk ke dalam rumah.
Tentu saja ia tak akan mendapatkan jawaban dari pemilik rumahnya karena pemiliknya sedang ada dikamar mandi dengan musik sekeras ini.
Ruby terus melangkah masuk menuju ke sumber suara musik yang sudah bisa dipastikan itu adalah kamar Nara.
"Astaqfirullahaladzim!"
Ruby terkejut hingga terjatuh lemas ketika membuka pintu kamar, Ia melihat Nara sedang ditindih seorang pria tanpa mengenakan pakaian. Ia bisa tahu dengan jelas jika itu bukan Heru, melaikankan Hiko!
"Ruby!"
Nara mendorong tubuh Hiko lalu memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.
Ruby sesegera mungkin menundukkan kepalanya dan berusaha untuk berdiri kemudian meninggalkan kamar Nara.
"By! Tunggu!! Jangan pergi, By." Teriak Nara.
Ruby mengacuhkan Nara, ia pergi meninggalkan rumah Nara mungkin. Bukan karena sok suci, hanya saja ia terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat.
"By!"
Nara yang sudah memakai baju mengejar Ruby yang masih di jalan sekitar rumahnya, karena terburu-buru Nara sampai lupa tidak memakai alas kaki.
"By tungguuu!" Nara menarik tangan Ruby.
Ruby melepeskan tangan Nara dari tangannya lalu ia duduk dipinggir jalan.
"Kamu gila, Ra!" Kata Ruby kesal. "Sudah tahu aku mau ke rumah kamu dan kamu malah nyodorin aku hal-hal kaya gitu!"
"Maaf, By. Tadi Hiko tiba-tiba aja datang dan ngajal aku gituan. Jadi aku lupa kalau kamu mau kesini."
Ruby terbelalak mendengar alasan Nara, ia memegang kedua pipi Nara. "Ra! Kamu sadar apa yang kamu lakuin?"
Nara mengangguk.
Ruby bisa melihat jelas tidak ada rasa penyesalan di mata sahabatnya itu. "Kamu sudah cerai dengan mas Heru?" Tanya Ruby.
Nara menggeleng, "Aku gak pernah cinta dia, By. Kamu tahu itu."
"Tapi itu bukan alasan untuk kamu melakukan hal seperti tadi, Ra."
"Kamu gak ada di posisiku, By."
"Apa mas Hiko itu yang menggoda kamu?" Tanya Ruby
Nara menggeleng, "Aku mencintainya, begitu juga dengan dia yang mencintai aku."
"Mas Heru tau?"
Nara menggeleng cepat, "Jangan sampai dia tahu, By. Tolong jangan kasih tahu dia atau dia akan menyakitiku lagi." Ucap Nara ketakutan.
Ruby mengernyit, "Mas Heru nyakitin kamu?"
Nara menunjukkan beberapa lebam di lengannya. "Inilah alasan kenapa aku tidak bisa tinggal serumah dengannya."
"Ya Allah, Nara." Ruby memeluk sahabatnya itu
"Aku gak bisa berbuat apa-apa, By. Dia mengancam kesejahteraan orangtua ku." Nara mulai terisak tak kuat membendung air matanya.
"Apa pendapatanmu menjadi asisten manajer kurang untuk menghidupi papa dan mamamu?" Ruby melepaskan pelukannya dan mengusap air mata Nara.
Nara mengangguk, "Papa terlalu banyak hutan, By. Mama selalu mengambil banyak cicilan. Gajiku tiap bulannya tidak akan cukup untuk membayar itu semua."
"Lalu bagaimana bisa kamu main api seperti ini? Apa kamu tidak takut?"
"Aku juga butuh kebahagiaan, By. Dan Aku bisa mendapatkannya dari Hiko."
Ruby menghela nafas panjang, "Aku juga peduli dengan kebahagian kamu, Ra. Tapi jangan paksa aku untuk membenarkan perbuatanmu ini."
Nara mengangguk, "Selama kamu masih berada di pihakku, aku sudah merasa senang, By. Itu lebih dari cukup untukku."
Ruby kembali memeluk Nara, ia benar-benar tidak menyangka kehidupan sahabatnya menjadi seburuk ini. Ia juga tidak menyangka dibalik wajah tegas dan kebaikan hati Heru ternyata ia seorang pria yang kasar.
Ruby memang tak membenarkan tentang perselingkuhan Nara dan Hiko, namun ia juga tidak mendukung Nara meneruskan hubungan pernikahannya dengan Heru.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Santi Ninuk
aduh .... kaget
2025-02-26
0
eliya anis noor
seru cerbungny, lanjut kak
2024-12-29
0
Ibrahim Adjie Prawira
bagian ini sebenarnya yg g mau aku baca,tapi sll penasaran 🙈
2024-10-09
1