Ruby baru saja selesai melakukan sholat berjamaah bersama Nyai Hannah dan Nyai Zubaedah di mushola kecil yang ada didalam rumahnya. Suara gemericik air dari kolam ikan yang berada ditengah rumahnya memberikan efek tenang dan syahdu.
"Nara masih disini kan, By?" tanya Nyai Hannah, tangannya baru saja selesai melipat mukenahnya.
"Iya, Ummi. Masih di kamar Ruby," jawab Ruby, ia meminta mukenah milik Umminya dan Nyai Zubaedah untuk ia letakkan di almari kecil tempat menyimpan mukenah.
"Panggil, gih. Kita makan bersama," pinta Nyai Hannah..
"Baik, Ummi."
Ruby berjalan mundur dengan setengah membungkuk keluar dari mushola, lalu berjalan normal menuju ke kamarnya.
"Ra, Ayo makan bareng." Ruby langsung mengajak Nara keluar kamar.
"Hah, gak mau aku By. Gak enak aku sama Abi kamu," tolakNara. Ia menahan diri agar Ruby tak bisa menariknya.
"Enggak, sekarang kan hari kamis. Abi makan bersama di Masjid. Udah lama gak kesini sih, sampai lupa sama tradisi disini."
Nara langsung beranjak keluar kamar, "kalau gitu aku gak akan nolak, By."
Ruby tertawa kecil melihat ulah Nara. Ia menggandeng Nara menuju ke meja makan.
Rumah Ruby berbeda dari rumah-rumah jaman sekarang. Semua dinding rumah Ruby terbuat dari kayu, khas rumah Jawa. Rumahnya tak terlalu luas dan terlalu banyak furniture disana.
"Siang, Nara. Apa kabar nih? Lama gak pernah kesini?" sapa nyai Hannah ketika Ruby dan Nara tiba di meja makan.
Nara mencium tangan Nyai Hannah, "siang Ummi. Nara udah disibukin ngurus artis ganteng di Jakarta Ummi, sampai lupa kesini."
Tak lupa Nara mencium tangan Nyai Zubaedah yang menatapnya penuh dengan tanda tanya namun tetap ramah menyapa Nara.
"Maaf, jika membuat Bu Nyai kurang nyaman dengan kehadiran saya," ucap Nara.
"Ah, tidak. Saya makin senang bertemu dengan orang baru," jawab Nyai Zubaedah. "Apa saya melukai perasaanmu, Nak?"
Nara menggeleng dan tersenyum, "tidak, Bu Nyai. Sama sekali tidak ...," jawab Nara ramah.
Ruby menarik kursi untuk Nara agar segera duduk. Dan Ia juga segera duduk disamping Nara.
Seperti biasa, Nyai Hannah mempersilahkan tamunya untuk mengambil nasi dan lauk pauknya terlebih dahulu barulah ia mengambilkan makan untuk Ruby dan Nara kemudian ia sendiri.
Mereka semua berdoa sebelum makan, namun ada yang berbeda dengan cara berdoa Nara. Ia menggenggam kedua tangannya tepat dibawah dagu dan ia akhiri doanya dengan menyentuh dahi, bahu kanan dan kiri serta kecupan lembut di ibu jari dan jari telunjuknya.
Hal itu membuat pertanyaan Nyai Zubaedah sedari tadi terjawab sudah.
"Saya non muslim, Bu Nyai." Nara memperjelas.
"Terimakasih sudah memberitahu saya dan saya tidak mempersalahkannya, Nak," jawab Nyai Zubaedah, "mari kita mulai makannya."
Sembari menyantap hidangan, mereka saling bertukar cerita diatas meja makan. Sama-sama bersikap lues, namun tak menghilangkan rasa hormat Ruby dan Nara kepada Orang tua didepan mereka.
Perbincangan mereka berlanjut hingga ke ruang tengah, kali ini teh hangat menjadi teman perbincangan mereka.
"Assalamu'alaikum."
Suara Kyai Abdullah dan Kyai Marzuki memberi salam, Kompak semua menjawab salam tersebut. Nyai Hannah dan Nyai Zubaedah menghampiri suami mereka. Ruby masuk ke dapur membuatkan dua cangkir kopi baru untuk Abinya dan Kyai Marzuki.
Ruby kembali dengan dua cangkir kopi panas diatas nampan. Tak lupa ia membawa dua cangkir teh hangat yang masih penuh milik Umminya dan Nyai Zubaedah. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja ruang tamu, tepat didepan masing-masing pemiliknya.
"Terimakasih ya, Nak." Ucap Kyai Abdullah.
Ruby tersenyum dan kembali ke ruang tengah menemani Nara menghabiskan tehnya.
"Jadi, gini Kangmas Kyai. Kehadiran kami disini sebenarnya ingin memperjelas proses ta'aruf antara Iqbal putraku dengan Ruby putri Kangmas Kyai."
Ucapan Kyai Marzuki membuat dada Ruby berdegub lebih cepat, tubuhnya mematung sempurna dan telinganya menjadi lebih peka dalam mendengar suara bisikan.
"Beberapa hari yang lalu kami sudah menanyakan kapan Iqbal akan kembali pulang ke Jombang? Dan ternyata, masih ada yang belum ia selesaikan. Iqbal meminta waktu empat sampai lima bulan kepada kami dan keluarga Kang mas kyai untuk menyelesaikan kewajibannya di sana. Apakah Nak Ruby bersedia menunggu Iqbal?"
Mendengar pernyataan Kyai Marzuki membuat Ruby murung, Ia harus berteman lebih lama lagi dengan waktu penantian yang panjang.
"By, ke kamar aja yuk?" Aaak Nara.
Ruby mengangguk, Ia berdiri dan perlahan meninggalkan ruang tengah kemudian masuk ke dalam kamarnya.
"Udah, gak usah sedih. Cuma nunggu beberapa bulan aja." Nara menyemangati sahabatnya yang sedang kecewa.
"Aku udah nunggu empat tahu lo, Ra." Ruby mengungkapkan kekecewaannya.
"Bersabarlah sedikit, ini hanya soal waktu. Jangan memusuhinya, itu hanya akan membuatmu merasa berdiri di satu titik."
"Iya, Ra. Mungkin aku masih harus menyimpan rindu ini."
**********
Ruby baru menyelesaikan Sholat isya'nya bersama Umminya. Ia segera kembali ke kamar karena sudah merasa lelah melakukan perjalanan panjang sejak kemarin malam.
Nara sudah pergi ke bandara setelah Ruby melaksanakan sholat magrib. Nara tak bersedia diantar Ruby, karena ia tahu betapa lelahnya sahabatnya itu.
Lampu kamar sudah padam dan Ruby sudah berada dibalik selimutnya. Usai membaca do'a, Ruby mencoba memejamkan matanya. Namun, matanya kembali terbuka ketika ia merasakan ponselnya bergetar sekali.
Bisa saja ia mengabaikan pesan itu, tapi tidak kali ini. Ia turun dari tempat tidurnya dan membaca sebuah pesan whatsapp dari sebuah nomor yang tidak tersimpan di kontak ponselnya.
//Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Berulang kali aku mengetik sebuah pesan untukmu, namun terlalu kecil keberanian yang ku miliki untuk mengirimkan pesan ini padamu.
Apa kabar Ruby? Semoga kau selalu berada didalam lindungannnya.
-Iqbal-//
Sebuah pesan singkat yang membuat rasa lelah dan kantuknya menghilang.
Segera ia menyalakan kembali lampu kamarnya, ia duduk di kursi meja belajarnya dan menatap layar ponselnya. Hanya background hitam yang menjadi foto profil pengirim pesan itu.
Betapa senangnya Ruby ketika mengetahui jika selama ini Iqbal menyimpan nomornya. Namun ia juga merasa ini tak adil. Bagaimana jika selama ini dia selalu melihat status whatsappnya yang memperlihatkan kegiatannya sehari-hari, sedangkan ia sama sekali tak pernah mendengar kabar bahkan seperti apa wajah Iqbal sekarang.
Dan sekarang giliran ia yang kebingungan. Berulang kali ia mengetik balasan untuk pesan Iqbal, berulang kali juga ia menghapusnya.
//Apa yang membuatmu terlalu lama membalas pesanku?//
Satu lagi pesan masuk dari Iqbal membuat Ruby terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya. Otaknya seakan terdesak agar cepat-cepat memutuskan balasan apa yang akan ia kirim untuk Iqbal.
//Wa'alaikumsalam mas Iqbal, Maaf jika aku sudah membuatmu menunggu. Alhamdullillah aku dalam keadaan baik-baik saja, Mas. Bagaimana keadaan mas Iqbal disana?//
//Aku hanya khawatir seandainya kamu sedang kecewa karena aku sudah membuatmu menunggu lebih lama lagi//
"Ya, Benar. Aku sedang kecewa karenamu, ma," jawab Ruby, namun ia tak berani membalas dan mengirim pesan tentang apa yang sedang ia rasakan.
//Bersabarlah sedikit lagi, agar kita bisa melepas rindu dengan cara yang halal. Selamat tidur Ruby, Sibukkan waktumu agar tak terlalu lama kau menunggu. Assalamu'alaikum.//
"Yaah, Kenapa udahan Chatnya? Baru sekali aku membalasnya." keluh Ruby kecewa.
//Wa'alaikumsalam mas Iqbal//
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Wilda Mawadiyah
berkali kali baca cerita ini tp gak ada bosen bosen nya ..
2025-02-26
1
Fia Ayu
Ups salah Tabina ruby azzahra 🙏🏻
2024-09-06
0
Fia Ayu
Udah kesekian kalinya baca ini novel, gk ada bosennya,
Kak mau tanya arti nama dari
Rubby tabbina azzahra🙏🏻
2024-09-06
0