3

Malam sudah semakin larut, lampu kamar Ruby sudah mati sejak tadi. Namun tidak dengan pemilik kamarnya, Ruby masih menatap layar ponselnya dari balik selimut tebalnya. Ia masih membaca ulang chat singkat dari Iqbal beberapa waktu yang lalu. Rasa senang dan kecewa sedang ia nikmati saat ini.

"Kenapa dia mengakhiri perbincangan ini begitu cepat? Tidak bisakah dia sedikit mengobati rinduku?" batin Ruby, ia sedang menginginkan sesuatu yang lebih dari seorang Iqbal.

"Kesibukan apa yang harus ku lakukan sekarang untuk mempersingkat waktu ku bertemu denganmu mas?"

Ruby meletakkan ponselnya dan membuka selimutnya, udara segar sudah bisa ia nikmati. Lebih banyak oksigen yang ia hirup semakin memperlancar peredaran darah diotaknya. Ia memikirkan sebuah Ide, bagaimana jika ia mengisi waktunya untuk kerja di perusahaan Animasi milik Heru, suami Nara.

**********

Cahaya mentari pagi telah hadir menggantikan rembulan, kerlip-kerlip bintang kian terkikis tersapu mentari. Suara santri-santri yang melantunkan ayat suci Al Qur'an menggema indah dari pengeras suara masjid hingga ke dalam rumah Ruby.

Ruby sudah memulai aktifitas paginya, menyapu lantai rumahnya. Sedangkan Nyai Hannah sibuk di dapur dan Abinya berada di Masjid pesantren putra.

Santri putri yang sudah berseragam mulai terlihat berjalan didepan rumahnya menuju ke gedung sekolah. Ruby dengan ramah memberi senyum ketika beberapa dari mereka menyapa.

Ruby menyandarkan bahunya di pilar kayu yang berdiri kokoh diteras rumah. Hembusan angin pagi membawa pikirannya kembali pada pesan terakhir dari Iqbal semalam.

//Bersabarlah sedikit lagi, agar kita bisa melepas rindu dengan cara yang halal. Selamat tidur Ruby, Sibukkan waktumu agar tak terlalu lama kau menunggu.//

Ia menghela nafas panjang. Pandangannya menatap ke dinding tinggi yang berada di kanan rumahnya, dimana Abinya sedang berada dibalik dinding itu.

Semangatnya yang sedang berapi-api semalam tiba-tiba saja menghilang hanya dengan memikirkan wajah Abinya. Sesungguhnya ia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan keluar dari mulut Abinya, namun kebulatan tekadanya yang membumbung tinggi mampu mempertahankan kobaran api semangatnya.

"Ummi?" Ruby meletakkan sapu disamping pintu keluar dapur, Ia melihat Umminya baru meletakkan makanan di meja makan.

"Ya, Nak? ada apa?" tanya Nyai Hannah.

Ruby duduk di kursi meja makan. "Semalam Ruby dapat pesan dari mas Iqbal, Ummi."

"Oya? Apa katanya?" tanya Nyai Hannah antusias, ia menghentikan aktifitasnya dan duduk di depan putrinya.

"Dia minta maaf karena harus membuat Ruby menunggu lebih lama dan juga ...." Ia ragu melanjutkan kalimatnya.

"Dan juga apa nak?" tanya Nyai Hannah.

"Mas Iqbal menyuruhku menyibukkan diri biar Ruby tak terlalu lama menunggu dia kembali, Ummi"

"Lalu? Apa yang membuatmu ragu sayang? Bukannya setelah ini kamu akan sibuk?" tanya Nyai lagi.

Ruby diam, ia ragu ingin mengatakan sesuatu.

"Bicaralah, Ruby." Nyai Hannah mendesak.

"Ruby ingin bekerja sebagai animator di perusahaan suami Nara, Ummi."

"Di Jakarta?" Ummi sedikit terkejut.

Ruby mengangguk.

"Ummi ragu kalau Abi menyetujui permintaanmu, Nak."

Kalimat Ummi membuat Ruby menjadi tak percaya diri lagi untuk mengatakan keinginannya pada Abinya.

"Ruby hanya ingin mencari pengalaman Ummi. Karena nanti ketika Ruby sudah menjadi seorang istri, Ruby hanya ingin fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak kami. Apa Ummi mau membantu Ruby meyakinkan Abi?"

"Bicaralah nanti dengan Abimu, Ummi akan membantu sebisa Ummi."

Mata Ruby berbinar bahagia, Ia berdiri dan memeluk umminya. " Terimakasih Ummi selalu mendungku."

"Sama-sama, nak." Nyai Hannah menepuk lembut punggung Ruby.

Ruby kembali ke kamarnya, Ia sedang tidak tenang berada didalam kamarnya. Semakin ia melihat jam dinding, jantungnya semakin terpacu karena ia akan mengungkapkan keinginannya.

Sudah beberapa kali Ruby mengintip keluar cendela kamarnya. Ia berharap Abinya segera datang. Dengan begitu mungkin jantungnya akan segera kembali normal.

Lama sudah Ruby menunggu, akhirnya Kyai Abdullah terlihat melintasi halaman depan jendela kamar Ruby. Segera Ruby berlari keluar kamar dan menghampiri Abinya.

Kyai Abdullah baru saja duduk di kursi ruang tamu ketika Ruby datang.

"Anak gadis kok jalannya seperti itu ya?"

Ruby melambatkan jalannya kemudian duduk di kursi yang terpisah dari Abinya.

"Kenapa Nak?" tanya Kyai Abdullah, tangannya meraih sebuah buku yang ada diatas meja.

Ruby menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan untuk mengatur irama jantungnya.

"Mas Iqbal masih lama lagi datang ke Indonesia, Bi?" tanya Ruby.

Kyai Abdullah sedikit terkejut mendengar apa yang akan dibicarakan putrinya. Ia meletakkan kembali buku ditangannya.

"Iya, Kyai Marzuki bilang masih ada yang harus ia selesaikan disana. Apa kamu sudah tidak sabar menunggunya kembali?"

Ruby mengangguk, "Iya, Abi. Oleh karena itu, Ruby ingin mencari kesibukan agar waktu yang Ruby gunakan untuk menunggu mas Iqbal tidak terlalu lama."

"Abi setuju, Nak. Kamu bisa mengajar di pondok putri."

Ruby semakin ragu mengungkapkan keinginannya.

"Kapan kamu berniat mulai mengajar, Nak? Apa rencana yang mau kamu ajarkan pada mereka?" tanya Kyai Abdullah sangat antusias.

Ruby menggeleng, "Maafkan Ruby, Abi. Keinginan Ruby bukan untuk mengajar di pondok putri."

"Lalu?" Kyai Abdullah menatap tajam Ruby.

"Di perusahaan animasi milik suami Nara sedang membutuhkan seorang Animator, Ruby berniat untuk melamar pekerjaan disana."

Kyai Abdullah diam, tangannya meraih buku yang sudah ia letakkan tadi. Senyum di bibirnya hilang dan seketika membuat wajah ramahnya menjadi dingin.

"Hanya sampai mas Iqbal kembali, Abi. Ruby janji, jika Ruby tidak diterima bekerja disana Ruby akan tetap disini untuk mengajar santri putri."

Ruby masih meyakinkan Abinya walaupun ia tahu tingkat keberhasilannya hanya sangat minim.

Kyai Abdullah masih diam tak terpengaruh dengan penawaran Ruby.

"Abi. Tolong biarkan Ruby merasakan bagaimana rasanya bekerja diluar sana. Mendapatkan uang dari kemampuan yang Ruby miliki. Ruby ingin sekali memberikan sesuatu untuk Abi dan Ummi. Dan juga, Ruby tidak ingin kelak menyesal karena tidak bisa melakukan apa yang ingin Ruby lakukan."

"Permintaanmu terlalu berat untuk Abi kabulkan. Pernikahanmu sebentar lagi dan kamu ingin bekerja jauh dari pandangan Abi." Kyai Abdullah menatap putrinya, "Abi dan Ummi tidak menginginkan uang darimu nak, Abi hanya ingin kamu jadi anak yang penurut."

Ruby diam sejenak.

"Ruby bisa tinggal di pesantren paklek Nur, Abi." Ruby menyebut nama salah satu adik Abinya.

Kyai Abdullah masih menggelengkan kepalanya, "Kembalilah ke kamarmu dan pikirkan lagi kemauanmu itu."

"Berapa kalipun Ruby memikirkannya, kemauan Ruby tidak akan berubah, Abi."

"Begitu pula dengan Abi." Kyai Abdullah menutup bukunya dan memilih meninggalkan Ruby.

Walau tahu hal ini akan terjadi, Lapisan keyakinan yang ia bubuhkan di hatinya tetap saja membuatnya merasa sedih dan kecewa. Ia hanya berharap Nyai Hannah bisa merubah keputusan Kyai Abdullah.

**********

Nyai Hannah memberikan secangkir kopi untuk Suaminya yang baru saja duduk di kursi meja makan, dari mimik wajah Kyai Abdullah bisa langsung di tebak jika Ruby sudah membicarakan keinginannya.

"Aku tidak ingin kali ini kamu membela putrimu, Ummi." Kyai Abdullah lebih dulu menebak niat istrinya.

Nyai Hannah hanya meletakkan kopi kemudian menyibukkan diri dengan mengelap meja makan yang sebenarnya sudah bersih.

"Orang tua Ummi dulu juga pernah bilang, dengan menikah tidak akan membuat impian kita terkubur. Kita masih bisa menjalankan mimpi itu walaupun sudah dalam ikatan pernikahan. Tetapi Abi tahu sendiri, Ummi tidak pernah bisa menjalankannya. Mengawalinyapun Ummi tidak bisa. Karena Ummi tahu, siapa yang harus ummi dahulukan diatas keinginan ummi sendiri."

"Ummi tahu, Abi egois untuk kebaikan Ruby."

"Selama itu positif, biarkan dia melakukan apapun yang ia inginkan sebelum menikah. Ketika ia sudah menjadi seorang istri, itu semua bukan lagi tentang 'aku' melainkan tengang 'kita'. Akan sulit bagi seorang Ruby untuk memikirikan dirinya sendiri, Ia pasti akan lebih mengutamakan keluarganya. Anak kita bukan seorang yang egois, walaupun suaminya menyuruh untuk meraih mimpinya, tidak semudah itu Ruby akan mengiyakan."

Nyai Hannah menarik kursi dan duduk di samping Kyai Abdullah.

"Ruby sudah dewasa Abi, dia tahu mana yang baik dan yang buruk. Jika kita sebagai orang tua tidak bisa melindunginya dari dekat, Kita punya Allah yang akan melindunginya, Abi."

"Kenapa Abi harus selalu mengalah jika berbicara dengan Ummi?" Kyai Abdullah terheran-heran.

"Karena kita harus menghindari perdebatan. Bukankah begitu, Abi?" Ummi tersenyum. "Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, Abi."

Kyai Abdullah meneguk kopi didepannya. "Biar Abi pikirkan lagi."

-Bersambung-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Ibrahim Adjie Prawira

Ibrahim Adjie Prawira

emak² jangan di lawan abi 😁

2024-10-09

0

Dewa Qin

Dewa Qin

karena emak2 memang ras terkuat didunia Abi🤭🤭

2024-01-31

0

Asep Suratman

Asep Suratman

👍👍👍

2023-11-06

1

lihat semua
Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 NOVEL KE 3
127 PENGUMUMAN
128 Bonchap 1-1
129 Bonchap 1-2
130 Bonchap 2-1
131 Bonchap 2-2
132 Bonchap 3-1
133 Bonchap 3-2
134 Bonchap 4-1
135 Bonchap 4-2
136 Bonchap 5-1
137 Bonchap 5-2
138 Bonchap 6-1
139 Bonchap 7-1
140 Bonchap 7-2
141 VERSI CETAK SUDAH TERBIT
142 Novel Baru
Episodes

Updated 142 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
NOVEL KE 3
127
PENGUMUMAN
128
Bonchap 1-1
129
Bonchap 1-2
130
Bonchap 2-1
131
Bonchap 2-2
132
Bonchap 3-1
133
Bonchap 3-2
134
Bonchap 4-1
135
Bonchap 4-2
136
Bonchap 5-1
137
Bonchap 5-2
138
Bonchap 6-1
139
Bonchap 7-1
140
Bonchap 7-2
141
VERSI CETAK SUDAH TERBIT
142
Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!