Nara baru saja meletakkan Sendok dan garpunya diatas piring setelah habis menyantap makanan yang sudah Ruby bawakan untuknya.
"Kamu butuh apa, Ra? Biar aku belikan ke minimarket depan, kamu jangan keluar-keluar dulu." Tanya Ruby.
"Enggak, By. Nanti aku bisa beli sendiri." Tolak Nara, "Lebih baik kamu telpon ponakan kamu biar cepet jemput kamu, udah malam ini."
"Udah kok." Jawab Ruby, "Sambil nunggu dia aku mau pergi ke minimarket nih, kamu titip apa." bujuk Ruby.
"Titip pembalut sama Mie instan ya, By." Kata Nara.
"Gitu donk." Ruby mengambil dompet dalam tasnya kemudian pergi keluar rumah Nara.
Ia sempat sebal ketika melihat masih ada empat orang wartawan yang duduk didepan rumah Nara. Untung saja Nara belum keluar, Batinnya.
Ruby berjalan mengabaikan wartawan itu menuju mini market yang ada di samping pintu gerbang masuk perumahan.
Tiba-tiba saja sebuah mobil MVP hitam berhenti tepat disamping Ruby, dua orang pria keluar dan menarik paksa Ruby kedalam mobil.
Ruby berusaha berteriak menyelamatkan diri. "Tolooong!" Teriaknya dari dalam mobil. Tangan dan kakinya tak berhenti memberontak untuk menyelamatkan diri.
Pria itu segera menutup pintu mobil dan membekap Ruby dengan obat bius sehingga membuat Ruby tak sadarkan diri.
**********
Mata Ruby pelan-pelan terbuka, ia melihat disekitarnya. Ruangan kamar yang sangat asing baginya dengan tiga orang pria yang sudah membawanya tadi sedang duduk mengawasi Ruby dari jauh.
Ruby sedang tertidur diatas tempat tidur, namun ia kesulitan bergerak karena kedua tangan dan kakinya sedang terikat.
"Apa salah saya sampai kalian berbuat seperti ini pada saya? Bukankah ini kali pertama kita bertemu?" Tanya Ruby.
Tak ada jawaban dari ketiga Pria itu.
"Tolong lepaskan saya, saya akan minta maaf jika memang saya tanpa sadar melukai perasaan kalian" Pinta Ruby lagi.
Mereka bertiga masih mengacuhkan Ruby.
"Toloooooooong!!" Teriak Ruby meminta pertolongan karena negosiasinya tak membuahkan hasil.
Dengan cepat ketiga pria itu gelagapan dan menutup mulut Ruby.
"Ah!" Teriak pria yang menutup mulut Ruby.
"Tolooonggg!"
Hmmmp!
Ruby tak bisa teriak lagi ketika sebuah sapu tangan basah membekap mulut dan hidungnya, tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas dan ia kembali tak sadarkan diri.
"Kok lo bius lagi sih?"
"Panik gue, panik."
"Dia gak sadar lagi deh."
"Mana banyak pula lo kasih obatnya!"
"Bakal marah nih bos kalau nunggu dia bangun."
"SIAPA SIH YANG TERIAK-TERIAK!" Bentak Hiko yang baru saja masuk ke dalam kamar. Hiko berjalan sempoyongan, siapa saja bisa melihat dia sedang mabuk berat.
Hiko memicingkan matanya melihat Ruby masih tak sadarkan diri diatas tempat tidur dengan gamis bewarna jingga dan kerudung motif, kedua tangannya menyatu terikat lakban begitu juga dengan kakinya.
"Kenapa dia tidur?" tanya Hiko
"Efek obat bius bos."
"Bentar lagi juga bangun bos."
Anak buah Alex kompak berbohong.
"Haaah! Pergi kalian!" Teriak Hiko.
Tak mau membuat Hiko marah lagi, anak buah Alex memilih segera meninggalkan ruangan.
BRUG!
Hiko tak kuat menahan pusing dikepalanya, ia menjatuhkan badannya asal diatas tempat tidur.
Nafasnya mulai tenang ketika ia mencium aroma parfum yang wanginya lembut dari baju Ruby, tanpa sadar ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Ruby.
Matanya terbuka, dengan berat ia mengangkat tubuhnya menatap Ruby. Gadis imut dengan bibir mungil itu membuat tubuh Hiko menjadi panas. Hiko melepas paksa kerudung Ruby, kini ia bisa melihat rambut panjang Ruby yang terikat. Nafasnya kembali memburu ketika melihat leher Ruby yang putih bersih, ia tak bisa menahan diri untuk mengecupnya dan menyentuh bagian lainnya.
*********
"Hiko!"
Hiko terkejut ketika melihat Genta tiba-tiba masuk kedalam kamar Alex.
Genta lebih terkejut ketika melihat Hiko sedang berada di atas tubuh Ruby yang sedang tak sadarkan diri.
"Lo ngapain dia Bangs*t!" Genta menendang tubuh Hiko hingga tersungkur di lantai. Genta segera menutupi tubuh Ruby dengan kain apapun yang ada disekitar Ruby.
"Lo perkosa dia!" Bentak Genta ketika melihat sebuah noda darah yang masih basah dari kain didekat Ruby.
Hiko berdiri dengan sempoyongan ingin membalas pukulan Genta, namun meleset dan membuatnya terjatuh.
"Lo emang laki-laki brengsek, Ko! B*jingan! K*parat!" Pukulan demi pukulan diberikan Genta pada muka Hiko.
BYUR!
Siraman air dari Genta membuat Hiko setengah sadar.
"Lihat siapa lo ambil kehormatannya!" Genta menarik Hiko mendekati Ruby.
Hiko benar-benar terkejut mengetahui Ruby adalah wanita yang dijamahnya. "Gue gak ada niatan ngelakuin ini, Ta! Gue gak mungkin ngelakuin itu!"
Genta menunjuk Hiko yang tak memakai celana lalu menunjuk bercak darah disprei. "Lo masih mau ngelak gimana! Hah!" Bentak Genta.
"Sumpah gue gak sadar ngelakuinnya!" Hiko mencoba mengelak.
"Laki-laki Bangs*t Lo!" Genta meninggalkan ruangan tak tahan dengan tingkah Hiko.
Hiko jatuh tertunduk menyesali perbuatannya, "Kenapa gue bisa ngelakuin hal kaya gini! Aaargh!"
Teriakan Hiko membuat Ruby menggeliat, karena panik Hiko mengambil sapu tangan diatas nakas bekas anak buah alex membius Ruby tadi dan segera ia membekao mulut dan hidung Ruby. Tak lupa ia menutup wajah Ruby agar tak sampai membuat Ruby mengetahui siapa yang sudah mengambil kehormatannya.
Ruby yang merasa sesak berusaha menari tangan Hiko, namun obat bius itu membuatnya kembali melemah dan tertidur kembali.
Melihat Ruby sudah tak sadarkan diri, Hiko segera memakai celananya dan memakaian kembali baju-baju Ruby dengan asal karena memang ia tak tahu bagaimana cara memakaikannya.
Ia memanggil ketiga anak buah Alex, "Lo taroh dia disekitaran pesantren Darul Hikmah. Jangan sampai ada warga yang tahu. Ngerti!"
"Siap, Bos."
Dengan segera Ruby dibawa langsung keluar kamar.
Hiko masih mencoba memahami situasi yang barusan terjadi, ia menatapi tempat tidur yang sudah sangat berantakan dengan sedikit bercak darah disana.
"Aaaagr!!" Teriaknya kesal
Hiko keluar kamar dan pergi menyusul Genta yang pasti sudah pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah Genta, ia melihat Genta masih mau menutup pintu gerbangnya.
"Ta, Ta!!" Hiko menyerobot masuk.
"Gue gak terima lo disini!"
Genta mencoba mendorong tubuh Hiko keluar dari halaman rumahnya, mamun Hiko dengan kuat menahannya.
"Ta, Please! Gue butuh lo, Ta! Gue tahu gue salah, please bantu gue, Ta!"
Genta masih terdiam menatap Hiko.
"Lo tahu gue gak bisa apa-apa tanpa, Lo! Lo tinggalin gue sebentar aja, semuanya makin runyam. Please, Ta. Tolong gue!"
Genta tetaplah Genta, Pria yang selalu tidak bisa menolak menyelesaikan masalah Hiko walaupun Hiko selalu dan selalu membuat masalah.
"Gue kecewa banget sama lo kali ini, Ko. Lo punya Nara, Lo bisa bayar cewek manapun buat nyalurin napsu bejat lo itu! Gak dengan Ruby, Ko! Dia beda!"
"Gue gak ada niat buat ngelakuin itu, Ta! Sumpah! Gue tadi mabok berat!" Hiko meyakinkan Genta, "Gue cuma mau culik dia dan ngasih pelajaran dia aja biar gak macem-macem sama gue!"
"Trus, Lo mau apa sekarang?" Tanya Genta.
"Please, jangan kasih tahu siapapun, Ta.!" Pinta Hiko.
"Lo mau jadi pengecut??"
"Gue tahu gue salah! Lo tahu masalah gue sekarang apa? Bokap gue udah ngasih pilihan sulit buat gue! Kalau sampai dia tahu gue memerkosa anak gurunya, gue bisa mati Ta! Habis gue, Ta!"
Genta terdiam, ia bisa menebak bagaimana nasib Hiko jika ada yang tahu dia sudah meniduri paksa anak seorang kyai. Habis sudah riwayatnya di dunia hiburan. Namun ia juga tak bisa membiarkan Ruby terpuruk begitu saja ketika mengetahui bahwa kehormatannya telah diambil paksa oleh pria yang tidak ia kenali.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Hayoooo, jangan cuma baca aja. Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Abie Mas
kasian bgt ruby dapatnya hiko bekas org semua
2024-05-24
0
Hearty 💕
Kirain tadi Ruby mo sama Ehsan... ke mini marketnya
2024-02-15
0
Kamaleea Sae Riche
ruby please dech, gregeten aku jadinya. udah malem kelayapan pula.
2024-01-13
1