"Kenapa lo harus buat alasan gak masuk akan kaya gitu, Ta! Bangs*t lo!" Hiko mendorong tubuh Genta ke dinding tepat setelah mobil papanya meninggalkan halaman rumah Genta.
"Diem, Anj*ng!" Genta balik mendorong tubuh Hiko, "Lo minta tolong ke gue! dan sekarang gue lagi nolong lo!"
"Nolong pala lo! Lo malah bikin masalah tambah runyam!"
"Lo bisa diem dulu, gak?" Genta hampir hilang kesabaran.
Hiko masuk ke dalam rumah dan duduk kesal di ruang tamu, Genta mengikuti Hiko.
"Gue mau lo tanggung jawab dengan apa yang lo lakuin semalam sama Ruby!" Kata Genta.
"Lo mau gue nikahin dia?" Tanya Hiko
Genta mengangkat kedua bahunya, "Ya, kalo lo bisa."
Hiko hanya mendengus kesal, "Lo kira dia mau ama gue? Lo tahu sendiri kan dia punya calon imam yang ahli surga! Remah remah neraka macam gue gak bakal masuk kriteria dia, ***!"
"Tapi lo mau kalau dia mau?"
"Enggak!"
"Bangs*t!"
"Heh, gue sama dia itu beda dunia! Lo mau mati cepet gara-gara hidup sama dia?" Ujar Hiko, "Lagian satu-satunya cewek yang bakal gue nikahi cuma Nara."
"Dan dari pernikahan itu lo bakal kehilangan keluarga, karir dan masa depan yang udah lo tata sebagus ini." Sahut Genta.
Hiko diam tak menjawab.
"Ruby satu-satunya yang bisa nolong karir lo saat ini, sekalian lo tanggung jawab dengan apa yang lo lakuin!"
"Gak gak gak gak! Banyak hal yang masih harus gue pikirin buat nurutin kemauan lo. Pertama, dia punya calon suami. Kedua, Nara bisa mutusin gue kalau tahu gue ngapa-ngapain sahabatnya. Ketiga, gue sama dia beda banget!"
"Lo pikir calon suaminya mau kalau tahu Ruby udah gak perawan? Cowok mana coba yang mau? Yah kecuali emang orang-orang macam lo doank."
Hiko menggelengkan kepalanya, "Gue gak bisa jawab sekarang, jangan bahas masalah ini sekarang. Otak gue udah mau pecah!"
***********
Sore ini Kyai Abdullah dan Nyai Hannah sudah menginjakkan kaki di Pesantren Darul Hikmah. setelah mendengar kabar dari Adiknya, membuat Kyai Abdullah beserta Nyai Hannah langsung datang ke Jakarta untuk mengetahui keadaan putrinya.
Turun dari mobil Nyai Hannah langsung meminta Nyai Fatimah untuk mengantarkannya ke kamar Ruby.
"Assalamu'alaikum, Ruby!"
Nyai Hannah melihat putrinya dengan rambut yang acak-acakan sedang duduk meringkuk di lantai kamarnya.
"Uummi." Sahutnya dengan suara yang hampir hilang karena terlalu lama menangis dan berteriak.
"Ataqfirullahaladzim, Nak. Kenapa kamu bisa seperti ini."
Nyai Hannah menangis histeris melihat banyak cakaran di leher dan tangannya. Kuku di jari tangan rubi juga terlihat berdarah.
"Apa yang kamu lakukan ke badan kamu sendiri, nak?" Nyai Hannah segera memeluk Ruby dan mengecupnya berulang kali.
"Ruby merasa kotor, Ummi. Ruby benci dengan tubuh Ruby sendiri!" Ucap Ruby diantara tangisnya.
"Siapa yang melakukannya padamu, Nak? Dia harus mendapatkan balasan yang setimpal." Kyai Abdullah ikut mengusap rambut putri semata wayangnya.
Ruby menggelengkan kepalanya dan masih terus menangis. "Ruby sudah kotor, Ummi. Ruby sudah tidak suci lagi! Tidak ada yang bisa Ruby banggakan dari diri Ruby! Sekarang Ruby tidak pantas bersanding dengan siapapun Ummi."
"Sudah Nak, Sudah." Nyai Hannah semakin erat memeluk putrinya.
Nyai Hannah terus memeluk putrinya yang menangis berharap bisa sedikit menyembuhkan lukanya. Ia pun meminta agar semua orang meninggalkan kamar Ruby.
Hingga petang tiba, sudah berkali-kali Nyai Hannah mencoba membujuk Ruby untuk makan dan Sholat, namun Ruby tak mau melakukan apapun. Ya, Ruby masih sedang marah pada Tuhannya. Kenapa harus dia yang mengalami hal ini? Sedangkan dia merasa sebagai muslim yang taat pada-Nya.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar Ruby membuat Nyai Hannah membukanya. Terlihat Nara membawakan tas milik Ruby.
"Nara?"
"Malam, Ummi." Sapa Nara, ia mencium tangan Nyai Hannah.
"Masuk, Nak. Masuk." Ajak Nyai Hannah.
Ruby masuk ke dalam, ia melihat sahabatnya sedang tertidur. Air matanya menetes menyesali apa yang sudah ia lakukan pada Ruby, tak seharusnya ia meminta Ruby kerumahnya apalagi keluar malam sendirian.
"Ini semua salah saya Ummi, maafkan saya." Nara duduk memegang kaki Nyai Hannah untuk meminta maaf.
"Bangun, Nara. Bangun." Nyai Hannah menarik badan Nara untuk berdiri, "Ini sudah takdir, kamu tidak perlu merasa bersalah. Ruby tidak pernah menyalahkanmu."
"Ra? Kapan kamu datang?" Tanya Ruby yang terbangun dari tidurnya.
Nara langsung memeluk Ruby, "Aku sudah mendengar semuanya dari Ehsan. Maafkan aku, By. Karena aku, kamu jadi seperti ini."
"Enggak, Ra. Ini bukan salah kamu, sudahlah jangan menangis." Ucap Ruby.
Walau masih sedih mengingat kejadian gang menimpanya, ia berusaha terlihat tegar didepan Nara.
"Nara nginap disini mau?" pinta Nyai Hannah.
"Iya, Ummi." jawab Nara.
"Ummi tinggal dulu ya."
Ruby dan Nara mengangguk kompak kemudian Nyai Hannah meninggalkan kamar Ruby.
"Mas Iqbal terus-terusan telpon hari ini." Nara menyerahkan tas milik Ruby.
Ruby mengambil ponsel dalam tasnya dan melihat pesan pesan masuk di whatsapp-nya. Kali ini Ruby benar-benar menangis mengabaikan pesan dari Iqbal yang menanyakan kabarnya dan apa yang dilakukanmya hari ini.
Nara hanya bisa diam tak berani bertanya pada Ruby, membiarkan Ruby puas menangis.
**********
Sudah tiga hari Ruby tak keluar dari kamarnya, tak mau melakukan aktifitas apapun dan terlalu sering ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Makan pun tak akan ia makan jika Nyai Hannah tidak memaksanya. Ruby masih sibuk menyiksa dirinya sendiri.
Sudah tiga hari ini pula Ruby mengabaikan pesan dari Iqbal. Panggilan telpon dari Iqbal sekalipun tak ia terima, hanya ia tatapi saja foto profil pria yang dicintainya itu dengan tangisan.
/Apa yang harus ku lakukan agar kau mau membalas pesan ku dan menerima panggilan telponku, By? Apa aku terlalu mengusik kehidupanmu?/
Lagi-lagi ia hanya membacanya tanpa membalasnya. Sedih, sudah pasti ia rasakan. Tapi ia merasa sudah tak pantas membalas bahkan memikirkan tentang Iqbal.
/Aku sudah mendengar apa yang terjadi padamu. Apa karena itu kau mengabaikanku, By? Ku mohon, angkat telponku. Aku ingin bicara denganmu./
Deg!
Ruby tak menyangka Iqbal sudah mengetahui hal ini. Hatinya benar-benar remuk ketika Iqbal sudah mengetahui ketidaksempurnaannya.
Ponselnya kembali berdering mendapat panggilan masuk dari Iqbal. Entah kekuatan apa yang membuat Ruby menerima panggilan Iqbal kali ini.
"Assalamu'alaikum, By." Sapa Iqbal, tak mendapat jawaban dari Ruby.
"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja."
Kalimat Iqbal hanya dijawab dengan tangisan.
"Ketahuilah, By. Apapun yang terjadi padamu tidak akan mengubah keputusanku untuk menghalalkanmu, tidak akan pula mengurangi sedikit perasaanku padamu."
Lagi-lagi Ruby semakin terisak mendengar kalimat Iqbal. Bukannya ia lega mendengar bagaimana perasaan Iqbal padanya saat ini, hal itu justru membuat Ruby semakin merasa hina dan kotor berada di sekitar Iqbal.
"Maafkan aku tidak bisa meneruskan rencana pernikahan kita, Mas. Aku sudah tidak pantas untukmu lagi." Ruby akhirnya memberanikan diri mengucapkan hal yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan.
"By! Aku sayang ke kamu karena Allah, bukan karena apapun. Ku mohon jangan melakukan ini. Seribu kali kamu mencari alasan untuk mengakhiri hubungan ini, ketahuilan hanya satu alasan yang akan ku buat untuk membuat hubungan ini bertahan. Aku mencintaimu, By."
"Ku mohon jangan menyiksaku dengan kalimat itu, Mas. Dan ku mohon biarkan aku pergi darimu."
"Apa kau sudah tidak mencintaiku, By?"
Ruby tak bisa menjawab pertanyaan Iqbal, Ia hanya menangis dan menangis lalu mengakhiri panggilan telponnya.
"Aaaaaaarggggh!!!!"
PYAR!
Ruby melempar ponselnya ke kaca rias hingga membuat kaca rias pecah berantakan.
Mendengar suara berisik dari kamar Ruby, membuat Nyai Hannah, Nyai Fatimah dan Azizah segera melepas mukenahnya dan menghampiri kamar Ruby.
"RUBY!!"
Nyai Hannah sangat terkejut ketika melihat Ruby tergeletak di lantai kamar dengan darah segar mengalir dari tangan kiri putrinya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan cuma baca aja loh ya.
Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Erna Yunita
remah-remah neraka...... wuiihhhh... kereeeeeennnn... baru nemuin kosa kata baru 😎
2024-09-04
0
Sovi Riyani
Ya ampuun kak , uda keberapa x baca novel ini selalu nangis pas di BAB ini 😭
2024-07-21
1
Yulay Yuli
/Sob//Sob//Sob/ ga bisa bayangin jadi ruby/Sob/
2024-06-15
0