"Ruby!"
"By. Bangun, By!"
Samar-samar Ruby mendengar beberapa orang memanggil namanya, matanya berat untuk terbuka namun ia bisa merasakan sakit di badannya apalagi dibagian intimnya.
"Ruby!" Seseorang mengguncang badan Ruby.
Kini Ruby bisa membuka matanya. Ada Nyai Fatimah dan Azizah yang sedang menangis, juga Kyai Nur dan Ehsan berdiri dibelakang Nyai Fatimah dan Azizah.
"Bulek, Zizah? Kenapa Nangis?" Ruby kebingungan.
"Aaauh!"
Ia berusaha untuk duduk, namun ia merasakan sakit yang sangat nyeri dibagian intimnya.
"Kenapa, Mbak?" Tanya Zizah khawatir.
"Gak, tau. Ini sakit banget." Jawab Ruby dengan kedua tangannya masuk kebawah bad cover untuk memegangi bagian intim miliknya.
Azizah menatap Nyai Fatimah, namun Umminya semakin terisak.
"Tunggu!" Ruby teringat sesuatu, "Kenapa aku bisa di kamarku, bulek?"
Ruby mengingat-ingat kembali apa yang terjadi, dia pergi ke rumah Nara kemarin dan akan pergi ke mini market namun tiga orang pria membawanya pergi ke sebuah rumah, setelah itu Ruby tak mengingat sesuatu hingga ia terbangun dikamarnya dengan rasa sakit dibagian intimnya.
Ruby memaksa otaknya untuk mengingat segala hal yang terjadi semalam. Namun ia tak mendapatkan apa-apa.
"Siapa yang mengantarkanku pulang, bulek?" Tanya Ruby.
Ruby tak mendapatkan jawaban, Nyai Fatimah hanya menangis dan memeluk Ruby erat-erat membuat Ruby semakin bertanya-tanya. Ia kembali menatap Kyai Nur.
"Paklek, ada apa semua ini?"
"Sebelum Subuh tadi, satri paklek menemukan kamu ada di pos belakang pesantren putra, By." Jawab Kyai Nur, Ia mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tanpa jilbabmu dan dengan bajumu yang berantakan, Nduk."
Ruby mencoba mencerna kata-kata paklek-nya, pikirannya mencoba untuk membohongi diri sendiri, berharap bahwa telinganya sedang salah mendengar.
Namun pikirannya sudah mulai menebak-nebak mengenai rasa sakit di bagian intim miliknya. Ia menatap kyai Nur yang tak bisa menjelaskan apa yang sedang ia alami semalam.
Ruby melepas paksa pelukan Nyai Fatimah dan menatapnya, meminta agar Nyai Fatimah menjelaskan bahwa apa yang sedang ia pikirkan salah.
Nyai Fatimah memegang kedua pipi Ruby, "Kamu harus bisa melewati semua ini, Nduk. Seseorang sudah merengut kehormatanmu."
Deg!
Jantungnya berdetak lebih cepat hingga membuat tubuh Ruby menjadi panas dan tak nyaman, tangannya bergetar tanpa ia gerakkan. Ia menolak pelukan yang akan diberikan Nyai Fatimah.
"Jangan sentuh aku, Bulek. Tolong tinggalkan aku sendiri." pinta Ruby
"Kamu butuh teman, Nduk. Biarkan Bulek dan Azizag temani kamu." Bujuk Nyai Fatimah.
Ruby menggeleng, "Tolong biarkan aku sendiri dulu." Pinta Ruby lirih untuk membendung air matanya.
Kyai Nur menepuk bahu Istrinya untuk menuruti kemauan Ruby. Dengan berat mereka berempat pergi meninggalkan kamar Ruby.
Ruby mencoba turun dari tempat tidur ketika pintu kamarnya sudah tertutup. Tertatih ia menuju ke meja rias yang ada di samping cendela kamarnya, lalu ia duduk di kursi dengan sangat hati-hati.
Ia tatap gambaran dirinya didalam cermin, walau dia tidak ingin menangis, air matanya tetap saja menetes tanpa ijin dan segera ia usap. Ia membuka jilbab yang menutupi seluruh rambutnya dan ia letakkan diatas meja rias. Hatinya sangat sakit ketika melihat beberapa tanda merah dilehernya.
Ia menyentuh lehernya dengan ragu, melihatnya saja sudah membuat jijik namun ia ingin segera membersihkannya. Pelan ia gosok-gosok kissmark tersebut, namun lama kelamaan Ruby merasa maeah dan kesal hingga menggosoknya penuh emosi.
"Argh!!" Teriak Ruby marah membuang apapun yang ada diatas meja riasnya.
Mendengar teriakan dan suara barang-barang jatuh membuat Nyai Fatimah dan Azizah yang masih menunggu didekat kamar Ruby segera menghampiri.
Ruby terlihat duduk menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya. Bahunya naik turun mengikuti irama tangisannya.
"Istiqfar, Nduk." Nyai Fatimah merangkul tubuh Ruby.
Ruby hanya terus menangis dan marah dengan musibah yang sedang menimpanya. Ia tahu ini tidak akan terjadi tanpa ijin dari Allah, tapi dia masih belum bisa menerima keadaan ini.
*********
Matahari sudah berada dipuncak singgasananya, namun tidak membuat seorang Ibrahim Akihiko bangun dari tidurnya.
"Ko! Bangun Ko!"
Ini sudah kesekian kali Genta membangunkan Hiko, namun tak sekalipun mendapat respon.
"Ko! Ajudan bokap lo dateng tuh!" Teriak Genta kesal.
Seketika Hiko membuka matanya, "Beneran?" Tanyanya dengan suara yang serak.
"Cepetan sana temuin!" Genta menari tangan Hiko
Dengan malas Hiko bangun dan duduk sejena mengumpulkan paksa nyawa nyawanya yang masih berkeliaran.
"Kenapa secepat ini sih bokap gue nagih jawabannya." Keluh Hiko.
"Emang kenapa bokap lo?" tanya Genta
"Gue disuruh milih ngelepas Nara atau ngelepas keluarga gue."
"Trus, keputusan lo apa?"
Hiko mengangkat kedua bahunya, "Gue belum mutusin."
"Pilihan gampang kaya gitu gak bisa lo putusin? Kebangetan lo, Ko!" Genta menatap remeh Hiko.
"Buat lo gampang, buat gue susah. Gimanapun juga gue lebih nyaman sama Nara. Lo lihat sendiri kan gue udah jarang ganti-ganti cewek."
Genta hanya memutar bola matanya saja, "Sana cepetan keluar."
Dengan rambut dan wajah yang terdapat banyak memar, Hiko keluar kamar menuju ke ruang tamu. Namun ia tidak menemukan siapa-siapa disana. Ia mencoba melihat ke bagian depan rumah juga gak ada seorangpun disana, hanya ada mobil miliknya saja.
"Mana *** ajudan bokap gue?"
"Ya sama bokap lo! Ngapain juga Merek datang-datang kesini?"
"Brengs*k Lo, Ta! Ngibulin gue Lo!" Hiko hendak menonjok perut Genta namun dapat dihindari Genta dengan segera.
"Lagian dibangunin dari tadi susah amat." elak Genta.
"Lo tahu sendiri gue mabok, baru tidur juga jam berapa? Aneh-aneh aja lo!"
Obrolan Hiko dan Genta terhenti ketika mobil sedan hitam yang sangat mereka kenali berhenti didepan rumah Genta.
"Bokap lo beneran kesini, Ko!" Bisik Genta, ia berdiri tegap bersiap menyambut kedatangan seorang mentri dirumahnya.
"Selamat pagi, pak." Sapa Genta ketika Handoko dan Maria masuk ke dalam halaman rumahnya.
PLAK!
Sebuah tamparan dipipi Genta mejadi jawaban dari salamnya pada Handoko.
"Kenapa kamu sampai tidak mengerti hubungan gelap mereka?" Tanya Handoko.
Genta membetulkan kacamatanya, "Maaf, pak."
"Wajah kamu kenapa sayang?" Maria segera menghampiri putranya, "Emph! Kamu habis minum-minum?" Maria menutuo hidungnya.
"Sudah tahu sedang ada masalah, masih nambah-nambah masalah lagi! Papa heran dengan kamu ini Hiko! Apa sebaiknya kamu tinggal di pesantren kyai Abdullah?"
"Siapa juga yang mau tinggal ditempat kaya gitu! Mau ke mini market aja susah." Hiko menolak tawaran Handoko.
"Tapi kamu disana bisa dapst ilmu baru, mengingat ilmu-ilmu agama yang sudah kamu lupakan, Nak. Siapa tahu kamu bisa berubah jadi lebih baik." Bujuk Maria juga.
"Hiko lebih suka kehidupan Hiko sekarang, Ma." Tolak Hiko lagi.
"Kamu masih mau meneruskan hubungan gelap kamu dengan asisten dia!?" Handoko menunjuk tepat dimuka Genta.
"Maaf, saya menyela. Tapi Hiko dan Nara memang tidak mempunyai hubungan apa-apa, pak." Sela Genta.
"Kamu juga mau ikut-ikutan membohongi saya?" Bentak Handoko sampai membuat Genta terkejut.
"Tidak pak, Hiko memang sudah lama tidak berhubungan dengan wanita yang aneh-aneh karena dia sedang menyukai seseorang." Genta buru-buru mengeluarkan ponselnya dan sibuk mencari sesuatu didalam sana.
"Ini, pak." Genta menunjukkan layar ponselnya pada Handoko.
"Ma, sini coba!" Handoko mengambil ponsel Genta dan menunjukkan pada Maria ketika istrinya itu menghampirinya. "Papa kok gak asing dengan gadis ini."
"Ya Allah, Papa!" Maria terkejut dan mengambil ponsel Genta, "Benar ini gadis yang disukai Hiko?" Tanya Maria pada Genta.
"Iya, Bu. Gadis itu yang membuat Hiko sedikit membaik akhir-akhir ini."
Hiko dibuat penasaran siapa gadis yang dimaksud Genta.
"Jadi selama ini kamu suka sama Ruby, Sayang?"
"Apa Ma!?" Hiko tidak ingin salah mendengar sebuah nama dari mulut mamanya.
"Gadis yang kamu sukai Ruby? Anak Kyai Abdullah!? Sejak kapan!?"
Hiko semakin terkejut mendengar pertanyaan mamanya. Ia hanya diam menatap Genta dan ingin segera menghajarnya.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Jangan cuma baca aja loh ya.
Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Ibrahim Adjie Prawira
Genta ter the best 👍
2024-10-09
0
Hearty 💕
Genta mau Hoko tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya
2024-02-15
0
Lia Bagus
genta 👍👍👍
2023-12-17
0