PLAK!!
Sebuah tamparan keras dari handoko mendarat di pipi Hiko membuat Maria dan Nara terkejut.
Hiko hanya memegangi pipinya yang memanas dan tertunduk tak berani menatap papanya.
"Sampai kapan kamu akan bersikap dewasa?" Tanya Handoko menahan marah.
Maria memegangi tangan suaminya agar tidak menyakiti Hiko lagi.
"Kapan kamu akan berhenti berulah? Sejauh apa kamu akan membuat malu papa?" Tanya Handoko.
Hiko masih diam.
"Kalau kamu masih mau bekerja di bidang ini, putuskan hubungan kalian Atau putuskan hubungan keluarga kita!"
"Pah! Papa gak bisa beri aku pilihan seperti itu." protes Hiko.
"Maaf pak Handoko menyela pembicaraan anda. Tapi harus saya luruskan, antara saya Hiko tidak ada hubungan apapun kecuali rekan kerja. Saya asisten kak Genta, mana berani saya menjalin hubungan dengan Hiko. Setahu saya, Hiko juga sudah mempunyai kekasih. Sebenarnya ini hanya masalah pribadi saya dan suami saya yang sudah salah paham melihat saya dan Hiko."
Handoko tak sekalipun menatap Nara, baginya penjelasan Nara tak lebih dari sebuah alasan.
"Papa tunggu keputusan kamu." Ucap Handoko kemudian masuk ke dalam mobil.
Maria menatap Hiko cemas, ia mengusap pipi Hiko yang mendapatkan tamparan suaminya. "Mama pulang dulu, sayang. Pikirkan semuanya baik-baik, sayang." Katanya kemudian menyusul suaminya ikut masuk ke dalam mobil.
Hiko masih diam menatapi kepergian mobil papa dan mamanya.
"Sayang..." Nara mendekati Hiko.
"Gue gak mau bahas masalah ini sekarang. Gue mau masuk dulu." Hiko meninggalkan Nara.
Melihat sikap Hiko seperti itu membuat Nara merasa sangat bersalah. Ia ingin saja pergi melepaskan pekerjaannya, tapi tidak untuk melepaakan Hiko. Karena banginya, Hiko lebih dari segalanya.
Sementara itu Hiko berusaha menenangkan dirinya dikamar. Badannya sudah terbaring diatas tempat tidur dengan lengan yang menutup matanya mencoba untuk tidak memikirkan apapun.
Semua usaha untuk menenangkan pikiran gagal ia lakukan, nyatanya semakin ia memejamkan mata semakin terngiang perlakuan kru dan papanya hari ini padanya.
Ia membuka matanya,tangannya meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Ia menekan speed dial angka satu pada layar ponselnya dan keluarlah nama Genta disana.
Sambungan telpon sudah berbunyi dua kali dan Hiko segera memutuskan telponnya lalu meletakkan secara keras ponselnya diatas nakas.
"Anj*ng!" Ia duduk dan melempar bantalnya ke sembarang arah menyadari jika Genta sudah meninggalkan dia.
"Haaargggh!!" Teriaknya melepas kemarahan.
Kembali ia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telpon. "Ajak anak-anak ke tempat Jony nanti malam! Gue traktir apa aja yang kalian mau!"
Hiko meletakkan kembali ponselnya kemudian pergi ke kamar mandi.
**********
Nara sedang kebingungan di dalam kamarnya karena semakin banyak wartawan yang mendatangi rumahnya. Langit malam tak membuat niatnya untuk menyalakan lampu, ia hanya ingin para pencari berita itu mengira tak ada orang dirumah dan segera meninggalkan rumahnya.
"By, tolong aku." Ucap Nara ketukan, ia memutuskan untuk menelpon sahabatnya itu.
"Kamu kenapa, Ra?" Ruby khawatir mendengar nada bicara Nara.
"Banyak wartawan disini, By. Tolong kesini, bilang sama mereka kalau aku gak ada disini. Tolong kamu pura-pura tinggal denganku disini." Pinta Nara.
Ruby masih diam tak menjawab. Ia sedang menatap jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Iya, Ra. Aku akan segera kesana." Jawab Ruby kemudian, walau sebenarnya ia ragu akan mendapatkan ijin dari Kyai Nur dan Nyai Fatimah.
"Makasih ya, By. Nanti kamu ambil kunci cadangan saja di bawah pot tanaman samping kanan pintu." Jelas Nara.
"Iya, Ra."
"Aku tutup telponnya." Nara mengakhiri panggilan telponnya.
Sedangkan Ruby bergegas keluar kamarnya dan menghampiri Paklek dan Bulek-nya yang masih berbincang dengan beberapa pengasuh pesantren putra dan putri di ruang tamu.
"Assalamu'alaikum, Maaf mengganggu." Ucap Ruby terburu-buru.
"Wa'alaikumsalam." jawab semua
Melihat gelagat Ruby yang seperti kebingungan membuat Nyai Fatimah menghampirinya dan mengajak Ruby ke belakang.
"Kenapa, By?" Tanya Nyai Fatimah
"Bulek, Ruby mau minta ijin untuk kerumah Nara. Dia sedang sendirian dan ketakutan karena rumahnya dikepung banyak wartawan."
"Ini sudah malam, By. Bulek gak bisa ijinkan kamu keluar."
Ruby menarik kedua tangan Nyai Fatimah, "Ruby mohon, bulek. Ruby takut terjadi sesuatu dengan Nara"
"By, kalau kamu ngotot mau keluar. Sebaiknya minta ijin Abimu dulu." Kyai Nur tiba-tiba datang.
Ruby mengangguk dan mengambil ponselnya untuk segera menghubingi Abinya.
Setelah terhubung, Ruby segera menjelaskan semuanya pada Abinya.
"Pastikan segera pulang jika Nara sudah tenang, By. Abi gak mau kamu terlalu lama diluar." Jawab Kyai Abdullah.
"Alhamdullillah, terimakasih Abi sudah memberi ijin. Ruby pastikan pulang setelah semuanya bisa teratasi."
"Iya, Nak. Hati-hati ya karena sudah malam."
"Iya, By. Assalamu'alaikum." Ruby mengakhiri panggilan telponnya.
"Gimana, By?" Tanya Kyai Nur.
"Abi mengijinkan, Paklek. Cuma Abi berpesan untuk segera pulang setelah Nara tenang."
Kyai Nur mengangguk, " Ehsan? San?"
Mendengar namanya dipanggil membuat Ehsan keluar kamar, "Dalem, Abi."
"Antar mbak mu ke rumah temannya, ya." Pinta Kyai Nur.
"Baik, Abi." Ucap Ehsan. "Ehsan ganti baju dulu." kata Ehsan.
Usai Ruby dan Ehsan ganti baju, mereka segera berpamitan dan pergi menuju ke rumah Nara.
Ruby meminta Ehsan berhenti tak jauh dari rumah Nara yang gelap namun banyak orang dengan kamera disana.
"Mbak nanti kalau mau pulang whatsapp Ehsan saja ya."
"Iya, San. Makasih ya, San. Mbak pergi dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Ruby meninggalkan Ehsan dan berjalan menuju ke rumah Nara. Halaman rumah Nara yang tanpa pagar itu membuat wartawan seenaknya masuk hingga ke teras rumah.
Kehadiran Ruby disana langsung menyita perhatian mereka, dengan sigap reporter dan kameramen menghampiri Ruby mencecar Ruby dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dia dan apa hubungannya dengan Nara.
Ruby menunduk menghindari lampu lampu yang disorotkan padanya.
Ruby diam tak menghindar, ia pelan mengangkat kepala dan menyesuaikan pandangan dengan cahaya terang yang masuk ke matanya.
"Bisa biarkan saya bicara terlebih dulu?" Tanya Ruby.
"Ssst ssssttt sssttt" Seketika menjadi hening.
"Pertama saya sampaikan, saya bukan public figure yang bisa seenaknya anda masukkan wajah saya dalam media apapun. Saya akan menuntut siapapun yang merilis wajah saya ke media apapun itu.
Kedua, saya adalah sahabat pemilik rumah ini. Dan kebetulan dia tidak bisa pulang karena keberadaan anda semua disini. Karena pemilik rumah ini tidak ada, saya dimintai tolong untukmembereskan sesuatu di dalam sana.
Ketiga, Saya minta tolong untuk meninggalkan halaman rumah ini. Karena saya akan merasa sangat terganggu jika anda semua berada disini. Jika anda masih bersikeras disini, saya akan minta pak RT dan security komplek untuk mengurus ketidaknyamanan ini. Saya harap anda menghargai privasi dan aktivitas saya disini.
Keempat, Tolong jangan tanyakan keberadaan siapapun pada saya. Karena saya tidak bisa menjawabnya."
Pernyataaan Ruby cukup membuat para reporter itu tak berani bertanya macam-macam, mereka sudah cukup paham dengan kata-kata Ruby. Mereka memberi jalan untuk Ruby meninggalkan kerumunan.
Semua awak media memang tak percaya sepenuhnya dengan statement Ruby, tapi mau tidak mau mereka memang harus meninggalkan rumah Nara.
Ruby masuk ke dalam rumah dari kunci yang ada dibawah pot tanaman dekat pintu. Itu cukup meyakinkan para wartawan jika memang rumah itu sedang kosong.
Ruby masuk, pelan pelan Ruby berjalan di kegelapan dan langsung menuju ke kamar Nara. Ia mencari cari saklar lampu kamar Nara dan menyalakannya.
Ruby melihat Nara tengah duduk di sudut kamar dengan menenggelamkan wajahnya diantar lipatan tangannya.
"Ra!" Ruby menghampiri Nara.
Nara mengangkat kepalanya, Ia terlihat lega ketika Ruby sudah datang. "Aku senang kamu sudah datang, By. Aku takut sekali."
Ruby segera memeluk Nara, "Kamu tidak perlu khawatir, Ra. Mereka semua sudah pergi."
"Makasih ya, By. Makasiiih." Ucap Nara diantara tangisannya.
Ruby melepaskan pelukan Nara ketika ponsel Nara bergetar dilantai tempat Nara duduk. Ruby bisa melihat ada nama Hiko disana.
Nara menerima panggilan telpon Hiko, ia mendengar suara bising disana.
"Kamu lagi di Club?" Tanya Nara mendengar kerasnya suara musik dan ramai teriakan-teriakan orang.
"Lo kenapa sayang? Habis nangis?" Hiko balik bertanya mengabaikan pertanyaan Nara.
"Iya. Aku takut, banyak wartawan menunggu didepan rumah." Jawab Nara.
"Brengsek! Berani sekali mereka pergi kerumah lo!"
"Sekarang aku udah gak apa, ada Ruby yang sudah membuat mereka pergi."
Tak ada jawaban dari Hiko, Hanya ada suara musik keras dibalik telpon.
"Aku tahu kamu sedang pusing, jangan sampai membuat mu mabuk-mabukan sayang. Aku juga gak mau sampai kamu menyentuh wanita lain selain aku." pinta Nara.
"Ya." Jawab Hiko singkat.
"Kamu gak perlu khawatirkan aku, aku sudah bersama Ruby." Ucap Nara.
"Ya, Aku mau lanjut sama temen-temen dulu."
"Ya, sayang."
Nara meletakkan kembali ponselnya di lantai.
"Maafin aku ya, Ra. Aku gak bisa lama-lama, Abi gak ngijinin aku menginap disini." Ujar Ruby
Nara mengangguk, "Iya, By. Aku bersyukur kamu sudah kesini. Aku sudah lebih baik sekarang."
"Aku bawakan makanan, Ayo makan dulu." Ruby menarik tangan Nara membantunya berdiri.
**********
Hiko sedang duduk memeluk wanita yang mengenakan pakaian sexy, begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Minuman keras dan beberapa camilan sudah memenuhi meja tempat Hiko dan teman-temannya berkumpul. Tangan Hiko sedari tadi tak henti meraba bagian intim teman kencannya itu, desahan wanita itu tenggelam begitu saja diantara dentuman musik diskotik.
"Aarrrgh!!!" teriak Hiko kesal karena pikirannya masih tak bisa teralihkan dari permasalahannya, ia mendorong wanita disampingnya itu dengan kasar.
"Kenapa, Brother?" Tanya Alex, kawan Clubing Hiko.
"Suruh anak buah lo kesini, gue mau kasih tugas buat mereka." Teriak Hiko agar Alex bisa mendengar suaranya.
Alex mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, "Masuk kalian, Hiko punya tugas buat kalian." katanya singkat kemudian menutup sambungan telpon.
Tak sampai lima menit, tiga orang pria bertubuh besar menghampiri meja Hiko.
Hiko menunjukkan layar ponselnya, "Bawa cewek ini ke apartemen Alex! Gue mau kasih pelajaran ke dia. Gue kirim alamatnya, jangan sampai ada yang tahu kalian bawa dia!" Pinta Hiko.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
Hayoooo, jangan cuma baca aja. Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Abie Mas
ada masalah apa si hiko ini kok marahnya sama ruby
2024-05-24
0
Lia Bagus
waduh siapa itu
2023-12-17
0
Rumaisha Anjani38
Jejak jejak manjah buat author ku🤭😘
2023-11-21
0