14

PLAK!!

Sebuah tamparan keras dari handoko mendarat di pipi Hiko membuat Maria dan Nara terkejut.

Hiko hanya memegangi pipinya yang memanas dan tertunduk tak berani menatap papanya.

"Sampai kapan kamu akan bersikap dewasa?" Tanya Handoko menahan marah.

Maria memegangi tangan suaminya agar tidak menyakiti Hiko lagi.

"Kapan kamu akan berhenti berulah? Sejauh apa kamu akan membuat malu papa?" Tanya Handoko.

Hiko masih diam.

"Kalau kamu masih mau bekerja di bidang ini, putuskan hubungan kalian Atau putuskan hubungan keluarga kita!"

"Pah! Papa gak bisa beri aku pilihan seperti itu." protes Hiko.

"Maaf pak Handoko menyela pembicaraan anda. Tapi harus saya luruskan, antara saya Hiko tidak ada hubungan apapun kecuali rekan kerja. Saya asisten kak Genta, mana berani saya menjalin hubungan dengan Hiko. Setahu saya, Hiko juga sudah mempunyai kekasih. Sebenarnya ini hanya masalah pribadi saya dan suami saya yang sudah salah paham melihat saya dan Hiko."

Handoko tak sekalipun menatap Nara, baginya penjelasan Nara tak lebih dari sebuah alasan.

"Papa tunggu keputusan kamu." Ucap Handoko kemudian masuk ke dalam mobil.

Maria menatap Hiko cemas, ia mengusap pipi Hiko yang mendapatkan tamparan suaminya. "Mama pulang dulu, sayang. Pikirkan semuanya baik-baik, sayang." Katanya kemudian menyusul suaminya ikut masuk ke dalam mobil.

Hiko masih diam menatapi kepergian mobil papa dan mamanya.

"Sayang..." Nara mendekati Hiko.

"Gue gak mau bahas masalah ini sekarang. Gue mau masuk dulu." Hiko meninggalkan Nara.

Melihat sikap Hiko seperti itu membuat Nara merasa sangat bersalah. Ia ingin saja pergi melepaskan pekerjaannya, tapi tidak untuk melepaakan Hiko. Karena banginya, Hiko lebih dari segalanya.

Sementara itu Hiko berusaha menenangkan dirinya dikamar. Badannya sudah terbaring diatas tempat tidur dengan lengan yang menutup matanya mencoba untuk tidak memikirkan apapun.

Semua usaha untuk menenangkan pikiran gagal ia lakukan, nyatanya semakin ia memejamkan mata semakin terngiang perlakuan kru dan papanya hari ini padanya.

Ia membuka matanya,tangannya meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas. Ia menekan speed dial angka satu pada layar ponselnya dan keluarlah nama Genta disana.

Sambungan telpon sudah berbunyi dua kali dan Hiko segera memutuskan telponnya lalu meletakkan secara keras ponselnya diatas nakas.

"Anj*ng!" Ia duduk dan melempar bantalnya ke sembarang arah menyadari jika Genta sudah meninggalkan dia.

"Haaargggh!!" Teriaknya melepas kemarahan.

Kembali ia mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telpon. "Ajak anak-anak ke tempat Jony nanti malam! Gue traktir apa aja yang kalian mau!"

Hiko meletakkan kembali ponselnya kemudian pergi ke kamar mandi.

**********

Nara sedang kebingungan di dalam kamarnya karena semakin banyak wartawan yang mendatangi rumahnya. Langit malam tak membuat niatnya untuk menyalakan lampu, ia hanya ingin para pencari berita itu mengira tak ada orang dirumah dan segera meninggalkan rumahnya.

"By, tolong aku." Ucap Nara ketukan, ia memutuskan untuk menelpon sahabatnya itu.

"Kamu kenapa, Ra?" Ruby khawatir mendengar nada bicara Nara.

"Banyak wartawan disini, By. Tolong kesini, bilang sama mereka kalau aku gak ada disini. Tolong kamu pura-pura tinggal denganku disini." Pinta Nara.

Ruby masih diam tak menjawab. Ia sedang menatap jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Iya, Ra. Aku akan segera kesana." Jawab Ruby kemudian, walau sebenarnya ia ragu akan mendapatkan ijin dari Kyai Nur dan Nyai Fatimah.

"Makasih ya, By. Nanti kamu ambil kunci cadangan saja di bawah pot tanaman samping kanan pintu." Jelas Nara.

"Iya, Ra."

"Aku tutup telponnya." Nara mengakhiri panggilan telponnya.

Sedangkan Ruby bergegas keluar kamarnya dan menghampiri Paklek dan Bulek-nya yang masih berbincang dengan beberapa pengasuh pesantren putra dan putri di ruang tamu.

"Assalamu'alaikum, Maaf mengganggu." Ucap Ruby terburu-buru.

"Wa'alaikumsalam." jawab semua

Melihat gelagat Ruby yang seperti kebingungan membuat Nyai Fatimah menghampirinya dan mengajak Ruby ke belakang.

"Kenapa, By?" Tanya Nyai Fatimah

"Bulek, Ruby mau minta ijin untuk kerumah Nara. Dia sedang sendirian dan ketakutan karena rumahnya dikepung banyak wartawan."

"Ini sudah malam, By. Bulek gak bisa ijinkan kamu keluar."

Ruby menarik kedua tangan Nyai Fatimah, "Ruby mohon, bulek. Ruby takut terjadi sesuatu dengan Nara"

"By, kalau kamu ngotot mau keluar. Sebaiknya minta ijin Abimu dulu." Kyai Nur tiba-tiba datang.

Ruby mengangguk dan mengambil ponselnya untuk segera menghubingi Abinya.

Setelah terhubung, Ruby segera menjelaskan semuanya pada Abinya.

"Pastikan segera pulang jika Nara sudah tenang, By. Abi gak mau kamu terlalu lama diluar." Jawab Kyai Abdullah.

"Alhamdullillah, terimakasih Abi sudah memberi ijin. Ruby pastikan pulang setelah semuanya bisa teratasi."

"Iya, Nak. Hati-hati ya karena sudah malam."

"Iya, By. Assalamu'alaikum." Ruby mengakhiri panggilan telponnya.

"Gimana, By?" Tanya Kyai Nur.

"Abi mengijinkan, Paklek. Cuma Abi berpesan untuk segera pulang setelah Nara tenang."

Kyai Nur mengangguk, " Ehsan? San?"

Mendengar namanya dipanggil membuat Ehsan keluar kamar, "Dalem, Abi."

"Antar mbak mu ke rumah temannya, ya." Pinta Kyai Nur.

"Baik, Abi." Ucap Ehsan. "Ehsan ganti baju dulu." kata Ehsan.

Usai Ruby dan Ehsan ganti baju, mereka segera berpamitan dan pergi menuju ke rumah Nara.

Ruby meminta Ehsan berhenti tak jauh dari rumah Nara yang gelap namun banyak orang dengan kamera disana.

"Mbak nanti kalau mau pulang whatsapp Ehsan saja ya."

"Iya, San. Makasih ya, San. Mbak pergi dulu, Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Ruby meninggalkan Ehsan dan berjalan menuju ke rumah Nara. Halaman rumah Nara yang tanpa pagar itu membuat wartawan seenaknya masuk hingga ke teras rumah.

Kehadiran Ruby disana langsung menyita perhatian mereka, dengan sigap reporter dan kameramen menghampiri Ruby mencecar Ruby dengan pertanyaan-pertanyaan tentang siapa dia dan apa hubungannya dengan Nara.

Ruby menunduk menghindari lampu lampu yang disorotkan padanya.

Ruby diam tak menghindar, ia pelan mengangkat kepala dan menyesuaikan pandangan dengan cahaya terang yang masuk ke matanya.

"Bisa biarkan saya bicara terlebih dulu?" Tanya Ruby.

"Ssst ssssttt sssttt" Seketika menjadi hening.

"Pertama saya sampaikan, saya bukan public figure yang bisa seenaknya anda masukkan wajah saya dalam media apapun. Saya akan menuntut siapapun yang merilis wajah saya ke media apapun itu.

Kedua, saya adalah sahabat pemilik rumah ini. Dan kebetulan dia tidak bisa pulang karena keberadaan anda semua disini. Karena pemilik rumah ini tidak ada, saya dimintai tolong untukmembereskan sesuatu di dalam sana.

Ketiga, Saya minta tolong untuk meninggalkan halaman rumah ini. Karena saya akan merasa sangat terganggu jika anda semua berada disini. Jika anda masih bersikeras disini, saya akan minta pak RT dan security komplek untuk mengurus ketidaknyamanan ini. Saya harap anda menghargai privasi dan aktivitas saya disini.

Keempat, Tolong jangan tanyakan keberadaan siapapun pada saya. Karena saya tidak bisa menjawabnya."

Pernyataaan Ruby cukup membuat para reporter itu tak berani bertanya macam-macam, mereka sudah cukup paham dengan kata-kata Ruby. Mereka memberi jalan untuk Ruby meninggalkan kerumunan.

Semua awak media memang tak percaya sepenuhnya dengan statement Ruby, tapi mau tidak mau mereka memang harus meninggalkan rumah Nara.

Ruby masuk ke dalam rumah dari kunci yang ada dibawah pot tanaman dekat pintu. Itu cukup meyakinkan para wartawan jika memang rumah itu sedang kosong.

Ruby masuk, pelan pelan Ruby berjalan di kegelapan dan langsung menuju ke kamar Nara. Ia mencari cari saklar lampu kamar Nara dan menyalakannya.

Ruby melihat Nara tengah duduk di sudut kamar dengan menenggelamkan wajahnya diantar lipatan tangannya.

"Ra!" Ruby menghampiri Nara.

Nara mengangkat kepalanya, Ia terlihat lega ketika Ruby sudah datang. "Aku senang kamu sudah datang, By. Aku takut sekali."

Ruby segera memeluk Nara, "Kamu tidak perlu khawatir, Ra. Mereka semua sudah pergi."

"Makasih ya, By. Makasiiih." Ucap Nara diantara tangisannya.

Ruby melepaskan pelukan Nara ketika ponsel Nara bergetar dilantai tempat Nara duduk. Ruby bisa melihat ada nama Hiko disana.

Nara menerima panggilan telpon Hiko, ia mendengar suara bising disana.

"Kamu lagi di Club?" Tanya Nara mendengar kerasnya suara musik dan ramai teriakan-teriakan orang.

"Lo kenapa sayang? Habis nangis?" Hiko balik bertanya mengabaikan pertanyaan Nara.

"Iya. Aku takut, banyak wartawan menunggu didepan rumah." Jawab Nara.

"Brengsek! Berani sekali mereka pergi kerumah lo!"

"Sekarang aku udah gak apa, ada Ruby yang sudah membuat mereka pergi."

Tak ada jawaban dari Hiko, Hanya ada suara musik keras dibalik telpon.

"Aku tahu kamu sedang pusing, jangan sampai membuat mu mabuk-mabukan sayang. Aku juga gak mau sampai kamu menyentuh wanita lain selain aku." pinta Nara.

"Ya." Jawab Hiko singkat.

"Kamu gak perlu khawatirkan aku, aku sudah bersama Ruby." Ucap Nara.

"Ya, Aku mau lanjut sama temen-temen dulu."

"Ya, sayang."

Nara meletakkan kembali ponselnya di lantai.

"Maafin aku ya, Ra. Aku gak bisa lama-lama, Abi gak ngijinin aku menginap disini." Ujar Ruby

Nara mengangguk, "Iya, By. Aku bersyukur kamu sudah kesini. Aku sudah lebih baik sekarang."

"Aku bawakan makanan, Ayo makan dulu." Ruby menarik tangan Nara membantunya berdiri.

**********

Hiko sedang duduk memeluk wanita yang mengenakan pakaian sexy, begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Minuman keras dan beberapa camilan sudah memenuhi meja tempat Hiko dan teman-temannya berkumpul. Tangan Hiko sedari tadi tak henti meraba bagian intim teman kencannya itu, desahan wanita itu tenggelam begitu saja diantara dentuman musik diskotik.

"Aarrrgh!!!" teriak Hiko kesal karena pikirannya masih tak bisa teralihkan dari permasalahannya, ia mendorong wanita disampingnya itu dengan kasar.

"Kenapa, Brother?" Tanya Alex, kawan Clubing Hiko.

"Suruh anak buah lo kesini, gue mau kasih tugas buat mereka." Teriak Hiko agar Alex bisa mendengar suaranya.

Alex mengambil ponselnya dan menelpon seseorang, "Masuk kalian, Hiko punya tugas buat kalian." katanya singkat kemudian menutup sambungan telpon.

Tak sampai lima menit, tiga orang pria bertubuh besar menghampiri meja Hiko.

Hiko menunjukkan layar ponselnya, "Bawa cewek ini ke apartemen Alex! Gue mau kasih pelajaran ke dia. Gue kirim alamatnya, jangan sampai ada yang tahu kalian bawa dia!" Pinta Hiko.

-Bersambung-

.

.

.

.

.

Hayoooo, jangan cuma baca aja. Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.

Terpopuler

Comments

Abie Mas

Abie Mas

ada masalah apa si hiko ini kok marahnya sama ruby

2024-05-24

0

Lia Bagus

Lia Bagus

waduh siapa itu

2023-12-17

0

Rumaisha Anjani38

Rumaisha Anjani38

Jejak jejak manjah buat author ku🤭😘

2023-11-21

0

lihat semua
Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 NOVEL KE 3
127 PENGUMUMAN
128 Bonchap 1-1
129 Bonchap 1-2
130 Bonchap 2-1
131 Bonchap 2-2
132 Bonchap 3-1
133 Bonchap 3-2
134 Bonchap 4-1
135 Bonchap 4-2
136 Bonchap 5-1
137 Bonchap 5-2
138 Bonchap 6-1
139 Bonchap 7-1
140 Bonchap 7-2
141 VERSI CETAK SUDAH TERBIT
142 Novel Baru
Episodes

Updated 142 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
NOVEL KE 3
127
PENGUMUMAN
128
Bonchap 1-1
129
Bonchap 1-2
130
Bonchap 2-1
131
Bonchap 2-2
132
Bonchap 3-1
133
Bonchap 3-2
134
Bonchap 4-1
135
Bonchap 4-2
136
Bonchap 5-1
137
Bonchap 5-2
138
Bonchap 6-1
139
Bonchap 7-1
140
Bonchap 7-2
141
VERSI CETAK SUDAH TERBIT
142
Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!