Ruby sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Nara, ia memutuskan untuk kembali dan membicarakan kontrak yang semalam sudah ia bahas dengan sahabatnya itu.
Hiko juga berada disana, duduk bersandar melipat tangan dan terus menatap Ruby dengan tatapan angkuh, seakan dengan sengaja membuat agar wanita itu tidak nyaman. Pria itu nyaman dengan kehadiran muslimah yang sudah mengganggu waktunya bersama kekasihnya.
Berulangkali Ruby menyenggol lengan Nara agar memberitahu Hiko jika ia tidak nyaman dengan cara pria tersebut memandangnya.
"Sayang, mending kamu kedalam deh," pinta Nara yang sudah ikut kesal.
Hiko hanya menggeleng.
"Ayolah ... Ruby gak nyaman nih dengan kamu lihatin dia kaya gitu terus dari tadi."
"Suruh balik aja kalau gak suka."
Ruby mengernyitkan keningnya, ia juga tak segan sekarang menunjukkan rasa tidak sukanya pada Hiko. "Bukannya kamu mas yang seharusnya pulang? Karena saya sudah membuat janji dengan Nara sejak semalam."
"Gue pacar dia!"
"Saya sahabat yang sudah sama dia lebih dari dua puluh tahun!"
"Tapi gue yang lebih berhak atas dia!"
"Oya? Bukankah yang paling berhak atas seorang wanita yang sudah menikah adalah suaminya?"
Sebuah kalimat yang cukup membuat Hiko tidak bisa berdalih lagi.
"By ...." Nara menatap Ruby, ia merasa tak seharusnya Ruby mengatakan hal itu di depan Hiko.
Tak mau melihat sahabat dan kekasihnya bertengkar, Nara meminta Hiko untuk kembali ke kamar. Dengan kesal Pria itu meninggalkan ruang tamu.
Beberapa kali istiqhfar dan menghela napas panjang akhirnya Ruby mulai tenang. Melihat hal itu, Nara mulai membicarakan kontraknya.
Lama mereka bertukar pikiran dan akhirnya percakapan mereka terhenti ketika Hiko kembali menghampiri mereka. "Masih lama?" tanya Hiko dengan nada yang tidak menyenangkan.
Ruby merasa ucapan Hiko bukan sebuah pertanyaan, melaikan sebuah kalimat halus untuk mengusirnya.
"Udah kok, sayang." Jawab Nara atas pertanyaan kekasihnya itu. "Kamu lapar? Kita makan siang bareng, yuk?" Nara menatap Ruby dan Hiko bergantian.
"Enggak, Ra. Aku balik aja, udah siang juga," tolak Ruby, ia memasukkan map berisi kontrak ke dalam tas ranselnya.
"Kita ketemuan cuma bentar banget loh, By." Nara mencoba menahan sahabatnya.
"Lain waktu kita cari waktu yang pas, Ra." Ruby menekan kalimat terakhirnya dengan menatap Hiko.
Nara tahu dia tidak akan bisa mengubah keputusan sahabatnya itu, "Ku anter ya? Sekalian aku sama Hiko keluar cari makan."
"Aku naik Ojol aja deh, Ra," tolak Ruby lagi.
Nara menggelengkan kepalanya, "Enggak! kali ini kamu gak boleh nolak."
Mau tak mau Ruby menyetujui permintaan Sahabatnya tersebut dan Ia diantar pulang oleh Nara dan Hiko.
**********
Semalam Ruby sudah menghubungi pihak Star House jika dia sudah membaca semua detail kontraknya, dan Ruby juga sudah menjelaskan bahwa dia setuju dengan kontrak tersebut. Jadilah siang ini Ruby ditemani Heru bertemu dengan Rika di kantor Star House.
"Saya sangat berterimakasih kamu mau menyerahkan pembuatan drama dari komik kamu pada kami," ujar Rika yang baru saja membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak.
"Sama-sama Bu Rika, saya juga sangat senang sekali komik saya bisa dibuat serial drama. Sebenarnya saya masih tidak menyangka hal ini bisa terjadi." Ruby masih menatap kagum surat kontraknya.
"kamu pantas mendapatkan ini, Ruby. Saya harap kamu bisa sedikit membantu saat proses shooting."
Permintaan Rika membuat Ruby menatap Heru, "mungkin akan sulit jika saya harus ikut ke lokasi shooting, Bu. Karena saya juga harus bekerja."
"Selama pekerjaan mu pada tim selesai, kamu bisa meninggalkan kantor lebih awal By. Pintar-pintar kamu lah untuk atur waktu," sahut Heru.
"Tim produksi akan mengabari kamu jika membutuhkan bantuan, tidak akan setiap hari," imbuh Rika, "Tapi mungkin awal-awal casting pemeran kamu harus datang, karena kamu yang bisa melihat karakter siapa yang paling cocok dengan tokoh-tokoh The King."
Ruby mengangguk, "saya usahakan bisa membantu jika dibutuhkan, Bu."
**********
Sementara itu di tempat lain.
Seorang pria berkacamata sedang berusaha membujuk pria tampan yang sedang duduk santai di dalam mobil. Dia adalah Genta, Manajer Hiko.
"Dengan drama ini lo bisa dapat keuntungan lebih banyak, Ko. Ini komik populer banget, apalagi karakter utamanya yang bikin banyak cewek klepek-klepek."
"Gue bilang enggak, ya enggak! Lo tahu gue gak suka dipaksa!" sentak Hiko, matanya tak beralih dari layar ponselnya.
"Lho baca dulu deh skripnya!" Genta meletakkan sebuah naskah di paha Hiko lalu meninggalkan pria itu sendiri didalam mobil.
Hiko melemparkan asal naskah ke bangku sebelahnya dan kembali larut di dalam ponselnya.
"Kenapa sama Kak Genta?" Nara yang baru datang bertanya tentang wajah Genta yang terlihat mayun.
Hiko melirik keluar pintu mobil melihat Genta yang terlihat kesal. "Biasa, maksa-maksa ambil peran yang gue gak suka."
"Oya? Peran apa?" tanya Nara, ia melirik naskah di samping Hiko dan mengambilnya. "The King?" Nara terlihat sumringah. "Bukannya ini drama adaptasi dari komik Ruby?" Gumam Nara sambil membuka lembar demi lembar naskah ditangannya.
Hiko mengangguk. "Karena itulah gue gak mau ambil."
"Kok gitu?" Nara mengernyitkan keningnya, "aku yakin drama ini bakal hits banget, Sayang. Eh, Ko." Nara meralat kata panggilannya pada Hiko.
"Gue gak minat, toh karir gue udah bagus tanpa itu." Hiko meletakkan ponselnya dan menatap Nara, "jangan ikut-ikut maksa gue!" tegasnya
Nara menggeleng. "Kamu pas banget loh dapat peran ini. Please, ya ... ikutaaan." Nara memasang wajah imutnya namun tetap mendapatkan tolakan dari Hiko.
"Kooo ...," rengek Nara
Hiko tetap menggeleng.
"Sayaaang ...." Wanita berambut pendek semakin memaksanya dengan manja.
"Enggak, Ra! Gue gak mau."
"Harus mau. Ini punya sahabat aku."
Hiko masih menggeleng sambil mencubit kedua pipi Nara dengan gemas.
"Ih, kalau dilihat kru nanti gimana?" Nara melepaskan tangan Hiko dari pipinya. "Pokoknya kamu harus mau!" Ia berlari meninggalkan Hiko dan berlari menghampiri Genta. "Kak Genta, Hiko jadinya mau ambil lead actor The King." Teriak Nara.
"Beneran! Gue daftarin casting-nya!" Genta berdiri dari duduknya kemudian sibuk dengan ponselnya.
Nara tersenyum semanis mungkin pada kekasihnya yang terlihat kesal namun tidak mungkin bisa marah padanya.
Mau tak mau Hiko membaca Skrip yang ada di tangannya sambil menunggu panggilan dari kru untuk mulai proses shooting film yang sedang ia jalani.
-Bersambung-
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
Titis Istikomah
tpi aku mmng lebih rela cowok urakan dapet cewek baik2,dari pda cwok baik2 dpt cewek yg(gadis bukan perawan)
2023-09-06
2
Dinar Septiani
terkadang suka gak relaaaa gitu kalo perempuan baik dapat cowo blangsak,
2023-08-12
0
Ayomi Hartinta
☝
2023-04-10
0