Hiko bangun dari tidurnya, sedangkan Genta langsung mencium tangan Maria.
"Ruby sakit apa, Ta? Kok sampai masuk rumah sakit?" Tanya Maria.
Genta dan Hiko saling melirik dan saling memberi kode.
"Kalian mau rencanain apa?" Tanya Maria yang sudah mengerti putranya dan Genta sedang merencanakan sesuatu. "Jawab pertanyaan saya, Ta. Ruby sakit apa?"
"Sebenarnya Genta juga belum tahu tante. Barusan Nara yang kasih tahu kalau Ruby masuk rumah sakit, tapi waktu saya tanya sakit apa dia gak jawab tante." Jelas Genta.
"Nara? Asisten kamu? Kok bisa kenal Ruby?" Tanya Maria.
"Setahu saya mereka sudah bersahabat sejak kecil." Jawab Genta.
"Oya!? Coba kamu tanya Nara, dimana rumah sakitnya Ruby. Saya mau pergi lihat Ruby." Pinta Maria.
"Ma, buat apa mama kesana. Biar Hiko dan Genta aja yang kesana." Bujuk Hiko.
"Kamu nanti malam ikut mama sama papa kesana." Tegas Maria.
Hiko terbelalak, "Ngapain Hiko ikut juga, Ma?"
"Kamu gak khawatir dengan keadaan orang yang kamu sayang?"
Hiko lebih terbelalak lagi, Ia menatap Genta dan Genta mengancam Hiko untuk menganggukkan kepalanya.
"Hiko khawatir, Ma. Tapi kan aneh aja kalau kesana bareng papa dan mama." Hiko mencari alasan.
"Udah, pokoknya nanti malem kita ke rumah sakit. Mama langsung pulang aja kalau gitu."
Dengan malas Hiko mencium tangan mamanya, begitu juga dengan Genta.
"Hati-hati Bu Maria." Genta mengantar kepergian Maria hingga teras rumah lalu kembali ke dalam setelah Maria pergi.
"Lo kan aneh-aneh bikin rencana! Gimana kalau sampai Nara salah paham dengan alasan ini?" Ujar Hiko kesal.
"Gue yang bicara ini dengan Nara, gue juga butuh bantuan dia untuk rencana ini. Lo ntar ngikut aja sama bokap nyokap lo ke rumah sakit." jawab Genta. "Lo juga butuh The King buat dongkrak popularitas lo, makanya lo harus bujuk dia biar posisi lo gak digantiin."
"Terserah lo deh! Gue udah males mikir hal ginian!" Hiko meninggalkan Genta dan pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
***********
Hiko dan kedua orangtuanya berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan dikawal dua orang pengawal dan satu ajudan Handoko. Seperti biasa, Hiko selalu keluar ke tempat umum mengenakan masker dan topi untuk melindungi privasinya.
"Kyai Abdullah." Sapa Handoko dari kejauhan ketika melihat Kyai Abdullah baru keluar kamar.
"Assalamu'alaikum, Kyai."Handoko meraih tangan kyai Abdullah dan memeluknya.
"Wa'alaikumsalam, pak Handoko." Balas Kyai Abdullah, "Bagaimana anda bisa disini?"
"Saya mendengar kabar dari Nara, sahabatnya Ruby. Kebetulan dia asisten manajer Hiko, Kyai. Katanya Ruby sedang ada dirumah sakit. Karena itulah kami segera kemari." Jelas Handoko.
"Ah, Iya. Nara tadi siang kemari. Memang Nara dan Ruby sudah seperti saudara, Pak."
Kyai Abdullah menyapa Maria dengan senyuman, lalu menatap Hiko seperti mencoba menebak.
Hiko segera membuka topi dan maskernya lalu mencium tangan Kyai Abdullah.
"Mari, silahkan masuk." ajak Kyai Abdullah.
Maria mengambil parcel buah dari ajudan handoko, dan memberikannya pada Hiko. "Kasih ke Ruby nanti."
Dengan malas Hiko menerimanya dan mengikuti mamanya masuk ke dalam ruang rawat inap Ruby.
"Assalamu'alaikum, Nyai Hannah." Sapa Maria yang sedang duduk di sofa, ia langsung mencium pipi kanan kiri Nyai Hannah bergantian.
"Wa'alaikumsalam, Bu Maria. Ya Allah, bagaimana bisa tahu kami disini?" Nyai Hannah keheranan, Ia juga menyapa Handoko dan Hiko dengan senyuman. "Mari-mari, silahkan duduk."
Hiko ingin beranjak duduk juga, namun Maria menahannya. "Parcelnya taroh diatas nakas samping Ruby dulu sayang." Bisik Maria.
Nyai Hannah tersenyum, "Maaf ya, Ruby masih tidur."
Hiko hanya tersenyum dan menghampiri nakas putih yang terletak tepat disamping tempat tidur Ruby. Ia tak berani melihat Ruby, karena sejujurnya ia takut jika Ruby tahu siapa yang merenggut kehormatannya lalu mengatakannya pada Nara.
Gesekan dari kemeja Hiko ketika meletakkan parcel diatas nakas membuat aroma parfumnya menyeruak udara disekitarnya.
Aroma itu membuat Ruby tiba-tiba terbangun hingga duduk dengan wajah ketakutan, badannya reflek menjauh dari Hiko hingga membuatnya hampir terjatuh ke lantai. Namun Hiko dengan cepat menariknya dan membuat Ruby malah jatuh ke pelukan Hiko.
"Lepas!" Teriak Ruby.
Tanpa menunggu kata kedua Hiko melepaskan tangannya dari Ruby.
"Ada apa sayang?" Nyai Hannah langsung memeluk Ruby yang badannya bergetar ketakutan.
"Kamu apain Ruby, Ko?" tanya Handoko.
"Hiko gak ngapa-ngapain, Pa." Jawab Hiko keheranan.
Ruby memeluk tubuh Umminya erat-erat. Hiko bisa melihat selang infus Ruby yang berdarah karena gerakan kasar Ruby tadi, juga perban putih yang membalut pergelangan tangan Ruby.
'Apa dia benar-benar melakukannya?'
Rasa bersalah mulai hinggap di dalam lubuk hati Hiko, ia sama sekali tidak pernah menyangka perbuatannya akan membuat nyawa seseorang hampir hilang.
"Saya permisi dulu." Ucap Hiko ingin menghindari Ruby.
Ruby melihat kepergian Hiko dari belakang dan tiba-tiba saja Ruby mengingat sosok pria yang berjalan meninggalkannya disebuah kamar dengan lampu kuning yang redup.
Pikirannya mulai menebak-nebak tentang Hiko. Ia tak pernah sedekat itu dengan Hiko, namun aroma parfum Hiko seperti pernah tercium cukup dekat dengannya hingga membuatnya terbangun tanpa sadar.
Mungkinkah Hiko yang melakukan semua itu padanya?
-Bersambung-
.
.
.
.
Jangan cuma baca aja loh ya.
Wajib Like dan Comment trus vote novel ini juga. Terimakasih yaa bagi kalian yang selalu dukung Aiko.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
harmony’story
🥰🥰
2025-02-14
0
Abie Mas
ada celah jg utk mengetahuo siapa yg perkosa ruby
2024-05-24
0
Hearty 💕
Bener banget perasaanmu
2024-02-15
0