4

Sejak pembicaraanya dengan Kyai Abdullah pagi tadi membuat Ruby tak terlalu banyak bicara. Seperti halnya ketika makan malam kali ini, Ruby menutup rapat mulutnya. Nasi yang berada didepannya hanya menjadi tontonan untuknya. Kyai Abdullah tahu jika putri semata wayangnya sedang merajuk, namun ia berusaha mengabaikannya.

"Apa bisa kenyang kalau nasinya cuma dipandangi seperti itu?" Nyai Hannah sudah tak tahan ingin menegur putrinya.

Ruby tak akan membuat Umminya menegur dua kali, Ia segera memakan makanannya.

"Kemungkinan besok siang pak Handoko dan Istrinya akan bersilaturahmi disini, tolong bersihkan rumah tamu untuk mereka, ya?" pinta Kyai Abdullah.

"Baik, Abi," jawab Ruby.

"Ada apa tiba-tiba pak Handoko kemari, Bi? Bukannya baru sebulan lalu beliau kemari?" tanya Nyai Hannah.

"Abi belum bertanya, yang menghubungi Abi bukan pak Handoko sendiri, Ummi. Tapi ajudannya," jawab Kyai Abdullah.

Keluarga kecil itu memilih untuk menikmati masakan sederhana diatas meja makan tanpa pembicaraan lagi.

Usai menghabiskan makan malam dan membersihkan meja makan, Ruby ditemani dua santriwati bergegas merapikan rumah tamu.

Kyai Abdullah memang menyediakan beberapa rumah kecil berisikan dua kamar tidur dan kamar mandi. Letaknya pun tak jauh, hanya terpisah beberapa meter dari rumahnya.

Rumah tamu ini biasanya dipergunakan untuk tamu-tamu kyai Abdullah yang sedang ingin memperdalam ilmu agama, berkonsultasi atau sekedar mencari kedamaian.

"*Ning Ruby, tugas kami sudah selesai. Apa ada yang bisa kami bantu lagi?" Tanya salah satu santriwati yang membantu Ruby.

*Ning: Panggilan kehormatan untuk anak kyai jawa.

"Sepertinya aku juga sudah, kalian bisa kembali ke kamar. Terimakasih sudah membantuku," ucap Ruby.

"Sama-sama, kami permisi dulu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," jawab Ruby mengantar kepergian dua santriwati keluar.

Ruby kembali masuk ke dalam memeriksa ulang apa yang sudah dikerjakan oleh santriwati yang membantunya tadi.

"Alhamdullillah, sudah beres semua," ucapnya.

"Sudah selesai, By?"

Kyai Abdullah yang tiba-tiba datang mengagetkan Ruby. "Abi bikin kaget aja." Ia memegang jantungnya yang hampir saja lepas dari tangkainya. "Sudah semua, Bi. Air kamar mandi juga sudah Ruby isi."

Kyai Abdullah masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu. "Duduk dulu, By. Abi mau bicara denganmu."

Ruby duduk di salah satu kursi yang ada didepan Abinya.

"Ini tentang permintaanmu."

Ruby duduk diam dan cemas menunggu kelanjutan kalimat apa yang akan keluar dari mulut abinya.

"Apakah kamu benar-benar ingin pergi ke Jakarta?"

"Iya, Bi." Ruby menjawab penuh keyakinan.

Kyai Abdullah menghela nafas, "Kenapa kamu sangat keras kepala sih, By? Dan kenapa Abi selalu tidak bisa menolak keinginan kamu?"

Ruby terbelalak mendengar kalimat terakhir Abinya, "Abi ngijinin Ruby kerja di Jakarta?" tanya Ruby.

Kyai Abdullah mengangguk, "Dengan syarat yang sudah kamu tentukan. Kalau kamu tidak lulus tes itu, maka kamu harus segera kembali kesini."

"Alhamdulillah, Makasih Abi." Ruby mencium kedua tangan abinya dengan sangat senang.

Sekeras-kerasnya kyai Abdullah tetap saja akan luluh dengan istri dan anaknya. Ia menepuk punggung putrinya yang sedang sangat gembira itu.

"Sudah, By. Kembali ke kamarmu. Abi masih ingin disini."

Ruby mengangguk lalu berdiri, "Assalamu'alaikum, Abi."

"Wa'alaikumsalam, Ruby."

Ruby pergi kembali ke kamarnya dengan hati yang sangat riang. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya, Nara.

"Ra, Aku dapat ijin dari Abi!" ucapnya

"Hah! Seriusan, By?" Nara tak percaya.

"Iya, Ra. Kapan aku harus kesana?" tanya Ruby.

"Segera donk, mas Heru kan butuhnya cepet," jawab Nara

"Oke deh. Besok lusa aku bakal berangkat ke Jakarta," kata Ruby.

"Oke, By. Jangan lupa file-file komik kamu. Mas Heru pasti suka." Nara mengingatkan karya Ruby.

"Iya, Ra. Thanks, ya. Aku tutup telponnya ya, Ra. bye."

"Bye, By."

Ruby mengakiri panggilan telponnya dengan Nara kemudian bergegas untuk tidur.

**********

Sesuai dengan informasi yang diberikan Abinya semalam, siang ini rumah mereka kedatangan orang-orang penting dengan dua orang pria bertubuh tegap yang terlihat seperti pengawal.

Sepasang suami istri dan Seorang pria muda berwajah tampan sudah duduk di ruang tamu bersama Kyai Abdullah dan Nyai Hannah.

"Maafkan saya karena kedatangan saya sering merepotkan keluarga Kyai Abdullah," ucap Handoko

"Tidak, Pak Mentri. Justru kami senang sekali anda sudi mampir ke pesantren kami. Suatu kebanggaan tersendiri pesantren kami di singgahi orang penting seperti panjenengan," balas Kyai Abdullah

"Kyai ini bisa saja."

Pembicaraan mereka terhenti ketika Ruby datang dengan nampan yang berisi beberapa cangkir kopi untuk tamu Abinya.

Maria -Istri Handoko- tak henti menatap wajah Ruby sejak hadir di ruang tamu.

"Putri, Nyai Hannah?" tanya Maria pada Nyai Hannah.

"Iya, Bu Maria. Baru pulang dari Jepang," jawab Nyai Hannah.

Ruby menyelesaikan menata cangkir-cangkir berisi kopi itu di atas meja. Setelahnya ia berdiri, meraih lembut tangan Maria lalu menciumnya.

"Saya Ruby." Ia memperkenalkan diri, lalu merapatkan kedua tangannya di antara dagu dan mulut untuk menyapa Handoko dan putranya.

"MasyaAllah, kamu cantik sekali," puji Maria.

"Terimakasih, Bu." Ruby tersipu malu, "saya permisi kembali ke dalam dulu." Ucap Ruby kemudian pergi membawa nampannya.

Pembicaraan Kyai Abdullah dan Handoko kembali berlanjut.

Sedangkan Ruby memilih menyiapkan hidagan ringan di dapur untuk tamu abinya.

Usai sholat Ashar Kyai Abdullah dan Nyai Hannah bersama dengan Handoko sekeluarga pergi ke masjid besar yang ada di halaman utama pesantren. Hari ini ada jadwal pengajian umum yang harus diisi kyai Abdullah sebagai pematerinya.

Ruby sengaja tinggal di rumah, dengan dibantu beberapa santri putri, ia menyiapkan makan malam untuk tamu dan keluarganya sendiri.

"Minta tolong kalian antar ini untuk pengawalnya pak Handoko yang lagi duduk didepan rumah tamu, ya?" Ruby memberikan dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng.

"Inggih, Ning."

Seperginya dua santri putri yang membantunya, Ruby pergi ke belakang rumahnya untuk mengambil beberapa lembar daun pandan yang ia butuhkan untuk memasak nasi.

Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria bertubuh tinggi sedang asyik mengambil gambar disekitar halaman sekolah pesantren putri, yang kebetulan dari halaman rumah Ruby memiliki jalan pintas untuk kesana.

Dari kejauhan banyak santri putri yang histeris senang melihat pria itu, ada yang melambaikan tangan ataupun memanggil-manggil nama pria itu.

Kedatangan Ruby langsung membuat keramaian itu menghilang, beberapa santri putri yang ada di depan ruang kelas langsung masuk ke dalam.

"Maaf, Mas."

Suara Ruby mengejutkan pria itu, Ia berbalik dan melihat Ruby sudah berada tak jauh dibelakangnya.

Ruby mengingat bahwa pria dihadapannya itu anak dari Handoko, tamu Abinya.

"Anda tidak diperkenankan di sini, karena ini wilayah santri putri," jelas Ruby kemudian.

"Ooh, Sorry. Gue gak ngerti," jawab pria itu tak acuh.

"Anda bisa lewat pintu itu." Ruby menunjuk pintu yang mengarah ke halaman rumahnya.

"Oke."

Pria itu berjalan sesuai dengan petunjuk Ruby.

Dengan hati-hati Ruby berjalan dibelakang pria itu. Tanpa sadara dalam benaknya ia sedang memuji hasil karya Tuhan yang sedang berjalan  di depannya itu.

"Astaqfirullah!"

Ruby terkejut ketika pria didepannya itu menghentikan langkahnya dan hampir membuat Ruby menabrak punggung pria itu.

Dengan cepat Ruby mengambil beberapa langkah mundur dan menundukkan pandangannya.

"Lo punya masker?" tanya pria itu.

"Penutup wajah?" Ruby memperjelas

"Ya iyalah," jawab pria itu

Ruby mengangguk, "ada. Silahkan tunggu didepan rumah. Akan saya ambilkan," kata Ruby.

Pria itu kembali berjalan mendahului Ruby dan sesuai instruksi Ruby, ia menunggu didepan halaman rumah kyai Abdullah.

"Silahkan." Ruby memberikan beberapa lembar masker.

Ruby menarik tangannya ketika jari pria itu hampir menyentuh jarinya. Membuat pria itu menatap sinis pada Ruby, membuat Ruby segera menundukkan pandangannya.

"Gue gak penyakitan kali," cetusnya.

"Maaf, saya hanya sedang menjaga wudhu." jawab Ruby

"Aah, Iya. Gue lupa kalau lo anak Kyai." Pria itu berlalu meninggalkan Ruby.

"Aah, Iya. Anda anak pak mentri, sampai lupa bagaimana adab setelah mendapatkan bantuan dari orang lain," gumamnya kesal.

Ia pun kembali masuk ke dalam rumahnya dan melanjutkan aktifitas memasaknya.

-Bersambung-

Terpopuler

Comments

anotherbyl

anotherbyl

Edisi reread sihh

2025-03-02

0

WSS Sutaminingsih

WSS Sutaminingsih

Saya suka gaya bahasanya ...

2024-08-21

0

Hearty 💕

Hearty 💕

Bagus cara ngigetinnya

2024-02-14

0

lihat semua
Episodes
1 1
2 2
3 3
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 66
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 88
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 NOVEL KE 3
127 PENGUMUMAN
128 Bonchap 1-1
129 Bonchap 1-2
130 Bonchap 2-1
131 Bonchap 2-2
132 Bonchap 3-1
133 Bonchap 3-2
134 Bonchap 4-1
135 Bonchap 4-2
136 Bonchap 5-1
137 Bonchap 5-2
138 Bonchap 6-1
139 Bonchap 7-1
140 Bonchap 7-2
141 VERSI CETAK SUDAH TERBIT
142 Novel Baru
Episodes

Updated 142 Episodes

1
1
2
2
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
88
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
NOVEL KE 3
127
PENGUMUMAN
128
Bonchap 1-1
129
Bonchap 1-2
130
Bonchap 2-1
131
Bonchap 2-2
132
Bonchap 3-1
133
Bonchap 3-2
134
Bonchap 4-1
135
Bonchap 4-2
136
Bonchap 5-1
137
Bonchap 5-2
138
Bonchap 6-1
139
Bonchap 7-1
140
Bonchap 7-2
141
VERSI CETAK SUDAH TERBIT
142
Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!