Sejak pembicaraanya dengan Kyai Abdullah pagi tadi membuat Ruby tak terlalu banyak bicara. Seperti halnya ketika makan malam kali ini, Ruby menutup rapat mulutnya. Nasi yang berada didepannya hanya menjadi tontonan untuknya. Kyai Abdullah tahu jika putri semata wayangnya sedang merajuk, namun ia berusaha mengabaikannya.
"Apa bisa kenyang kalau nasinya cuma dipandangi seperti itu?" Nyai Hannah sudah tak tahan ingin menegur putrinya.
Ruby tak akan membuat Umminya menegur dua kali, Ia segera memakan makanannya.
"Kemungkinan besok siang pak Handoko dan Istrinya akan bersilaturahmi disini, tolong bersihkan rumah tamu untuk mereka, ya?" pinta Kyai Abdullah.
"Baik, Abi," jawab Ruby.
"Ada apa tiba-tiba pak Handoko kemari, Bi? Bukannya baru sebulan lalu beliau kemari?" tanya Nyai Hannah.
"Abi belum bertanya, yang menghubungi Abi bukan pak Handoko sendiri, Ummi. Tapi ajudannya," jawab Kyai Abdullah.
Keluarga kecil itu memilih untuk menikmati masakan sederhana diatas meja makan tanpa pembicaraan lagi.
Usai menghabiskan makan malam dan membersihkan meja makan, Ruby ditemani dua santriwati bergegas merapikan rumah tamu.
Kyai Abdullah memang menyediakan beberapa rumah kecil berisikan dua kamar tidur dan kamar mandi. Letaknya pun tak jauh, hanya terpisah beberapa meter dari rumahnya.
Rumah tamu ini biasanya dipergunakan untuk tamu-tamu kyai Abdullah yang sedang ingin memperdalam ilmu agama, berkonsultasi atau sekedar mencari kedamaian.
"*Ning Ruby, tugas kami sudah selesai. Apa ada yang bisa kami bantu lagi?" Tanya salah satu santriwati yang membantu Ruby.
*Ning: Panggilan kehormatan untuk anak kyai jawa.
"Sepertinya aku juga sudah, kalian bisa kembali ke kamar. Terimakasih sudah membantuku," ucap Ruby.
"Sama-sama, kami permisi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Ruby mengantar kepergian dua santriwati keluar.
Ruby kembali masuk ke dalam memeriksa ulang apa yang sudah dikerjakan oleh santriwati yang membantunya tadi.
"Alhamdullillah, sudah beres semua," ucapnya.
"Sudah selesai, By?"
Kyai Abdullah yang tiba-tiba datang mengagetkan Ruby. "Abi bikin kaget aja." Ia memegang jantungnya yang hampir saja lepas dari tangkainya. "Sudah semua, Bi. Air kamar mandi juga sudah Ruby isi."
Kyai Abdullah masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu. "Duduk dulu, By. Abi mau bicara denganmu."
Ruby duduk di salah satu kursi yang ada didepan Abinya.
"Ini tentang permintaanmu."
Ruby duduk diam dan cemas menunggu kelanjutan kalimat apa yang akan keluar dari mulut abinya.
"Apakah kamu benar-benar ingin pergi ke Jakarta?"
"Iya, Bi." Ruby menjawab penuh keyakinan.
Kyai Abdullah menghela nafas, "Kenapa kamu sangat keras kepala sih, By? Dan kenapa Abi selalu tidak bisa menolak keinginan kamu?"
Ruby terbelalak mendengar kalimat terakhir Abinya, "Abi ngijinin Ruby kerja di Jakarta?" tanya Ruby.
Kyai Abdullah mengangguk, "Dengan syarat yang sudah kamu tentukan. Kalau kamu tidak lulus tes itu, maka kamu harus segera kembali kesini."
"Alhamdulillah, Makasih Abi." Ruby mencium kedua tangan abinya dengan sangat senang.
Sekeras-kerasnya kyai Abdullah tetap saja akan luluh dengan istri dan anaknya. Ia menepuk punggung putrinya yang sedang sangat gembira itu.
"Sudah, By. Kembali ke kamarmu. Abi masih ingin disini."
Ruby mengangguk lalu berdiri, "Assalamu'alaikum, Abi."
"Wa'alaikumsalam, Ruby."
Ruby pergi kembali ke kamarnya dengan hati yang sangat riang. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya, Nara.
"Ra, Aku dapat ijin dari Abi!" ucapnya
"Hah! Seriusan, By?" Nara tak percaya.
"Iya, Ra. Kapan aku harus kesana?" tanya Ruby.
"Segera donk, mas Heru kan butuhnya cepet," jawab Nara
"Oke deh. Besok lusa aku bakal berangkat ke Jakarta," kata Ruby.
"Oke, By. Jangan lupa file-file komik kamu. Mas Heru pasti suka." Nara mengingatkan karya Ruby.
"Iya, Ra. Thanks, ya. Aku tutup telponnya ya, Ra. bye."
"Bye, By."
Ruby mengakiri panggilan telponnya dengan Nara kemudian bergegas untuk tidur.
**********
Sesuai dengan informasi yang diberikan Abinya semalam, siang ini rumah mereka kedatangan orang-orang penting dengan dua orang pria bertubuh tegap yang terlihat seperti pengawal.
Sepasang suami istri dan Seorang pria muda berwajah tampan sudah duduk di ruang tamu bersama Kyai Abdullah dan Nyai Hannah.
"Maafkan saya karena kedatangan saya sering merepotkan keluarga Kyai Abdullah," ucap Handoko
"Tidak, Pak Mentri. Justru kami senang sekali anda sudi mampir ke pesantren kami. Suatu kebanggaan tersendiri pesantren kami di singgahi orang penting seperti panjenengan," balas Kyai Abdullah
"Kyai ini bisa saja."
Pembicaraan mereka terhenti ketika Ruby datang dengan nampan yang berisi beberapa cangkir kopi untuk tamu Abinya.
Maria -Istri Handoko- tak henti menatap wajah Ruby sejak hadir di ruang tamu.
"Putri, Nyai Hannah?" tanya Maria pada Nyai Hannah.
"Iya, Bu Maria. Baru pulang dari Jepang," jawab Nyai Hannah.
Ruby menyelesaikan menata cangkir-cangkir berisi kopi itu di atas meja. Setelahnya ia berdiri, meraih lembut tangan Maria lalu menciumnya.
"Saya Ruby." Ia memperkenalkan diri, lalu merapatkan kedua tangannya di antara dagu dan mulut untuk menyapa Handoko dan putranya.
"MasyaAllah, kamu cantik sekali," puji Maria.
"Terimakasih, Bu." Ruby tersipu malu, "saya permisi kembali ke dalam dulu." Ucap Ruby kemudian pergi membawa nampannya.
Pembicaraan Kyai Abdullah dan Handoko kembali berlanjut.
Sedangkan Ruby memilih menyiapkan hidagan ringan di dapur untuk tamu abinya.
Usai sholat Ashar Kyai Abdullah dan Nyai Hannah bersama dengan Handoko sekeluarga pergi ke masjid besar yang ada di halaman utama pesantren. Hari ini ada jadwal pengajian umum yang harus diisi kyai Abdullah sebagai pematerinya.
Ruby sengaja tinggal di rumah, dengan dibantu beberapa santri putri, ia menyiapkan makan malam untuk tamu dan keluarganya sendiri.
"Minta tolong kalian antar ini untuk pengawalnya pak Handoko yang lagi duduk didepan rumah tamu, ya?" Ruby memberikan dua cangkir kopi dan sepiring pisang goreng.
"Inggih, Ning."
Seperginya dua santri putri yang membantunya, Ruby pergi ke belakang rumahnya untuk mengambil beberapa lembar daun pandan yang ia butuhkan untuk memasak nasi.
Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria bertubuh tinggi sedang asyik mengambil gambar disekitar halaman sekolah pesantren putri, yang kebetulan dari halaman rumah Ruby memiliki jalan pintas untuk kesana.
Dari kejauhan banyak santri putri yang histeris senang melihat pria itu, ada yang melambaikan tangan ataupun memanggil-manggil nama pria itu.
Kedatangan Ruby langsung membuat keramaian itu menghilang, beberapa santri putri yang ada di depan ruang kelas langsung masuk ke dalam.
"Maaf, Mas."
Suara Ruby mengejutkan pria itu, Ia berbalik dan melihat Ruby sudah berada tak jauh dibelakangnya.
Ruby mengingat bahwa pria dihadapannya itu anak dari Handoko, tamu Abinya.
"Anda tidak diperkenankan di sini, karena ini wilayah santri putri," jelas Ruby kemudian.
"Ooh, Sorry. Gue gak ngerti," jawab pria itu tak acuh.
"Anda bisa lewat pintu itu." Ruby menunjuk pintu yang mengarah ke halaman rumahnya.
"Oke."
Pria itu berjalan sesuai dengan petunjuk Ruby.
Dengan hati-hati Ruby berjalan dibelakang pria itu. Tanpa sadara dalam benaknya ia sedang memuji hasil karya Tuhan yang sedang berjalan di depannya itu.
"Astaqfirullah!"
Ruby terkejut ketika pria didepannya itu menghentikan langkahnya dan hampir membuat Ruby menabrak punggung pria itu.
Dengan cepat Ruby mengambil beberapa langkah mundur dan menundukkan pandangannya.
"Lo punya masker?" tanya pria itu.
"Penutup wajah?" Ruby memperjelas
"Ya iyalah," jawab pria itu
Ruby mengangguk, "ada. Silahkan tunggu didepan rumah. Akan saya ambilkan," kata Ruby.
Pria itu kembali berjalan mendahului Ruby dan sesuai instruksi Ruby, ia menunggu didepan halaman rumah kyai Abdullah.
"Silahkan." Ruby memberikan beberapa lembar masker.
Ruby menarik tangannya ketika jari pria itu hampir menyentuh jarinya. Membuat pria itu menatap sinis pada Ruby, membuat Ruby segera menundukkan pandangannya.
"Gue gak penyakitan kali," cetusnya.
"Maaf, saya hanya sedang menjaga wudhu." jawab Ruby
"Aah, Iya. Gue lupa kalau lo anak Kyai." Pria itu berlalu meninggalkan Ruby.
"Aah, Iya. Anda anak pak mentri, sampai lupa bagaimana adab setelah mendapatkan bantuan dari orang lain," gumamnya kesal.
Ia pun kembali masuk ke dalam rumahnya dan melanjutkan aktifitas memasaknya.
-Bersambung-
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 142 Episodes
Comments
anotherbyl
Edisi reread sihh
2025-03-02
0
WSS Sutaminingsih
Saya suka gaya bahasanya ...
2024-08-21
0
Hearty 💕
Bagus cara ngigetinnya
2024-02-14
0