Sesuai dugaan Sungsang Geni, Dewangga satu-satunya yang tidak terluka, dan masih tetap berdiri. Namun seluruh tenaga dalamnya telah terkuras habis, jika mendapatkan serangan sekali lagi, bukan mustahil Dewangga akan tewas.
Namun situasi saat ini tidak dapat membuat Sungsang Geni tetap bersantai sambil menonton saja. Pria bertopeng itu, pedang ditanganya bukan tandingan Dewangga dan yang lainnya. Kekuatan yang berasal dari mahluk kegelapan yang bersemayan didalamnya memang membuat kemampuan seseorang meningkat cukup drastis.
Jika bukan karena pedang terkutuk yang digunakannya, pasti pria itu telah tewas menghadapi Dewangga dan yang lainnya.
Namun sekarang, sebelum terlambat, Sungsang Geni tidak bisa membiarkan pria bertopeng bertindak lebih jauh lagi.
“Pangeran, bagaimana keadaanmu?” Sungsang Geni mendekati Dewangga, pangeran itu terlihat pucat, tangannya tidak dapat menggenggam pedang dengan benar. Namun nampaknya, dia tidak berniat lari dari pertarungan.
“Apa yang kau lakukan disini, cepat pergilah! Aku masih bisa bertarung...” ucap Dewangga, suaranya terdengar lirih dan berat. Tentu saja Dewangga tidak sanggup lagi bertarung, dengan tenaga dalam yang terkuras habis, hanya satu pukulan saja dia akan tewas.
Sungsang Geni berdecak kagum, tekat dan semangat pantang menyerah yang dimiliki Dewangga patut mendapatkan pujian. Seorang calon Raja memang harus memiliki sipat itu, untuk melindungi rakyatnya.
“Pangeran, kau sudah berada pada batasanmu, sebaiknya segera istirahat dan pulihkan tenaga dalammu,” ucap Sungsang Geni, kemudian dia menarik pedangnya, mengarahkan mata pedang pada pria bertopeng “Sekarang biarkan aku yang menghadapi orang itu.”
“Tapi kau akan...”
“Pedang pria itu, tidak menujukan keraguan, hanya ada satu alasan, yaitu kematian,” ucap Sungsang Geni, “karena itu, aku tidak akan ragu.”
Dewangga tidak mengerti yang apa yang diucapkan Sungsang Geni, namun tidak ada pilihan, selain membiarkan Sungsang Geni bertarung, berharap ada keberuntungan memihaknya.
Sungsang Geni melangkah mendekati pria bertopeng, pandangannya tajam, menusuk dan mencabik keberanian lawannya.
Perlahan-lahan aura api matahari keluar dari tubuhnya, menepiskan aura kutukan yang keluar dari pedang pria beropeng. Dia menarik pedangnya, sambil menikmati setiap detik kekhawtiran diwajah Pria bertopeng.
Angin tiba-tiba berhembus pelan, tekanan udara mulai tersa hangat, semakin lama menjadi panas.
“Bocah siapa sebenarnya kau ini?, tekanan ini, perasaan ini? aku tidak pernah merasakan sebelumnya?” Pria bertopeng mulai khawatir.
“Kenapa dengan wajahmu, bukannya tadi kau sangat percaya diri dengan pedang kutukan itu?” ketus Sungsan Geni.
“Darimana kau tahu pedang kutukan ini?” tanya pria bertopeng seakan tidak percaya.
“Apa itu penting?” tanya Sungsang Geni, dengan senyuman sinis yang merendahkan.
Lalu, aliran energi merah keluar dari lengan Sungsang Geni, menyelimuti pedangnya dengan warna merah bara. Pedang itu seperti baru saja keluar dari tungku tukang tempa besi, menakutkan.
Semua orang disana mulai mengira-ngira kekuatan Sungsang Geni. Dewangga mulai menjauh, dia merasakan seperti didekat perapian.
Suasana langit yang sedikit mendung tiba-tiba saja berubah menjadi terang, entah kemana perginya awan yang menutupi sang surya? Udara mulai berhembus kencang menerbangkan sisah asap yang mengepul diwilayah itu.
Sungsang Geni menghentakan kakinya lalu jubah pusaka membuat dirinya melayang beberapa jengkal dari tanah. Melihat kemapuan itu, Durada hampir saja tersedak napas saking terkejutnya.
Durada merasa sangat menyesal telah membuat masalah dengan Sungsang Geni. Hanya merasakan auranya saja, Durada menyadari bahwa level Sungsang Geni ternyata berada jauh diatasnya. ‘pantas saja dia dapat mengalahkan singa hitam dengan mudah.’batinnya menyesal.
“Aku akan menyerangmu dengan seluruh kemampuanku!” ucap Pria bertopeng, lalu dia kembali melakukan gerak yang sangat aneh dan aura ungu pekat menyelimuti seluruh tubuhnya. Sesaat udara disekitar pria itu menjadi berat dan dingin.
“Bisikan kematian, matahari senja.” Sungsang Geni langsung menyerang Pria bertopeng, jubah pusaka membuat dirinya dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Pria bertopeng yang mendapatkan serangan secepat itu, segera bereaksi. Aura hitam segera menyelimuti tubuhnya, membentuk zirah perang berwarna hitam pekat. Namun tidak cukup kuat untuk menahan api matahari Sungsang Geni.
“Kau? Bagai mana mungkin?” pria itu berusaha menoleh kearah Sungsang Geni, “Kekuatanku dapat kau hancurkan dengan mudah.”
Tubuh pria itu memerah bara, semakin lama terlihat retakan-retakan merah darah dikulitnya. Tubuhnya menggelembung, bak ikan buntal. Kemudian tubuh itu, meledak menjadi abu tak tersisah sama sekali.
Semua pasang mata terjelit melihat hal itu, hampir-hampir keluar dari kepala mereka karena terkejut. Bahkan beberapa kuda meringkih ketakutan.
Sisa-sisa darah pria itu masih mendidih dan menguap hingga tanpa sisah. Hanya meninggalkan bau gosong.
Sungsang Geni telah menduganya, jurus baru yang dia pelajari sendirian di bukit Batu memang berdampak buruk pada lawannya.
Tekniknya memang pedang awan berarak, namun energi yang digunakan adalah api matahari. Meski ia telah mengurangi energi itu, namun tetap saja apapun yang terkena jurus ini akan meledak menjadi abu.
Dewangga hanya dapat menelan ludahnya menyaksikan kekuatan adik seperguruannya. Bukan hanya teknik pedang yang telah sempurna, kecepatan dan tenaga dalam jauh berada diatas dirinya.
Sugguh malu rasanya ketika Dewangga selalu saja berkata, ‘akan melindungi Sungsang Geni’. Namun pada kenyataannya dia sendirilah yang membutuhkan bantuan Sungsang Geni.
Dewangga menyadari sesuatu, kekuatan Sungsang Geni sangat berbeda dengan Ki Alam Sakti. Keningnya mengernyit, memikirkan sesuatu berkaitan dengan lengan kanan Sungsang Geni.
“Kekuatan itu, berasal dari lengannya,” gumam Dewangga, dia memijat keningnya yang terasa sakit. “Siapa sebenarnya Sungsang Geni ini? kenapa guru tidak menceritakan dirinya dengan jelas, lalu lengan itu? Energi yang keluar bukan berasal dari tenaga dalam, tapi dari energi yang lebih halus dan menakutkan.”
Sungsang Geni kemudian bergerak mendekati Dewangga. Asap putih masih berterbangan diwilayah itu, mengaburkan pandangan dan menyengat penciuman. Beberapa batu besar yang menghiasi sungai kini menjadi serpihan kecil, serta ada banyak tanah yang berlobang terkena kekuatan mereka.
“Geni, kecepatanmu setara dengan guru kita Ki Alam Sakti,” ucap Dewangga dengan kata yang terbata-bata “Bagaimana kau sekuat itu dengan umurmu yang masih muda?”
Sungsang Geni hanya tersenyum kemudian aura api dipedangnya segera hilang, menampilkan pedang putih yang tajam. Wajahnya yang tadi menakutkan, kini terlihat polos dan lugu seperti sebelumnya.
“Hanya dengan latihan keras.”ucap Sungsang Geni, kumudian menyarungkan pedangnya.
Durada mendekati Sungsang Geni diikuti kedua temannya dengan terkatung katung, wajah mereka tegang. Ada rasa takut saat ini, namun yang lebih jelas ada rasa malu.
Dengan napas yang masih tersengkal dikerongkongan, Durada mewakili temannya berkata memelas.
“Sungsang Geni aku sungguh minta maaf karena aku telah banyak membuatmu sakit hati dengan ucapanku yang tidak sopan. Namun pada akhirnya kau telah menolong kami, kami sungguh berhutang budi padamu...”
“Sudahlah lupakan masalah itu, jadikan ini pelajaran bagi kalian untuk tidak menilai seseorang dari penampilannya,” ucap Sungsang Geni, dia sudah cukup puas, berhasil menampar perasaan Durada Muksir dan Kantu.
Sungsang Geni lantas menepuk pundak Durada dan kedua temannya, lalu dengan sangat cepat tenaga dalam Sungsang Geni menghangatkan tubuh mereka dan menyembuhkan luka dalam yang mereka derita.
“Sekali lagi kami berterima kasih padamu Sungsang Geni, ” Durada dan temannya menunduk memberi hormat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Reymundo Hidayat
jas
2023-09-05
1
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-08-19
0
Savira Rasela
kemampuan*
2022-07-05
0