Sungsang Geni datang sedikit terlambat, ada beberapa urusan kecil yang memaksa dirinya tidak datang tepat waktu.
Ketika dia mendekati kereta kuda, tiba-tiba seoarang menarik pundakanya, “Apa kau yang akan menjadi pengawalnya?”
Sungsang Geni menoleh kebelakang, mencari tahu siapa gerangan yang menarik pundaknya. “Putri, maksudku Anjani?”
Gadis itu tersenyum manis, membuat cekungkan kecil dikedua pipinya menampakan diri. Hari itu dia menggunakan pakaian berwaran merah muda, dengan selendang yang menjadi ciri khas dirinya terlilit dipinggang.
“Aku hanya meminta maaf karena pertemuan pertama kita, tidak berkesan dihatimu,” ucap Anjani, gadis itu telah memikirkan Sungsang Geni semalaman panjang. Semenjak pertarungan itu, Anjani tidak dapat menepiskan bayangan pemuda itu. Wajah, suara, tingkah laku semuanya.
“Anjani, kenapa wajahmu merah? Apa kau demam?” tanya Sungsang Geni polos.
“Tidak, aku baik-baik saja. aku menemui dirimu karena ingin mengatakan sesuatu.” Gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain, khawtir kalau Sungsang Geni mengetahui perasaannya.
“Katakalah!” ucap Sungsang Geni.
“Tolong kau jaga kakaku, meski dia itu cerboh dan keras kepala tapi kemampuannya tidak begitu baik. Perjalanan kalian mungkin akan menemui banyak rintangan, jadi kumohon agar kau bisa menjaga dirinya.”
“Aku berjanji, aku akan melindungi dirinya.” Sungsang Geni tersenyum, kemudian mengacak rambut Anjani, membuat tubuh gadis itu hampir tidak dapat digerakan karena gugup, wajahnya semakin memerah.
“Jadi tidak perlu khawatir.” Tutup Sungsang Geni lalu pergi meninggalkan Anjani, menemui para pengawal lainnya.
Ada banyak yang ingin ditanyakan Anjani, namun setelah menemui pemuda itu, pertanyaan yang telah dirancangnya semalaman raib bak ditelan kegundahan hatinya. Dia masih memandang pemuda itu, berjalan dengan gagahnya. “Hentikan! Kenapa tiba-tiba seperti ini.” gumam dirinya.
Didalam istana nampak Dewangga sedang melakukan ritual perjalanan, bunga warna warni berhamburan diudara dilempar oleh para dayang istana, mengenai sang Pangeran. Sungsang Geni tidak pernah meliat ritual ini didesanya, jadi ketika dia melihatnya, wajahnya tampak terkagum-kagum.
Setelah selesai melakukan ritual lempar bunga, Dewangga segera mencium kaki kedua orang tuanya.
“Semoga selamat sampai tujuan,Putraku.” Raja Airlangga memberi doa.
“Bawalah mantu ibunda kesini anaku!” Ucap sang Ratu.
Kemudian Dewangga segera diantar menuju kereta kuda mewah. Kereta itu penuh dengan ukiran bunga mawar dan melati, ukiran yang terpahat halus dan rapi oleh pengerajin terbaik dinegri ini. Kemewahannya semakin ketara dengan 6 ekor kuda besar berwarna putih yang menjadi penariknya.
Pintu berwarna emas telah terbuka, menyambut sang tuan masuk kedalam kereta. Dipinggir pintu kereta, telah berdiri Gadhing yang bertugas menemani perjalanan Pangeran Dewangga, kemudian Durada yang bertugas menjadi kusir kereta.
Dibelakang kereta mewah sebuah kereta angkut dengan Muksir yang menjadi sang kusir, wajahnya terlihat tidak senang dengan tugas itu. Kereta itu membawa perlengkapan, barang, dan juga sepeti emas sebagai mas kawin.
Sebelum kereta berjalan, seseorang memanggil Sungsang Geni.
“Geni?” tiba-tiba Ki Alam Sakti telah berada dibelakang Sungsang Geni.
“Eang Guru!” Sungsang Geni segera memberi hormat.
“Ternyata misi pertamamu sangat berat, Eang mohon jaga Putra Mahkota dengan baik!”
“Eang tidak perlu khawtir, aku akan melakukan apapun demi keselamatan Pangeran Dewangga,” ucap Sungsang Geni.
Melihat gurunya, Dewangga segera menghampiri, “Murid memberi hormat, dan juga meminta restumu Guru!”
“Semoga kau bahagia muridku.” Ki Alam Sakti memegang ubun-ubun Dewangga.
“Sungsang Geni?” Pangeran Dewangga menatap adik seperguruannya, “Apa kau ikut mengantarku?”
“Tentu saja pangeran, aku akan ikut mengantarmu.” Sungsang Geni menundukan kepala memberi hormat.
“Akhirnya aku mempunyai teman berbicara selain Gadhing, pria itu! Terkadang membosankan!” ucap Pangeran Dewangga seraya tersenyum. “Lagi pula kau tidak perlu khawatir, selagi aku masih hidup aku akan menjaga adik seperguruanku.”
Mendengar ucapan Dewangga, Ki Alam Sakti hanya menggelengkan kepala.
“Sekarang berangkatlah, dan jaga diri kalian bak-baik!” ucap Ki Alam Sakti.
Kereta kuda akhirnya mulai berjalan, roda-roda kereta yang besar dengan ukiran kuda hitam berderit saat ditarik 6 ekor kuda.
“Semoga kau bahagia Pangeran Dewangga!” Terdengar teriakan dari rakyat Majangkara disepanjang jalan, mereka menaburkan bunga warna warni sebagai tanda turut bersuka cita.
“Buka Gerbang!” seorang pria berteriak di atas benteng Istana.
Lalu gerbang besar, yang lebih mirip mulut seekor monster karena gigi-giginya yang menancap ketanah terangakat, seketika cahaya matahari menerobos masuk kedalam, dan menyinari kereta kuda mewah.
Diluar gerbang, ratusan rakyat kasta bawah juga telah menunggu dengan taburan bunga yang indah. Meski penampilan mereka sangat sederhana, namun kemeriahan mereka tidak kalah dengan rakyat yang berada dikasta atas.
“Dewangga, sebaiknya kau menunjukan wajahmu kepada mereka!” Gadhing memberi saran. “Rakyatmu tentu ingin melihat wajah pangerannya,”
Dewangga mengangguk tanda setuju, kemudian membuka tirai lebar-lebar, lalu menjulurkan tangan melambai pada rakyatnya. Terlihatlah wajah tampannya oleh rakyat, dan terdengar teriakan yang lebih meriah lagi dari kalangan gadis desa.
“Pangeran! Semoga kau bahagia!” mereka berteriak kegirangan.
Bagi Rakyat kasta bawah, melihat keluarga kerajaan tidak dapat dilakukan setiap waktu. Lain hal bagi Rakyat kasta atas yang memang bekerja dilingkungan istana, rakyat kasta bawah dengan mata pencarian sebagai petani, peternak dan nelayan hanya diperbolehkan memasuki istana ketika ada acara-acara tertentu saja.
Meski demikian, Dewangga bukanlah pangeran yang sombong. Dia bersama Gadhing sudah biasa keluar istana dan berbaur bersama petani, jadi karena itulah Dewangga sangat dicintai Rakyatnya.
“Ibu? Siapa orang yang menunggang kuda itu?” Seorang anak kecil menunjuk kearah Sungsang Geni yang berada pada barisan belakang.
“Oh, dia hanya seorang pengawal,” jawab ibunya tidak terlalu peduli dengan orang yang dilihat anaknya.
“Tapi dia juga tampan bu, tidak kalah dengan pangeran Dewangga, lihat dia menoleh kearahku dan tersenyum.” Anak itu nampak kegirangan, dia melambai-lambaikan tangan kecilnya.
“Aduh nak, mana ada orang yang lebih tampan dari pangeran Dewangga.” Cetus sang ibu.
“Itu karena ibu dari tadi hanya melihat pangeran Dewangga, jika ibu melihat pada orang itu, ibu juga akan berpikiran sama dengan diriku.” Sang Anak nampaknya tidak senang, karena sang ibu tidak terlalu menanggapi perkataanya.
“Baiklah diamana orang yang kau maksud?”
“Itu disana!” sang anak menunjuk Sungsang Geni yang menunggang kuda, diapit beberapa prajurit lain, membuat dirinya tidak terlihat mencolok.
“Kau benar anaku, dia memang sangat tampan.” Sang ibu terpaku melihat wajah Sungsang Geni yang memancarkan aura terang bagai pelita dikegelapan malam.
“Apa ku melihatnya Yeni? Kami juga melihat orang itu, dia sangat tampan.”
“Benar, dan dia melihat pada kami.” Terdengar 3 gadis kecil juga memikirkan hal yang sama ketika melihat wajah Sungsang Geni.
“Hust.” Sang Ibu meletakan jari telunjuknya dibibir, “Jangan berbicara keras, atau kita akan menyinggung Pangeran Dewangga. Kalian boleh memujinya, tapi hanya didalam hati.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Solar Lardi
mantap 👍😀
2023-08-27
1
Bakso Tetelan
ceritanya sangat seru
2023-04-23
0
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-08-18
0