Pasal pertama dalam ilmu perbanditan adalah, kejutkan mangsamu buat dia ketakutan sehingga memberikan barangnya tanpa perlawanan, Pria bertopeng merasa telah berhasil dengan aturan itu.
“Sekarang serahkan barang-barang kalian, serta kuda-kuda yang ada disana!” pria bertopeng mulai percaya diri, mendapati wajah Durada yang masih terlihat panik.
Durada baru menyadari bahwa ucapan Sungsang Geni ternyata benar. Sekarang dia baru bisa merasakan aura pembunuh yang sangat pekat keluar dari tubuh pria bertopeng. Belum pernah dia menemukan lawan yang memiliki aura membunuh sepekat pria bertopeng yang kini beridiri didepannya.
“Siapa kau?” Tanya Durada, “Apa kau tidak takut menghadapi kami seorang diri?”
Mendengar ucapan Durada pria bertopeng itu hanya tertawa terbahak-bahak. “Kami adalah bandit, tentu saja kami tidak takut dengan orang sepertimu?”
Setelah mengatakan itu, 15 orang lainnya muncul dari balik semak-semak. Mereka semua mepunyai aura membunuh yang pekat.
“Serahkan barang-barang kalian!” pria itu berkata lalu menarik pedangnya, “Atau kami akan membantai kalian semua.”
Jika pasal pertama tidak brhasil, maka pasal kedua bunuh mangsamu tanpa ampun. Bandit-bandit itu sebenarnya lebih menyukai pasal kedua.
“Serahkan?” Dewangga berjalan mendekati para bandit, dibuntuti Gadhing . “Bahkan bermimpipun tidak akan kuberi kesempatan.”
Pria bertopeng terlihat kesal, dia menoleh kepada bawahannya, “habisi merka semua!”
Akhirnya pertarungan tidak dapat dihindari, Durada, Muksir, dan Kuntu menyerang pria bertopeng bersamaan.
Durada menebas kearah leher, kemudian disusul tusukan jantung oleh Muksir, namun pria bertopeng mundur setengah langkah, menopang tubuhnya dengan satu tangan kanan, dengan posisi ini kakinya berhasil mendaratkan tendangan telak di dada Muksir.
Tendangan mengandung tenaga dalam, membuat Muksir terpental 5 langkah. Melihat temannya, Durada dan Kantu mengerahkan tenaga dalam, mengaliri pedang dan golok lalu menebaskan energi putih kearah pria bertopeng.
Suara ledakan terdengar, namun pria bertopeng berhasil menghindari serangan itu dengan cukup mudah. Asap mengepul dari serangan energi yang mengenai tanah, ada dua garis tebasan pada tanah itu.
“Lambat, sangat lambat!” ucap Pria bertopeng.
Pria bertopeng mengepal tangannya, mengankat didepan kepala lalu ditarik cepat ke samping pinggang, energi ungu berkumpal di kepalan tinjunya. Dia melepas energi kearah Durada dan Kantu.
Mendapati sebuah serangan cepat, durada tidak sempat menghindarinya, instingnya mengatakan untuk menagkis dengan pedangnnya.
Duar! suara ledakan energi menggema, Durada dan Kantu terpental cukup jauh dan mendarat kasar pada sebatang pohon. Burung-burung diatas pohon itu berterbangan tak karuan, terkejut dan panik.
Dilain sisi, Dewangga dan Gadhing telah menghabiskan 8 orang bawahan pria bertopeng. Melihat gerakan Dewangga, Sungsang Geni berdecak kagum. Teknik pedang berarak bukanlah tandingan pendekar kelas tanding. Sungsang Geni bahkan dapat menilai, gerakan Dewangga lebih baik dari pada Durada.
Setelah cukup lama bertarung, pihak prajurit kerajaan hanya tersisah 4 orang, sedangkan dipihak bandit habis tak tersisah ditangan Dewangga dan Gadhing.
Melihat kemampuan Dewangga, Sungsang Geni sedari tadi hanya penonton dibawah pohon, menaikan alisnya terkagum. Sekitar 10 tahun atau lebih, Sungsang Geni meyakini Dewangga dan Gadhing akan menjadi pendekar yang sangat hebat di Kerajaan Majangkara.
Sekarang tinggal pria bertopeng. Pria itu terlihat kesal karena semua bawahannya telah tewas, namun hal itu tidak memudarkan ketenangannya.
Pria itu cukup percaya diri, lagi pula dia memang belum mengeluarkan seluruh kemapuannya.
“Sekarang tinggal kau sendirian?” Durada meringis kesakitan, namun wajahnya masih terkesan sombong. “Sebaiknya kau segera menyerah saja agar kematianmu tidak terlalu sulit.”
“Menyerah katamu. Hahaha.” Pria itu terawa terbahak-bahak, “Majulah kalian berlima, aku akan meladeni kalian.”
Pria bertopeng menghadapi kelima orang lawannya secara bersamaan, hanya dengan tangan kosong.
Asap putih mengepul dari ledakan-ledakan energi mereka yang saling bertabrakan. Beberapa batu-batu didekat mereka hancur menjadi serpihan kecil.
Pertarungan itu telah terjadi hampir 2 jam, tetapi pria bertopeng belum menujukan tanda-tanda kekalahannya.Hingga akhirnya Dewangga berhasil memberikan luka dilengan pria itu dengan cukup dalam.
Melihat luka dilengan kirinya, Pria bertopeng menatap Dewangga sinis. Dia mengepal tinju kanannya, memutar lengannya dengan perlahan.Energi berwarna ungu mulai menyelimuti kepalan tinjunya, menimbulkan asap tipis.
Dia melangkah cepat kearah Dewangga dengan pola zikzak, membuat Dewangga tidak dapat melihat pergerakan Pria itu. Setelah dia sadar, pria beropeng telah berada didepannya.
Pria itu mencoba mendaratkan kepalan tinjunnya yang diselimuti tenaga dalam yang dahsyat, Dewangga dengan pedang pusakanya, menahan dengan sekuat tenaga.
“Percumah anak muda! Kekuatanmu tidak akan dapat menandingiku,” ucap Pria bertopeng.
Pria itu berhasil mendorong Dewangga, dengan tinju yang masih tertahan oleh pedang. Jikalau bukan karena pedang pusaka, tinju pria bertopeng mungkin telah melukai dada Dewangga.
Tubuh dewangga masih terdorong, hingga akhirnya kakinya menyentuh sebongkah batu besar. Dewangga sempat memutar tubuhnya, membuat batu dibelakangnya hancur terkena tinju pria bertopeng.
Namun sekali lagi, pria bertopeng melayang dengan cepat diudara dan memberi hujan tendangan didada Dewangga. Membuat sang pangeran harus terpental jauh dan terseok dirumpun semak.
“Dewangga, pangeran?” Gadhing dan Durada segera menghampiri Dewangga.
“Aku tidak apa-apa...” jawab Dewangga seraya keluar dari rumpun semak belukar.
“Jangan menyerang sendiri!” ucap Gadhing, “Kita akan menyerangnya bersamaan dengan kekuatan penuh.”
“Silahkan saja!” ucap pria bertopeng. Dia kemudian mengeluarkan dua pedang pendek dari dalam bajunya, lalu pedang itu dialiri energi berwarna keunguaan. Sungsang Geni segera beranjak, dia meraskan energi itu sangat dingin dan berat.
“Kita akhri pertarugnan ini secepatnya!” ucap pria bertopeng itu.
“Itu merupakan pedang kutukan?” ucap Sungsang Geni, “Dia memberi makan iblis didalamn pedang itu dengan tenaga dalam yang besar, aku tidak yakin pusaka yang ada ditangan pangeran Dewangga akan mampu menahan serangan itu.”
Pria bertopeng kemudian melakukan gerakan yang aneh, sperti sebuah tarian, atau mungkin gerakan sesembahan. Sungsang Geni menyadari, setiap gerakannya membuat energi berwarna unggu semakin bertambah besar.
Disisi lain Durada juga mengeluarkan jurus terkuatnya. Dewangga menggunkan jurus ke 10 teknik pedang awan berarak,sapuan jiwa, diikuti jurus jurus terkuat Gadhing, Kantu dan Muksir.
Kemudian mereka segera menyerang dengan tenaga dalam masing-masing, mebuat suara ledakan energi semakin memekakan telinga. Tekanan dari ledakan itu, membuat angin bergerak cepat memaksa dedaunan berguguran dari rantingnya. Air sungai bergelombang, menghempas kerikil-kerikil kecil ditepi sungai.
Akibat benturan itu semua orang menjadi terpental puluhan meter kecuali pria bertopeng yang hanya terpundur 3 langkah.
Durada dan kedua temannya jatuh bersujud dengan darah yang menetes di bibir. Telapak tangan Durada meremas dadanya yang terasa dililit kawat berduri, perih dan sakit.
“Celaka, pria ini terlalu kuat untuk kami hadapi...” Durada berkata lirih.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Muksir.
“Entahlah, sepertinya kita akan mengorbankan nyawa, demi keselamatan pangeran Dewangga.” Pikiran dan perasaan Durada telah menemui jalan buntu, dan inilah keinginan Sungsang Geni, menamparnya dengan halus.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Reymundo Hidayat
kaah
2023-09-05
1
Teguh Kuatno
novel yg paling tidak aku suku mc lelet,telmi...masa harus lihat temany terluka baru turun.mc sok
2023-05-27
0
BAYXUAN
apakah sebelumnya diceritakan rombongan pangeran dewangga dikawal oleh banyak prajurit?
2022-11-20
0