1000 tahun yang lalu berkah matahari pernah diberikan oleh Dewa Matahari kepada raja Angga, Karna yang lahir tanpa ayah dari seorang gadis perawan bernama Dewi Kunti.
Berkah itu berupa baju zirah perang dan anting, yang fungsinya melindungi tubuh Raja Angga Karna, dari serangan apapun yang mengarah kepadanya.
Raja Angga Karna merupakan pendekar yang memegang teguh prinsip kesatria.
Setelah itu tidak pernah lagi berkah Dewa Matahari turun ke bumi, hingga akhirya sekarang berkah itu diberikan kepada Sungsang Geni, meski bukan berupa baju zirah dan anting seperti milik Raja Angga yang dapat menahan serangan yang mengarah kepadanya.
Setelah kehilangan ibunya, Sungsang Geni memiliki pertanyaan besar pada dirinya sendiri, kenapa dirinya yang dipilih? dan apakah nasipnya akan sama seperti Raja Angga Karna, yang tewas ditangan saudaranya sendiri? Karena itulah dia mencari seorang Guru.
Setelah 1 bulan Sungsang Geni berada di rumah gurunya, Ki Alam Sakti belum juga menampakkan tanda-tanda akan memberinya satu pelajaran yang berarti, namun demikian dia tidak pernah meragukan gurunya itu.
Di rumah kecil itu yang dilakukan Sungsang Geni setiap hari hanya melakukan bersih-bersih rumah serta memasak makanan.
Dia beberapa kali mencoba mencari sesuatu disetiap sudut rumah, mungkin saja dapat menemukan sebuah kitab pusaka atau pedang pusaka, namun ternyata tidak ada apapun di rumah itu.
Seperti biasa setelah menyelesaikan tugas hariannya, Sungsang Geni tidak melakukan apapun. Ini membuatnya sangat bosan, hingga akhirnya memutuskan untuk melihat-lihat lembah disekitar bukit Batu yang luasnya tidak seberapa.
Kemudian dia menemukan gurunya sedang melakukan meditasi di tepi jurang, Sungsang Geni tidak pernah menyadari ada jurang di puncak bukit batu, ditambah lagi tempat meditasi yang begitu tenang.
Melihat gurunya, Sungsang Geni menjadi terpukau sekaligus iri, Ki Alam Sakti melayang beberapa jengkal dari tempat duduknya yang tersusun dari batu.
“Ilmu meringankan tubuh Eang Guru sangat baik, pantas saja dia dengan mudah menaiki tangga batu.” Sungsang Geni bergumam sendiri.
Menyadari muridnya berada dibelakangnya, Ki Alam Sakti segera menyelesaikan meditasinya.
Ki Alam Sakti menoleh kearah muridnya, kemudian mendekati dengan kaki sama sekali tidak menyentuh tanah.
“Geni, apa yang ingin kau tanyakan?” Ki Alam Sakti dengan jiwa spiritualnya yang bersih mampu membaca sedikit pikiran lawan bicaranya.
Awalnya Sungsang Geni merasa ragu, namun akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya. “Eang Guru kenapa kau tidak mengajari satupun ilmu padaku?”
Ki Alam Sakti tersenyum kemudian menepuk pundak Sungsang Geni beberapa kali, “Ilmu seperti apa yang kau inginkan, Geni?” Jika ilmu kanuragan, bukankah kau sudah memilikinya di tangan kananmu itu?lagipula entah mengapa tenaga dalam ditubuhmu juga mulai bangkit?”
“Aku ingin ilmu yang lain Eang Guru, seperti meringankan tubuh, menggunakan pedang atau yang lainnya?” Sungsang Geni menyadari sesuatu, dengan berkah dan tenaga dalam saja tidak akan cukup menghadapi para pendekar yang memiliki tenaga dalam yang sama namun keahlian bertarung yang baik.
Setiap dia mengalahkan musuhnya, Sungsang Geni langsung saja mengeluarkan api dari telapak tangannya, tanpa perlu melakukan gerakan-gerakan bela diri.
Ki Alam Sakti tersenyum mendengarnya, dia sudah paham dengan keinginan muridnya itu, hanya saja untuk saat ini keahlian bela diri belum terlalu penting untuk muridnya ini.
“Ilmu yang lainnya Geni?” tanya Ki Alam Sakti, seakan tidak mengetahui maksud dari muridnya, “Ilmu seperti apa yang kau maksud?”
Sungsang Geni tidak dapat menjawabnya, dia hanya terdiam seribu bahasa, pertanyaan gurunya kembali diulangnya didalam hati, 'ilmu seperti apa sebenarnya yang kubutuhkan? kenapa jiwaku terasa gelisah dan jauh dari ketentraman.'
Mendapati muridnya tidak memeri jawaban, Ki Alam Sakti menoleh pada lembah yang tak jauh dari sana, kemudian dia berkata. “Baiklah Geni, aku akan mengajarkan teknik menggunakan pedang kepadamu, tapi kau harus menyelesaikan suatu ujian, ujian ini akan menjawab semua pertanyaan yang ada didalam hatimu.”
“Apa ujiannya Eang Guru?”
Ki Alam Sakti merangkul pundak Sungsang Geni, kemudian dia membawanya melayang menuju lembah yang dingin.
Pengalaman pertama Sungsang Geni dibawa terbang membuat jantungnya hampir meledak karena detaknya terlalu kuat.
Setelah itu, Ki Alam Sakti mendarat dengan sangat mulus seperti kapas yang jatuh ketanah, hampir tidak terdengar suara kaki yang berpijak.
Lembah itu bernama lembah batu, ada sebuah air terjun yang cukup deras dan tinggi, yang airnya sangat jernih lagi dingin.
Beberapa pasang burung turun menukik lalu terbang dengan ikan kecil berada dimulutnya, Sungsang Geni juga melihat pohon-pohon rindang yang tidak tumbuh diatas bukit batu.
Ditengah-tengah air terjun ada sebuah batu berwarna hitam yang sedikit menjorok keluar.
Batu itulah tempat Ki Alam Sakti ketika masih muda melakukan meditasi, guna memersihkan jiwanya agar lebih dekat kepada alam dan sang pencipta.
“Ujian yang harus kau lalui adalah, kau harus mampu mengontrol kekuatan yang ada didalam tanganmu. Karena sekeras apapun kau berlatih berpedang, maka pedang itu akan tetap hangus jika kau tidak dapat mengontrol api matahari yang keluar dari tanganmu.”
“Kalau begitu beri petunjuk murid agar dapat menguasai berkah matahari guru?” tanya Sungsang Geni, “Karena itulah tujuan pertama saya.”
Ki Alam Sakti membawa Sungsang Geni naik keatas batu yang berada ditengah air terjun,hinga seluruh tubuh Sungsang Geni menjadi basah kuyup karena air.
Air yang mengenai tangan kanannya terkadang mengeluarkan asap karena tanpa sengaja Sungsan Geni mengeluarkan kekuatan matahari.
Ki Alam Sakti yang melihat itu, segera menepuk dada Sungsang Geni, “Tenangkan hatimu!”
Disatu sisi Sungsang Geni hanya terpukau melihat air terjun sama sekali tidak menyentuh tubuh Ki Alam Sakti, bahkan seperti menghindarinya.
Sungsang Geni tidak terlalu paham apakah itu salah satu karomah gurunya, atau karena tenaga dalam yang terlalu besar hingga airpun tak mau menyentuhnya, namun yang jelas Sungsang Geni tidak pernah melihat kejadian itu seumur hidupnya.
“Bertapa lah disini selama satu tahun, kendalikan napsumu, kendalikan pikiranmu, dan kendalikan rasamu. Setelah satu tahun aku akan kembali kesini, dan mengajarimu menggunakan pedang,” ucap Ki Alam Sakti.
Sungsang Geni hanya terdiam mendengar perintah gurunya itu, dia hendak membantah tapi tidak dilakukannya. Lagi-lagi Ki Alam Sakti menginginkan Sungsang Geni melakukan hal yang mustahil.
“Geni, dalam hidup ini memiliki ilmu kanuragan saja tidak akan cukup untuk meniti kehidupan, meski kau menjadi satu-satunya pendekar yang tidak tertandingi sekalipun, jika kau tidak mempunyai hati yang bersih maka percumah saja.” Ki Alam Sakti menjawab kerisauan yang ada dipikiaran Sungsang Geni.
“Baiklah Eang Guru, aku mengerti yang engaku maksud, ini juga demi diriku.” ucap Sungsang Geni pasrah, kemudian dia segera duduk bersila, memejamkan mata dan mulai menghayati air yang jatuh ditubunya dengan rasa kedinginan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Reymundo Hidayat
medjtasi
2023-09-05
1
rajes salam lubis
mantap
2022-08-18
0
rajes salam lubis
kuntilanak
2022-08-18
0