“Mulai hari ini, jangan kau panggil diriku pangeran,” Ucap Dewangga menepuk pundak Sungsang Geni, “Panggil aku Dewangga, seperti Gading dan yang lainnya. Mulai hari ini kita adalah teman.”
Sungsang Geni hanya mengangguk, tanda setuju. Dia belum pernah berteman sebelumnya dengan orang lain, bahkan dia tidak pernah dekat dengan siapapun semenjak kematian ibunya. Jadi ini adalah pertemanan pertamanya.
Tiba-tiba Dewangga jadi teringat kejadian di halaman rumah Ki Alam Sakti, ketika adiknya Anjani duduk dengan murung dan sebilah pedang yang terpotong. ‘Dia pasti telah dikalahkan Sungsang Geni dengan sangat mudah’ Dewangga tanpa sengaja memukul kepalanya karena malu.
“Apa kau sudah gila Dewangga? Menampar kepalamu sendiri? semoga saja memang gila, dengan begitu aku akan menikahi calon istirmu.” Ucap Gadhing.
Dewangga menampar pundak Gadhing, “Kau harus melampaui kekuatanku, baru setelah itu kau bisa merebut calon istriku.”
“Jika kau menjadi gila, buat apa aku melampauimu?” ucap Gadhing.
“jadi sekarang kau mengharapkan aku menjadi gila?”
“Tentu saja!”
Akhirnya seperti biasa dua bersahabat itu mulai meributkan hal-hal yang tidak penting. Melihat perseteruan Dewangga dan Gadhing, membuat perasaan Sungsang Geni sedikit berwarna. Dia hampir melupakan suasana seperti ini.
Disisi lain perasaan Durada sudah cukup tenang menghadapi Sungsang Geni, dia tidak merasa takut dan malu. Beberapa kali dia melirik wajah Sungsang Geni, dan setiap kali dia melihatnya, semakin membuat dirinya ingin mengenal pemuda itu lebih dalam.
Ketika hari mulai beranjak sore, udara mulai terasa dingin menusuk menembus kulit. Awan berjalan pelan mendekati upuk barat, terlihat sang surya mengintip dari celah-celah awan berwarna orange.
Burung-burung berpasangan mencari sangkar diantara dahan kayu yang rindang, kemudian mereka bersiul riang, nampaknya menemukan tempat yang cocok untuk bermalam.
“Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan.” Durada berucap ketika selesai menguburkan mayat para prajurit dan para bandit. “ Tidak jauh lagi dari sini, kita akan menemui sebuah kota, kita akan mencari penginapan dan rumah makan.”
Rombongan itu melaju sedikit cepat, terdengar teriakan Durada memacu kudanya menyebrangi sungai kecil. Air beriak, memperlihatkan ratusan buih yang memutih.
***
Setelah malam hari, akhirnya mereka tiba dikota Tenggang yang dibicarakan Durada. Mereka segera mencari penginapan yang terbaik di kota itu, lalu menemukan penginapan Bunga Mawar.
Seorang pelayan tua nampak keluar dengan buru-buru, melihat lencana yang ditunjukan Dewangga membuat dia segera memanggil kedua temannya yang lain.
Dewangga memberikan beberapa koin emas kepada pelayan, membuat wajah mereka seketika terlihat senang, Sungsang Geni hanya tersenyum melihat kejadian tu.
Kemudian beberapa prajurit yang tersisah menarik kereta kuda menuju halaman penginapan, mereka terlihat kesal karena harus berjaga semalaman didekat kereta.
“Senior Durada, apa yang membuat pria sangat bergembira?” tanya Sungsang Geni.
Durada mengeryitkan keningnya mendapati pertanyaan itu, “Tentu saja wanita dan arak. Jika kau belum mencoba keduanya, kau belum dikatakan pria sejati.” Kemudian Durada terkekeh.
Sungsang Geni segera menghampiri Dewangga, “Bolehkan aku meminjam beberapa uangmu, Dewangga?”
“Tentu saja,” Dewangga lantas memberikan sekantong hitam koin perak dan emas, “Ambilah, kau tidak perlu meminjamnya.”
Setelah makan malam selesai, Dewangga dan Gadhing segera menuju kamar mereka untuk beristirahat. Sedangkan Durada dan temanya sudah tergeletak dimeja makan karena terlalu banyak meminum arak. Sekekali terdengar gumaman dari mulut ketiga prajurit bayaran itu.
Sungsang Geni segera mendekati pelayan, “Berapa harganya arak satu kendi besar?”
“30 keping perak tuan,” pelayan itu menjawab.
“Kalau begitu, berikan aku 2 kendi besar”. Sungsang Geni meletakan 1 keping emas diatas meja pelayan. Melihat satu keping emas dil, pelayan itu sangat senang.
Jika berada diwilayah kerajaan Majangkara 1 keping emas setara 100 keping perak atau 1000 keping perunggu, membawa 100 keping emas dapat membuat seorang Pendekar mabuk-mabukan selama satu tahun.
Sungsang Geni membawa 2 kendi besar arak, lalu berjalan mendekati 4 orang prajurit yang berwajah lesu, nampaknya mereka merasa kesal karena tugas itu, setidaknya mereka juga berkeinginan untuk tidur meski hanya satu jam.
“Tuan Geni, apa yang kau lakukan ditempat ini?” seorang prajurit bertanya keheranan, sangat jarang seorang pendekar hebat mendekati prajurit yang hanya pendekar tingkat 2.
“Apa yang kau ucapkan, senior. Tentu saja aku membawa arak untuk kalian, kita akan menghabiskan minuman ini bersama-sama.” Ucap Sungsang Geni, lalu menyodorkan arak ditangannya.
Mereka terlihat ragu-ragu, saling menatap dengan heran.
“Apa kalian pikir aku meracuni minuman ini?” tanya Sunsang Geni.
“Kau sunggu bermurah hati tuan Geni?” mereka serentak memberi hormat, kemudian bergegas menuang arak kedalam cawan lalu meminumnya.
Setelah pertarungan tadi siang, mereka tidak berniat untuk meragukan ucapan Sungsang Geni, apalagi untuk membantahnya. Jika arak itu diberi racun untuk membunuh mereka? Apa untungnya bagi Sungsang Geni. Mereka memikirkan hal yang sama.
“Boleh aku duduk bersama kalian?”, tanya Sungsang Geni, menunjuk pada bangku kosong disebelah prajurit.
“Jika tuan Geni tidak merasa risih, silahkan saja.” Salah seorang menyodorkan bangku itu.
“Kenapa harus risih?” jawab Sungsang Geni, kemudian segera menegak arak yang terdapat didalam cawan miliknya.
‘pahit’ Sungsang Geni hampir saja memuntahkan cairan itu dari dalam mulutnya, dia tidak menyangka banyak pria menyukai minuman seperti ini.'pria sejati kah?'
“Tuan Geni,” Prajurit didekatnya berkata, “Kami belum sempat berterima kasih atas pertolongan anda tadi siang.”
“Tidak usah dipikirkan. Sebaiknya kalian berlatih giat agar kelak bisa melindungi setidaknya diri kalian sendiri.” ucap Sungsang Geni.
Ketika Sungsang Geni beniat membeli minuman yang lebih manis, tiba-tiba dia merasakan seseuatu.
“Tuan Geni, ada apa?” seorang prjaurit menyadari perubahan raut wajah Sungsang Geni.
“Seseorang dengan kemampuan Tenaga Dalam berada disekitar sini. Meski aku tidak merasakan aura membunuh dari orang itu, tapi tenaga dalam yang dimilikinya setara dengan Eang Guru Alam Sakti,” ucap Sungsang Geni.
Mendengar ucapan Sungsang Geni, prajurit itu segera meletakan cawan dimeja, lalu meraih golok. Mata mereka menyapu keadaan sekitar, mewaspadai sesuatu yang mencurigakan.
Sebagian orang yang telah berada pada level Pendekar kelas tanding ke atas, dapat merasakan aura membunuh seseorang tapi hanya sedikit yang mampu merasakan besarnya tenaga dalam yang dimilki orang itu.
Merasakan tenaga dalam adalah perkara sulit, sebab energi itu sangat ghaib dan halus. Berbeda jauh dengan aura membunuh yang terkesan mencolok dan kasar.
Untuk merasakan Tenaga Dalam orang lain, setidaknya seseorang harus mengarahkan sedikit tenaga dalamnya kepada orang yang dituju, maka tenaga dalam orang yang dituju akan menunjukan respon.
Besar kecilnya tenaga dalam seseorang, tergantung dari besar kecilnya respon yang diterima, respon yang diterima berbeda beda, ada yang dingin ada yang panas, ada yang berat dan masih banyak lagi, sesuai dengan unsur elemen yang mendukungnya.
Namun cara ini sangat rentan ketahuan apa bila orang yang bersangkutan juga bisa merasakan tenaga dalam orang lain.
Tapi Sungsang Geni mempunyai cara yang lebih baik, yitu merasakannya energi api matahari. Karena energi itu bukan berasal dari tenaga dalam melainkan energi alam, maka resiko ketahuan tidak ada sama sekali.
Tiba-tiba seorang pria tua berjalan mendekati Penginapan Bunga Mawar.
Pakaiannya terlihat lusuh dan usang, dia nampak sedikit lelah dengan tempat minum dari buah labu yang sudah tidak berisi.
“Beri aku makan, dan sekendi arak?” dia berucap pada pelayan yang menghadangnya didepan pintu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Reymundo Hidayat
jos
2023-09-05
1
rajes salam lubis
lanjutkan thor
2022-08-19
0
Savira Rasela
tersisa*
2022-07-05
0