Rubah Putih masih belum mengerti situasinya, dengan matanya sekarang dia tidak mampu untuk mengikuti pergerakan yang dilakukan Sungsang Geni barusan. Sepertinya keputusannya untuk tidak memihak Singa Hitam sudah benar, jika tidak, dia bisa saja bernasip sama dengan sahabatnya itu.
“Pemuda ini kekuatannya jauh diatas kami, lencana Emas,” Rubah Putih bergumam sambil menggarut dagunya, “dia masih menahan kemampuannya, bisa saja kekuatannya melebihi prajurit dengan lencana Giok.”
“Dengarkan! kalian boleh menghinaku, menumpahkan minumanku, aku manganggapnya biasa saja dan tidak terlalu peduli. Tapi jika kalian mencoba menghina guruku!” Sungsang Geni menunjuk Singa Hitam yang tak sadarkan diri dengan pedangnya. “Aku akan menghajar kalian!”
“Maafkan kelakuan temanku ini pemuda!” ucap Rubah Putih, memberanikan dirinya untuk mendekati Sungsang Geni. “Dia memang orang yang tidak mengerti bertata krama.”
Sungsang Geni segera menatap Rubah Putih, membuat seluruh sendi ditubuhnya terasa gemetar. Tatapan tajam, setajam mata pedang yang mencabik-cabik keberanian Rubah Putih.
“Maafkan aku senior.” Diluar dugaan, Sungsang Geni menundukan kepalanya, memberi hormat “Aku tidak dapat mengendalikan emosi, aku hanya melakukan sesuatu yang wajib dilakukan oleh seorang murid untuk menjaga nama baik Gurunya.”
Rubah Putih sangat terkejut, dikiranya Sungsang Geni berniat menghajarnya. Dia melihat tiba-tiba tatapan Sungsang Geni menjadi tenang, kerlitan bola matanya tidak menunjukan niat apapun kecuali pertemanan.
“Kau tidak bersalah anak muda, saya selaku murid dari Singa Emas yang harusnya meminta maaf.”
Sungsang Geni menatap kembali Singa Hitam dengan datar, “Senior, segera bawa dia! setiap aku melihat wajahnya membuat tanganku ingin kembali memukulnya.”
“Tentu anak muda, tentu.” Rubah putih bergegas mengangkat tubuh Singa Hitam, wajahnya terlihat kesal, namun tidak memiliki cukup nyali untuk membantah printah Sungsang Geni.
Setelah beberapa lengakah Rubah Putih pergi membawa Singa Hitam, dia kembali menoleh kearah Sungsang Geni, “Anak Muda boleh aku tahu namamu, dan berapa usiamu sekarang?”
“Sungsang Geni, Senior boleh memanggilku Geni.”
“Lalu usiamu, Anak Muda?” tanya dia peasaran.
“20 tahun, Senior.”
Rubah Putih hampir saja tersedak napasnya, untuk usia semuda Sungsang Geni memiliki kemampuan seperti itu sungguh tidak dapat dipercaya. Setidaknya butuh 20 tahun berlatih agar mencapai kemampuan yang Sungsang Geni miliki.
“Saya baru ingat, saya harus mengurus pria ini.” Rubah Putih menempar kepala Singa Hitam, dengan senyum yang dibuat-buat.
‘pemuda itu bukan manusia! Mungkin anak setan’ Rubah putih berjalan bergegas, tidak ingin membuat ‘anak setan’ juga menghajar kepalanya seperti Singa Hitam.
Waktu berlalu begitu capat, setelah malam hari tiba, seperti biasa Sungsang Geni melakukan meditasi untuk menenangkan pikiran, didalam kamarnya. Suasana kamar yang dipilihnya memang sangat sepi terletak paling jauh dari Markas prajurit bayaran.
Di Kamar itu tidak terdengar gelegar tawa para prajurit bayaran yang sedang meminum arak. Yang terdengar hanya siulan jangkrik yang saling sahut menyahut, serta cahaya bulan purnama yang mengintip dari celah dinding yang berlobang, membuat malam ini semakin tenang.
Namun sebelum Sungsang Geni berhasil menembus ketenangan pikirannya, terdengar suara orang mengetuk pintu kamar.
Sungsang Geni segera terjaga, lalu bergegas membuka pintu kamar.
“Senior Pitaloka?” Sungsang Geni mendapati Pitaloka didepan pintu, “Ada apa malam-malam begini menemuiku?”
Setelah kejadian tadi siang, Pitaloka tidak terlalu berani menatap wajah Sungsang Geni, meski Sungsang Geni terlihat seperti orang baik-baik tapi dirinya lebih memilih untuk menjaga sikap agar tidak menyinggung pemuda itu.
“Ma’afkan saya menggangu waktu istirahatmu!”
“Tidak masalah Senior, katakanlah keperluanmu?” tanya Sungsang Geni.
“Ketua menyuruh untuk segera menemuinya diruang rapat,” ucap Pitaloka.
“Kalau begitu tunggu sebentar.” Sungsang Geni lantas merapikan jubahnya dan mengambil pedang yang tergeletak diatas tempat tidur, “Mari tunjukan jalannya!”
Pitaloka membawa Sungsang Geni menaiki tangga menuju kelantai empat, melewati puluhan prajurit bayaran kelas rendah yang sedang asik menegak arak.
Beberapa prjurit yang masih sadar memandangi Sungsang Geni dengan sedikit iri, anak baru itu nampakanya bukan hanya menarik perhatian Pitaloka tapi juga Ketua Prajurit bayaran.
“Apa yang akan ketua lakukan padanya?”
“Entahlah, mungkin saja hukuman karena menghajar Singa Hitam.”
“Hentikan ocehan kalian, jika dia mendengarnya, dia akan menghajarmu seperti yang dilakukannya kepada Singa Hitam.”
Mendengar percakapan para prjurit itu, Sungsang Geni hanya tersenyum’ ‘nampaknya minuman itu memang membuat orang menjadi gila’ batinnya menggerutu.
Sungsang Geni Akhirnya tiba diruang rapat, dia melihat ada 3 prajurit lencana Giok dan 9 prjaurit lencana emas sudah lebih dahulu berada disana, dia mengetahui wajah mereka dari gambar seketsa yang terdapat pada struktur organisasi yang terpampang di dinding Markas. Tentu saja hanya untuk lencana Giok dan Emas yang akan digambar.
Mereka duduk dengan mengelilingi sebuah meja bundar yang terbuat dari kayu yang diukir indah dengan lampu hias sebesar manusia berada ditengah-tengah meja.
Tepat didepannya, seorang pria yang mungkin berumur 80 tahun sedang menatapnya. Sungsang Geni percaya, dari pakaian yang dikenakan, kakek tua didepannya adalah ketua prajurit bayaran.
“Silahkan duduk!” Ucap kakek tua datar.
“Terima Kasih Ketua.” Sungsang Geni sedikit canggung dengan situasi saat ini, apa lagi seluruh orang disana melihati dirinya dengan tatapan yang tajam.
“Apa kau yang bernama Sungsang Geni, murid dari Ki Alam Sakti?” tanya kakek tua.
“Benar Ketua.” Jawab Sungsang Geni.
“Ternyata masih sangat muda, aku mendengar apa yang kau lakukan terhadap Singa Hitam siang tadi.” Kakek itu mengernyitkan matanya, menunjukan wajah tidak senangnya.
Sungsang Geni telah menduga, kelakuanya terhadap Singa Hitam akan menjadi sorotan setiap orang yang berada di Markas prajurit bayaran, tapi tidak menyangka akan dihakimi oleh ketua prajurit bayaran.
“Maafkan saya ketua, saya terbawa emosi. Saya bersedia dihukum.” Sungsang Geni menundukan kepalanya, dia sangat paham kelakuannya mungkin akan mencoreng nama baik gurunya.
“Hahaha, kau persis seperti gurumu ketika masih muda.” Ucap Kakek tua itu sambil tertawa terbahak-bahak, “Gurumu juga menghajar diriku, seperti kau menghajar murid bodohku.”
Sungsang Geni hampir saja tersedak oleh napasnya sendiri, ketika mengetahui bahwa ketua dari prajurit bayaran adalah Singa Emas. Seorang pendekar tanpa tanding dengan kemampuan hanya sedikit dibawah gurunya, Ki Alam Sakti.
“Aku sungguh minta ma’af ketua, aku tidak bermakasud menghajar muridmu itu.” Sungsang Geni kembali menundukan kepalanya, menyadari bahwa kakek tua didepannya merupakan guru dari orang yang telah dihajarnya siang tadi.
“Tidak masalah anak muda, tidak kusangka kau masih sangat muda, berapa umurmu?” Singa Emas menatap tubuh Sungsang Geni dengan tajam, lalu dia mengernyitkan keningnya.
Sungsang Geni tidak mengerti, kenapa Singa Emas mengernyitkan kening, tapi persaannya sekarang menjadi tidak nyaman.
“20 tahun, Ketua,” jawab Sungsang Geni.
“20 tahun ya, sayang sekali kau masih sangat muda.” Singa Emas menggelengkan kepalanya, kemudian segera berdiri dari tempat duduknya, dia lalu menghentak lantai dengan kakinya, membuat golok yang tersender di tiang kursi meluncur keatas lalu menancap diatas meja.
“Apa yang ingin kau lakukan, Ketua?” tanya Sungsang Geni, sekarang dirinya menjadi lebih sedikit waspada.
“Aku ingin membalaskan dendam muridku, kenapa kita tidak bertarung saja sampai mati anak muda!” Singa Emas lalu tertawa dengan keras, tenaga dalam yang keluar bersama dengan suaranya membuat dinding bangunan bergetar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Reymundo Hidayat
hajar
2023-09-05
1
rajes salam lubis
mantap
2022-08-18
0
Abdul Majid
lanjut
2022-06-08
0