Setelah genap 5 tahun Sungsang Geni berada di bukit Batu, kini Ki Alam Sakti mengajaknya pergi ke Perguruan awan berarak, menemui kelima orang muridnya yang lain yang letaknya berada didekat Istana kerajaan Majangkara.
Daripada disebut perguruan sebenarnya tempat itu lebih disebut kediaman Ki Alam Sakti sebagi penasehat Raja Airlangga.
Sebenarnya tidak ada niat Ki Alam Sakti untuk mengajari ke 5 anggota kerajaan, secara pribadi dia tidak berkeinginan mempunyai murid yang banyak laksana para perguruan lainnya.
Namun meskipun Ki Alam Sakti menolak permintaan itu, Raja Airlangga sanggup bersujud agar dirinya mau menjadi guru bagi anak dan ponakannya.
“Jika bukan Anda, lalu siapa lagi yang lebih berhak melatih kedua anak dan ponakan ku,” ucap Raja Airlangga ketika menemuinya malam hari di kediaman Ki Alam Sakti secara sembunyi-sembunyi.
Setelah itu, lima orang anggota kerajaan termasuk putra mahkota Pangeran Dewangga resmi menjadi murid Ki Alam Sakti, terpaut 2 tahun jaraknya dengan Sungsang Geni.
Rumah Ki Alam Sakti akhirnya dijadikan wilayah berlatih bagi ke 5 muridnya, dan scara otomatis mejadi padepokan kecil yang masuk kedalam wilayah istana.
Kelima muridnya jelas lebih banyak bertatap muka dengan Ki Alam Sakti, namun demikian tidak ada satupun dari mereka yang kemampuannya melebih Sungsang Geni yang berlatih sendiri di bukit Batu.
Jarak bukit batu ke Kerajaan Majangkara kira-kira membutuhkan 10 hari dengan berlari hingga tiba disana, namun Ki Alam Sakti hanya membutuhkan 5 jam saja.
Sekali lagi, Sungsang Geni merasakan cemas ketika gurunya itu membawa dia terbang menuju Kerajaang Majangkara.
Setelah lima jam berjalan lewat udara, akhirnya mereka berdua tiba di wilayah kerajaan Majangkara.
“Geni, kita telah tiba di wilayah kerajaan Majangkara, dan ini adalah tempat kediaman Eang guru.” Ki Alam Sakti menunjuk sebuah rumah yang cukup besar, dan memiliki halaman yang luas.
Sungsang Geni melihat ada banyak alat latihan di halaman itu semuanya terbuat dari logam berkualitas, beberapa bunga-bunga tumbuh dengan indah disepanjang pagar, lalu sebuah pohon besar disamping rumah penuh dengan goresan pedang, nampaknya pohon itu menjadi sasaran latihan kelima murid gurunya.
Seorang gadis cantik keluar dari balik pintu rumah, dia berjalan mendekati Ki Alam Sakti dan Sungsang Geni dengan wajah yang gembira.
“Kau telah kembali guru?”ucap gadis berkuncir dan bergaun biru itu, “Murid memberi hormat.”
‘sudah kuduga pasti guru memiliki murid wanita, terlihat dari rumah guru yang bersih dan indah’
“Anjani perkenalkan, ini adalah Sungsang Geni.” Ki Alam Sakti memperkenalkan Sungsang Geni, “Dan Sungsang Geni, ini adalah Anjani putri dari Raja Airlangga.”
“Hormat saya tuan putri.” Sungsang Geni memberi hormat.
“Tidak usah sungkan,” ucap Anjani dengan datar, wajahnya menjadi tidak senang ketika dipanggil putri “Aku lebih senang dipanggil dengan nama, dari pada harus dipanggil dengan putri.”
Hal yang pertama dirasakan Anjani ketika melihat Sungsang Geni adalah kehangatan dan pertemanan, gadis itu meskipun pemarah namun perasaannya sangat tinggi, Anjani dapat menebak watak seseorang meski kali pertama dia melihat orang.
“Pemuda ini memiliki aura yang membuat semua orang merasa hangat bersamanya, aura yang berbeda dengan aura bangsawan yang terkesan penuh dengan pujian, atau aura pendekar yang menekan” gumam Anjani sendirian.
Meskipun hanya gumaman namun Sungsang Geni dapat mendengarnya dengan jelas, hal itu membuat dirinya tersenyum sendiri.
Ki Alam Sakti mengajak Sungsang Geni masuk kedalam rumah, sedangkan Anjani segera menyiapkan kamar kosong untuk Sungsang Geni.
Ruangan rumah itu sangat luas, beberapa kamar berjejer dengan rapi, meski Ki Alam Sakti jarang menempatinya, namun kelima muridnya selalu mebersihkan setiap kamar dengan rutin.
Beberapa bilah pedang tertata rapi disudut ruangan membuat Sungsang Geni menjadi terpukau.
Didinding ruangan nampak sebuah lukisan besar seorang kakek tua bersama lima orang anak-anak, itu adalah Ki Alam Sakti ketika pertama kali menjadi guru.
“Anjani aku akan pergi menemui yang mulia Prabu Airlangga perihal Sungsan Geni. Jadi aku mohon bantuannya, agar kau dapat membantu keperluannya?” ucap Ki Alam Sakti.
“Baik Guru.”
“Geni,Eang akan pergi menemui Prabu Airlangga, jika kau perlu sesuatu mintalah kepada Anjani!” Setelah berkata demikian Ki Alam Sakti segera keluar meninggalkan rumahnya.
Sedari tadi Sungsang Geni tidak melihat kakak seperguruannya, “Putri Anjani, diamanakah kakak seperguruan yang lain berada?” tanya dirinya, namun lekas Anjani berwajah masam mendengar kata putri dari mulut Sungsang Geni.
“Mereka sedang berada di Istana Kerjaan, keempat orang kakaku biasanya sedang belajar tanding melawan prajurit kerajaan.” Anjani menjawab dengan datar.
Merasa Anjani bermuka masam karena ucapannya, Sungsang Geni hanya dapat tersenyum.
“Geni, sudah berapa minggu kau menjadi murid Guru Alam Sakti?” Anjani bertanya karena Ki Alam Sakti baru meniggalkan istana 2 minggu yang lalu dan sebelumnya tidak pernah, kecuali hanya beberapa hari saja.
Sungsang Geni tersenyum sebelum menjawabnya, “Aku telah menjadi murid Eang Guru sejak 5 tahun yang lalu.”
Anjani terkejut mendengar ucapan Sungsang Geni, merasa hal itu musathil dia menganggap ucapan Sungsang Geni hanya bualan belaka.
Anjani masih berpikir, bukankah selama lima tahun terakhir, Gurunya itu tidak pernah meniggalkan istana Majangkara, apa lagi kondisi dunia persilatan yang semakin panas.
“Bagaimana kau berlatih tanpa didampingi guru?” Anjani bertanya, berusaha membuka kedok Sungsang Geni.
“Aku berlatih dari salinan kitab pedang awan berarak yang dipinjamkan Eang kepadaku.” Sungsang Geni kembali tersenyum ramah.
Mendengarnya, Anjani semakin tidak percaya, kemudian dia segera melangkah mendekati sudut ruaangan lalu mengambil dua bilah pedang.
Satu-satunya membuktikan bahwa perkataan Sungsang Geni bukanlah kebohongan yaitu dengan jalan pertarungan.
Sejauh ini cara ini lebih efektif untuk membuka kedok seoarang pendekar, setidaknya itulah yang dipikirkan Anjani.
“Tunjukan padaku ilmu berpedangmu!” Anjani menyodorkan salah satu pedang kepada Sungsang Geni.
“Apakah harus dengan cara ini, Putri Anjani.” Sungsang Geni merasa ragu.
“Tidak usah ragu, jika kau bisa mengalahkan ku, aku akan percaya dengan ucapanmu. Dan aku akan menjadi pelayanmu selama satu minggu.” Anjani sangat yakin dengan kemampuannya, level Anjani adalah pendekar pedang kelas tanding, berada diatas pendekar kelas 3,2 dan 1. Dan menurut analisanya, Sungsang Geni berada pada tingkat pendekar kelas 1.
Meski denga berat hati Sungsang Geni akhirnya menyetuji permintaan Anjani, dia memilih salah satu pendang yang kualitasnya biasa saja, kemudian mengikuti Anjani berjalan kearah halaman rumah.
Entah apa yang dipikirkan Anjani, Sungsang Geni rasa ini membuang-buang waktu saja, namun bila tidak diikuti kemauannya bisa jadi akan mengundang masalah, lalu akan berimbas kepada gurunya. Sungsang Geni tidak ingin membuat malu guru yang sangat dihormatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Beni Nugroho
teng-teng-teng kita mulai pertarungannya
2024-03-28
1
Jabgems Stone
oke
2023-12-09
0
Reymundo Hidayat
tundukan
2023-09-05
0