Setelah rombongan berjalan jauh meniggalkan istana, seorang pria diatas menara pengintai berteriak keras.
“Buka pintu gerbang!”
Lalu 4 prajurit segera mendorong pintu gerbang hingga terbuka lebar. Pintu gerbang kali ini tidak terbuat dari bahan yang kuat, hanya terbuat dari jalinan besi. Sungsang Geni tidak mengetahui ada gerbang kedua setelah gerbang utama, bukankah dia terlalu cemas saat dibawa terbang oleh Ki Alam Sakti menuju istana? Jadi dia tidak sempat melihatnya.
Kerajaan Majangkara memang memiliki penjagaan yang ketat, ada dua tembok yang memisahkan kerajaan Majangkara dengan lingkungan luar. Hanya saja, tembok kali ini tidak dirancang kuat, seperti Benteng istana. Tembok ini hanya berpungsi agar binatang buas tidak masuk kedalam permukiman penduduk, dan sebagai tanda bila mana seseorang telah memasuki wilayah kerajaan Majangkara.
Akhirnya mereka meninggalkan kerajaan Majangkara, melewati jalan yang penuh dengan kerikil berwarna putih. Sepanjang perjalanan dimata mereka hanya ada hutan dengan pohon tinggi, beberapa ekor kijang yang mencari makan, atau orang yang sedang mencari getah damar.
Derap langkah kuda melaju dengan cepat, terdengar seperti suara petugas penabuh genderang perang, membawa kereta mewah melaju cepat, terlihat sekarang ada lumpur yang berani menodainya.
Sekekali Gadhing dan Dewangga mengambung keudara, bersamaan roda kereta yang melewati lobang yang dalam.
“Sial, jika tanah ini termasuk dalam wilayah Majangkara, pasti sudah kuperbaiki.” Dewangga berkata kesal.
Dilain sisi, dari tadi yang Sungsang Geni lakukan hanyalah berpikir, dia begitu ingin mencoba jubah pusakanya. Entah sudah beberapa kali dia hampir jatuh dari punggung kudanya sendiri. Menunggangi kuda bukanlah keahliannya, jika bisa terbang dengan mudah kenapa tidak, pikirnya.
Tapi bagaimana caranya? Sungsang Geni tidak ingin menarik perhatian Durada dan kedua temannya. Jika mempunyai kesempatan, Sungsang Geni berniat menampar Durada dengan cara halus.
Setelah seharian berjalan, akhirnya mereka memutuskan untuk ber-istirahat ditepi sungai kecil dan dangkal. Airnya sangat jernih terbukti dari ikan-ikan kecil yang berenang diantara riak air yang menerjang batu.
Pohon niur hampir membentuk pagar yang membentang dari hulu hingga kehilir sungai. Terlihat beberapa pasang tupai yang bekejaran dan melompat lincah dari pelepah satu kepelepah niur yang lain.
Sungsang Geni menggiring kudanya sedikit kehilir untuk memberinya minum.
“Minumlah, kau pasti sangat kelelahan bukan?” dia berkata.
Bersamaan dengan kudanya yang sedang minum, Sungsang Geni membasuh wajahnya yang berkeringat. Sekekali dia bermain dengan air, hanya untuk membasuh kaki kuda yang berlumpur.
Setelah dirinya selesai, Sungsang Geni melompat keatas batu dipinggir sungai . Dia berniat menikmati pemandangan yang sudah lama tidak dia rasakan, udara yang segar serta suara gemuruh dahan pohon yang ditiup angin, membuat pikirannya menjadi tenang.
Namun hanya sesaat, sebelum ketenangan Sungsang Geni terusik, dia merasakan beberapa orang sedang mengintai di kejauhan. Bersembunyi dibalik semak, menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.
Salah seorang dari mereka mengeluarkan aura membunuh yang cukup pekat. Sungsang Geni dapat merasakan setidaknya orang itu berada pada level pendekar pilih tanding, dan beberapa yang lain pendekar kelas tanding.
Segera Sungsang Geni menarik kudanya kedaratan, diikatnya tunggangannya itu pada batang kecil didekat kuda-kuda yang lain. Kuda itu meringkih beberapa kali, terlihat gelisah, nampaknya binatang itu juga merasakan bahaya mendekat.
“Pangaeran, sepertinya ada yang berencana merampok kita?” Sungsang Geni berbicara pelan, namun suaranya cukup terdengar jelas oleh Durada yang duduk didekat Dewangga.
“Jangan membual Sungsang Geni!” Durada segera menimpali, garis bibirnya sedikit menurun, tanda mengejek. “Kami tidak merasakan ada aura membunuh ditempat ini!”
Mendengar ucapan Durada, Dewangga segera menjelitkan matanya, tidak senang. Meskipun dia sedikit sombong, tapi Dewangga sangat benci ada orang yang berkata buruk terhadap saudara seperguruannya.
“Ma’afkan atas perkataan kasar saya Pangaeran Dewangga.” Akhirnya Durada segera pergi menjauhi Sungsang Geni, mendekati kedua temannya yang kemudian kembali melanjutkan umpat serapah.
“Geni, sebenarnya aku juga tidak merasakan aura membunuh.” Ucap Dewangga seraya menggaruk kepalanya, “Tapi mungkin kau lebih peka rasa dibanding diriku yang hanya mendalami jurus Awan Bearak, tanpa belajar hal lain dari guru kita”
Dewangga terlihat menyesal karena tidak melatih kepekaan rasanya, begitupun dengan Gadhing yang bahkan belum bisa merasakan tingkat kekuatan lawannya.
“Geni apa yang harus kita lakukan,?” tanya Dewangga, “Apa sebaiknya, kita yang menyerang mereka terlebih dahulu?”
“Aku setuju, kita serang lebih dahulu! Aw, kenapa kau memukulku?” Dewangga menampar kepala Gadhing, membuat pemuda itu meringis kesal.
“Kau saja baru bangun, lalu berbicara seolah paling memahami situasinya!” timpal Dewangga.
“Keberadaan mereka masih cukup jauh Pangeran.” Sungsang Geni berpikir sejenak, “Lebih baik kita berpura-pura tidak tahu, namun tetap waspada.”
Pangeran Dewangga mengangguk tanda setuju, begitu pula Gadhing yang nampak tidak sabar ingin bertarung.
Ini adalah kesempatan Sungsang Geni untuk menampar Durada beserta kedua temannya. Pemuda itu memahami, musuh yang bersembunyi memiliki kemampuan lebih baik dari ketiga prajurit bayaran lencana Giok.
Sungsang Geni kemudian pergi menuju pohon besar didekatnya, dia lalu duduk bersila dan memejamkan matanya. Cara itu baginya paling efektip untuk mengistirahatkan seluruh tubuhnya dibandingkan dengan tidur, karena cara ini masih membuatnya sadar.
Telinga Sungsang Geni yang tajam, masih dapat mendengar upatan yang dikeluarkan dari mulut Durada.
“Masih bau kencur, mau jadi sok jago.” Gumam Durada kepada kedua temannya.
Waktu berjalan dengan cepat, Sungsang Geni sedikit menarik garis bibirnya, tersenyum kecil. Bandit yang ditunggunya, mulai mendekat dan melangkah dengan sangat hati-hati. Sungsang Geni mengetahui itu.
Sebuah pisau kecil melesat cepat, melewati celah-celah daun menuju lehar Durada.
Insting pria itu cukup baik, dia menarik mundur lehernya dengan segera. Tidak cukup cepat, membuat pisu kecil itu masih sempat memberi goresan kecil dibatang lehernya, lalu terus melaju dan mengenai seekor kuda.
“Kurang Ajar!” Pekik Durada, dia menarik golok yang tersarung dipinggangnya, lalu mengacungkan kesegala arah, “siapa kau berani menyerang ku, keluarlah dan bertarung denganku, jangan jadi pengecut!”
Muksir dan Kantu segera beraksi, mereka mencabut pedang dan bersiaga. Kemudian 3 buah pisau kecil kembali melesat kearah Durada dan kedua temannya. Kali ini mereka dapat menangkis semua serangan rahasia para bandit, membuat pisau-pisau kecil itu terpental tak karuan.
“Dasar pngecut!” Durada mulai memaki, matanya jalang menatap setiap semak yang bergerak.
“Pengecut?” Seorang pria bertopeng yang mengeluarkan aura membunuh tiba-tiba saja telah berada dibelakang Durada, “Kami adalah bandit, tidak peduli selicik apa cara kami, yang terpenting adalah uang kalian.”
Durada menoleh kebelakang, wajahnya tampak tegang, pria bertopeng hanya berjarak dua langkah dari dirinya. Durada segera melompat kebelakang dengan cemas, hampir saja dirinya tidak dapat mengontrol tubuhnya.
“Chhh, jika aku ingin, kau sudah mati dengan kepala terpisah dari badanmu!” dari balik topengnya pria bertopeng tersenyum puas, dia telah berhasil membuat mangsanya ketakutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Reymundo Hidayat
takut
2023-09-05
1
rajes salam lubis
mantap mantap
2022-08-19
0
Abdul Majid
lanjut seru bro ceritanya
2022-06-08
0