Begawan Surama merupakan pendekar terhebat di Perguruan Pedang Berarak sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan dunia ini dengan cara Moksa(masuk seluruh raganya ke alam gaib) seperti para Begawan lainnya.
“Guru aku memang telah menguasainya, tapi untuk menyempurnakan teknik ini seperti guru, aku rasa butuh 10 tahun lagi.” Sungsang Geni lantas mengembalikan salinan kitab pedang awan berarak.
Ki Alam Sakti tersenyum, dia mengetahui bahwa potensi Sungsang Geni sangatlah besar, mungkin hanya 3 tahun saja, maka teknik ini akan benar-benar disempurnakan oleh Sungsang Geni.
“Eang akan mengujimu,” Ki Alam Sakti lantas mengeluarkan dua pedang sungguhan, “Pilihlah salah satunya !”
Sungsang Geni mengambil salah satu pedang tanpa memilihnya. “Itu adalah pedang biasa,” ucap Ki Alam Sakti.
“Tidak mengapa, Eang Guru.” Sungsang Geni langsung mengalirkan api mataharinya, membuat pedang itu diselimuti api pekat berwarna merah. “Aku ingin mengetahui sejauh mana kemampuanku, jadi kumohon, Eang Guru tidak merasa sungkan.”
Ki Alam Sakti segera menyelimuti pedangnya dengan tenaga dalam hingga membuatnya bercahaya putih kebiruan, tentu saja jika tidak diselimuti dengan tenaga dalam pedang miliknya akan lebur terbakar oleh pedang Sungsang Geni yang diliputi oleh api.
“Eang tidak akan ragu Geni, karena Eang juga penasaran sekuat apa dirimu sekarang.” Ki Alam Sakti nampaknya akan menemui lawan sebanding setelah lama tidak bertarung kecuali dengan sahabatnya Adipati kerjaan Surasena dari perguruan pedang emas.
Setelah mereka selesai menyelimuti pedang dengan energi, mereka segera saling serang, membuat bukit batu dipenuhi dengan suara pedang beradu dan ledakan tenaga dalam. Angin yang tenang tiba-tiba berhembus kencang karena tekanan kekuatan mereka berdua.
Keduanya telah bertukar hampir seratus jurus, namun belum ada tanda-tanda dari guru dan murid itu untuk menyerah.
“Pedang angin berbisik.” Sungsang geni menyerang dengan cepat dan mematikan.
Jurus itu segera disambut Ki Alam Sakti dengan jurus yang sama dan menimbulkan ledakan hebat. Bebatuan berhamburan terkena imbas jurus mereka berdua.
Asap menyelimuti hampir sebagian pelataran bukit batu, disaat asap masih mengganggu pengelihatan, Ki Alam Sakti segera menyerang Sungsang Geni.
Kemudian guru dan murid kembali saling serang, dan bertukar ratusan jurus, mereka mulai mengganti serangan dasar dengan menggunakan jurus-jurus yang kuat, nampaknya Sungsang Geni akan mencoba 25 jurus yang dipelajarinya hari ini.
Hingga akhirnya Sungsang Geni menarik api matahari dipedangnya, lalu mengganti dengan tenaga dalam seperti yang gurunya lakukan.
“Geni apa yang kau rencanakan,?” tanya Ki Alam Sakti nampak heran.
“Aku berniat menggunakan jurus tarian dewa angin, Eang Guru. Aku ingin mengetahui sehebat apa jurus ini jika tanpa api matahari.” Sungsang Geni mulai melakukan gerakan tarian dewa angin.
Tarian Dewa angin merupakan jurus ke 25 atau jurus terkuat dalam ilmu pedang awan berarak, jurus ini merupakan 1 dari 5 jurus yang belum dapat disempurnakan oleh Sungsang Geni.
Melihat muridanya sangat bersemangat dengan mengeluarkan jurus terkuat, Ki Alam Sakti juga mengeluarkan jurus iblis tertawa, jurus yang dua tingkat lebih rendah dari tarian dewa angin. Namun karena jurus tarian dewa angin milik Sungsang Geni belum sempurna, maka Ki Alam Sakti tidak ingin menggunakan jurus yang sama, ditakutkan Sungsang Geni akan terluka.
Setelah saling menunggu siapa yang lebih dahulu menyerang, Sungsang Geni akhirnya memutuskan lebih dahulu menyerang.
Kemudian terjadi benturan teknik pedang berarak di bukit batu. cahaya kilatan terlihat beberapa saat, hingga akhirnya Sungsang Geni harus terpundur 10 langkah.
“Apa kau baik-baik saja Geni?” Ki Alam Sakti segera bergegas menghampiri Sungsang Geni yang kesulitan bernapas.
Sungsang Geni tidak menyangka jurus terkuatnya dengan mudah dipatahkan oleh Gurunya hanya dengan jurus yang 2 tingkat dibawah tarian dewa angin.
Tenaga dalam Ki Alam Sakti memang benar-benar besar, bahkan dia belum mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya, karena dari tadi yang dia lakukan adalah mengimbangi tenaga dalam Sungsang Geni.
‘meskipun dengan api matahari aku tidak yakin dapat mengalahkan ilmu yang dimiliki guru, dia memang guru yang hebat’ ucap batin Sungsang Geni, kemudian dia tersenyum puas.
“Aku tidak apa-apa Eang Guru.” Sungsang Geni segera duduk bersila mengatur napasnya hingga normal. “Ternyata Eang Guru sangat hebat, bahkan tidak bergeming dari tempatnya.”
Ki Alam Sakti tersenyum sembil menyarungkan pedangnya. “Kehebatanku akan berkurang bersamaan umur yang sudah renta,” dia berucap lalu menepuk pundak Sungsang Geni, “Kau lah kelak dan kakak seperguruanmu yang akan menggantikan orang-orang tua seperti Eang.”
“Eang, apakah aku memiliki kakak seperguruan?” tanya Sungsang Geni, dia baru mengetahui kalau Ki Alam Sakti memiliki murid selain dirinya.
“Eang memiliki 5 murid sebelum dirimu, kalina hampir seumuran. Namun mereka adalah keluarga kerajaan, salah satunya adalah putra mahkota kerajaan Majangkara.” Ki Alam Sakti mulai menjelaskan kenapa ke lima muridnya tidak belajar ditempat yang sama dengan Sungsang Geni.Yaitu karena mereka juga terikat oleh urusan politik kerajaan.
“Kuharap engkau tidak merasa kecil hati, Geni.” Ki Alam Sakti merasa bersalah karena berlaku tidak adil, “tapi bukan karena hal itu, membuat gurumu ini selalu meniggalkan dirimu.”
“Apa yang Eang katakan? aku sama sekali tidak berkecil hati, aku bahkan tidak sabar ingin bertemu dengan mereka ber lima.” Tanpa disadari Ki Alam Sakti, Sungsang Geni sama sekali tidak marah, “Aku juga ingin melihat kemampuan kakak-kakak seperguruanku, siapa tahu mereka dapat berbagi pengalaman denganku, dan membantu menyempurnakan jurus jurusku.”
Ki Alam Sakti tersenyum, Sungsang Geni pasti telah berpikir kakak seperguruannya sangat hebat, karena lebih dahulu berlatih, namun pada kenyataanya mereka berlima bahkan tidak dapat menandingi satu jurus dasar yang dimiliki Sungsang Geni.
“Kau sekarang memiliki sipat rendah hati Geni?” ucap Ki Alam Sakti terharu.
Sungsang Geni segera beranjak lalu membersihkan tubuhnya. “Eang Guru, aku belajar dari dirimu, sampai-sampai aku juga menuruti cara bicaramu.” Sungang Geni lalu sujud dan lalu mencium kaki gurunya.
“Jadi Eang Guru, berhentilah merasa bersalah karena meninggalkanku. Muridmu ini akan merasa sedih.”
Ki Alam Sakti hanya berdecak kagum kemudian dia mengangkat tubuh muridnya yang masih tertunduk dikakinya, betapa muridnya yang satu ini begitu menghormatinya.
“Geni, besok pagi kau sudah boleh meninggalkan bukit batu, aku akan membawa dirimu ke Majangkara,” Ki Alam Sakti berkata, “Dengan kemampuanmu sekarang kau sudah bisa melindungi dirimu sendiri dan juga melindungi orang yang membutuhkan pertolongan.”
Ada perasaan senang dan ragu dihati Sungsang Geni, setelah 5 tahun dia tidak bertemu dengan manusia manapun selain gurunya membuat dirinya sedikit gugup.
“Kau tidak perlu merasa gugup, Geni.” Ki Alam Sakti coba menenangkan muridnya, “Mereka tidak akan menyulitkan dirimu.”
Namun meski tetap merasa gugup bertemu dengan orang lain, Sungsang Geni akan tetap bertekat untuk meninggalkan bukit Batu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-08-18
1
Savira Rasela
kalian*
2022-07-04
0
Abdul Majid
seeeeeer bos q
2022-06-08
0