‘kekutan pemuda ini terletak pada auranya, aura ini bukan aura bangsawan pada umunya, aura ini dapat membuat orang lain menjadi temannya’ Pitaloka jatuh pada pikirannya ketika menatap Sungsang Geni.
“Apakah suda selesai Pitaloka?” Ki Alam Sakti menegur Pitaloka yang dari tadi hanya terpaku.
“Maafkan saya Guru Alam Sakti.” Gadis itu kemudian segera menulis pada beberapa kertas, “ini! sekarang kau sudah resmi menjadi prajurit bayaran.”
Pitaloka mengembalikan kembali lenca perunggu milik Sungsang Geni.
“Geni, sekarang Eang akan kembali ke Perguruan awan berarak, jaga baik-baik dirimu disini .” Setelah Sungsang Geni memberi hormat, Ki Alam Sakti segera pergi meninggalkan markas prajurit bayaran.
Sungsang Geni memilih duduk didekat Pitaloka. Seluruh mata saat ini tertuju padanya, membuat Sungsang Geni tidak nyaman. Umumnya para prajurit disini hanya pendekar kelas 3 dan 2.
Sedangkan beberapa prajurit kelas 1 nampaknya tidak begitu peduli dengan kehadiran Sungsang Geni.
“Aku tidak pernah melihat dirimu sebelumnya.” Tiba-tiba terdengar suara berasal dari lantai dua, suara berat dan sedikit parau.
Seorang pria dengan lencana emas, sedari tadi telah mengawasi Sungsang Geni dari lantai dua tempat dimana para prajurit bayaran dengan lencana emas berada, sedangkan untuk prajurit dengan lencana giok terletak pada lantai tiga.
Pria itu lalu melompat kebawah dan mendarat tepat disamping Sungsang Geni, terdengar suara lantai yang berderak karena kaki telanjang itu menghentaknya dengan keras.
Dia menepuk pundak Sungsang Geni sedikit keras. “Kau adalah murid Ki Alam Sakti? Kabarnya Ki Alam Sakti hanya mengangkat murid dari keluarga Kerajaan, apa kau dari keluarga Kerjaan?”
“Tidak, aku haya rakyat biasa!” Sungsang Geni memahami bahwa pria didekatnya tidak mempunyai prilaku yang baik, wajah hitam yang dipenuhi bulu brewok dan mata tajam yang mengitimidasi, tidak sedikitpun bagian dari tubuhnya yang terlihat bersahabat.
Sungsang Geni mulai mendengar beberapa prajurit kelas 3 dan 2 bergumam.
“Celaka pemuda itu, dia tidak beruntung karena bertemu Singa Hitam.”
“Akan ada pertarungan,”
“Menurutmu siapa yang akan menang?”
“Tentu Singa Hitam, aku berani bertaruh.”
‘jadi dia bernama singa hitam, sangat cocok dengan wajahnya!’ pikir Sungsang Geni.
Mendengar ucapan para prajurit yang lain, membuat Singa Hitam membusungkan dada. “Anak Muda, setiap anak baru yang datang disini akan diakui setelah dia menerima tantangan.”
“Apa tantangannya?” tanya Sungsang Geni.
“Bertarung dengan prajurit lencana emas. Biasanya yang menjadi lawan bertarung adalah Sirubah Putih, tapi karena dia tidak ada maka tugas itu aku yang mengambilnya.” Singa Hitam tertawa terbahak-bahak.
“Aku tidak mau!” ucap Sungsang Geni, lalu membuang muka kearah Pitaloka yang terlihat khawatir, “Hanya membuang waktu saja.”
Singa Hitam menghempas telapak tangannya keatas meja. “Apa kau takut anak muda?”
“Jika dia tidak mau, sebaiknya tidak usah dilakukan.” Pitaloka berkata, pandangannya sedikit tajam menatap Sing Hitam, tapi tidak berlangsung lama.
“Diam kau betina alas!” Singa Hitam membentak Pitaloka, membuat gadis itu segera membuang muka karena kesal.
“Jadi, apakah kau pengecut anak Muda?” Singa Hitam memancing emosi Sungsang Geni, “Apakah gurumu tidak mengajarimu dengan cukup baik, hingga kau begitu pengecutnya?”
Sungsang Geni tidak menjawab, dia kembali meraih sebuah kendi dan menuangkannya pada gelas logam dimeja, namun sebelum air digelas hampir masuk kedalam mulutnya, Singa Hitam telah menebasnya menjadi dua bagian, dan air membasahi seluruh wajah Sungsang Geni.
“Hahahah.” Singa Hitam tertawa lebar, dia begitu menikmati lelucon yang dibuatnya “Ternyata bocah ini hanya menumpang nama Ki Alam Sakti saja.”
Situasi menjadi tegang, atmosfir terasa berat diruangan itu, nampaknya sebagian prajurit mulai menjauhi Sungsang Geni dan Singa Hitam, mereka tidak ingin terlibat masalah. Sejauh yang mereka ingat Singa Hitam belum dapat mengontrol Jurus yang digunakannya.
“Anak muda, aku rasa kau tidak mampu membayar Ki Alam Sakti dengan harga yang mahal seperti para keluarga Kerajaan, karena itu kau diletakan ditempat ini,” Singa Hitam tersenyum sinis, lalu mendesah. “Sungguh kasihan nasibmu ini, sudah lemah dicampakan pula.”
Mendengarnya, Sungsang Geni mengepalkan kedua telapak tangannya, dia tidak takut. Sungsang Geni telah mengukur kekuatan pria sombong didekatnya, sangat lemah, karena itu Sungsang Geni belum bertindak sebab merasa kasian.
“Apa kau tahu yang kupikirkan sekarang anak muda? Aku mulai berpikir bahwa gurumu itu, hanya mata duitan.” Dia mengacak rambut Sung Geni dengan kasar, “karena kau miskin jadi, dia tidak mungkin mengajarimu seperti para pangeran dan saudara-saudaranya.”
“Kau berlebihan Singa Hitam!” Tiba-tiba Rubah putih muncul dari balik pintu, dia baru saja kembali dari misi yang berat.
Melumpuhkan 3 codet yang mencuri keris raja Airlangga, nampaknya membuat Rubah Putih akan dipromosikan menjadi prajurit lencana Giok. Dia berjalan lebih percaya diri, membusungkan dada melewati para perajurit bayaran kelas rendah yang terpaku menatapnya.
“Jika tanganmu memang gatal untuk bertarung, sebaiknya kau selesaikan beberapa misi!” Rubah putih berkata, lalu mencabut pedangnnya, “Atau bertarung saja melawanku!”
“Eh? Kau rupanya terlalu memuja Ki Alam Sakti, dibandingakan guru kita?” ucap Singa Hitam kemudian berjalan mendekati rubah putih.
“Nampaknya Singa Hitam akan melawan temannya sendiri.”
“Apa dia sudah gila.” Sebagian prajurit kelas rendah mulai berbisik-bisi, perbuatan Singa Hitam akhir-akhir ini memang sedikit mengesalkan, beberapa misi gagal dia selesaikan, mungkin saja otaknya jadi tidak waras karena hal itu.
“Aku tidak mengagumi Ki Alam Sakti, hanya saja ucapanmu memang keterlaluan,”ucap Rubah Putih.
Singa Hitam mencabut goloknya, seluruh orang disana sudah mengerti bahwa akan terjadi pertarungan antara murid Singa Emas. Sebelum mereka terkena imbas, mereka telah berhamburan keluar dari markas.
“Mengagumi atau tidak, aku tetap membenci bejingan itu.”
“Tunggu,” Sungsang Geni berdiri dari tempat duduknya, “Ulangi sekali lagi apa yang kau ucapkan tadi! suaramu terdengar seperti kambing, aku tidak dapat mendengarnya dengan jelas.”
Singa Hitam menoleh ke arah Sungsang Geni, wajahnya terbakar api emosi mendengar ucapan dari pemuda yang sedari tadi tidak mempu menatapnya.
“Akan kuulangi bocah sialan, gurumu adalah baji...” sura Singa Hitam tidak berlanjut, sebuah benda tumpul telah menghentikan ucapannya.
Sebelum dia sempat mengetahui apa yang telah terjadi, Singa Hitam telah terpental keluar, dengan kepala lebih dahulu menghantam dinding markas hingga hancur.
Dia merasakan betang lehernya seperti tertelan bara api, panas, perih dan sakit. dia masih mencoba memahami situasi yang telah terjadi, namun sebelum sempat tubuhnya mendarat ketanah Sungsang Geni telah berada dibelakangnya, meberikan satu pukulan sarung pedang tepat dikepalanya.
Akgh, suara Singa Hitam tertahan, dia belum sempat mengenali siapa yang telah menghajarnya, mungkinkah pemuda itu? Pria itu telah tertidur lebih cepat dari waktu biasanya, membawa penyesalan kedalam mimpiya. Tak sadarkan diri di halaman Markas.
Semua prajurit ditempat itu hanya menjelitkan mata karena tidak percaya, beberapa prajurit yang sedang menikmati arak, menjadi tersedak.
“Dia bukan manusia...”mereka berkata dengan wajah-wajah tegang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
rajes salam lubis
mantap mantap mantap
2022-08-18
1
Abdul Majid
seru bro lanjut
2022-06-08
0
rudy adji
💕♨️🇲🇨❤️
2022-05-31
0