Sungsang Geni mengayunkan pedang bambunya beberapa kali menirukan gaya para pendekar pedang yang ditemuinya. “Baiklah Eang Guru, tidak masalah. Pedang bambu ini sudah lebih dari cukup.”
“Sekarang dengarkan Eang baik-baik,” Ki Alam Sakti melayang di halaman rumah, mulai mengenalkan dasar-dasar menggunkan pedang. “Teknik ini dinamakan pedang Awan Berarak, teknik ini mengandalkan kecepatan dan kelenturan dalam setiap gerakannya,
terdapat 25 jurus dalam teknik ini, dan semakin tinggi tingkatan jurusnya, maka semakin sulit pula menguasainya.”
Setelah menjelaskan secara garis besar, Ki Alam Sakti menunjukan jurus pertama.
Jurus ini dinamakan bisikan kematian. Ki Alam Sakti melakukan gerakan yang sangat cepat dan terlihat lentur.
Sekarang Sungsang Geni mengerti bahwa Ki Alam Sakti hampir tidak menyentuh tanah saking cepatnya.
“Awan Berarak, bisikan kematian.” Ki Alam Sakti melepas energi dari pedanganya dengan cepat, lalu batu didekatnya terbelah dengan rapi, padahal pedang yang digunakan terbuat dari bambu.
Sungsang Geni hanya terpukau melihat gerakan gurunya itu. Dia menjadi sedikit ragu mempelajari teknik pedang awan berarak.
Setelah 3 kali Ki Alam Sakti meberikan contoh akhirnya dia menyuruh Sungsang Geni untuk memperagakannya.
Seperti yang diduga Sungsang Geni, ini adalah teknik pedang yang sulit dikuasai.
Sebetulnya Sungsang Geni tidak pernah bertarung dengan teknik bela diri, dia hanya mengandalkan berkah matahari ditangannya saja.
“Jangan terlalu kuat memegang pedang!” Ki Alam Sakti mengingatakan, “Jika pedang digenggam dengan terlalu kuat, maka gerakan akan menjadi kaku.”
Sungsang Geni membenarkan cara dia menggunakan pedang, “Nah begitulah!” sambung Ki Alam Sakti.
Sungsang Geni mulai mengikuti gerakan yang gurunya contohkan, tubuhnya yang kaku terkadang memaksa dirinya harus tersungkur di bebatuan hitam.
“Kuda-kuda yang salah akan membuat langkah menjadi salah,langhkah yang salah akan membuat gerakan menjadi salah,jika gerakan kita salah maka musuh yang akan menang.” Ki Alam Sakti kembali mencontohkan kuda-kuda yang benar.
Hal ini banyak dianggap sepele bagi para murid muda seperti Sungsang Geni, padahal kuda-kuda merupakan dasar terkuat dalam teknik bela diri manapun.
Sekarang hari sudah mulai sore, dan Sungsang Geni belum dapat melakukan satupun gerakan yang benar, membuat dirinya menjadi kesal.
“Tidak usah risau Geni,” Ki Alam Sakti mengerti kegelisahan yang ada dipikiran Sungsang Geni. “Kita akan belajar bertahap, tidak usah buru-buru kau masih punya banyak waktu untuk menguasainya.”
Tidak semua orang memiliki pemahaman yang bagus dalam berpedang, banyak orang dapat menggunakan pedang, tapi hanya sedikit yang menguasainya.
Namun bagi orang yang bodoh sekalipun dalam menggunakan pedang, akan dapat menguasainya jika selalu berlatih, jadi yang ditekankan adalah latihan yang rutin.
Akhirnya Ki Alam Sakti memberikan kitab pedang awan berarak kepada Sungsang Geni, kitab itu bukanlah kitab asli, namun hanya sebuah salinan yang dibuat oleh Ki Alam Sakti.
Ki Alam Sakti tidak mungkin selalu mengajarinya setiap waktu, ada banyak hal yang harus diselesaikannya, apalagi banyak bermunculan pendekar dari aliran hitam, Ki Alam Sakti yang biasanya selalu bersipat tenang sekarang mulai memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan kehancuran dimasa depan.
Kekuatannya saja tidak akan cukup, setidaknya itulah yang kakek tua itu pikirkan. Sebagai seorang guru dan juga penasehat kerajaan Majangkara, sedikit banyak Ki Alam Sakti mengetahui gambaran dunia 5 tahun yang akan datang.
Meskipun dia tidak dapat melihat takdir dimasa depan, namun Ki Alam Sakti menyadari, walau harus mengumpulkan seluruh pendekar setingkat dirinya sekalipun, mereka tidak akan sanggup menghandapi kehancuran masa mendatang.
Karena itulah harapannya adalah Sungsang Geni, yang merupakan sosok yang diramalkan oleh Resi Suaraya di gua Sifa. “Akan ada putra Surya saudara Karna lahir kedunia membwa api ditangannya! bersamaan dengannya Dewa Asura membawa kegelapan untuk memadamkannya!!”
Ki Alam Sakti telah bertekad untuk menghantarkan Putra Surya sebagai harapan yang akan melindungi dunia dari gelapnya kehancuran, karena itu dia membawa Sungsang Geni ke bukit batu dan melatihnya pedang awan berarak.
Teknik pedang awan berarak merupakan salah satu teknik terhebat di dunia persilatan, bersanding dengan teknik tongkat membelah jiwa yang berasal dari perguruan Lembah Ular dan teknik pedang emas dari perguruan Bukit Emas.
“Eang akan menemuimu sebulan sekali Geni, berlatihlah dengan giat,” ucap Ki Alam Sakti seraya menyodorkan salinan kitab pedang awan berarak.
“Eang Guru hendak kemana?” tanya Sungsang Geni, dia meraskan gurunya itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
“Aku akan pergi menuju kerajaan Majangkara, telah terjadi sesuatu di dunia persilatan.” Ki Alam Sakti menghadap ke upuk timur, dimana Kerajaan Majangkara berada. “Tapi kau tidak perlu risau, berlatihlah agar kelak dapat mengabdi pada negrimu.”
Sungsang Geni memahami maksud dari gurunya, ini juga demi kebaikannya, oleh karena itu, dia tidak berniat mengetahui lebih jauh lagi masalah apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dia hanya harus fokus belajar, menguasai pedang awan berarak dengan secepatnya, dengan demikian dia akan mengetahui sendiri masalah apa yang mulai menghantui dunia?
Keesokan harinya, Ki Alam Sakti meninggalkan Sungsang Geni seorang diri di bukit Batu. Padahal dia baru bertemu dengan muridnya setelah 3 tahun lamanya, tapi kini harus ditinggalkannya lagi.
Hati Ki Alam Sakti sedikit berat, dia merasa tidak adil terhadap Sungsang Geni, dibandingkan 5 orang muridnya yang merupakan keluarga kerajaan Majangkara, Sungsang Genilah yang selalu belajar sendiri.
Ki Alam Sakti mulai melayang terbang jauh dengan ilmu meringankan tubuhnya, ilmu itu selalu saja membuat Sungsang Geni berdecak kagum. ‘terbang laksana burung’.
Hanya orang yang memiliki tenaga dalam besar Seperi Ki Alam Sakti yang mampu terbang dengan waktu yang lama, karena ilmu meringankan tubuh sangat menguras tenaga dalam.
Selain untuk mempercepat waktu tempuh dalam perjalanan,ilmu meringankan tubuh juga berguna dalam meningkatkan kecepatan dan kelenturan bertarung seseorang, ini adalah alasan utama para pendekar berambisi menguasai ilmu ini setelah ilmu bela diri.
Setelah gurunya tidak terlihat lagi dari pandangannya, Sungsang Geni menatap kitab pedang awan berarak, ada ratusan gerak yang tergambar didalam salinan kitab itu, dan tentunya 25 jurus mematikan.
Dia mencoba memahami setiap gerakan yang digambarkan dalam kitab itu, dia membayagkan dirinya sedang berlatih sesuai gerakan yang ada pada buku.
Setelah sangat lama dia membacanya, akhirnya Sungsang Geni menemukan beberapa metode agar dia mudah mempelajarinya.
“Jadi kakiku harus seperti ini lalu seperti ini.” Sungsang Geni mulai memperagakan satu persatu gerakan, “Oh, jadi menusuk, menebas kemudian menusuk lagi.”
Dia kemudian menggunakan beberapa potong kayu yang ditegakan, kemudian dia berdiri diatas potongan kayu, dengan cara ini kakinya akan terbiasa melangkah sesuai tekniknya.
Dia juga membuat belasan bambu yang dibentuk seperti boneka manusia untuk menjadi lawannya.
Bambu itu digerakan oleh tali yang diikatkan pada seluruh sendinya, jadi ketika dia bergerak bambu-bambu itu akan bergerak pula menyeranganya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Beni Nugroho
sungsang geni cerdas juga ya. Memang pintar yang bikin cerita. Lanjutkan author
2024-03-28
1
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-08-18
0
Savira Rasela
Upuk: Ufuk**
2022-07-04
1