Setelah sehari semalam menaiki tangga batu barulah Sungsang Geni tiba di puncak bukit batu, hampir saja dirinya tidak dapat mencapai puncak bukit karena kehabisan tenaga.
Setelah memijakan kakinya disana, Sungsang Geni langsung merebahkan tubuhnya dengan wajah menghadap langit yang penuh bintang.
Dia memutuskan untuk tidur sejenak ditepi tangga, tenaganya yang telah habis tidak mampu lagi membawa tubuhnya melangkah lebih jauh.
Keesokan harinya Sungsang Geni bangun dengan seluruh tubuh terasa sakit, lebih-lebih pada bagian pahanya, namun hal itu tidak menjadi alasan dirinya untuk menyerah.
Dia mulai menyapukan pandagannya, tempat itu sangat datar dan dingin tidak ada tumbuhan yang hidup dan tidak ada siapapun disana.
Ditengah dataran, Sungsang Geni melihat sebuah rumah kecil yang terlihat sangat sepi, seluruh jendela dan pintunya tertutup rapat.
“Tuan Muda mencari siapa?” seorang pria paruh baya tiba-tiba mengejutkan Sungsang Geni dari belakang.
Sungsang Geni belum menjawab, dia menoleh pria tua dengan heran, mencari tahu dia datang lewat jalan mana? karena hanya ada tangga dibelakangnnya.
‘apakah mungkin menaiki tangga ini?’ ucap Sungsang Geni dalam hati, karena melihat tampilannya, pria setua dirinya tidak akan mungkin sanggup meniti tangga.
“Saya mencari orang yang bernama Ki Alam Sakti,” jawab Sungsang Geni dengan wajah yang dipenuhi dengan rasa penasaran.
“Kalau begitu biar saya antar tuan ketempatnya,” Pria tua itu berjalan lebih dahulu, kemudian dibuntuti oleh Sungsang Geni.
Setelah berjalan 10 langkah pria tua itu tiba-tiba berhenti, lalu menoleh kearah Sungsang Geni. “Ma’afkan saya Tuan Muda, tapi jika berkenan bolehkah tuan muda mengambilkan tongkat saya yang tertinggal.”
Pria tua menunjuk pada sebilah tongkat tertancap tertinggal ditempat mereka berbicara barusan.
Sungsang Geni merasa kesal dengan pria itu, namun dia tetap melakukan permintaannya meski dengan berat hati.
Dengan malas, Sungsang Geni menarik tongkat itu namun ternyata dirinya tidak mampu mencabutnya.
Pria tua kemudian tersenyum melihat Sungsang Geni berusaha keras mencabut tongkat yang ditancapkannya pada batu.
Berbagai macam cara Sungsang Geni lakukan untuk mencabutnya, namun tongkat tetap tertanam ditempatnya bahka tak bergerak sedikitpun seolah menjadi pasak bumi.
“Apa yang terjadi dengan tongkat ini?” batin Sungsang Geni menggerutu.
Akhirnya Sungsang Geni mengeluarkan seluruh tenaga fisik dan tenaga dalamnya bersamaan, namun yang terjadi telapak tangannya malah mengeluarkan darah tapi tongkat itu sama sekali tidak bergeming, padahal tongkat itu hanyalah kayu biasa.
Setelah cukup lama akhirnya Sungsang Geni menyerah, dia mulai teringat kata-katanya didepan perguruan tongkat emas, ‘jika ada yang membuat tubuhku berdarah aku akan mengangkatnya menjadi guruku’
“Angkatlah aku menjadi muridmu,” Sungsang Geni segera sujud ditelapak kaki pria itu, kini dia benar-benar menyadari bahwa pria paruh baya didepannya adalah Ki Alam Sakti. “Aku akan menjadi murid yang berbakti dan mentaati segala perintahmu dengan sepenuh hati.”
Ki Alam Sakti kembali tersenyum, meski terlihat tua namun wibawanya memancar dari tubuhnya, seolah menyejukan siapapun yang memandang wajahnya yang bersahaja. Dia kemudian mencabut tongkat kayu dengan mudahnya.
“Sesungguhnya ada banyak pemuda yang mengatakan itu padaku,” Ki Alam Sakti berucap pelan, namun suaranya dapat terdengar jelas oleh Sungsang Geni kerena menggunakan tenaga dalamnya “Tapi diantara mereka hanya sedikit yang sanggup menerima ujian. ”
“Kalau begitu ujian apa yang harus aku lalui?” tanya Sungsang Gini tanpa berani menatap wajah Ki Alam Sakti.
“Berikan berkah matahari itu padaku,”Ki Alam Sakti menunjuk lengan kanan Sungsang Geni yang terdapat tanda matahari berwarna merah.
Permintaan Ki Alam Sakti sangat mengejutkan Sungsang Geni, dia tidak menyangka permintaan Ki Alam Sakti seberat itu.
Sungsang Geni menjadi bimbang dan bingung, dia tidak menyetujui permintaan Ki Alam Sakti tetapi tidak pula menolaknya.
“Sepertinya kau keberatan anak muda?” Ki Alam Sakti kemudian berbalik badan, berniat meninggalkan Sungsang Geni.
“Bagai mana caranya agar aku dapat memberikan berkah ini, sedangkan berkah ini berada didalam tangan kananku?” tanya Sungsang Geni, dia meremas lambang matahari dilengan kananya.
Ki Alam Sakti mengeluarkan sebuah pisu kecil dari dalam bajunya, kemudian menyodorkannya pada Sungsang Geni.
“Potonglah tangan kananmu itu! dengan begitu aku akan menjadikanmu muridku.”
Mata Sungsang Geni nyaris keluar dari tempatnya karena terkejut, dia tidak menyangka Ki Alam Sakti benar-benar mengingikan anugrah matahari yang dimilikinya.
Sekarang hati pemuda itu mulai menimbang rasa, disatu sisi dia sangat ingin menjadi murid Ki Alam Sakti, disisi lain dia tidak ingin memotong lengannya.
Melihat keraguan diwajah Sungsang Geni, Ki Alam Sakti berkata “Bukankah sudah kubilang, banyak pemuda yang ingin berguru padaku, tapi hanya sedikit yang mampu menghadapi ujiannya.” Lalu dia segera melangkah meninggalkan Sungsang Geni.
“Eang Guru!” Ucap Sungsang Geni, “Berikan pisau itu padaku, aku akan memotong tanganku untuk kuberikan kepadamu.”
Ki Alam Sakti menaikan alisanya tidak percaya, tapi dia tetap memberikan pisau tajam kepada Sungsang Geni.
Sungsang Geni melilit tangan kanannya dengan baju, kemudian dengan memejamkan matanya dia mengiris daging tangannya, pisau tajam itu laksana sedang memotong daging binatang.
Setelah cukup lama dan rasa sakit yang teramat sangat, Sungsang Geni akhirnya jatuh dibebatuan hitam yang dingin, dengan tangan kanan yang telah berpisah dari badannya.
Seluruh darah membasahi baju dan tangannya, menimbulkan bau anyir yang menyengat.
“Ku persembahkan tangan ini untukmu Eang Guru,” ucap Sungsang Geni dengan nada yang bergetar, setelah itu dia jatuh tak sadarkan diri.
Ki Alam Sakti kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala, dia tidak menyangka akan menemukan pemuda sekejam dan segigih ini.
“Anak muda ini akan mengguncang dunia dengan kegigihannya.”
Setelah 2 hari tak sadarkan diri akhirnya Sungsang Geni dapat membuka matanya. Dia dengan berat hati meraba tangan kanannya yang telah hilang.
Namun yang terjadi Tangan itu ternyata masih melekat pada tubuhnya, Sungsang Geni melihat tangannya, tidak ada bekas sayatan bahkan goresan sedikitpun.
Dia sangat terkejut sekaligus bahagia yang membuatnya hampir saja jatuh dari pembaringan.
“Ternyata kau sudah bangun?” Ki Alam Sakti tiba-tiba memasuki kamar Sungsang Geni sambil tersenyum, ditangannya dia membawa semangkuk ramuan obat tradisional yang akan digunakannya untuk meyadarkan Sungsang Geni. Tapi nampaknya ramuan itu tidak lagi dibutuhkan.
“Eang Guru, ma’afkan aku! Aku sempat meragukan dirimu,” Sungsang Geni segera bersujud dikaki Ki Alam Sakti, “Sekarang aku baru menyadari bahwa semua itu kau lakukan hanya untuk menguji tekadku saja.”
Ki Alam Sakti lekas mengangkat tubuh Sungsang Geni, kemudian membimbingnya duduk diatas pembaringan. “ Aku ingin melihat bagaimana tekat dan kebulatan hatimu, apakah kau sanggup berjuang demi impianmu, atau hanya omong kosong belaka. Tapi sekarang kau telah berhasil membuktikannya, dan aku bangga mempunyai murid yang memiliki tekat kuat seperti dirimu.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
mungkin yang ada diceritaini oran china
2024-03-28
1
Reymundo Hidayat
gas
2023-09-05
1
Bakso Tetelan
tidak pernah menemukan bacaan seperti ini
2023-04-23
1