Anjani segera mencabut pedangnya, dia benar-benar ingin menguji kemampuan adik seperguruannya itu, sedangkan Sungsang Geni masih berat hati meladeni Anjani. “Cabutlah pedangmu aku tidak ingin menang karen kebodohanmu.”
Sungsang Geni hanya tersenyum mendengar ucapan Anjani. “Silahkan Putri Anjani menyerang lebih dahulu!”
Anjani yang telah berhasil menguasai 5 jurus pedang awan berarak segera menyerang Sungsang Geni.
Menusuk kejantung, kemudian melangkah kekiri lalu menebas keleher lalu kembali menusuk kejantung, setiap serangan mematikan yang dikeluarkan Anjani dengan mudah dihindari oleh Sungsang Geni.
Mereka telah bertarung hampir selama 1 jam, dan Sungsang Geni hanya menghindari dan sekekali menangkis serangan Anjani dengan sarung pedangnya.
“Putri Anjani, sebaiknya hentikan pertarungan tidak berguna ini,” ucap Sungsang Geni, “Kita hanya buang-buang waktu dengan percumah.”
Anjani terdiam sejenak, keringat sedari tadi telah bercucuran membasahi tubuhnya, napasnya mulai tidak beraturan, sebenarnya dia mulai merasakan bahwa level Sungsang Geni berada diatasnya, namun karena telanjur menantang, Anjani berasa berat hati untuk mengakhiri pertarungan.
Sekali lagi dia mulai menyerang, kali ini sedikit agresif, nampak sekali dari gerakannya dia merasa kesal karena dari tadi yang dilakukan Sungsang Geni hanya menghindar saja.
Sungsang Geni mundur 5 langkah kebelakang, karena mata pedang Anjani berada tepat didepan matanya yang hanya berjarak 3 jari, saat pedang itu mulai bergerak menebas lehernya, dia melompat keatas boneka latihan yang ada dibelakangnya, pedang itu lantas menebas leher boneka latihan hingga putus.
Seungsang Geni kembali melompat keatas boneka latihan yang berada disamping kirinya.
“Ais, itu tadi benar-benar bahaya putri!” Sungsang Geni menatapi leher boneka yang telah terpotong meski tidak begitu rapi, kiranya itu adalah dirinya, jelas saja dia akan tewas seketika sebab Anjani tidak akan mampu memberhentikan tebasan pedangnya sendiri.
Melihat serangannya lagi-lagi meleset Anjani mulai menggunakan jurus kelima, dia bergerak sedikit lebih cepat dari sebelumnya, kemudian melesat menyerang bagian jantung.
Sungsang Geni berputar sesaat, kemudian bergerak kekiri selangkah mebuat serangan Anjani hanya mengenai angin, mendapati seranganya gagal, keseimbangan Anjani mulai goyah, langsung saja Sungsang Geni menyodorkan kakinya menyandung kaki Anjani, membuat gadis itu terpaksa memeluk bumi.
“Aghk!!” Gadis itu terpekik.
Betapa malunya Anjani saat itu, dia berdiri lalu menoleh kesetiap penjuru dunia memastikan tidak ada orang yang melihat tragedi yang menimpa dirinya.
“Cabut pedangmu, dan lawan aku!” Anjani merasa sangat kesal sekaligus malu, sebab puluhan serangan yang dia lakukan sama sekali tidak mengenai Sungsang Geni, malah dengan santainya pemuda itu menyandung kakinya. “Cabut pedangmu, atau aku akan menyuruh istana kerajaan mengusirmu dari sini.”
Mendengar ucapan itu Sungsang Geni dengan berat hati mencabut pedangnya. “Baiklah Putri Anjani, jika engkau memang memaksa, aku akan menggunakan jurus bisikan kematian.”
Sebenarnya jurus bisikan kematian telah berulang kali digunakan Anjani melawan Sungsang Geni tapi tidak ada yang mengenai sasaran.
“Kalau begitu tunjukan padaku seberapa hebatnya jurus bisikan kematian yang kau kuasai.” Ajani mulai berada diposisi bertahan,sejauh yang dia ingat hanya kakanya Dewangga yang telah berhasil menyempurnakan jurus bisikan kematian. “Sekarang seranglah aku dengan ju...”
Tiba-tiba Sungsang Geni hilang dari pandangan Anjani, membuat gadis itu menjadi khawatir. Selain Ki Alam Sakti, tidak pernah ada yang mampu bergerak secepat ini bahkan diseluruh prajurit Majangkara.
Ketika Anjani berbalik badan, tiba-tiba pedang Sungsang Geni telah berada didekat lehernya. Anjani semakin terkejut ketika menyadari bahwa pedangnya telah terpotong menjadi dua.
‘Sejak kapan dia melakukannya, aku sama sekali tidak dapat melihat gerakanya!’ Gadis itu mulai mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba memahami situasi yang baru saja terjadi.
“Hanya satu tarikan napas?” Anjani bergumam, “Bagai mana kau bisa bergerak secepat itu?”
“Putri Anjani, ini adalah jurus bisikan kematian yang telah ku kuasai dengan baik.” Sungsang geni lekas menyarungkan pedangnya takut ada orang yang salah paham, “Aku melatih tubuhku lebih berat dari yang kau bisa bayangkan, meski jika kau belajar tanpa guru yang selalu mengawasimu kau akan tetap kuat jika berlatih dengan giat.”
“Sekarang aku mengaku kalah, dan seperti janjiku aku siap melayanimu selama satu minggu...” Anjani berkata dengan lirih, begaimana tidak kesombongannya membuat dirinya menjadi hina.
“Tidak perlu putri, bagai mana caranya kau melayaniku sedangkan aku adalah lelaki? Ini hanya akan menimbulkan fitnah.”Sungsang Tidak mungkin membiarkan seorang Putri menjadi pelayan, itu sama saja dia merendahkan kerajaan Majangkara dan juga gurunya selaku penasehat raja. “Sekali lagi, saya mohon maaf, telah berani menarik pedang melawan tuan Putri.”
Anjani hanya bisa tertunduk malu didekat potongan pedang miliknya, perasaannya sekarang tidak menentu, dia menatap telapak tangannya yang tidak berhenti bergetar, telapak tangan itu telah berapa kali menjatuhkan prajurit kerajaan untuk latih tanding, namun sekarang seperti pengecut yang kedinginan dihadapan Sungsang Geni.
Sungsang Geni meletakan pedang miliknya didepan Anjani, memberi hormat lalu pergi meninggalknya.
“Sungsang Geni? Level kekuatannya setara pendekar pilih tanding, bahkan mendekati pendekar tanpa tanding.” Anjani merenungkan perbuatannya barusan, dia merasa sangat bodoh telah menantang Sungsang Geni bertarung. “Jika dia adalah musuhku, maka aku telah tewas belasan kali ditangannya.”
Tiba-tiba dia menampar keningnya sendiri, karena malu.
“Anjani, apa yang kau lakukan disini?” tiba tiba Putra mahkota, Pangaeran Dewangga dan ketiga saudaranya yang lain datang dengan wajah diliputi kehawatiran, “Siapa pemuda itu? Apakah dia yang melakukan ini kepadamu?”
“Bukan, dia tidak melakukan apapun terhadapku. Dia itu adalah salah satu murid dari guru Alam Sakti.” Anjani berucap, takut kalau kakaknya yang mudah emosi itu melakukan tindakan bodoh seperti dirinya.
“Lalu kenapa ada dua bilah pedang disini?” Dewangga meraih pedang yang terpotong dengan sangat rapi wajahnya sedikit memerah karena mulai emosi, “Dia pasti telah melakukan sesuatu pada dirimu? mengaku saja! aku akan membalasnya untukmu!”
“Itu adalah pedang ku.” Kedatangan Sungsang Geni didekat Dewangga dengan tiba-tiba membuat Dewangga dan ketiga saudaranya terkejut bukan kepalang, baru beberapa menit mereka melihat Sungsang Geni berada didepan pintu rumah namun sekarang secara misterius telah berada didekat mereka “Tuan Putri memberiku sedikit pelajaran tentang teknik berpedang, dan akhirnya pedang ku patah, kekuatan tuan putri sungguh luar biasa.”
Sungsang Geni menggarut rambut menunjukan wajah bodohnya, dia tidak ingin mencari masalah dengan putra mahkota diawal kedatangannya, karena hanya akan merepotkan Eang Gurunya saja.
Dewangga segera berdiri, dia beberapa kali berdehem berusaha bersikap setenang mungkin dihadapan Sungsang Geni, tidak mungkin Putra Mahkota seperti dirinya terkejut hanya karena kedatangan seorang pemuda secara tiba-tiba.
Namun keempat saudaranya disana dapat melihat wajah Dewangga masih terlihat tegang, meski dia telah bersusah payah untuk bersikap tenang.
“Hormat saya kepada kakak seperguruan!” Sungsang Geni menundukan kepala, membuat Dewangga dan ketiga saudarnya tidak dapat lagi menutup mulut, tercengang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
rajes salam lubis
mantap
2022-08-18
1
Abdul Majid
lanjut
2022-06-08
0
Syahril Rasyidin
membaca cerita ini,serasa Asmaraman KHO PING HO hidup lagi
2022-05-15
0