Setelah 3 tahun lamanya, Ki Alam Sakti baru menemui muridnya Sungsang Geni yang bertapa di lembah Bukit Batu.
Beberapa hal penting membuatnya tidak sempat menemui Sungsang Geni, meskipun sebenarnya semakin lama melakukan tapa berata maka tenaga dalam seseorang akan semakin meningkat.
Ki Alam Sakti disibukan dengan beberapa masalah yang membuat dunia persilatan terasa panas dua tahun belakangan ini.
Salah satu masalah, adalah munculnya kelompok yang menamai diri mereka Kelelawar Iblis dari aliran hitam.
Menurut informasi yang diberikan oleh telik sandi (Mata-mata), kelompok ini sangat kuat dan memiliki tatanan struktur yang baik, namun pemimpin mereka berjulukan Topeng Beracun sampai sekarang belum pernah menunjukan wajahnya.
Sudah banyak kekacauan yang ditimbulkan kelompok kelelawar iblis, dan nampaknya sejauh ini tujuan mereka adalah menggangu ketentraman beberapa kerajaan kecil dibawah kekuasaan kerajaan Surasena.
Ketika Ki Alam Sakti mendatangi Sungsang Geni, hampir saja dia tidak mengenali tempat bertapa Sungsang Geni, karena air terjun nampaknya telah lama kering, dan berganti tumbuhan yang bergelantungan disepanjang dinding cadas.
Ki Alam Sakti mulai membuka tumbuhan yang menutupi seluruh tubuh Sungsang Geni yang telah melilit dan menjerat sebagian kakinya.
“Geni, maafkan gurumu ini yang telah lalai menemuimu...” Ki Alam Sakti berkata dengan lirih, karena wajah Sungsang Geni hampir tidak dikenalinya lagi.
Ki Alam Sakti kemudian membersihkan seluruh akar, dan rumput yang menutupi seluruh tubuh Sungsang Geni, membersihkan kepala muridnya yang ditumbuhi rambut yang kusut dan sebuah sangkar burung yang sudah usang.
Setelah selesai, Ki Alam Sakti meletakan tangannya diubun-ubun Sungsang Geni, lalu mulai menyalurkan tenaga dalamnya, terlihat warna ke-emasan memancar dari telapak tangan dan masuk kedalam tubuh Sungsang Geni.
Setelah menunggu beberapa menit, jari tangan Sungsang Geni mulai bergerak, dan kelopak mata yang telah hitam sedikit demi sedikit mulai terbuka.
“Eang Guru...?” ucap Sungsang Geni pelan, dia perlahan menggerakan tubuhnya yang masih lemah, jika bukan karena Ki Alam Sakti memberinya sedikit tenaga dalam, pastilah Sungsang Geni tidak akan sanggup bergerak bahkan mungkin untuk membuka mata.
“Selamat Geni kau telah berhasil melakukan tapa berata,” Ki Alam Sakti tersenyum lega, mendapati muridnya telah berhasil menyelesaikan ujian yang diberikannya.
Setidaknya tenaga dalam Sungsang Geni saat ini sudah mampu mengalahkan pendekar pilih tanding meski tanpa melakukan kontak pisik.
Ditambah lagi, energi yang berasal dari berkah matahari yang sudah dapat dikontrolnya, akan mampu menandingi pendekar tanpa tanding setingkat Ki Alam Sakti sekalipun.
Melihat Sungsang Geni sudah cukup bertenaga Ki Alam Sakti segera merangkul tubuh Sunsang Geni dan terbang menuju rumah tuanya.
Setelah dua hari istirahat kondisi tubuh Sungsang Geni mulai pulih, dia sudah bisa berjalan disekitar rumah tua meski belum cukup jauh.
Sungsang Geni mulai menyadari bahwa tempat ini sudah lama tidak ter-urus, meski bangunan masih kokoh tapi sarang laba-laba sudah hampir memenuhi disetiap sudut rumah.
“Eang Guru?” tanya Sungsang Geni. “Apakah Eang sudah lama tidak berada ditempat ini semenjak aku melakukan tapa brata?”
“Benar Geni, telah 2 tahun Eang tidak menjenguk tempat ini, nampaknya bangunan ini sudah mulai rapuk karena tidak ter urus. Dan juga Eang minta ma’afkan karena telah melalaikan dirimu. Harusnya Eang membangunkanmu 2 tahun yang lalu.” Raut wajah Ki Alam Sakti terlihat sangat menyesal saat berbicara.
“Tidak apa-apa Eang. Aku bersukur Eang telah datang membangunkan diriku dari tapa brata yang panjang.” Sungsang Geni tidak ingin mempersoalkan itu, yang membuat Ki Alam Sakti terlihat lebih bersalah lagi . “Lagipula, tenaga dalamku akan semakin bertambah pesat dengan tapa brata yang panjang.”
Ki Alam Sakti tersenyum lega, dia mulai merasakan Sungsang Geni telah berubah, terutama dari cara dia berbicara.
“Tapi Eang, aku mlihat kegundahan diwajahmu itu, apa yang telah terjadi?” tanya Sungsang Geni, yang melihat wajah gurunya diliputi dengan banyak pikiran.
Ki Alam Sakti hendak memberi tahu Sungsang Geni perihal masalah dunia saat ini, tapi dia segera mengurungkannya, sebab Sungsang Geni masih harus belajar teknik pedang yang dia janjikan.
Ki Alam Sakti takut, Sungsang Geni akan turun bukit dan membantu urusanya, dengan keadaan ilmu kanuragan yang belum cukup sempurna hanya akan membuat dirinya celaka.
Ki Alam Sakti menginginkan Sungsang Geni hanya fokus pada latihan, hingga tiba saatnya dia akan mengabdi pada masyarakat.
Kebanyakan Pendekar Muda terlalu buru-buru mencoba ilmu yang dipelajarinya, tidak salah memang, namun ilmu kanuragan yang masih mentah hanya akan membuat dirinya celaka ketika menghadapi pendekar yang betul-betul mengusai ilmu kanuragannya. Dan Ki Alam Sakti tidak menginginkan hal itu terjadi pada muridnya.
“Sudahlah Geni, tidak usah dipikirkan! Saat ini fokuslah dengan latihanmu.” Ki Alam Sakti lekas berdiri dia berjalan ketengah pelataran, “Eang yakin kau sudah mampu mengendalikan berkah mataharimu, jadi Eang rasa, yang harus kau lakukan adalah mempelajari teknik bertarung dengan menggunakan pedang”
“Baiklah Eang Guru, saya mengerti,” jawab Sungsang Geni seraya tersenyum gembira, selain menguasai api matahari teknik menggunakan pedang merupakan salah satu mimpi yang dia ingin wujudkan selama ini.
Semenjak kembali dari tapa brata, Sungsang Geni menjadi pribadi yang berbeda, tenang namun penuh ambisi, membuat hati Ki Alam sakti gembira melihat kemajuan yang dialami oleh muridnya.
Tidak ada lagi kata kasar dan angkuh keluar dari mulutnya seperti 3 tahun yang lalu, dia lebih dewasa, tenang dan lebih menguasai atas pengendalian dirinya.
Ki Alam Sakti juga melihat, aura terang terpancar dari tubuh Sungsang Geni, itu bukan aura bangsawan, juga bukan aura tenaga dalam apalagi aura membunuh.
Aura matahari yang dimiliki Sungsang Geni membawa kehangatan, membuat orang lain tertarik untuk menjalin hubungan dengannya.
Kalaulah memang Sungsang Geni boleh ber-andai andai, setelah mempelajari ilmu pedang dia juga berniat mempelajari ilmu meringankan tubuh, serta membangkitkan cakra Ajna yang terletak diantar dua alis.
Cakra Ajna merupakan 1 diantara 7 inti cakra yang terletak didalam tubuh manusia, seseorang yang mampu membangkitakan cakra Ajna akan memiliki kemampuan mata ketiga atau indra keenam.
Sungsang Geni menyadari dengan bangkitnya indra keenamnya, tidak sulit baginya untuk mengetahui suatu hal, dan akan lebih mudah melihat pergerakan musuh.
Belum pernah ada yang mampu membangkitkan 7 cakra, bahkan Ki Alam Sakti hanya mampu membangkitakn 4 cakra dalam tubuhnya.
Beberapa hari kemudian keadaan tubuh Sungsang Geni telah kembali baik, sekarang sudah tiba waktunya dia berlatih ilmu pedang.
“Geni, aku tidak membawa pedang jadi kita gunakan bambu ini saja. Karena kau sudah bisa mengendalikan api mataharimu, bambu ini kurasa tidak akan terbakar.” Ki Alam Sakti menyodorkan bambu yang dibentuk menyerupai pedang kepada Sungsang Geni.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Beni Nugroho
itulah kalo orang nya ramah
2024-03-28
1
Reymundo Hidayat
mantul
2023-09-05
0
Bakso Tetelan
ceritanya sangat baik tidak membosannkan
2023-04-23
0