Dahulu ketika Ki Alam Sakti masih muda, dia juga melakukan hal yang sama seperti Sungsang Geni, bahkan 2 tahun lamanya hanya untuk mengetahui arti dari kehidupannya.
Setiap pendekar yang memiliki ilmu sakti mandra guna, pasti menjalankan ritual spiritual seperti ini dilatihanya, yang mebedakan adalah lama waktu melakukan tapa berata dan tempatnya.
Beberpa orang pendekar bahkan rela dikubur hidup-hidup hanya demi menyempurnakan ilmu kanuragan yang dimilikinya.
Namun untuk pendekar dari aliran hitam, mereka memiliki cara khusus yaitu dengan bersekutu dengan kegelapan, beberpa dari mereka akan menumbalkan darah perawan, atau yang lainnya dengan memakan daging manusia.
Hanya hitungan hari saja, pendekar yang berhasil bersekutu dengan kegelapan akan memiliki ilmu kanuragan yang sangat dahsyat.
“Ingat Geni, Matikan dirimu sebelum engkau mati. Kau akan dapat mengontrol api mataharimu setelah kau menemukan jati dirimu sendiri” Setelah berucap demikian Ki Alam Sakti segera meninggalkan Sungsang Geni sendirian.
Sungsang Geni melakukan tapa brata dengan kesulitan, Dia tidak dapat berkonsentrasi dengan baik karena rasa dingin diseluruh tubuhnya.
Seumur hidupnya,Sungsang Geni baru kali ini melakukan tapa berata, apa lagi pengalaman pertama ini dilakukan dibawah air terjun yang dingin.
Setelah berhari-hari dia merasa kedinginan lelah dan lapar, akhirnya Sungsang Geni mulai masuk kedalam alam bawah sadarnya.
Sungsang Geni merasa sunyi sekali, dan sangat tenang, dia tidak lagi mendengar suara deruan air terjun, bahkan dia mulai tidak mendengar suara napasnya lagi.
Seluruh panca indra Sungsang Geni mulai berhenti berkerja, dia bahkan tak mapu lagi untuk menggerakan ujung telunjuknya.
'Matikan dirimu sebelum mati' Sungsang Geni terbayang ucapan gurunya, akhirnya dia lebih berkonsentrasi lagi dan terus memasuki alam bawah sadarnya.
Kali ini dia melihat setitik cahaya putih berpijar didepannya, semakin lama cahaya itu semakin besar dan terang. Ada perasaan hangat ketika cahaya itu mulai menyentuh tubuhnya.
Cahaya itu akhirnya menyedot dirinya hingga memasuki sebuah lorong cahaya putih yang panjang dan dipenuhi kerlipan bintang-bintang kecil.
Didalam lorong itu dia bisa melihat ibunya yang sedang mengasuh dirinya ketika kecil, pemandangan itu membuat air matanya mulai menetes, sebenarnya itu adalah ingatannya sendiri.
Kerinduan yang besar mampu membuatnya melihat kembali kilasan masa kecilnya, melihat anak domba yang menjadi temannya, atau melihat tumpukan kayu yang dibelahi ibunya.
Kemudian dia mulai melihat rumahnya, lebih tinggi lagi dia melihat desanya, lebih tinggi lagi dia mulai melihat bumi berputar mengelilingi matahari hingga akhirnya dia melihat tatanan galaksi.
Lorong itu akhirnya membawa Sungsang Geni disebuah padang pasir putih yang tiada ujungnya, langit biru tanpa awan dengan matahari tepat berada diatas kepalanya, namun dia tidak merasakan kepanasan.
Dia menoleh kesana-kemari, mulai berjalan tapi tidak tahu kemana tujuan kakinya melangkah, kenyataannya dia hanya sendiri di padang pasir putih itu.
“Mungkinkah aku sudah mati...?” ucapnya lirih.
Tiba-tiba Sungsang Geni dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang entah dari mana asalnya.
Sungsang Geni mengenali orang itu dengan perasaan terkejut dan sedikit takut, itu adalah dirinya sendiri atau mahluk yang mirip dengan dirinya, namun tubuhnya dipenuhi api yang membara laksana matahari.
'Siapa sebenarnya dirinya ini? dewa kematian? Atau dewa yang menjaga neraka?' ucap hatinya yang penuh keraguan. “ini seperti mimpi?”
Sungsang Geni merasakan panas sekali berada didekat mahluk api itu, dan dia memutuskan untuk menjauh beberapa langkah, namun orang itu melayang mendekatinya.
Sungsang Geni memutuskan untuk berlari secepat mungkin berusaha untuk pergi meninggalkan mahluk itu, namun mahluk api selalu berada didekatnya seakan enggan berpisah.
“Jika kau saja tidak dapat menerimaku !” orang itu berucap nadanya terdengar marah, “Lalau bagai mana kau bisa mengendalikan diriku?”
Mendengar ucapan itu, seketika membuat Sungsang Geni berhenti berlari, dia menoleh kearah mahluk api dengan hati yang diliputi tanda tanya.
“Sungsang Geni, aku adalah roh api yang dapat membakar apapun dengan mudah. Namun aku dapat memberikan kehangatan kepada orang yang kedinginan, menghangatkan bumi dari kabutnya, dan mencairkan es dari bekunya.” Orang itu berkata dan terus mendekati Sungsang Geni.
“Tapi kau sangat panas, dan meleburkan apapun,” ucap Sungsang Geni “Kau bahkan meleburkan orang yang paling kusayangi.”
“Kau dipupuk rasa bersalah akan kematian ibumu, tanpa kau sadari itulah jalan takdir ibumu, dan inilah jalan takdirmu!” Mahluk itu tidak sedikitpun terlihat ramah, dia selalu berbicara dengan nada tinggi membuat dunia hampa itu semakin menakutkan, “Rasa sakit akan membuat orang menjadi dewasa, kau memiliki takdir yang besar, dan tanggung jawab besar telah menunggumu diluar sana.”
Sungsang Geni hanya terdiam, dia tidak membantah ucapan orang itu. Memang benar, setelah kematian ibunya dia tidak memiliki tujuan yang jelas, dia terlalu larut dalam kesedihannya, melakukan pertarungan yang sia-sia hanya agar bisa melampiaskan kemarahannya.
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan dia terpuruk kedalam jurang kesedihan, tanpa dia sadari dia mulai teresesat dan tidak tahu jalan menuju kebenaran.
Telah puluhan manusia yang dia lukai dengan api matahari ditangannya, meski tidak pernah membunuh mereka, tapi mereka akan menderita luka bakar yang membekas seumur hidup.
“Sungsang Geni perasaan sakit, sedih, luka, merana, kehilangan. Semuanya wajar sebagi manusia namun jangan kau pupuk rasa itu, hingga berlaru-larut. Jika kau memahaminya kau akan menjalani hidup ini dengan ikhlas”.
Sungsang Geni mulai mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan dibenaknya, membuat hati dan pikirannya menjadi jernih.
“Aku sekarang mulai mengerti apa yang kau makasud, kau laksana api yang dapat membakar apapun yang kau sentuh, namun sebenarnya kau juga adalah rasa hangat yang didambakan semua mahluk yang kedinginan,” Sungsang Geni tiba-tiba mengeluarkan api merah dari tubuhnya, “Jika aku bisa mengendalikan perasaanku, aku juga bisa mengendalikan dirimu, karena sebenarnya kau adalah aku.”
Sekarang Sungsang Geni mengerti kenapa Ki Alam Sakti menyuruhnya melakukan tapa brata, yaitu untuk menemui hakikat dari kekuatan matahari ditangannya.
Mahluk yang mirip dengan Sungsang Geni tiba-tiba tersenyum. Kau telah dapat memetik hikmah dari pertemuan ini. “Jadilah api yang menghangatkan dan bukan meleburkan, dengan api ditangamu itu kau akan memusnahkan kegelapan.”
Orang itu lalu menghilang dari pandangan Sungsang Geni, namun suaranya masih menggema ditelinganya.
Stelah kepergian mahlu itu,Sungsang Geni mulai menunggu, kiranya ada kejadian aneh lain yang akan ditemuinya di dunia antah brata ini.
Setelah beberapa saat kemudian sebuah cahaya putih tiba-tiba muncul dari atas kepalanya, yang membuat tubuh Sungsang Geni tersedot dan melewati lorong cahaya yang hangat.
Sungsang Geni tidak terlalu terkejut lagi, sebelumnya dia juga melewati lorong itu.
Lorong itu kemudian melemparkan dirinya kepada perasaan gelap, hampa dan sangat sunyi, yang membuat Sungsang Geni berhenti untuk berpikir dan hilang dari segala perasaanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Solar Lardi
mantap juga
2023-08-27
1
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-08-18
0
Abdul Majid
waw
2022-06-08
0