Sungsang Geni mundur tiga langkah lalu kewaspadaanya meningkat, dia tidak menyangka jika Singa Emas memang berniat membunuhnya ditempat ini. Meskipun dirinya tidak takut sama sekali, namun pertarungan dilingkungan Istana tentu akan mencoreng nama baik gurunya.
“Guru, apakah kita akan melanjutkan rapat ini?” tiba-tiba saja ucapan Rubah Putih mengejutkan kakek tua itu, wajah Rubah Putih terlihat datar dengan tangan yang menopang pipinya, seakan tidak peduli apa yang akan dilakukan gurunya.
“Kau benar! saya hampir lupa denga rapatnya, maafkan orang tua tolol ini.” jawab Singa Emas.
‘apa?’ Sungsang Geni terkejut melihatnya, Singa Emas mendadak berubah menjadi lembut, dan sangat tidak berwibawa. Padahal beberapa detik yang lalu, dia seperti hewan buas yang berniat menelan Sungsang Geni bulat-bulat.
“Maafkan Guru kami, dia sudah mulai pikun,” Rubah Putih mendesah napas dengan panjang, seolah menyesali telah berguru dengan Singa Emas.
Jika diperhatikan, Singa Emas memang terlihat lebih tua dari pada Ki Alam Sakti, seluruh rambutnya putih, alis, janggut, kumis, berjalanya pun sudah membungkuk. Nampaknya kepikunan Singa Emas datang lebih awal dari pada orang-orang seumuran dengannya.
“Anak muda? Siapa nama dirimu?” tanpa diduga kali ini Singa Emas bertanya kepada muridnya sendiri, Rubah Putih.
Rubah putih menarik napas kesal, dia kemudian berdiri lalu berjalan kearah belakang gurunya. “Maafkan muridmu ini, Guru!”
Plak, Si Rubah Putih menampar kepala gurunya, membuat kakek tua itu tersungkur diatas meja dan tak sadarkan diri. Sekali lagi Sungsang Geni hampir tersedak oleh napasnya sendiri, baru kali ini dia melihat ada murid yang sangat kurang ajar terhadap gurunya sendiri.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Singa Emas kembali terjaga dari ketidak sadarannya.
“Maafkan aku, sepertinya aku tertidur.” Ucap Singa Emas, aura yang keluar dari tubuhnya sekarang menunjukan dirinya yang sebenarnya. “Sial, kenapa kepalaku menjadi sakit?”
Singa Emas lalu membuka kertas lebar didepan meja, “Ini adalah sebuah misi baru yang diberikan Raja Airlangga. Dia meminta kita mengawal perjalanan Putra Mahkota menuju Kerajaan Surasena, untuk mempersunting putri Kedua Raja Cakra Mandala.”
Kerajaan Surasena merupakan kerajaan terbesar yang membawahi kerajaan-kerajaan kecil lainnya, termasuk kerajaan Majangkara yang merupakan kerajaan paling kecil.
Sudah 40 tahun Kerajaan Majangkara bernaung dibawah nama Kerajaan Surasena, membuat Majangkara hampir tidak tersentuh oleh pemberontak, tapi sebagai imbalannya, kerajaan Majangkara harus membayar upeti kepada Kerajaan Surasena.
Raja Airlangga berniat melakukan hubungan politik yang lebih baik, dengan jalan perkawinan. Dengan harapan kerajaan Majangkara layak bersanding dengan kerajaan Surasena, dan tentunya menghapus sistem upeti.
“Misi ini sangat sulit, mengingat jalan menuju ke sana cukup memakan waktu. Lebih dari itu kemungkinan kita akan bertemu dengan kelompok Kelelawar Iblis sangatlah besar,” ujar Singa Emas, seraya menunjukan beberapa titik dipeta yang kemungkinan bertemu dengan kelompok Kelelawar Iblis.
“Bisahkah Ketua menjelaskan, Kelompok Kelelawar Iblis ini! Aku tidak mengetahui informasi ini?” tanya Sungsang Geni.
Sungsang Geni masih belum paham dengan Kelompok Kelelawar Iblis, informasi ini tidak pernah diberitahukan Ki Alam Sakti kepada dirinya.
Singa Emas memahami keadaan Sungsang Geni dari cerita yang didengarnya dari Ki Alam Sakti. Dia menarik napas sedikit, lalu mulai menceritakan kelompok itu secara garis besarnya. Meskipun demikian , belum ada yang tahun seperti apa wajah pimpinan kelompok Kelelawar Iblis.
“Topeng Beracun?” Sungsang Geni menggaruk dagunya, “Jika keberadaannya saja belum diketahui, tapi kelompok ini telah berkembang pesat. Dapat dipastikan Topeng Beracun adalah pemimpin yang hebat, dan pintar mengatur strategi.”
“Menurut informasi yang kami dapatkan.” Kali ini Rubah putih yang berbicara, “Kelelawar Iblis juga memiliki 7 komandan tinggi yang kekuatannya setara pendekar tanpa tanding. Setiap komandan membawahi setidaknya 10 pendekar pilih tanding, dan setiap pendekar pilih tanding membawahi 100 pendekar kelas tanding. Hampir tidak ada prajurit lemah berada di kelompok itu.”
“Sepertinya mereka memiliki tujuan yang lebih besar!” Sungsang Geni berpikir sejenak, “Seperti mengkudeta atau menciptakan kerajaan baru.”
“Kau benar anak muda! Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu.” Singa Emas mulai menarik-narik janggutnya, dia terlihat berpikir keras.
“Mengkudeta atau menciptakan kerajaan baru? Mana yang paling benar?” Rubah Putih bertanya, “Terlepas dari tujuan kelompok itu, kehadirannya jelas mengancam kerajaan Majangkara, pengawalan Putra Mahkota harus dilakukan oleh prajurit berlencana giok.”
Mereka kemudian berembuk cukup lama, bertukan pikiran dan saling memberi masukan. Setelah memakan waktu 1 jam, akhirnya musyawarah ini bermuara.
Hasil dari musyawarah, menunjuk Sungsang Geni beserta 3 orang lencana Geok yang menjalankan misi pengawalan Putra Mahkota. Penunjukan Sungsang Geni sebenarnya atas saran dari Ki Alam Sakti, dengan tujuan agar kemampuan Sungsang Geni tidak sia-sia.
Ketiga prajurit bayaran lencana Giok awalnya menolak, mereka masih belum yakin atas kemampuan Sungsang Geni. Apalagi penunjukan ini bukan hasil dari kesepakatan bersama seperti yang selalu mereka lakukan.
Mereka bertiga adalah, Durada, Muksir, dan Kantu. Sebelumnya mereka menyarankan agar Jangka Sesa prajurit bayaran terkuat yang menggantikan Sungsang Geni, tapi permintaan mereka ditolak oleh Singan Emas karena Jangka Sesa masih menjalankan misi yang juga sangat penting.
“Ketua apa tidak ada orang lain selain anak baru ini? kami bertiga jelas keberatan.” Pria kekar bernama Durada protes.
“Apa kalian meragukan keputusanku?” tanya Singa Emas tegas.
“Tidak ketua, hanya saja.”
“Jika tidak, ikuti saja apa kataku.” Singa Emas menatap Durada dengan tajam, membuat pria itu tertunduk karena takut.
Setelah musyawarah dibubarkan, Sungsang Geni segera menuju kamar hingga tiba-tiba Durada memanggilnya.
“Sungsang Geni, kami jelas keberatan kau ikut berasma kami.” Durada berkata sedikit keras, “Namun karena ini sudah terjadi apa boleh buat, tapi jika nanti kau hanya menjadi beban, jangan salahkan kami jika kau terbunuh.”
“Senior Durada, melihat sipatmu ini, jelas aku mulai meragukan lencana Giok yang kau miliki.”
“Bajingan tengik!” segera Durada mencabut pedangnya, bersiap melakukan serangan.
“Apa kau ingin mendatangkan ketua kesini, lalu menghajarmu?” Sungsang Geni tersenyum tipis, kemudian melanjutkan langkah meniggalkan Durada dan dua temannya, “Oh ia, seingatku kamarmu bukan diarah sini.”
“Bajingan itu mempermainkan kita!” ucap Durada.
“Tenangkan dirimu, kita punya waktu lain kali untuk menghajar pemuda sombong itu!” ucap Muksir, lalu menarik bahu temannya untuk pergi, “Ayolah, kendalikan emosimu! Lihatlah, dia itu penakut, karena itu dia lebih dahulu meninggalkan kita.”
Setelah hilang dari pandangan Durada, Sungsang Geni menggelengkan kepalanya. “Seekor gajah menghindari seekor tikus bukan karena takut, tapi karena kasihan.”
Setelah esok hari tiba, suasana di depan Istana menjadi ramai dipenuhi dengan prajurit dan ratusan rakyat yang akan ikut mengantar perjalanan Pangeran Dewangga.
Hari begitu cerah, angin berhembus sepoi, awan bergerak pelan menutupi matahari, cuaaca seakan ikut mengantar perjalan Putra Mahkota Kerajaan Majangkara.
Terdengar banyak rakyat yang berbisik-bisik.
“Ini pertanda baik!”
“Benar.”
“Alam raya merestui pangeran Dewangga.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Jabgems Stone
bravo
2023-12-10
1
Reymundo Hidayat
jos
2023-09-05
0
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-08-18
0