Ki Alam Sakti telah kembali dari Istana Majangkara, dia sangat buru-buru karena sedikit khawatir terhadap Sungsang Geni, muridnya putra Mahkota adalah tipe pemuda yang tidak menyukai orang baru yang ilmunya lebih tinggi dari dirinya.
Dia hanya menanggapi dengan senyum datar mana kala orang-orang yang berpapasan dengannya mengucapkan salam
“Tidak biasanya penasehat seperti itu?” beberapa prajurit melihat Ki Alam Sakti dengan heran, “Mungkin masalah baru mulai muncul kembali, heh! Masalah tidak ada habisnya di negri ini!”
Setelah beberapa menit, Ki Alam Sakti tiba didepan pintu gerbang pagar rumahnya, terlihat ke keenam muridnya sedang berkumpul dengan wajah wajah yang sedikit tegang.
“Eang Guru, kau sudah pulang?” Sungsang Geni yang melihat gurunya lebih dahulu segera memberi hormat.
Mendengar ucapan Sungsang Geni, Dewangga hendak menanyakan hubungannya dengan Ki Alam Sakti namun dia tidak ingin bersikap kurang ajar didepan gurunya.
“Hormat kami guru.” Akhirnya Dewangga beserta keempat adiknya memberi hormat.
Ki Alam Sakti menatapi Anjani, pakaian gadis itu basah karena keringat serta kotor dibeberapa bagian.
“Apa yang terjadi disini? Kenapa kalian tidak berkumpul saja di dalam rumah?” Ki Alam Sakti berkata dengan curiga, apalagi melihat sebilah pedang yang telah terpotong menjadi dua.
“Begini guru, Putri Anjani berniat memberi sedikit latihan kepada saya.” Sungsang Geni segera berkata lebih dahulu, “Ternyata ilmunya sangat tinggi, pedang saya dapat dipotongnya dengan mudah.”
“Tentu saja, apalagi jika kau melawan diriku.” Putra Mahkota Dewangga berkata dengan sombong, “Pedangmu pasti akan jadi serpihan kecil.”
“Diriku tentu tidak berani, Pangeran,” sambung Sungsang Geni, kemudian memberi hormat.
Ki Alam Sakti tersenyum, muridnya Sungsang Geni telah berbohong padanya, ini adalah kebohongan pertama yang dia lakukan. Ki Alam Sakti mengerti jalan pikiran Sungsang Geni yang sangat dewasa, berbeda dengan Putra Mahkota Dewangga meski umurnya lebih tua 5 tahun.
Disatu sisi Anjani tidak mengatakan apapun, wajahnya masih diliputi dengan rasa malu karena berurusan dengan Sungsang Geni.
“Sungsang Geni, akan Eang perkenalkan mereka ber empat.” Ki Alam Sakti segera mengubah topik pembahasan. “Ini adalah Dewangga Putra Mahkota Kerajaan Majangkara, dan ini Gading putra Senopati, lalu Janu putra dari Adipati, dan ini Danur Dara putri dari Senopati yaitu adik dari Gadhing.”
Semuanya berasal dari darah biru, Sungsang Geni sendiri sedikit segan karena memiliki kakak seperguruan yang berasal dari kasta yang tinggi.
“Adik, memberi hormat kepada kakak seperguruan.” Sungsang Geni sekali lagi menundukan kepalanya, membuat Dewangga menaikan alisnya.
‘jadi memang benar pemuda ini murid guru?’ batin Dewangga berkata.
“Sungsang Geni! sekarang ikut Eang ke Istana, ada beberapa hal yang perlu kau urus!” ucap Ki Alam Sakti.
Sungsang Geni hanya mengangguk pelan, kemudian mebuntuti Ki Alam Sakti yang telah berjalan lebih dahulu.
Sungsang Geni hanya terdiam di sepanjang perjalanan, banyak prajurit yang memandanginya dengan heran membuat pemuda itu merasa tidak nyaman.
“Siapa orang bersama Penasehat raja?”
“Mungkin dia hanya pelayan Ki Alam Sakti, tidak mungkin pemuda dengan pakaian biasa menjadi muridnya, benarkan?”
Setelah melewati beberapa penjaga, akhirnya mereka tiba di Istana Majangkara, Ki Alam Sakti segera membawa Sungsang Geni kebagian administrasi.
“Guru Alam Sakti, akhirnya kau membawa murid barumu kesini?” ucap seorang wanita bernama Bandiani.
Wanita gendut yang kerjanya hanya memakan onde-onde diselah-selah waktu luangnya, sekarangpun nampak mulutnya masih mengunyah, berusaha menelannya dengan sesegera mungkin.
Bandiani merupakan orang yang bertugas mengurus administrasi di Kerajaan Majangkara, Sungsang Geni harus mendapatkan pengenal nama yang menunjukan dia adalah warga istana Majangkara, karena itu dia dibawa ketempat ini oleh gurunya.
“Guru Ki Alam Sakti, yang mulia Raja menyarankan agar Sungsang Geni menjadi prajurit kerajaan, atau setidaknya prajurit bayaran. Dengan begitu dia akan mendapatkan lencana yang menunjukan dia adalah prajurit disini.” Bandiani menjelaskan.
Ki Alam Sakti diam sejenak, ini tidak seperti yang dia harapakan, nampaknya Raja Airlangga tidak menyukai Sungsang Geni berkumpul bersama putra Mahkota sebagai murid Ki Alam Sakti.
Bandiani kemudian menjelaskan kepada Sungsang Geni bahwa di kerajaan Majangkara, memang terdapat dua golongan prajurit, pertama prajurit tetap kerajaan, yang tugasnya selalu diawasi dan diatur langsung oleh senopati kerajaan. Dan golongan kedua adalah prajurit bayaran. Golongan ini tidak bertanggung jawab secara pormal terhadap kerajaan.
Mereka tidak diupah dari kas kerajaan, melainkan dari pelanggan yang membutuhkan pertolongan mereka. Terdapat sistem rangking di kelompok itu, yaitu perunggu, perak, emas dan giok. Prajurit level emas dan giok setara pendekar kelas tanding dan pendekar pilih tanding.
Sungsang Geni berpikir sejenak, mulai menimbang rasa setelah kemudian baru memutuskan. “Bibi Bandiani, butatkan saja saya lenacan prajurit bayaran! saya tidak akan keberatan dengan peraturan itu.”
Baik Ki Alam Sakti maupun Bandiani sama-sama terkejut mendengar keputusan Sungsang Geni.
“Geni apa kau yakin?” Ki Alam Sakti bertanya, mengingat prajurit bayaran merupakan kumpulan dari orang-orang aneh.
“Karena aku tidak terlalu menyukai ikatan formalitas, jadi menjadi prajurit bayaran bukan suatu hal yang buruk, lagi pula tidak akan ada yang menggangguku.” Sungsang Geni memberikan alasan yang menenangkan Ki Alam Sakti.
“Muridmu ini sangat berani Guru?” puji Bandiani tersenyum, kemudian segera mengisi beberapa berkas yang dibutuhkan, “Tunggulah sebenatar!”
Sekali lagi Ki Alam Sakti menjadi takjub dengan muridnya ini. Pembawaan Sungsang Geni sangat tenang tidak seperti 5 tahun yang lalu yang terkesan ceroboh dan egois. Ki Alam Sakti memejamkan matanya, hampir saja menangis, mengingat tidak banyak kenangan yang mereka lalui selama ini.
“Lencanamu sudah jadi Sungsang Geni.” Bandiani menyodorkan sebuah lencana perunggu, “Karena kau baru menjadi prajurit, kau dinamakan prajurit perunggu dan lencanamu juga prunggu.”
Sungsang Geni tidak begitu tertarik dengan sistem rangking yang terdapat didalam sistem prajurit bayaran, dia melihat datar lencana prunggu ditangannya bermotip bungan melati yang timbul.
“Geni, Eang akan mengantarmu ke markas prajurit bayaran,” ucap Ki Alam Sakti.
Ki Alam Sakti segera mengajak Sunsang Geni pergi ke Markas Prajurit bayaran yang letaknya di pinggir Kerajaan Majangkara. Namun sebelum tiba disana, Ki Alam Sakti mengajak muridnya untuk singgah ke tokoh yang menjual peralatan bertarung.
“Selamat datang di toko Baku Hantam” Sungsang Geni nyaris saja tertawa terbahak-bahak membaca tulisan diatas pintu masuk toko, “Mereka pintar membuat nama yang mudah diingat pelanggannya.”
Sungsang Geni dapat melihat ada banyak tombak, pedang dan baju besi didalam toko Baku Hantam, terdapat pula beberapa senjata dengan kualitsa tinggi dan senjata rahasia.
“Toko ini menyediakan pedang yang cukup baik, Geni.” Ki Alam Sakti melihat-lihat pedang didepannya, memang untuk pedang yang cocok oleh Sungsang Geni tentu yang berkualitas cukup baik, mengingat kekuatan Sungsang Geni yang sangat besar.
Semenjak mulai memasuki toko, Sungsang Geni mulai merasakan aura yang negatif, namun itu bukan aura membunuh yang lebih mudah untuk dirasakan setiap pendekar, aura itu lebih halus.
“Guru aku mendapatkan pedang yang ku suka.” Sungsang Geni menunjukan sebuah pedang yang berkarat dan hitam, gagangnya terbuat dari gading yang bercampur dengan giok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Titien Kurniawan
nama tokonya kok aneh thor
2023-08-18
1
rajes salam lubis
lanjutkan
2022-08-18
0
Abdul Majid
lanjut bro
2022-06-08
0