Setelah enam bulan Sungsang Geni berlatih akhirnya dia telah menguasai 4 jurus dasar, ini adalah pencapaian yang sangat bagus untuk orang yang baru pertama kali memegang pedang, Ki Alam Sakti bahkan butuh 1 tahun untuk dapat menguasai 4 jurus dasar ilmu pedang awan berarak, rupanya metode yang dia lakukan sangat membantu dalam latihan ini.
Sekarang karena dia sudah terbiasa menggunakan pedang, Sungsang Geni lebih mudah untuk melakukan gerakan-gerakan selanjutnya meskipun sebenarnya gerakan tersebut lebih sulit dan butuh cepat.
Seperti janjinya, Ki Alam Sakti datang menengok sebulan sekali hanya untuk memastikan Sungsang Geni baik-baik saja, atau hanya menguji teknik berpedang Sungsang Geni.
Kakek tua itu juga datang dengan banyak makanan, akan sulit bagi Sungsang Geni mencari persediaan makannan di wilayah itu, selain kambing hutan nampaknya tidak ada binatang yang mau tinggal di daerah bebetuan.
“Geni, baru enam bulan kau sudah berkembang secepat ini?” Ki Alam Sakti terpukau dengan kebolehan yang Sungsang Geni tunjukan ketika latih tanding dengan dirinya.
Sungsang Geni lebih cepat dan lentur dalam setiap gerakannya, Ki Alam Sakti berandai mungkin muridnya hanya butuh 4 tahun untuk menguasai pedang awan berarak.
Ki Alam Sakti tidak begitu memahami bagai mana cara muridnya itu berlatih, namun selagi itu tidak berbahaya Ki Alam Sakti tidak terlalu memikirkannya.
Dia datang paling lama hanya 2 hari, kemudian Ki Alam Sakti segera meninggalkan Sungsang Geni sendirian lagi, Sungsang Geni tidak terlalu memikirkan hal itu, hidup sendirian sudah biasa dia jalani.
Setelah berhasil menguasai 4 jurus, Sungsang Geni lebih semangat lagi dalam berlatih. Terkadang dia berlatih ditengah hujan yang deras dan terkadang saat badai angin menerjang bukit batu.
Dia menghabiskan waktunya dengan berlatih, hanya sedikit sekali dia beristirahat, itupun karena dia harus mandi makan dan meditasi, namun karena sudah terbiasa berpuasa, makanpun terkadang hanya 2 hari satu kali, puasa itu menenangkan pikiran, setidaknya itulah pemahaman yang selama ini dia pegang.
Diselah-selah waktu latihannya, Sungsang Geni melatih berkah matahari, memang dia dapat mengontrol api matahari dengan baik, namun keinginan Sungsang Geni lebih dari itu.
Untuk menjadi pendekar hebat dia harus mampu mengendalikan api matahari hingga pada titik tidak dapat membakar pedang bambunya meski dialiri api matahari. Artinya dia harus dapat membuat api miliknya menjadi dingin.
Setelah satu tahun dia berlatih, Sungsang Geni berhasil menguasi 15 jurus pedang awan ber-arak. Pencapaian ini tidak pernah terjadi bahkan pada zaman Ki Alam Sakti masih muda dahulu. Biasanya untuk bisa menguasai 15 jurus dibutuhkan latihan selama 5 tahun lamanya.
“Geni, kau semakin pandai menggunakan pedang,” ucap Ki Alam Sakti, setiap kali dia menemui muridnya, dirinya selalu saja dibuat terpukau “Eang sangat bangga padamu, bukan hanya cepat kau bahkan mampu mengkombinasikan api matahari dengan teknik pedang awan berarak.”
“Ini semua berkat ajaran Eang Guru.” Sungsang Geni merendah hati, namun sebenarnya dia sangat senang karena berhasil mengaliri pedang bambunya dengan api matahari tanpa harus membakar pedang tersebut.
“Aku hanya memberi kitab pedang awan berarak padamu, hanya itu saja.” Ki Alam Sakti menyadari bahwa tidak ada hal yang dia lakukan untuk Sungsang Geni. “Dan juga aku tidak pernah mengajari cara menyatukan berkah matahari dengan teknik pedang awan berarak,”
Memang benar Ki Alam Sakti tidak mengajarinya secara langsung, namun semua ucapan Ki Alam Sakti memiliki makna yang dalam dihatinya.
Setelah selesai menguji ilmu pedang Sugsang Geni, Ki Alam Sakti segera kembali menuju kerajaan Majangkara, dia tidak bisa meninggalkan istana terlalu lama, apa lagi sekarang muncul pendekar 3 codet dari hutan bambu yang berhasil mencuri keris majalengka milik Raja Airlangga.
Selalu ditinggal sendirian terkadang membuat Sungsang Geni merasa kesepian, karena terlalu lama sendiri membuat lidahnya kaku dalam berbicara, sebab lidahnya jarang digunakan.
Namun dia segera teringat ucapan roh api bahwa semua itu hanyalah rasa saja, dan tidak baik memupuk rasa yang tidak penting.
Pemuda itu kembali melanjutkan latihannya lebih giat, jika dia cepat menguasai teknik Pedang awan berarak, maka mungkin dia akan cepat keluar dari bukit batu.
Jika biasanya hanya 18 jam dia berlatih, kali ini hingga 20 jam. Tak ingin Sungsang Geni terlalu lama dibukit batu, atau dia akan menjadi lupa cara berbicara.
Terkadang dia membuat seratus boneka dari bambu, dan hanya dengan beberapa gerakan, boneka itu hancur menjadi abu.
“Sekarang boneka bambu tidak dapat diandalkan lagi,” ucap Sungsang Geni, menatapi boneka bambu yang terbakar karena api mataharinya, “Boneka bambu bergerak tanpa emosi hanya berdasarkan tali-tali ini yang terlilit ditubuhku, jadi aku tidak dapat belajar memahami perasaan lawanku.”
Sungsang Geni kemudian berlatih tanpa menggunakan boneka bambu, dia memejamkan matanya mengimajinasikan seorang lawan tangguh berada didepannya, dan mulai menyerang.
Setiap gerakan yang dia lakukan selaras dengan lawan imajinasinya, ketika lawan imajinasinya menebas kearah leher, reflek tubuhnya untuk menunduk lalu mulai menbas.
Tak jarang Sungsang Geni benar-benar membanting tubuhnya karena lawan imajinasinya mendaratkan pukulan ditubuhnya.
Setelah dia membuka mata, Sungsang Geni tertawa terbahak-bahak, “Kelakuanku bisa dikatakan gila, tapi hanya dengan cara ini aku bisa menemukan lawan sepadan dan belajar merasakan emosi lawanku.”
Sungsang Geni mengetahui peraturan pendekar pedang, ketika pedang dicabut dari sarungnya dia hanya memiliki satu tujuan, yaitu membunuh.
Namun dirinya tidak menyukai peraturan itu, dia tidak peduli dengan ‘tujuan’ pedang dicabut dari sarungnya, tapi dia peduli setiap pedang tercabut ada alasannya.
Pemikiran itulah yang mendasari Sungsang Geni belajar mengetahui emosi lawannya, jika dia tahu alasan lawannya mencabut pedang, dia bisa menentukan pantas atau tidak orang itu dibunuh.
Sungsang Geni berhasil menguasai 20 jurus hanya dalam waktu satu setengah tahun. Jika saja ada orang yang mengetahui bahwa Ki Alam Sakti mempunyai murid berbakat, pasti seluruh aliran hitam akan memburu Sungsang Geni. Karena itulah pula, Ki Alam Sakti mengungsikan muridnya itu di bukit batu yang jauh dan terpencil.
Setelah genap dua tahun, Sungsang Geni akhirnya mampu menguasai seluruh teknik pedang awan berarak. Dia bahkan mampu mengkombinasikan api matahari dan taknik pedang awan berarak dengan sangat baik.
Pencapaian ini tidak pernah ada dalam catatan sejarah manapun, hanya dua tahun dapat menguasai 25 jurus pedang awan berarak dan menyempurnakan 20 dari 25 jurus tersebut.
“Geni, akhirnya kau mampu menguasai teknik ini dengan sangat baik,” Ki Alam Sakti berkata dengan sangat bangga. “Diusia ke 20 tahun, kau telah berhasil menguasainya, tidak pernah ada orang yang berhasil menguasai teknik ini secepat dirimu, bahkan kakak seperguruanku begawan Surama.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
DoNg@Na
4080
2022-11-06
1
rajes salam lubis
mantap
2022-08-18
0
Irwan Murad
ciritanya bagus alurnya jelas cuma lucu aja aku sebagau orang yg tahu beladiri merasa aneh aja...orang latihan beladiri harusnya belajar dasar beladiri tangan kosong dan belajar memperkokoh kuda" setelah itu baru menggunakan senjata....diawal diceritakan mc nya setiap bertempur cuma mengandalkan berkah berupa panas dari tangannya tapa ilmu apa"....begitu belajar langsung pakai senjata....jujur u/ aku yg orang mengerti beladiri aneh aja.....
2022-06-20
1