Yang dipilih oleh Sungsang Geni adalah pedang yang paling murah harganya. Dia sadar gurunya tidak memiliki cukup uang untuk membeli pedang yang baik ditoko ini, namun bukan itu alasan utamanya, pedang yang dipilih Sungsang Geni bukan ber-arti pedang berkualiatas rendah. Setidaknya pedang itu masuk kedalam 30 jenis pedang terkuat, hanya saja tampilan pedang itu sedikit buruk.
Didunia persilatan dikenal dengan tingkat kekuatan pedang. Penilaian ini diambil berdasarkan tingkat ketajaman, kekerasan bahan, dan energi yang mampu dikeluarkan oleh pedang tersebut.
Terdapat 4 tingkat kekuatan pedang, yang pertama tingkat rendah yang jumlahnya hampir ribuan. Kemudian tingkat menengah, yang jumlahnya hanya 100 jenis yang diketahui sejauh ini, lalu tingkat tinggi yang berjumlah hanya 30 jenis sejauh ini dan terakhir tingkat tertinggi. Catatan menunjukan hanya ada 5 senjata yang ada pada level teritinggi.
“Tuan muda pedang itu adalah...”
“Pedang ini telah dikutuk,” ucap Sungsang Geni, pedang inilah yang mengeluarkan aura kutukan yang lebih halus dari aura membunuh yang dirasakannya sejak tadi.
“Benar Tuan Muda.” Ucap pemilik toko yang bernama Kismo, padahal dia sudah meletakan pedang itu pada barang rongsok agar tidak ada pembeli yang mau meliriknya.
“Jangan khwatir paman!” ucap Sungsang Geni seraya tersenyum, lalu dia mengeluarkan api matahari dan menyelimuti pedang itu dengan cahaya kemerahan, membuat karat yang menempel dipedang menjadi lebur dan hilang.
Tujuan Sungsang Geni menyalurkan api mataharinya adalah untuk membakar aura kutukan yang bersemayan didalam pedang, aura kutukan merupakan mahluk kegelapan yang biasanya akan meneror pengguna senjata yang disemayaninya.
Meskipu senjata yang telah dikutuk memiliki kekuatan yang lebih tinggi, namun siapapupun pengguna yang tidak sanggup menahan aura kutukannya akan mati dengan senjata itu sendiri.
Karena berkah matahari sejatinya merupakan kekuatan dewa, maka Sungsang Geni dapat membakar kutukan pada benda yang berasal dari mahluk kegelapan.
Beberapa saat kemudian cahaya api hilang dari pedang itu. Pedang yang tadinya hitam berkarat sekarang berganti dengan putih mengkilat. Jika diperhatikan ada sedikit warna emas dimata pedang itu.
Melihat kemampuan Sungsang Geni, Kismo tidak mampu menyembunyikan wajah tercengangnya. Bukan hanya tajam, pedang ditangan Sungsang Geni terlihat sangat berkelas dibanding pedang lain yang dia jual dengan harga mahal.
“Berkahku lebih tinggi dari pada kutukan iblis didalam pedang ini,” ucap Sungsang Geni seraya tersenyum dengan puas.
“Jadi berapakah harga pedang ini?” tanya Ki Alam Sakti, dia nampaknya tidak mempermasalahkan pedang yang dipilih oleh muridnya itu.
“Luar biasa. Aku belum pernah melihat kemampuan seseorang seperti muridmu ini Guru Alam Sakti.” Pemilik Toko sangat terpukau melihatnya, pedang yang ditangan Sungsang Geni merupakan tingkat tinggi yang hanya ada 30 jenis. “Aku memberikannya gratis kepada muridmu itu, pedang itu telah memilih tuan yang layak menggunakannya.”
“Terima kasih banyak paman.” Sungsang Geni menundukan kepalanya, dia tidak menyangka akan mendapatkan pedang berkelas tinggi di tempat ini, meskipun pedang itu bukan level tertinggi, namun jika diselimuti dengan energi yang besar kekuatannya hanya terpaut sedikit dengan senjata tertinggi.
Setelah selesai dengan urusannya, Ki Alam Sakti segera mengajak muridnya menuju Markas prajurit bayaran. Namun sebelum sempat mereka keluar dati toko Baku Hantam, pemilik toko tiba-tiba memanggil.
“Tunggu guru Alam Sakti!” pemilik toko lantas masuk kedalam, setelah cukup lama dia datang dengan mambawa sebuah kotak besar berwarna emas, kemudian menyodorkan kepada Sungsang Geni. “Ini, ambilah! aku memberikannya gratis untukmu.”
“Untuk diriku, Paman?” tanya Sungsang Geni.
Sungsang Geni merasa ragu, namun Ki Alam Sakti memberi isyarat agar Sungsang Geni menerima pemberian Kismo.
Setelah dibuka ternyata isinya, sebuah sepatu beserta jubah merah dengan motif naga dibelakangnya, Sungsang Geni tidak tahu bahannya, tapi begitu lembut saat disentuh.
Mata Sungsang Geni berbinar melihat jubah itu, meski sedikit clasik namun bahannya tidak kalah dengan pakaian para kerajaan.
Jubah pusaka itu milik seorang prjurit tangguh, yang menjadi senopati terkuat sepanjang sejarah kerajaan Majangkara, dia bernama Senopati Aria. Senopati itu berhasil membawa Majangkara pada puncak kejayaannya.
Semenjak kematian dirinya, Majangkara menjadi sangat terpuruk, beberapa pemberontak mulai bermunculan dan membuat resah para penduduk, puncaknya adalah ketika Kerajaan Surasena berhasil membuat Majangkara bertekuk lutut.
Semenjak kedatangan Ki Alam Sakti 15 tahun yang lalu, Kerjaan Majangkara nampaknya mulai kembali berjalan maju, meski belum sanggup untuk bebas dari kerajaan Surasena.
“Paman sungguh ingin memberikannya padaku,” tanya Sungsang Geni, masih tidak percaya.
“Tentu saja, tidak ada yang layak untuk memakainya, selain dirimu,” ucap Kismo, “pakailah, itu akan sangat membantu dirimu.”
“Geni, Eang rasa ini adalah jodohmu, seperti yang dikatakan Kismo, tidak ada yang pantas mamakainya selain dirimu.” Ki Alam Sakti memberi saran, dia menyetujui Sungsang Geni memakain pusaka itu, “lagipula gurumu ini sudah tidak mempunyai pusaka yang bisa diberikan padamau, sebab pusaka awan berarak telah dipinta pangeran Dewangga.”
Sungsang Geni akhirnya memakai jubah itu dengan senang hati, ‘jubah ini menyesuaikan tubuhku, dan membuat tubuhku menjadi ringan’. Batin Sungsang Geni.
“Pusaka itu mampu membuat pemiliknya terbang dengan cepat, tanpa harus menggunakan tenaga dalam.” Kismo mulai menjelaskan secara garis besar, dia sangat terkagum melihat penampilan Sungsang Geni begitu berwibawa dengan aura hangatnya.
Mendengar perkataan Kismo, mata Sungsang Geni menjadi berbinar-binar saking senangnya, impiannya untuk dapat terbang akhirnya kesampaian.
“Sekali lagi, aku berterimia kasih banyak kepada paman. Jika paman perlu bantuan, katakan padaku aku pasti akan membantu.” Sungsang geni kemudian memberi hormat sebanyak 3 kali.
Pemilik toko hanya tersenyum hangat, menyimpan pusaka berharga ternyata membuat hidupnya tidak tenang. Roh dari jubah itu selalu berbisik meminta tuan baru yang cocok. Dialah sebenarnya yang ingin berterima kasih kepada Sungsang Geni, karena mau dan mampu menguasai jubah itu.
Setelah berpamitan Sungsang Geni diantar oleh gurunya menuju Markas prajurit bayaran.
“Itu adalah tempatnya.” Ki Alam Sakti menunjuk sebuah bangunan besar didepan mereka.
Setelah mereka berdua masuk, Ki Alam Sakti disambut oleh puluhan prajurit bayaran. Mereka tentu sangat mengenal Ki Alam Sakti, seoarang pendekar tanpa tanding yang merupakan pendekar terkuat saat ini di kerajaan Manjangkara.
Ki Alam Sakti membawa Sungsangn Geni menuju seorang gadis cantik yang bertugas melayani setiap tamu yang datang. Gadis itu bernama Pitaloka, yang kemampuannya berada ditingkat pendekar pilih tanding.
“ Hormat kepada Guru Alam Sakti,” Pitaloka kemudian melirik kepada Sungsang Geni yang memancarkan aura yang tidak biasa, “Ada perlu apa guru datang ke marakas prajurit bayaran?”
“Aku ingin mengatar muridku ini menjadi salah satu dari prajurit bayaran.” Ki Alam sakti kemudian meyuruh Sungsang Geni menyodorkan lencana perunggu.
Melihat penampilan Sungsang Geni, Pitaloka dapat mengetahui kekuatan Sungsang Geni belum bisa diukur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Reymundo Hidayat
jos
2023-09-05
1
rajes salam lubis
mantap
2022-08-18
0
Abdul Majid
seru betul
2022-06-08
0