》》Minta vote dan like dulu ya kakak kakak dan adik -adik yang baik ♡♡
▪▪▪▪▪▪
"Siapa kau"Sean mulai mengintrogasi wanita yang telah menyerangnya. Wanita itu hanya tersenyum sinis kepada Sean.
"Jangan kau pikir kau wanita, sehingga aku tidak sanggup melukaimu"ucap Sean sambil menarik rambut wanita itu kebelakang lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Kau bisa membunuhku, tapi kau tidak akan mendapatkan informasi apapun dariku" ucap wanita itu dengan tatapan benci.
"Aku tidak akan semudah itu membunuhmu, kau akan mendapatkan hadiah terindah sebelum datang ajalmu" Sean menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Abust, kumpulkan gelandangan, preman pasar, dan orang gila sebanyak sepuluh orang. Aku ingin menjamu mereka dengan wanita cantik ini" perintah Sean kepada Abust namun wajahnya tetap mendekat ke wajah wanita itu. Abust segera pergi memenuhi perintah Sean.
"Apa maumu?"bentak wanita itu setelah mebdengar ucapan Sean.
"Apa kau tuli, aku ingin kau mengaku dan menceritakan apa yang kau tahu" ucap Sean kemudian.
"Atau, kau harus merelakan tubuhmu di nikmati oleh 10 orang yang telah aku undang" imbuhnya lagi.
"Sean Arthur, kau memang manusia biadab" bentak wanita itu. Sean hanya terkekeh lalu pergi menaiki lift bawah tanah untuk keluar dari ruangan gelap itu di ikuti Leon dua orang bodyguardnya.
DRRRTTT...DRRRRRTTT , Telpon pintar milik Sean berbunyi, ia melihat pesan masuk yang dikirim oleh koleganya yang berada di Indonesia.
"Tuan Sean, saya sudah melakukan apa yang engkau perintahkan kepada ku tentang keluarga itu. Saya sudah mengirimkan laporannya di email anda. Beberapa foto dan dokumen yang anda inginkan sudah saya lampirkan dan sudah saya kirimkan hard filenya ke alamat kantor anda yang berada di Hong Kong"Sean tersenyum karena rencananya berhasil.
"Leon, dimana komputermu, aku ingin mengecek emailku" ucap Sean yang diikuti anggukan Leon. Leon segera mengambil laptopnya dan menyalakannya.
"Ini bos, silahkan duduk" Leon menyerahkan kursi empuknya kepada Sean untuk ditempati. Sean segera meraih laptop itu, ia kemudian berselancar di dunia maya untuk membuka email dan laporan file yang sudah di rar supaya tidak tercecer. Senyum tersungging di bibir Sean, ia puas dengan hasil kerja koleganya itu. Sebelum Sean menutup laptopnya ia tidak sengaja menemukan sebuah folder yang biasanya secara otomatis tercreate saat proses meretas CCTV. Sean membuka folder tersebut, ada beberapa file txt dan beberapa file pemrograman juga rekaman video. Ia membuka video itu beberapa saat, Sean tercengang melihat seorang wanita yang sangat ia kenal dalam kondisi pucat dan tak berdaya diperlakukan tidak manusiawi oleh adik angkatnya. Wajah Sean yang tadinya tersenyum berubah menjadi dingin dengan aura jahat terlihat jelas.
"Leon, apa yang kau sembunyikan dariku" bentak Sean kepada Leon yang masih duduk di depannya.
"Apa maksudmu bos?"tanya Leon masih bingung dengan perubahan sikap Sean. Sean memutar laptop yang masih menayangkan Video Abust memukuli Salwa dengan cambuk hingga Salwa tak sadarkan diri. Leon terperangah, ia lupa menyembunyikan hasil penyelidikannya dengan rapi.
"Maaf bos, Abust hanya terbawa emosi, ia menemukan sidik jari gadis itu di pistol sehingga ia tidak bisa berfikir jernih, tapi aku sudah menyelamatkannya, gadis itu sudah melarikan diri" ucap Leon sambil merutuki kebodohannya karena tidak segera menghilangkan bukti-bukti.
"Apa melarikan diri" Sean masih tidak percaya dengan perkataan Leon.
CEKLEEKKK. Abust memasuki ruangan Leon karena ia sudah berhasil mengumpulkan sepuluh orang sesuai permintaan Sean.
"Semua sudah siap bos"ucap Abust dengan wajah sumringah. Berbeda dengan Sean yang sepertinya akan menelan Abust hidup-hidup.
Sean berdiri dari tempat duduknya lalu menempeleng Abust hingga Abust terjatuh.
"PLAAAKKK"
"BOS, apa salahku?" tanya Abust tidak mengerti, ia merasa melakukan tugasnya dengan baik namun mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya.
Sean mengangkat Abust dengan menarik kerah bajunya.
"Apa yang kau lakukan kepada gadis itu" ucap Sean dengan aura membunuh. Abust kesulitan menelan salivanya. Ia terkejut Sean mengatakan hal yang sudah ia rahasiakan . Abust menoleh ke arah Leon seolah meminta pertanggung jawaban. Namun Leon hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Apa yang sudah kau lakukan padanya BODOH!!!" Teriak Sean diikuti pukulan-pukulan yang menghujani Abust.
"Aku bisa jelaskan, maaf, aku dibawah pengaruh alkohol, kau tahu bos setiap laki-laki pasti tidak akan sadar dengan apa yang dilakukannya saat dia mabuk, aku tidak sengaja memperkosanya tapi"
PLAAAKKK.. Abust belum menyelesaikan perkatannya namun sudah ditampar oleh Sean.
"Apa kau bilang, kau memperkosa gadis lugu itu setelah kau menyiksanya dengan kejam" Sean kembali memukuli Abust. Leon yang melihatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kau belum tahu itu bos?"ucap Abust masih bingung, dia merutuki dirinya sendiri karena telah membuka aibnya dan rahasianya sendiri.
"Hentikan bos, kau tenang saja. Salwa masih suci, aku sudah menolongnya saat Abust melakukannya. Tapi saat ini aku tidak tahu dia kabur kemana" Leon berusaha menengahi Sean yang sudah sangat marah kepada Abust. Abust yang sudah babak belur menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia tidak menyangka Sean akan semarah itu kepadanya.
Leon membantu Abust untuk duduk di atas kursi, sementara Sean masih mengatur nafasnya dan meredam kemarahannya. Sean sangat menyayangkan kelakuan adik angkatnya itu memperlakukan gadis yang menolongnya dengan kejam. Ia tidak menyangka Abust bisa melakukan tindakan ceroboh seperti itu tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Sean memukulkan genggaman tangannya ke dinding dengan keras sehingga membuat darah mengalir di jari-jarinya. Sean berusaha tetap tenang dan berfikir jernih.
"Suruh 10 orang yang kau cari tadi untuk ke ruang bawah tanah lewat tangga darurat, aku akan memantau dari sini" ucap Sean kemudian.
Dengan wajah yang sudah babak belur Abust menghubungi anak buahnya, ia memasang earphone untuk memudahkan dirinya berinteraksi dengan mereka. Abust segera menginstruksikan agar membawa 10 orang tadi ke ruang bawah tanah dan menunggu intruksi selanjutnya. Sean kembali ke tempat duduknya untuk memantau CCTV yang sudah terhubung di ruang bawah tanah. Leon mengaktifkan microphone yang terhubung dengan ruang bawah tanah agar Sean bisa leluasa berbicara dengan wanita yang ia sekap.
Setelah melihat semua orang sudah berada di ruangan itu, Sean membuka pembicaraannya.
"Nona, kau masih punya kesempatan. Jika kau tidak segera mengikuti kemauanku, dalam hitungan ke tiga aku tidak akan vertanggung jawab dengab apa yang akan terjadi padamu" ucap Sean melalui microphone di depannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Sunarty Narty
mudah2n Sean cepat nyelamatin Salwa tp selama Salwa hilang ingatan Dy pasti tetap benci Sean karena udh d cuci otak SM yang
2022-10-12
0
Cucu Saodah
hih. diganyang ramai ramai... mengerikan
2022-01-19
0
annin
cara kerja mafia mengerikan
2021-08-10
0