Darah sudah mengalir membasahi wajah ke dua saudara angkat itu. Akhirnya mereka kelelahan karena sudah hampir satu jam bertikai dan beradu kekuatan. Dua orang itu terlentang di lantai saling berdampingan. Ada rasa penyesalan di antara mereka berdua. Rasa-rasanya pertikaian ini sama sekali tidak ada manfaatnya. Bahkan akan memperkeruh keaadaan, yang dimana musuh mereka saat ini sedang tertawa dan berpesta merayakan kemenangannya.
"Leon, apakah kau masih hidup?"tanya Abust yang masih tergeletak di samping tubuh Leon.
"Hemmm.... aku bukan pria selemah itu, yang bisa kau habisi dengan mudah" Leon masih berusaha menjawab meskipun dirinya sudah bersimpah darah.
"Aku akan memanggil Xiau Chien untuk merawat lukamu" Abust menghubungi Xiau Chien untuk kembali ke rumahnya sementara perawat yang dikirim Xiau Chien sedang membantu Abust untuk merawat lukanya sendiri.
Setelah 30 menit, luka-luka di tubuh Leon sudah selesai di obati. Xiau Chien sangat cekatan dalam pekerjaannya. Ia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ke dua saudara angkat itu yang saling serang lalu juga saling mengobati.
"Dimana gadis itu?"tanya Xiau Chien kepada Abust.
"Kabur" Abust hanya berucap dengan suara datar.
DRRTTTT...DDDRRRTT
"Halloo" Leon menerima panggilan
"Apa..baik, saya akan kesana"ucap Leon sambil mengakhiri panggilannya.
"Ada apa, kau mau kemana dengan wajah babak belur seperti itu"tanya Abust kepada Leon.
"Wajahmu tidak lebih baik dariku,, aku harus ke rumah sakit. Sean sudah sadar"Leon segera mengenakan pakaiannya namun ia urungkan karena pakaiannya sudah ia berikan kepada Salwa.
"Pinjam bajumu"ucap Leon sambil pergi ke kamar Abust untuk mencari baju.
"Tunggu, aku ikut" Abust pun mengikuti Leon berganti baju lalu berangkat ke rumah sakit bersama.
•••●●●°°°°○○○○○°°°°○○○°°●●●•••
"Tuan, gadis itu belum sadarkan diri"ucap seorang laki-laki berperawakan tinggi besar kepada majikannya.
"Kau urus saja keperluannya, aku ada urusan. Laporkan perkembangannya kepadaku jika ada yang penting. Kau boleh pergi"ucap pria yang disebut sebagai tuan tadi.
Laki-laki chinese dengan wajah khas oriental terlihat sibuk memeriksa berkas-berkas yang ada di mejanya. Ia tersenyum melihat grafik penjualan merangkak naik.
"Heeemm... sepertinya dengan hilangnya Sean Arthur bisa membuatku kaya" ucap laki-laki itu dengan senyum jahatnya menghiasi sudut bibirnya.
"Huang Chi Lie buat proposal pengajuan kepada perusahaan AR untuk memenangkan proyek besar ini"ucapnya kepada salah seorang asistennya.
"Baik tuan Yang"jawab asistennya cepat.
"Apakah kau sudah mengurus semua keperluan untuk ulang tahun perusahaan"tanya pria itu lagi.
"Sudah semua tuan, artis-artis yang mengisi acara juga sudah dihubungi semua, undangan untuk tamu undangan akan disebarkan hari ini. Saya pastikan acara berjalan sempurna sesuai harapan"ucap sekertaris Huang dengan tatapan meyakinkan.
"Bagus, kau memang bisa diandalkan" senyum mengembang terukir di wajah Yang Pou Han.
●●●●●□□□□□●●●●●●
"Bagaimana kondisinya dokter?"tanya Leon saat sampai di kamar perawatan Sean kepada dokter yang sedang memeriksa kondisi Sean.
"Kondisinya sudah stabil, untunglah pasien tidak mengalami koma yang terlalu lama, pasien masih butuh banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya"tutur dokter Clorie sambil menuliskan resep obat yang diberikan kepada perawat yang mendampinginya.
"Baik, saya permisi dulu"Dokter Clorie pamit diikuti anggukan oleh kedua adik angkat Sean.
Sean masih terlihat memejamkan mata, sepertinya suntikan yang diberikan dokter Clorie membuatnya mengantuk. Karena masih banyak yang harus dikerjakan Leon dan Abust memutuskan untuk keluar dari kamar Sean.
"Mau kemana kalian berdua"
Leon dan Abust seketika menoleh bersamaan, mereka berdua terkejut saat melihat Sean sudah terduduk di atas ranjangnya.
"Bos...." mereka berdua langsung berlari memeluk Sean. Sean hanya tersenyum melihat tingkah konyol kedua adik angkatnya itu. Mereka bertiga saling berpelukan untuk melepas kerinduan dan kehangatan keluarga yang sempat hilang. Hanya Sean yang bisa mengakurkan ke dua adik angkatnya itu yang selalu bertikai meskipun itu masalah kecil.
"Sudah-sudah, apakah kalian tidak malu bertingkah seperti ini"ucap Sean sambil memegang lengannya yang masih terasa sakit. Meskipun sean sudah beristirahat selama sepuluh hari tetapi lukanya cukup parah sehingga ia masih tidak boleh terlalu banyak melakukan gerakan.
"Maaf bos, kami sangat menghawatirkanmu"ucap Leon dan Abust berbarengan.
"Bagaimana perusahaan?"tanya Sean kemudian.
"Maaf bos, aku kurang fokus, penjualan turun tapi tidak begitu buruk, aku terlalu mencemaskanmu sehingga pikiranku hanya ingin balas dendam saja"ucap Abust merasa bersalah.
"Kau jangan mengada-ngada, kau tahu bos dia sudah menghabiskan malam dengan banyak wanita saat kau berbaring di rumah sakit"ucap Leon yang tengah menggoda Abust.
"Kau... dasar, bahkan kau tidak bisa semenitpun hidup tanpa wanita" Abust tidak mau kalah dengan Leon. Sean hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Selama aku di sini apa kalian membuat masalah?" tanya Sean kepada kedua adik angkatnya.
Pertanyaan Sean justru membuat Leon dan Abust terperangah karena terkejut, karena mereka ingat Salwa sudah hilang tak tahu ada dimana.
●●●□□□□●●●
ini nie bagi yang penasaran sama wajah Yang Pou Han, Author kasih visualnya. Wajahnya lebih baby face dari Sean.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Bzaa
yang Pou Han nya cutee😘.
akhirnya bisa ngebayangin nindi dan yang Pou Han, soalnya di nindi visual yang Pou Han nya gak ada☺️☺️
2023-04-22
0
Sunarty Narty
wah Salwa malah ada d tangan musuh
2022-10-12
0
epifania rendo
kasian salwa ada sama yang pauhan
2022-08-20
0