Sean mendorong pelan pintu kamarnya hingga membuat celah agar dia bisa masuk ke dalam, setelah berhasil menerobos masuk dengan sigap Sean mengangkat tubuh Salwa dan membaringkannya ketempat tidurnya.
Sejenak ia memandang Salwa yang sedang terpejam, wajah Salwa yang teduh membuat hati Sean yang keras menjadi luluh. Sean sempat terpesona melihat kecantikan Salwa yang sederhana, kulitnya kuning langsat ciri khas wanita Indonesia dengan bibir mungil, hidung mancung dan bulu mata yang lentik membuatnya tidak bosan untuk di pandang. Sean memakaikan selimut tebal untuk menutupi tubuh Salwa. Meskipun Salwa memakai pakaian tertutup tangannya terasa dingin dan wajahnya terlihat pucat.
"Ada apa bos? Siapa gadis itu? Kau ternyata juga bisa menyembunyikan seorang gadis di apartemenmu" ucap Leon yang masuk ke kamar Sean tiba-tiba.
"Bisakah kau permisi dulu saat masuk ke kamar orang lain" ucap Sean dengan tatapannya yang dingin mengarah ke Leon.
"Okey...kenapa dia bisa pingsan, apakah ia tadi diserang? Apa gadis itu terluka?"tanya Leon penasaran.
"Entahlah.. mungkin dia shok karena belum pernah melihat mayat dengan kepala yang hancur"ucap Sean sambil menghangatkan telapak tangan Salwa yang terasa dingin dengan mengusap-usapkan tangannya dan meniupkan hawa panas dari mulutnya.
Leon menatap Salwa dari dekat. Sean yang melihat tingkah Leon merasa tidak suka.
"Jangan menatapnya seperti itu" hardik Sean.
"Bos.. kenapa kau jadi posesif seperti ini, ayolah... apakah kau punya hubungan spesial dengannya?"ucap Leon kemudian.
"Dia pelayan disini, baru sehari dia bekerja tapi sudah mengalami hal semacam ini"jawab Sean merasa iba kepada Salwa.
"Apakah kau menyukainya bos?"
"Tentu saja, dia bekerja dengan baik, kalau dipikir-pikir selama ini baru dia pelayan yang mengerjakan tugasnya dengan sempurna di hari pertama bekerja" ucap Sean dengan tersenyum.
"Apakah kau akan membuatnya melayanimu di ranjang juga?" tanya Leon yang pikirannya hanya urusan ranjang saja.
"Jaga ucapanmu, aku bukan pria seperti itu. Dia masih gadis belia, aku tidak mungkin merusaknya" Sean agak kesal dengan pertanyaan anak buahnya yang selalu menyamakan Sean dengan dirinya.
"Ayolah bos... sejak kapan kau sangat perhatian dengan seorang wanita, bahkan kau rela mengangkat tubuh gadis itu dan membiarkannya tidur di ranjangmu" ucap Leon yang mulai mengintrogasi Sean.
"Apa kau pikir aku harus menyeret tubuh gadis ini?"ucap Sean sedikit emosi.
"Bukan.. bukan seperti itu, kau biasanya menyuruh orang lain daripada harus melakukannya sendiri, bahkan kau dengan kasar mengusir wanita yang sudah kau tiduri dari kamarmu saat kau sudah terbangun dari tidurmu, aku rasa kau tertarik dengan gadis ini" ucap Leon penuh kemenangan.
Sean terdiam mendengar perkataan Leon, ia sendiri juga tidak tahu alasannya mengapa ia bisa melakukan hal itu kepada Salwa, bahkan saat dirinya diserang, ia melindungi gadis itu didalam pelukannya dengan sepenuh hati.
Salwa merasa pusing, ia mulai sadar saat mencium aroma mint yang tidak lain adalah aroma dari tubuh Sean yang sedang memegang tangannya. Perlahan ia membuka matanya,,ia melihat sekeliling, hal yang pertama dia lihat adalah Sean yang sedang mengusap-usap tangannya.
"Tuan Sean... apa yang terjadi..... saya tidur dimana?" tanya Salwa dengan mata yang sedikit sayu.
Sean melepaskan tangan Salwa, ia memasang wajah dingin seperti sebelum-sebelumnya sebagai tanda ketegasan.
"Kau pingsan, dan ini kamarku" ucap Sean datar.
Salwa yang merasa dikelilingi dua orang laki-laki merasa tidak nyaman, ia bangun dari tidurnya.
"Maafkan saya sudah membuat tuan kerepotan, saya akan kembali bekerja" ucap Salwa kepada Sean. Ia takut kalau Sean marah kepadanya karena lalai dalam bekerja. Ia tidak ingin dipecat karena saat ini hanya dialah harapan orang tuanya.
"Kau mau bekerja apalagi, ini sudah malam. Istirahat saja, kau bisa bekerja lagi besok" ucap Sean tanpa menoleh ke arah Salwa.
"Baik tuan, terimakasih.. saya permisi" ucap Salwa sambil berlalu meninggalkan Sean dan Leon.
"Wow.. ekspresimu berubah seratus delapan puluh derajat saat gadis itu telah sadar, kau benar-benar aktor sejati" ucap Leon menggoda Sean.
"Jangan banyak bicara, panggil Abust sekarang, kita bahas masalah Yang Pou Han di ruanganku"perintah Sean cepat kepada anak buahnya itu.
"Oke bos" jawab Leon .
Sean keluar dari kamarnya menuju ke ruang kerja. Leon dan Abust menyusulnya dari belakang. Ketiga pria itu sedang melakukan pembicaraan yang sangat serius. Mereka menyusun rencana agar musuh besar mereka tidak bisa menyerang dengan mudah.
》 next ya kakak...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Rice Btamban
tetap semangat
2022-07-01
0
Cucu Saodah
beuh salwa tangguh juga ya... kalau aku dah nangis kejer minta pulang wkwkwkkwkw
2022-01-19
0
Yati Surya
seru...seru....👍👍
2021-12-18
0