》》Happy reading.. Mohon bantu Vote dan like ya.. ❤❤
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪
Sean mencari jawaban atas semua kejadian yang telah menimpanya akhir-akhir ini.
"Leon aku ingin menemui wanita itu" Leon yang sedang memakan makan siangnya tersedak.
Uhukuhukk...
"Siapa bos?"ucap Leon agak khawatir takut yang dimaksud adalah Salwa.
"Wanita yang kau sekap"jawab Sean cepat.
"Tentu saja, nanti malam kita temui dia"Leon menjawab dengan lega.
Setelah menyelesaikan makan siangnya disebuah restoran mereka berdua kembali ke gedung perkantoran milik Sean. Abust yang baru datang dari lapangan mengecek proyek yang sedang dikerjakan langsung bergabung dengan Sean dan Leon.
"Bagaimana disana?"Sean mulai meminta laporan pada Abust.
"Untuk saat ini masih oke, belum ada kendala. Hotel yang kita bangun masih 50 persen, tapi menurutku pembangunannya sudah lumayan cepat"ucap Abust sambil menyerahkan berkas laporan kepada Sean.
"Bagaimana dengan perusahaan AR, apa ada perkembangan bos?"tanya Leon memastikan pekerjaannya kali ini harus mencapai target.
"Perusahaan YP juga ikut andil, tapi tenang saja. Direktur AR sudah memberi lampu hijau kepadaku, tentu saja itu juga karena penawaran kerjasama yang kita berikan sangat menggiurkan, tidak ada alasan bagi perusahaan itu untuk menolak rancangan kita" ucap Sean dengan penuh keyakinan.
"Jangan lupa, nanti malam kita temui wanita itu, kau siapkan segalanya"ucap Sean kemudian.
"Baik bos"
••••••●●●●•••••••••
Rintik hujan membasahi dedaunan, angin lembut yang membuat pepohonan bergoyang menikmati sentuhan air yang jatuh secara bergiliran. Salwa membiarkan dirinya terbawa suasana, kesedihan dan kekecewaan menyatu menyayat-nyayat hatinya. Wajahnya dibiarkan basah oleh guyuran air hujan. Akankah air hujan yang mengalir bisa membawa dirinya menghapus luka dan lara yang sudah merasuk di jiwanya. Ia menatap langit yang mendung, menantang hujan yang mulai terjatuh lebih lebat, angin kencang juga mulai menerpanya disertai petir dan guntur yang sedang bersahut-sahutan seolah memprotes dirinya yang lemah dan tak bisa berbuat apa-apa.
"Apalah aku, aku hanya wanita lemah yang tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya wanita hina yang rela memberikan tubuhku kepada laki-laki hidung belang hanya untuk memenuhi tujuanku, wanita kotor yang bahkan mungkin Tuhanpun akan jijik kepadaku. Keluargaku sudah pergi meninggalkanku, kenapa kalian tega membiarkanku hidup seperti ini, biarkan aku menyusul kalian. Apakah benar aku harus membunuh orang demi tercapainya hasrat dendamku, apakah nanti Tuhan malah akan semakin jijik kepadaku, wanita kotor dan pembunuh, sebegitu burukkah diriku ya Tuhan" Salwa menangis sejadi-jadinya, antara marah dan benci dengan nasib yang menimpanya.
"Dimana nona Michel?"tanya Yang kepada pelayan saat ia tidak menemukan Salwa di kamarnya.
"Maaf tuan, saya tidak melihatnya" jawab pelayan itu jujur.
"Cari nona Michel sekarang"teriak Yang kepada semua pelayan yang berada di rumah itu. Semua pelayan yang mendengar perintah Yang PouHan segera berhamburan mencari Michella di setiap penjuru ruangan. Yang Pou Han berjalan ke belakang rumah, ia melihat hujan deras sedang mengguyur permukaan tanah. Tanpa sengaja ia melihat seorang wanita sedang berdiri basah kuyup di tengah derasnya hujan. Yang segera berlari ke arah wanita itu tanpa memakai payung.
"Michell.." teriak Yang sambil berlari. Tubuh gadis itu terhuyung tak sadarkan diri. Beruntung Yang segera menangkap tubuh yang sudah lemas itu.
"Apa yang kau lakukan?"ucap Yang sambil menggendong tubuh Michella masuk ke dalam rumah. Yang menidurkan Michella ke dalam kamar pribadinya. Michella sudah tidak sadarkan diri dengan baju yang sudah basah kuyup. Ia mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Michella, ia juga mulai melepas kancing baju Michella dengan hati-hati. Tiba-tiba tangan Michella menahan tangan Yang.
"Jangan sentuh aku" ucap Michella dengan suara lemas, namun kemudian tangannya terkulai tak berdaya. Yang tersenyum melihat gadis di depannya ini masih bisa menjaga harga dirinya meski dalam keadaan tidak sadar. Yang keluar memanggil pelayan wanita, ia meminta pelayan wanita itu untuk menggantikan baju Michella yang sudah basah kuyup.
"Tuan, baju nona Michel sudah saya lepaskan, baju apa yang harus kami kenakan untuknya?"ucap pelayan wanita kepada Yang PouHan. Yang mengambilkan sebuah baju tidur seksi warna merah untuk diserahkan kepada pelayan itu.
"Pakaikan dia ini"ucap Yang dengan tersenyum.
"Tapi tuan, nona Michel sedang demam"ucap pelayan itu lagi.
"Pakaikan saja, aku akan merawatnya"
Setelah mendengarkan perkataan Yang , pelayan itu masuk ke dalam kamar dan melaksanakan perintah majikannya. Mereka menutup tubuh Michella yang dibalut baju tidur tipis itu dengan selimut tebal.
"Tuan, kami sudah melaksanaknnya" lapor pelayan itu lagi menghadap Yang pouHan.
"Siapkan air hangat dan lap bersih untuk mengompres nona Michel, siapkan juga sup ayam untuk dia makan"perintah Yang PouHan kepada pelayannya. Yang masuk ke dalam kamarnya. Ia melepas pakaiannya sendiri dan menggantikan dengan handuk kimononya. Ia melihat Michella masih tertidur dengan ditutupi selimut tebal. Wajahnya terlihat pucat dan suhu tubuhnya tinggi. Yang Pou Han menatap wajah Michella dengan lekat, ada rasa kasihan terhadap gadis didepannya ini. Akan tetapi dendamnya dengan Sean Arthur membuat hatinya seperti sudah mati. Sepuluh menit kemudian seorang pelayan masuk dengan membawa baki yang berisi air hangat dan lap beserta sup ayam sesuai perintah Yang PouHan.
"Kalian boleh pergi"ucap Yang kepada pelayannya. Yang Pou han mengunci kamarnya dari dalam. Ia mulai memasukkan lap bersih itu ke dalam baskom yang berisi air hangat, lalu meletakkan lap yang sedikit basah itu di kening Michella.
"Gadis kecil kenapa kau menyiksa dirimu sendiri" ucap Yang sambil mengusapkan lap hangat itu di tangan dan leher Michella. Yang menyibakkan sedikit selimut yang menutupi tubuh Michella sehingga terlihat kaki jenjangnya. Ia mengelap kaki dan pahanya dengan lap hangat itu. Jantung Yang berdetak kencang saat melakukan aktivitasnya itu. Ia menutup kembali selimut itu. Detak jantungnya kian tak terkendali. Padahal dirinya sudah terbiasa melihat wanita seksi dan bahkan ia sering melihat wanita-wanitanya itu mau dengan sukarela memperlihatkan tubuh indah mereka untuk memuaskan hasrat Yang PouHan.
Yang mendekati wajah Michella dan memeriksa suhu tubuhnya yang mulai turun. Ia membelai wajah gadis itu dengan lembut sampai akhirnya Michella tersadar.
"Airr.."Michella meminta air karena tenggorokannya kering akibat terlalu banyak menangis di tengah hujan. Yang dengan sigap memberikan gelas yang berisi air mineral untuk diberikan kepada Michella. Ia membantu Michella untuk duduk dari dari tidurnya. Michella meraih gelas itu dan menghabiskannya. Ia menyerahkan gelas kosong itu kepada Yang pouHan. Sesaat ia tersadar ia tidak berada di dalam kamarnya.
"Aku ada di kamarmu?"tanya Michella kepada Yang saat melihat Yang masih menggunakan handuk kimononya berada di sisinya.
"Ia, kau tidur di sini, di kamarku"ucap Yang sambil tersenyum. Michella membuka selimutnya dan hendak pergi dari kamar Yang PouHan.
"AAAARRRRGGGHHHH"Teriak Michella ketika ia menyadari apa yang telah dipakainya. Michella segera meraih selimut itu lalu menutupi tubuhnya.
"Mana pakaianku, siapa yang menggantikannya,, apa kau yang berani melepas pakaianku dan mengganti dengan pakaian menjijikkan seperti ini"
》》next..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Sunarty Narty
hadeh jd deg degan deh
2022-10-12
0
Cucu Saodah
walau amnesia masih inget ya alam bawah sadarnya kalau dia harus nutup aurat
2022-01-19
0
Nur
ketawa baca komenan para reders,,
suruh prcept lah, suruh ini lah bingung author ny..
kasian author ny..
aku ikutin alur cerita yg author buat..
2021-11-04
0