Sudah sejak pagi Salwa menyiapkan semua barang-barangnya. Ia akan tinggal di asrama selama masa pendidikan. Darmini membantunya menyiapkan segala sesuatu perlengkapan yang mungkin Salwa butuhkan di sana.
"Nak, jangan lupa jaga kesehatan, shalat lima waktu jangan pernah ditinggal. Ingat Allah akan selalu bersama orang-orang yang taat," ucap Darmini memberikan wejangan.
Salwa kemudian berpamitan kepada Bapak dan adik-adiknya karena Tiwi sudah menunggunya di ruang tamu. Tiwi dan Salwa berangkat berboncengan naik motor.
Selama di perjalanan, Tiwi tak henti-hentinya memberikan penjelasan dan menceritakan pengalamannya selama kerja di Hongkong, dan berapa jumlah uang yang bisa ia hasilkan. Mendengar penjelasan Tiwi, Salwa semakin bersemangat. Ia ingin membuat keluarganya bahagia dan tidak lagi kesulitan keuangan.
Sampailah Salwa di gedung yang menjulang tinggi itu. Di sana tertulis PT. GANESHA SEJAHTERA, mungkin benar kata Tiwi, ini adalah salah satu perusahaan penyalur tenaga kerja Indonesia terbesar dan sudah tercatat resmi di kementrian tenaga kerja Indonesia.
Salwa didaftarkan sebagai calon tenaga kerja wanita dengab menyerahkan persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan.
Proses registrasi telah selesai. Salwa diarahkan ke sebuah ruangan untuk pemeriksaan kesehatan. Di ruangan yang didominasi warna putih itu sudah banyak orang yang sedang menunggu antrian.
Cukup lama Salwa menunggu, hingga akhirnya gilirannya pun tiba. Sedikit cemas perasaannya ketika memasuki ruangan yang sedari tadi tertutup dengan beberapa orang bergiliran memasukinya. Namun, apa yang dikhawatirkan Salwa sama sekali tidak beralasan. Petugas kesehatan di sana sangat ramah kepada calon tenaga kerja, sehingga membuat Salwa dan lainnya nyaman dalam menjalani proses pemeriksaan kesehatan.
Satu tes telah selesai dilewati, Salwa melanjutkan tes-tes lain untuk menunjang biografinya.
Akhirnya usai sudah segala prosedur perusahaan dalam merekrut calon tenaga kerja. Salwa dan peserta lain secara berdampingan di ajak untuk menuju kamarnya masing-masing selama menjalani proses pendidikan prakerja.
Sebuah ruangan yang cukup besar dengan beberapa tiang penyangga yang berada di tengahnya. Di dalam ruangan besar itu terdapat lima buah ranjang susun lengkap dengan kasur dan bantal yang sudah tertata rapi.
Salwa meletakkan barang-barangnya dan menatanya di lemari pakaian yang sudah disediakan oleh perusahaan. Salwa menghela napasnya. Ini adalah awal perjalanan Salwa menuju kehidupan yang lebih baik. Semoga setelah ini kehidupan keluarganya yang serba kekurangan berangsur membaik. Ya, semoga saja.
******
Salwa menjalani masa uji coba dengan baik, kemampuannya dalam berbahasa inggris dan otaknya yang cerdas membuatnya dengan mudah menangkap semua pelajaran yang diberikan oleh mentor.
Salwa hanya membutuhkan waktu satu bulan sampai akhirnya dirinya akan diorbitkan menjadi tenaga siap kerja.
Perusahaan sudah menguruskan berkas-berkas yang dibutuhkan, sehingga dalam waktu dekat Salwa sudah siap melakukan perjalanan untuk diberangkatkan ke negara tujuan yang akan mengubah takdirnya.
******
Dalam waktu sesingkat itu, akhirnya waktu keberangkatan Salwa hampir tiba.
Salwa menyempatkan diri untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya dan adik-adiknya. Rasa haru menyelimuti keluarga besarnya itu. Samsul sangat sedih dengan perginya Salwa, ia pasti akan sangat merindukan anak sulungnya itu. Nanun, lelaki paruh baya itu tidak menunjukkan perasaannya secara berlebihan, ia harus memberikan kekuatan dan kepercayaan kepada putrinya.
Karena keterbatasan biaya, keluarga Salwa tidak bisa sekedar mengantar kepergian Salwa ke bandara. Salwa sama sekali tidak keberatan akan hal itu, karena dia tahu benar bagaimana kondisi orang tuanya.
Butuh waktu sekitar lima jam perjalanan hingga Salwa bisa mendarat di Bandara Internasional Hongkong. Ini adalah kali pertama bagi Salwa melakukan perjalanan jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang.
Salwa merasakan begitu gugup ketika pesawat melakukan lepas landas. Akan tetapi, pelajaran yang Salwa dapatkan di dalam asrama cukup banyak membantu sehingga Salwa tidak mengalami banyak kesulitan meskipun iitu adalah yang pertana kalinya bagi Salwa.
Pesawat sudah mendarat dengan selamat. Semua penumpang turun perlahan-lahan. Salwa dengan rombongan calon tenaga kerja sudah ditunggu oleh agen penyalur tenaga kerja di bandara. Mereka berbicara bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Petugas yang memberikan penyuluhan sangat ramah, para wanita yang merasa belum mengerti menjadi tidak sungkan untuk mengajukan pertanyaan.
Sampailah akhirnya mereka diarahkan untuk menunggu di sebuah ruangan berdinding kaca sehingga mereka bisa dilihat dengan jelas dari ruangan lain. Namun, tidak dengan ruangan yang mereka gunakan untuk menunggu.
Semua sudah berkumpul di ruangan itu, satu per satu akan menerima panggilan dari petugas yang berada di ruangan sebelah.
Hampir satu jam lebih Salwa menunggu, dan sampailah akhirnya tiba gilirannya.
Dengan perasaa gugup, Salwa masuk ke sebuah ruangan yang terpisah dengan ruang tunggu. Ia melihat tiga orang pria dan satu orang wanita tengah duduk bersebrangan.
Wanita itu merupakan petugas dari agen penyalur tenaga kerja. Ia mempersilakan Salwa duduk. Ia memperkenalkan dengan dua orang laki-laki yang memakai jaket kulit dan bertato. Salwa sempat takut dengan mereka.
"Nona Salwa, ini adalah calon majikan anda, ini adalah kontrak kerja yang harus anda tanda tangani," ucap wanita yang tertulis Liem Yohan di pin nama yang ia kenakan.
Sebenarnya sebelumnya Salwa sudah menandatangani kontrak kerja saat di yayasan, namun pihak manageman melakukan pembaruan kontrak yang harus ditanda tangani oleh Salwa.
Salwa menerima kontrak kerja dan mempelajarinya dengan cepat. Salwa bersyukur sepertinya memang pekerjaannya bukan hal yang buruk.
Salwa bertugas mengurus rumah dan memasak. Hanya itu saja. Matanya sempat berbinar melihat nominal angka yang akan ia dapatkan dari pekerjaannya itu. Dengan cepat ia meraih pena yang ada di atas meja lalu membubuhkan tanda tangannya dengan nama terang sekali.
Proses selesai, kedua laki-laki itu meminta Salwa mengikutinya untuk mengantarkannya ke tempat di mana Salwa akan bekerja.
Sejenak Salwa edarkan pandangannya ke arah luar, di mana gedung-gedung pencakar langit berjajar dengan angkuhnya, merendahkan manusia di bawahnya seolah mengatakan bahwa akulah yang paling kuat.
Butuh hampir tiga puluh menit mobil yang ditumpangi oleh Salwa akhirnya sampai di tujuan. Mobil tersebut berhenti tepat di depan sebuah apartemen mewah.
Gedung itu menjulang tinggi, begitu megah dan mewah. Salwa sempat terperangah takjub karena ia baru pertama kali masuk ke sebuah apartemen mewah seperti itu. Bahkan mungkin seumur hidupnya belum pernah melihat atau menginjakkan kakinya di bangunan seindah itu.
Salwa mengikuti dua orang laki-laki itu untuk menaiki lift. Ia mencoba mengingat ingat cara mereka menggunakan lift tersebut.
Ruangan sempit yang hanya bisa dinaiki maksimal delapan orang itu dengan perlahan menaiki satu per satu lantai hingga akhirnya terdengar denting lift ya g menandakan mereka telah sampai di lantai yang di tuju.
Salwa mempercepat langkahnya mengikuti ke mana pun dua orang itu pergi. Sampailah mereka berhenti di sebuah pintu bercat putih dengan nomor eksklusif jika dilihat dari urutannya.
Salah satu dari mereka menekan passcode sebagai kunci digital untuk membuka pintu unit apartemen itu.
Meskipun Salwa bekerja di Hongkong, dia tidak mendapatkan majikan berdarah Chinese. Yang Salwa ketahui, majikannya itu adalah keturunan campuran dari kewarganegaraan Kanada juga China.
Seharusnya Salwa harus bersyukur akan hal itu, mengingat majikannya tidak menggunakan bahasa Kantonis seperti kebanyakan warga negara itu, melainkan menggunakan bahasa Inggris.
Dua orang itu menjelaskan tugas-tugasnya secara detil, mereka berdua ternyata bukan majikannya. Dua orang itu adalah bodyguard sang bos besar. Majikan Salwa belum menikah dan tinggal seorang diri, sehingga tugas yang dibebankan kepada Salwa tidak terlalu banyak.
Salwa mendengarkan dengan seksama dan mencatat hal-hal penting di buku kecil yang dibawanya dari Indonesia.
Cukup banyak yang Salwa catat di dalam buku itu. Semuanya sangat detail dan tanpa kecuali. Laki-laki itu juga memberikan Salwa sebuah lembaran kerja, yang merupakan peraturan selama bekerja di sana.
Selesai, kedua orang itu berlalu dari hadapan Salwa, pergi entah ke mana. Salwa segera berberes , ia membersihkan kamar barunya yang tentunya jauh lebih besar dan nyaman daripada kamarnya yang di rumah. Salwa menata barang-barang miliknya.
Dua pria besar tadi mengatakan bahwa Salwa mulai bekerja besok pagi, karena bos besarnya baru pulang nanti malam. Jadi saat ini Salwa memiliki kesempatan beristirahat sambil mempelajari perlatan yang akan ia gunakan bekerja.
Sekitar pukul dua belas malam, Salwa mendengar suara seorang wanita dan seorang laki-laki, ia berfikir mungkin itu adalah majikannya bersama ibunya. Salwa hanya melanjutkan tidurnya tanpa memedulikan apa yang baru saja didengarnya karena besok ia harus bangun pagi-pagi untuk melakukan tugas pertamanya.
.....
》next ya kakak... tinggalin jejak buat Author.. 😊😊😊
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Sunarty Narty
cassanova ne
2022-10-12
0
Wiwin Handayani
agenne nakal iki perlu dilaporno kjri,mana ada tanda tangan pembaharusn kontrak gak seenak gt Ferguso.kontrak kerja i2 lamanya 2 thn gak bs diperbaharui kecuali interminit.i2 pun prosesnya ribet hrs urusan ama imigrasi lg.wahhh thor kurang opservasi
2022-09-05
0
Rice Btamban
tetap semangat Thor
2022-07-01
0