Hari ini Samsul Arifin sudah meninggalkan rumah sakit, Salwa yang tengah liburan sekolah membersihkan rumahnya dibantu oleh ketiga adiknya.
Adiknya yang pertama laki-laki bernama Muhammad Ahsan, sekolah kelas dua sekolah menengah pertama, adik ke dua juga laki-laki bernama Muhammad Alfatih saat ini duduk di kelas enam sekolah dasar, sedangkan adik bungsunya Azlina Humaira masih kelas dua sekolah dasar.
Salwa membersihkan kamar orang tuanya yang berukuran dua kali dua meter itu karena sudah empat hari ditinggalkan pemiliknya.
Sejak pagi ia sudah menyiapkan makanan untuk ketiga adiknya, juga orang tuanya yang sebentar lagi pulang dari rumah sakit. Di meja sudah tersedia nasi putih dengan orek tempe dan tumis kangkung. Makanan sederhana namun sangat berharga bagi keluarga mereka.
Tok-tok-tokk
"Assalamualaikum," terdengar suara ketukan bersamaan suara seseorang dari luar rumah.
"Waalaikumussalam warahmatullah," ucap Salwa dari dalam sambil melangkah keluar untuk membukakan pintu.
"Mbak Tiwi, ada perlu apa?" tanya Salwa kemudian setelah melihat siapa yang datang, seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun berpakaian casual dengan rambut dikuncir kuda yang diketahui Salwa bernama Tiwi
"Mbak boleh masuk gak, mbak mau ngomong sesuatu," ucap Tiwi kepada Salwa.
"Silahkan mbak, ada apa ya mbak pagi-pagi sudah datang?" tanya Salwa kemudian sambil mempersilahkan Tiwi duduk ke dalam rumahnya.
"Anu Salwa, mbak gak lama, mbak cuma mau nawarin pekerjaan ke kamu. Di yayasan mbak lagi butuh tenaga kerja untuk dikirim ke luar negeri, lumayan loh gajinya. Saya tau kalo kamu baru lulus sekolah, terus bapak kamu lagi sakit juga dan butuh banyak biaya buat pendidikan adik-adik yang masih kecil, mungkin kamu tertarik nanti malam bisa ke rumah mbak, ini yayasan resmi bukan yang ilegal, jadi aman." Beber Tiwi memberikan penjelasan kepada Salwa dengan panjang lebar.
Salwa terdiam, sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan kuliah, karena secara nilai memungkinkan bisa masuk ke perguruan tinggi negeri dan mendapatkan beasiswa. Tetapi yang dikatakan mbak Tiwi juga benar, adik-adiknya saat ini sangat membutuhkan biaya untuk sekolah, sedangkan orang tuanya sedang sakit.
"Baik mbak, nanti Salwa akan pikirkan, Salwa ngomong dulu sama bapak dan ibuk," jawab Salwa kemudian.
"Jangan lama-lama loh, soalnya besok mbak repot mau siap-siap berangkat ke Hongkong. Jadi mbak tunggu nanti malam biar besok mbak antar kamu ke yayasan. Kalo gitu mbak pulang dulu ya, salam buat bapak sama ibuk kamu," ucap Tiwi sambil berdiri dan melangkah keluar dari rumah Salwa.
Salwa hanya mematung di ambang pintu sambil memikirkan perkataan Tiwi kepadanya. Apakah ini merupakan jawaban atas doa-doanya selama ini untuk mengentaskan kemiskinan di kehidupan keluarganya? Apakah ia berani bekerja di tempat jauh sendiri?
Banyak hal yang dipikirkan Salwa setelah kepergian Tiwi membuatnya tidak bisa memutuskan dengan benar. Ia kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya lalu menutup kembali pintu rumah itu yang selanjutnya melanjutkan kembali pekerjaan rumah yang sempat terhenti.
🌹🌹🌹
Sekitar pukul sebelas siang Samsul dan Darmini sudah pulang, mereka turun dari angkot lalu berjalan melewati gang-gang kecil yang dibangun rumah-rumah mungil karena hanya berukuran empat kali enam meter . Kawasan hunian yang terlihat agak kumuh dijadikan sebagai tempat tinggal mereka.
Selain biaya sewa yang relatif murah, bahan makanan yang dijajakan pedagang sayur keliling harganya lebih bersahabat daripada di kawasan perumahan yang lebih layak huni.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit sampailah mereka berdua di depan rumahnya. Ahsan yang sudah menunggu berlari menyambut kedua orang tuanya.
"Mbak, bapak dan Ibuk sudah datang!" teriak Ahsan sambil mencium tangan Samsul dan Darmini. Salwa yang mendengar teriakan Ahsan segera berhambur keluar diikuti kedua adiknya.
"Pak, buk sini Salwa bantu bawain barangnya," ucap Salwa sambil mengambil tas dan kantong kresek bekas baju kotor yang sedang dibawa oleh Darmini. Samsul duduk di ranjang bambu yang ada di ruang tamu. Ruang tamu mereka memang tidak terdapat kursi melainkan ranjang bambu yang digunakan oleh anak-anaknya bersantai dan tidur malam.
"Ini pak wedang jahe," Salwa meletakkan wedang jahe hangat di kursi kayu dekat ranjang bambu tersebut.
"Gimana buk kata dokter?"tanya Salwa kemudian kepada Darmini yang saat ini ingin membersihkan dirinya.
"Bapakmu masih gak boleh kerja nak, harus banyak istirahat, jantungnya masih lemah, nanti kalau ada masalah lagi kita periksa ke rumah sakit lagi," ucap Darmini menjelaskan.
"Gimana acara wisudahan kamu kemarin?"tanya Darmini mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah lancar buk, Salwa dapat nilai tertinggi di sekolah." Salwa memberikan senyuman bahagianya kepada kedua orang tuanya.
"Emmm.. buk, Salwa mau bica sebentar sama Ibuk, kita bicara di dalam ya buk, biar bapak gak ke ganggu,"ucap Salwa lirih.
Darmini mengangguk lalu berdiri mengikuti Salwa masuk ke kamarnya.
"Ada apa nak, sepertinya serius?" tanya Darmini kemudian.
Salwa berjongkok lalu berdiri menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan, memegang kedua tangan Darmini yang masih bingung dengan sikap Salwa yang tiba-tiba itu.
"Buk, Salwa mau kerja, tadi mabk Tiwi datang buk, lalu nawarin kerjaan sama Salwa jadi TKW, boleh ya Buk?" bujuk Salwa dengan menunjukkan wajah serius.
"Ibuk gak setuju nak, biar ibuk yang kerja, kamu anak yang pintar, sayang sekali kalau kamu gak melanjutkan sekolahmu." Darmini berusaha membujuk Salwa meskipun baginya adalah hal mustahil kalau dia harus menjadi buruh cuci bisa membiayai pendidikan keempat anaknya seorang diri.
"Buk, tadi bapak kontrakan datang nyariin ibuk, katanya ibuk belum bayar dua bulan ya? Buk, Salwa tau kalau ibuk dan bapak ingin agar kami semua bisa sekolah sampai tinggi. Tetapi buk saat ini bapak tidak bisa bantu ibu bekerja, sedangkan adik-adik masih kecil mereka butuh biaya dan bapak juga butuh biaya berobat. Izinkan Salwa buk, Salwa janji akan menjaga diri Salwa baik-baik," ucap Salwa sambil menangis, ia sudah memikirkan masak-masak keputusannya, mungkin memang ini saatnya ia harus membalas kebaikan kedua orang tuanya.
"Ibuk akan bicara sama bapak dulu,"ucap Darmini sambil berdiri keluar meninggalkan Salwa sendiri.
Sebenarnya Salwa tidak tega meninggalkan keluarganya tapi itu harus ia lakukan karena keluarganya saat ini sangat membutuhkan banyak uang.
Hati Salwa terasa ngilu melihat bagaimana kedua orang tuanya bersusah payah membesarkan dan membiayai dirinya dan ketiga adikya. Apalagi saat ini bapaknya sedang sakit keras butuh banyak uang untuk biaya berobat. Ya, keputusan Salwa sudah bulat. Ia akan maju dengan memantapkan hatinya menjadi seorang pekerja di negeri orang.
Setelah beberapa saat akhirnya Darmini kembali ke kamar memanggil Salwa.
"Nak, bapakmu mau bicara sama kamu?" panggil Darmini kepada Salwa yang masih terduduk di ranjang bambunya.
"Iya buk." Salwa keluar dari kamarnya lalu bergegas menemui bapaknya, ia tahu arah pembicaraannya nanti. Ia menarik napas panjang untuk memberikan kekuatan pada dirinya sendiri.
"Iya pak, ada apa?" tanya Salwa yang sudah berada di samping Samsul Arifin.
"Nak, apa kamu yakin sama keputusan kamu, bapak gak rela kalau kamu kerja jauh-jauh. Kamu nanti bakal susah pulangnya, apa kamu gak cari kerja di dekat-dekat sini saja?"tanya Samsul mencoba membujuk Salwa.
"Bapak jangan khawatir, Salwa bisa jaga diri. Salwa di sekolah ikut ekskul beladiri, nanti kalau ada apa-apa di sana Salwa menggunakan jurus-jurus Salwa untuk menghajar mereka yang berani mengganggu Salwa,"ucap Salwa mencoba menenangkan bapaknya dan meyakinkan kedua orang tuanya bahwa ia bisa menjalani semuanya.
"Tapi nak, bapak masih belum rela kalo Salwa pergi ninggalin bapak, ibuk dan adek-adek kamu,"ucap Samsul menahan kesedihannya
"Pak, bapak harus ikhlasin Salwa. Salwa tidak ingin adik-adik Salwa terbebani masalah biaya sekolah. Salwa ingin mereka fokus belajar, bapak sama ibuk juga tidak perlu bekerja. Biar Salwa yang nyari uang. Bapak sama ibuk cukup selalu doain Salwa supaya bisa menjalani pekerjaan salwa di sana." ucap Salwa kemudian dengan mata berkaca-kaca.
"Ini sudah jadi keputusan Salwa pak,sudah waktunya Salwa bikin bapak sama ibuk bahagia," sambungnya kemudian dengan mencium tangan Samsul. Samsul mengelus kepala Salwa dan mencium kening anak sulungnya itu.
"Baiklah nak, bapak tidak bisa mencegahmu. Semoga kamu baik-baik saja di sana." Samsul akhirnya memberikan izinnya kepada Salwa meskipun hatinya sangat berat, namun tekat kuat anaknya tidak bisa dihalangi lagi.
Sekitar pukul empat sore Salwa menemui Tiwi untuk membicarakan keputusannya menerima pekerjaan. Tiwi sangat senang karena akhirnya Salwa memberi keputusan yang tepat. Besok pagi Salwa harus bersiap-siap untuk menjalani pendidikan sebelum ia bekerja ke luar negeri.
.......
》next ya kakak... tinggalin jejak kuy buat tulisan author
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Wiwin Handayani
thor persturan dr man's lulus sma bs jd tkw iya klo thn 2000 boleh,sekarang min 23 thor.
2022-09-05
0
Rice Btamban
lanjutkan
2022-07-01
0
.sehuniiee
semangat✊✊✊
2022-01-27
0