Sean menghubungi orang kepercayannya yaitu Leon dan Abust. Leon adalah karyawan yang ia ambil dari panti asuhan.
Leon memiliki kecerdasan yang luar biasa, hal itu tidak luput dari pengawasan Sean yang saat itu tidak sengaja bertemu dengan Leon di Supermarket sepuluh tahun yang lalu.
Leon kecil yang masih berusia 12 tahun sedang berjalan di antara kerumunan orang, ia menemukan sebuah dompet berwarna coklat gelap. Ada beberapa lembar uang dollar di dalamnya. Leon kecil yang sedang kelaparan ingin sekali mengambil uang itu untuk membeli sepotong roti yang ada di minimarket. Tapi ia urungkan saat melihat banyak sekali kartu-kartu yang sepertinya penting. Ia berinisiatif mengembalikan dompet itu ke pemiliknya.
Sepertinya rumah pemiliknya tidak jauh dari tempat dompet itu terjatuh. Leon menanyakan ke beberapa orang, akhirnya sampailah ia di sebuah mansion besar, tentunya banyak sekali penjaga di dalamnya. Leon memanggil salah satu penjaga dan bertanya kepadanya.
"Apakah ini tempat tinggal tuan Sean Arthur" tanya Leon kepada penjaga.
"Benar, kamu siapa?"
"Aku ingin bertemu dengannya, apakah boleh"
"Kau sudah ada janji?"
"Tentu, apa dia ada di dalam?"
"Dasar anak kecil tukang bohong, kalau kamu sudah ada janji, kau tidak mungkin tidak tahu saat ini tuan tidak ada ditempat, pergi sana" usir penjaga itu dengan tidak sopan.
"Kalian akan menyesal telah mengusirku" ucap Leon sambil berlalu. Ia kemudian kembali ke tempat minimarket itu berharap ia menemukan pemilik dompet itu. Sean yang sedang kebingungan mencari dompetnya tanpa sengaja menabrak tubuh mungil Leon. Senyum Leon mengembang saat mengetahui orang yang tengah di carinya justru datang kepadanya.
"Sorry, I didn't mean it" ucap Sean kepada Leon kecil.
"Tuan, aku sedang mencarimu" Leon berkata dengan semangat.
"Kau mengenalku?" Ucap Sean tidak percaya. Seketika Leon mengeluarkan dompet yang ia temukan tadi dari dalam saku celananya.
"Apa ini milik tuan? Saya tadi sudah mengantar dompet ini ke rumah besar tuan, tapi saya di usir oleh penjaga yang besar itu".
Sean mengambil dompetnya, ia kemudian mengecek isi dari dompet itu dan semuanya masih utuh. Sean mengeluarkan semua uang dolar yang ada di dompetnya. Dan memberikannya kepada Leon, sebenarnya ia tidak begitu peduli dengan dompet itu. Sean hanya peduli dengan foto ibunya yang hanya satu-satunya kenang-kenangan yang ia miliki.
"Ambil ini" ucap Sean dengan menyodorkan seluruh uangnya kepada Leon.
"Wahh... banyak sekali tuan" ucap Leon dengan mata berbinar.
"Apa kau mau" tanya Sean kepadanya. Leon mengangguk, perutnya sudah sangat lapar , dengan cepat ia mengambil uang itu lalu masuk ke minimarket. Leon kecil memborong roti di supermarket itu dengan keluar membawa satu buah kantung besar berisi roti dan makanan lain. Leon kembali kepada Sean saat ia melihat Sean masih di luar minimarket menunggunya.
"Tuan menunggu saya" ucap Leon terkejut.
"Kalau kau menginginkan uangku dari tadi , kenapa kau tidak mengambil uangnya saja, kenapa kau harus repot-repot mengantarnya dan mencariku sampai ketemu?"tanya Sean penasaran.
"Kalau aku mengambil uangmu berarti aku mencuri, aku tahu kau akan memberiku imbalan setelah aku mengembalikan barang milikmu, aku memang tidak tahu disitu banyak sekali kartu-kartu yang asing bagiku. Tetapi aku juga melihat ada foto seorang ibu yang menggendong anaknya dengan tersenyum dan foto itu terlihat seperti foto lama. Mungkin foto itu sangat berarti bagimu"ucap Leon berterus terang.
"Buat apa kau membeli makanan sebanyak itu" tanya Sean heran.
"Aku membeli dengan jumlah banyak, aku mendapatkan harga yang bagus, besok aku mau menjualnya di sekolah, ini adalah makanan favorit anak-anak. Aku akan mendapatkan banyak keuntungan dengan menjual ini" ucap Leon bersemangat.
Sean terkagum-kagum dengan kepolosan dan kecerdasan Leon. Setelah mengetahui Leon adalah anak yatim piatu, Sean mengangkatnya sebagai adik karena usia mereka berbeda 7 tahun.
Sedang Abust adalah anak pertama pamannya yang tidak diakui karena hasil dari hubungan terlarang, Sean tidak sengaja bertemu dengannya saat ia menangis meratapi ibunya yang telah meninggal.
Sean baru menyadari bahwa anak itu adalah anak kandung pamannya saat melihat foto almarhum ibunya. Wanita itu adalah wanita yang sering menemui neneknya agar pamannya mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun karena keluarga Sean adalah keluarga terpandang, neneknya mengusir wanita hamil tua itu dan memberi uang sebagai imbalan. Wanita itu hanya bisa pasrah atas perlakuan nenek Sean karena tidak mempunyai kekuasaan yang bisa mendukungnya.
Meskipun mereka bukan saudara kandung, tapi mereka sangat setia dan royal kepada Sean.
.................*******..............
"Sean , apakah kau terluka?"tanya Abust setelah sampai di tempat Sean.
"Aku tidak apa-apa, aku menyerangnya terlebih dulu sebelum dia mengetahui keberadaanku" ucap Sean kemudian.
"Kau sangat ceroboh, bagaimana kau bisa meliburkan bodyguardmu sehingga kau tanpa perlindungan" ucap Abust kesal terhadap tingkah Sean yang membahayakan nyawanya.
"Kau tenang saja, ini belum seberapa. Yang Pouhan akan membalaskan dendam adiknya sebentar lagi, aku sudah menghabisinya dan mengirimkan mayatnya ke rumahnya"ucap Sean dengan mata tajam.
"Kau harus memperketat penjagaan, atau kau bisa kembali ke mansion mewahmu, di sana lebih aman bagimu dari pada di apartemen ini" saran Abust kepada Sean.
"Kau jangan bodoh, aku tidak akan membawa bencana masuk ke dalam rumahku. Aku bisa menghadapinya di sini" ucap Sean kemudian. Ia meraba lengannya sepertinya ia sempat terkena sedikit goresan peluru sehingga membuat tangannya terluka dan berdarah.
"Hey.. kau terluka, dimana kotak obatmu, aku akan mengobatimu"tanya Abust kepada Sean. Tiba-tiba Leon muncul dengan nafas yang terengah-engah.
"Kau di serang bos" ucapnya dengan memegang dadanya sambil mengatur pernapasannya.
"Darimana saja kau" ucap Sean
"Sorry.. aku tadi sedang bersama wanitaku, siapa yang melakukannya?"tanya Leon kemudian.
"Xiau Pouhan adik dari Yang Pouhan, entah dia punya dendam apa dia padaku"Sean mengingat-ingat sesuatu, sepertinya ia melupakan suatu hal.
"Sial, aku melupakan gadis itu" ucap Sean kemudian. Sean berlari ke dapur, ke kamar pelayan dan ke ruangan-ruangan lain. Ia tidak menemukan Salwa.
"Gadis siapa yang kau cari bos?
Apa kau tadi sedang bercinta dengan seorang gadis saat di serang?" Tanya Leon kepada Sean yang masih kebingungan mencari seseorang.
"Diam kau, jangan samakan aku denganmu" bentak Sean yang geram dengan perkataan Leon.
"Apa dia kabur seperti yang lain, sayang sekali padahal kerjanya bagus meskipun kelihatan masih sangat belia" pikir Sean kemudian.
Sean masuk ke dalam kamarnya untuk berganti baju karena bajunya sudah berlumuran darah. Saat ia membuka pintu, pintunya terasa berat seperti ada yang mengganjal, ia memasukkan sedikit kepalanya untuk melihat benda yang mengganjal pintunya tersebut. Sean terkejut melihat gadis yang dicarinya ternyata pingsan di bawah pintu.
.......
》next yaa kakak... tinggalin jejak buat Author..🤗🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Sunarty Narty
wah siapa yg g shock baru kerja udh menghadapi masalah kaya gini
2022-10-12
0
epifania rendo
ya sdh tua sean
2022-08-20
0
Rice Btamban
lanjutkan
2022-07-01
0