Cinta, Kau datang dengan perlahan-lahan, diam-diam menyusup ke dalam hati, tapi kenapa kau pergi juga tanpa pemberitahuan? hingga membuat perasaanku padamu tidak berarti.
____________________________________________
Angga sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya saat Asisten Jang mendekatinya, Angga lalu menatapnya.
"Ada apa?, " kata Angga dingin.
" Ada telepon dari rumah Anda, Judy mengatakan bahwa Nona Mika sudah bangun," kata Asisten Jang.
"Benarkah? Baiklah, katakan padanya aku akan pulang saat makan siang," kata Angga.
"Baik Tuan," kata Asisten Jang lagi, dia langsung mengirim pesan kepada Judy.
"Asisten Jang, bisakah kau cari seseorang bernama Aksa?," kata Angga lagi, dia ingat Bella mengucapkan nama itu semalam.
"Aksa? Apa yang Anda maksud adalah Pangeran Aksa Luthier Huxley? " kata Asisten Jang lagi.
"Aksa Luthier Huxley?" kata Angga menatap Asisten Jang dengan kerutan dahi. Dia pernah mendengar nama itu, dia juga pernah mendengar reputasinya, dia orang yang suka berpesta dan dikelilingi banyak wanita, pria itu juga punya sifat dan kelakuan yang kurang baik. Kalau memang pria itu yang dimaksud oleh Bella, maka dia bisa membayangkan buruknya nasib Bella.
"Benar, beliau Pangeran mahkota yang akan menjadi pewaris dari keluarga kerajaan, secara garis keluarga, dia adalah sepupu Anda," kata Asisten Jang menjelaskan.
Angga terdiam, jika benar Bella adalah seorang Putri Alexandrite, maka dia memang seharusnya menikah dengan pangeran mahkota, kalau begitu pria yang ingin membunuhnya itu adalah calon suaminya atau malah sudah menjadi suaminya. Angga makin penasaran ada apa dengan Bella?
"Apa jadwalku setelah ini?" kata Angga lagi.
"Sesuai jadwal hari ini Anda kosong hingga sore, tidak ada rapat ataupun pertemuan, apakah Anda ingin inspeksi mendadak lagi?" kata Asisten Jang.
"Tidak, aku ingin pulang, siapkan mobil," kata Angga
Asisten Jang mengerutkan dahinya, yang benar? Tuan Angga tak pernah pulang ke rumah sepagi ini, bahkan kadang dia bisa lupa waktu hingga tengah malam baru pulang ke rumah, kenapa baru jam 10 dia sudah ingin pulang?, jangan-jangan dia salah dengar.
"Maaf Tuan, Anda ingin pulang?" kata Asisten Jang memastikan sekali lagi.
"Iya, memangnya ada yang salah?" kata Angga menatap Asisten Jang.
"Tidak Tuan, saya akan siapkan mobil Anda," kata Asisten Jang yang keheranan.
Angga segera menyelesaikan semua pekerjaannya, lalu setelah selesai dia segera turun dan menuju ke rumahnya.
Bella sedang menyusuri rumah yang luas itu, berjalan-jalan melihat setiap sudut rumah itu, sangat rapi dan bersih, semua tersusun dengan baik, setiap ruangan punya konsepnya masing-masing, namun yang paling menarik perhatiannya adalah ruang tengah dengan dinding kaca itu, Bella benar-benar bisa menikmati pemandangan itu berjam-jam lamanya.
Dia memandang ke salah satu dinding ruangan, terdapat foto seorang gadis dengan senyuman yang begitu manis, Bella mendekatinya, menatapnya dengan penasaran, pasti wanita ini adalah pacar Angga, karena di lihat dari fotonya yang diletakkan di tempat yang sangat istimewa, foto itu percis di tengah-tengah ruangan itu, sehingga jika berada di ruangan itu, pasti yang paling mencolok adalah foto gadis itu. Gadis itu pasti sangat beruntung … memiliki pria sebaik Angga, Bella jadi bertanya-tanya, jika pacar Angga tahu dia sekarang tinggal di rumahnya, apa dia tidak akan marah?.
"Namanya Mika," kata Angga yang baru saja sampai di rumahnya, Judy memberikan hormat padanya, sambil menerima jas yang di buka oleh Angga. Judy lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Bella memperhatikan Angga, dari saat pertama kali mereka bertemu Bella tak bergitu memperhatikan bagaimana penampilan dari Angga, ini pertama kali Bella mengamatinya, pria ini ternyata sangat tampan, dengan wajah dan tubuhnya yang tampak begitu sempurna, tak ada cacat sedikit pun terlihat. Terlihat begitu rapi dan berwibawa, kesan dingin di wajahnya malah menjadi daya tarik sendiri baginya.
"Selamat datang," kata Bella memberikan salam, Angga menatap Bella yang jauh lebih cerah, apa lagi dengan riasan tipisnya itu.
Angga tidak membalas perkataan Bella, dia hanya berjalan dan berdiri tepat di sebelah Bella yang kembali mengamati wajah Mika yang ada di foto itu.
"Pacar Anda cantik sekali, ehm … maaf, tapi apa dia tidak keberatan jika aku ada di sini, aku tidak ingin jadi perusak hubungan kalian," kata Bella menatap Angga yang sedang melihat foto Mika yang tergantung di sana.
"Dia tidak akan marah, malah jika dia marah padaku, aku akan senang," kata Angga dengan lirih. Bella menangkap kesedihan itu, dia jadi merasa bersalah berkata seperti itu.
"Aku bahkan tidak tahu dia ada di mana? Apa dia masih hidup atau sudah meninggal," kata Angga lagi tetap menatap foto Mika dengan nanar. Bella terdiam … dari tatapan itu Bella bisa tahu betapa Angga mencintai wanita di foto itu.
" Dia … ?"
"Terjun dari tebing, menceburkan dirinya ke laut tepat 3 hari sebelum pernikahan kami," kata Angga mengenang, senyuman luka terlihat di wajahnya. Bella kembali terdiam, dia mengigit bibirnya, di balik wajahnya yang dingin, ternyata pria ini penuh dengan luka.
"Maafkan aku," kata Bella.
"Pangeran Aksa Luthier? Dia suamimu?" kata Angga menatap Bella,
Bella tampak kaget, bagaimana dia bisa tahu?. Mendengar nama itu, hatinya langsung nyeri, sangat nyeri hingga membuat seluruh badannya pun nyeri, kengerian terlihat di matanya, dia kembali ingat begitu dinginnya tatapan Aksa saat ingin membunuhnya.
"Dari mana kau tau dia?" kata Bella lagi dengan bibir begetar.
"Kau menyebut namanya kemarin sebelum kau tidur, kau mengatakan dia ingin membunuhmu," kata Angga lagi.
Bella mengigit bibirnya, dia benar-benar tidak ingat pernah mengatakan itu.
"Dia … memang suamiku, di malam pernikahan kami, dia mengatakan jika ibuku tetap ingin hidup, malam itu aku harus mati, aku takut terjadi apa-apa dengan ibuku, aku memilih untuk mati, dia mendorongku ke laut malam itu," kata Bella dengan mata kosong mengingat apa yang terjadi malam itu, kengerian itu membuat badannya gemetar hebat, seakan ada seember air dingin menguyurnya. Melihat tubuh Bella yang gemetar, Angga jadi merasa sedikit bersalah menanyakannya.
"Duduklah, tubuhmu gemetaran," kata Angga lagi dengan sedikit nada khawatir. Bella lalu duduk, dia lalu mencoba menenangkan dirinya lagi, dia tidak ingin terlalu terlihat menyedihkan di depan Angga.
Angga duduk di depannya, menatap wanita itu, ternyata dia sudah melewati hal yang begitu mengerikan. Angga tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Bella waktu dia tahu dia harus memilih kematian atau ibunya, pria itu selain bersifat buruk, juga sangat kejam, dia sedikit marah mengetahui bahwa mereka adalah sepupu.
"Dia sudah menyatakan kematianmu karena kecelakaan," kata Angga lagi, Bella menatap Angga, dia sedikit tersenyum putus asa. Air matanya mengumpul di sudut matanya.
"Yah, aku sudah tahu, dia pasti melakuan itu," kata Bella lagi.
"Kenapa dia ingin membunuhmu?" kata Angga tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Karena jika dia ingin menikah dengan orang lain, aku harus mati, jika tidak selamanya dia tidak akan bisa menikah dengan wanita selingkuhannya itu, " kata Bella dengan kebencian yang tampak di matanya.
"Jadi suamimu punya wanita lain?"
"Ya," kata Bella dengan senyuman kecut. Angga tampak kasihan menatap Bella, Wanita ini, semakin dia tahu kehidupannya, ternyata semakin kasihan hidupnya, seperti hidupnya hanya penuh dengan luka.
"Bagaimana kau bisa menjadi Putri Alexandrite?" kata Angga lagi.
"Usiaku masih 5 tahun saat pihak kerajaan membawaku dari rumah, aku tidak ingat bagaimana?, yang ku ingat, aku terbangun dan aku sudah ada di kastil di perbukitan utara, di sana aku habiskan waktuku, tidak pernah lagi bertemu dengan orangtua ku, aku di besarkan atau lebih tepatnya dikurung di sana, karena aku sama sekali tidak boleh keluar, Aku belajar semua tentang kerajaan dan menjadi putri yang sempurna, menunggu hingga Pangeran siap untuk menikah dengan ku," kata Bella menerawang.
"Perbukitan utara? Pantas saja itu menjadi tempat terlarang," kata Angga sedikit menarik sudut bibirnya, Pihak kerajaan memang sangat licik.
"Iya, karena di sana adalah tempat para putri ditempa, kami belajar semuanya di sana, terisolasi dari perkembangan dunia, yang kami tahu hanya bagaimana menjadi Ratu dan menjadi istri yang baik untuk Pengeran," kata Bella tersenyum kecut.
"Pantas saja saat aku mencari tentang dirimu kau tidak pernah ada di database mana pun," kata Angga lagi.
"Tentu, bagi dunia aku tidak pernah ada, aku akan ada ketika aku sudah menjadi istri pangeran, tapi aku hanya jadi istri pangeran 1 hari dan setelahnya dinyatakan sudah meninggal, itu terasa lucu," kata Bella tersenyum sedikit menertawakan dirinya sendiri.
Angga bisa menangkap itu. Menatap wanita di depannya, dia tahu penderitaan Bella, dari kecil di pisahkan dari orang tuanya, hidupnya di kurung tanpa bisa keluar, tidak bisa menentukan arah hidupnya, tidak boleh bermimpi menjadi apapun, karena dia harus menjadi seorang putri yang sempurna walaupun itu bukan keinginannya, bahkan untuk urusan jodoh, dia hanya punya 1 pilihan, seorang Pangeran, dan tidak semua pangeran itu juga menyukai mereka. Sialnya bagi Bella, Pangerannya malah ingin melenyapkannya. Adakah lagi kehidupan kehidupan yang lebih parah dari itu?.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
Mimilngemil
😱
Sepupu Angga
berasa sempit ya dunia
2023-12-10
0
💠⃟⃝♠Yeyen
kisah Bella sungguh menyesakkan.
SEMANGAT Thor 🤗
2023-11-26
1
Andien
sama kisah sedihnya
2022-06-20
0