Saat pertama kali aku melihat kedua matamu, di detik itu pula aku memutuskan, Aku ingin selalu ada di setiap lembar-lembar cerita hidupmu.
___________________________________________
Angga baru saja selesai memimpin rapat pagi itu, dia berdiri, semua karyawan menatapnya dengan serius.
Umurnya masih 12 tahun, saat dia sudah mewarisi seluruh kekayaan dari orang tuanya yang meninggal secara mendadak karena kecelakaan pesawat yang mengenaskan, sekarang di usianya yang masih 27 tahun, dia adalah CEO paling sukses di negaranya.
Angga itu orang yang sangat dingin, bukan hanya wajahnya yang dingin, namun kelakuannya pun begitu, dia tidak segan-segan untuk memecat seluruh karyawan yang menurutnya tidak sesuai dengan pemikirannya. Para karyawannya menamainya 'The Himalayan Boss' karena jika sedikit saja salah langkah, mereka akan langsung masuk jurang.
Angga keluar dari ruang rapat, para karyawan langsung bernapas lega, seperti dari tadi sedang ada di kandang macan. Angga berjalan terus menuju ke ruangannya, Asisten Jang mengikutinya dengan setia dari belakang. Semua karyawan memberi hormat padanya, namun Angga seolah tak melihat mereka.
Hidup sendiri sejak umur 12 tahun menempahnya menjadi orang yang jarang tersenyum, satu-satunya orang yang bisa membuatnya tersenyum hanya Mika, dan Mika juga sudah meninggalkannya.
Dia membuka pintu ruang kerjanya yang luas, sangat mewah dengan dinding-dinding kaca yang menyuguhkan seluruh pemandangan kota yang sangat indah jika di perhatikan, sayangnya bahkan Angga tak pernah menatapnya lagi.
Angga adalah orang yang *w*ork holic, semenjak kematian Mika, hidupnya tidak lagi punya tujuan, jadi dia hanya melampiaskannya dengan bekerja. Dia duduk di kursi kerjanya. Menatap dengan sangat dingin ke arah laporan-laporan yang di berikan.
"Maaf tuan, saya menganggu," kata Asisten Jang.
"Ya, ada apa?" kata Angga.
"Pihak rumah sakit tadi menghubungi, mereka mengatakan bahwa Nona Mika sudah sadar."
Angga terhenti, dia seperti berpikir.
"Jam berapa jadwalku kosong?" kata Angga lagi.
"Hingga sore ini jadwal Anda penuh," kata Asisten Jang.
"Oh, Baiklah, Jadwalkan aku ke sana setelah dari sini," kata Angga.
" Malam ini, utusan kerajaan mengundang Anda untuk bertemu."
"Batalkan, sudah aku bilang aku tidak akan ingin berurusan dengan keluarga kerajaan, " kata Angga.
"Baik Tuan," kata Asisten Jang dengan cepat undur diri.
Kota itu memang dulunya diperintah oleh seorang raja, namun seiring perkembangan zaman dan waktu, kerajaan tidak lagi mencampuri urusan pemerintahan, namun memiliki hak khusus yang di berikan karena mengingat mereka adalah keluarga yang berkuasa dulu, dan Angga memiliki darah keturunan dari kerajaan, kakeknya dulunya adalah putra mahkota yang dengan suatu alasan meninggalkan tahta dan kerajaan itu. jadi secara tehnis bisa dibilang dia adalah seorang pangeran.
Sore itu Angga baru saja ingin keluar dari ruangannya, dia ingin siap-siap untuk menemui gadis yang ada di rumah sakit itu. Dia baru saja ingin berdiri ketika tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangannya. Tentu dia tidak suka dengan hal itu.
"Selamat sore Tuan Angga Xavier Huxley," kata Pria itu mendekati Angga.
Angga mengerutkan dahinya, dia tidak pernah menggunakan nama lengkapnya di mana pun? Bagaimana pria ini bisa tahu?.
"Apa kau tidak punya sopan santun? Masuk ke dalam ruangan seseorang tanpa izin?" kata Angga dingin.
"Maafkan hamba, namun keadannya sungguh mendesak," kata pria itu mendesak.
"Siapa kau Ini?" kata Angga lagi.
"Nama saya Phillip, seorang pelayan kerajaan," kata Phillip sopan.
"Apa kau tidak pernah di peringatkan oleh asistenku? Aku tidak ingin ada urusan dengan keluarga kerajaan," kata Angga lebih dingin.
"Tapi Tuan, bagaimana pun kakek bunyut Anda adalah Raja Iverson, Yang mulia ingin bertemu dengan Anda, keadaannya memburuk," kata Phillip menerangkan.
"Itu bukan urusanku, keluargaku sudah keluar dari lingkaran kerajaan, dan aku tidak berminat untuk kembali lagi ke kerajaan, dan maaf, aku harus pergi," kata Angga berdiri lalu berlalu meninggalkan utusan keluarga kerajaan itu.
Angga segera menuju mobil yang sudah menunggunya, dengan cepat mobil itu membawanya ke rumah sakit. Begitu dia sampai, seluruh staff rumah sakit langsung berbaris menyambutnya, memberikan salam untuknya. Namun Angga menganggapnya hanya angin lalu saja.
Asisten Jang lalu membawanya ke kamar rawat Mika, dengan sigap Asisten Jang membukakan pintu untuk Angga, Angga mengeluarkan gestur agar Asisten Jang menunggu di luar. Dia masuk sendiri, pintu di tutup oleh Asisten Jang.
Angga masuk perlahan, melihat kearah ranjang, gadis itu masih tertidur, dia menatapnya.
Bagaimana gadis ini malah tidur saat aku datang?. Pikirnya, dia terbiasa selalu di sambut di mana pun.
Gadis itu tidak terlihat terlalu pucat lagi, bibirnya yang kecil sudah mulai memerah, jika dilihat dari dekat begini, ternyata wanita itu sangat cantik, wajahnya berbentuk hati dengan kulit putih sehalus lapisan salju, alisnya tebal tersusun rapi, bulu matanya sangat lentik, hidungnya yang mancung terpahat indah dan bibirnya bagai kelopak mawar. Angga cukup terkesima melihat kecantikannya.
Mungkin karena merasa ada yang memperhatikan, gadis itu membuka matanya perlahan-lahan, Angga terdiam, dia tertegun melihat kedua bola mata wanita itu. Dia baru melihat bola mata yang seperti itu, gadis ini punya 2 bola mata yang berbeda, mata sebelah kanannya berwarna coklat terang, sedangkan mata kirinya berwarna biru safir.
Gadis itu menatap dengan sangat nanar, seolah dua bola matanya bercerita kesedihan di dalamnya. Angga terus menatapnya.
"Siapa namamu?" Kata Angga dengan suara beratnya dan masih dengan nada dinginnya.
Gadis itu hanya manatap, seolah tak punya keinginan menjawab Angga. Angga mengerutkan dahinya, sedikit tidak sabar karena gadis itu seolah mengabaikannya.
"Kau ini memang tidak ingin menjawab atau bisu?" Kata Angga lagi.
Tapi gadis itu tak bergeming, dia malah membuang pandangannya ke arah lain, tak ada yang pernah melakukan itu pada Angga, terutama seorang gadis, dia tampan, sangat tampan, dan biasanya gadis-gadis akan terpesona melihatnya, tak terhitung berapa wanita yang sudah mencoba mengodanya selama 2 tahun ini, tapi tidak gadis ini, dia malah menganggap Angga angin lalu.
Angga yang merasa diabaikan, langsung merasa kesal, dia lalu berbalik dan keluar, saat dia keluar dengan wajah kesal, seluruh staf yang ada di sana menegang. Asisten Jang saja sampai takut.
"Panggilkan dokter yang menanganinya ke ruangan ku," kata Angga, lalu meninggalkan tempat itu menuju ke arah ruangannya. Salah satu dokter di sana langsung pucat pasi.
Angga segera duduk di ruangan pribadinya di rumah sakit itu, tak lama dokter itu datang.
"Selamat sore Tuan Angga," kata dokter itu.
"Jelaskan padaku keadaannya?" Kata Angga, bahkan tak melihat dokter yang susah bercucuran keringat itu.
"Keadaan Nona Mika stabil, dia sembuh dengan sangat baik, bahkan menurut saya dia bisa sampai begini adalah keajaiban, keadaanya benar-benar di ambang kematian, namun hanya beberapa hari, dia pulih seolah tak pernah dalam masa kritis," kata Dokter itu lagi.
"Keajaiban?" Kata Angga menatap dokter itu, Angga tak pernah percaya akan ke ajaiban, kalau ke ajaiban itu ada, dia ingin orang tuanya selamat dalam kecelakaan itu, kalau keajaiban ada, dia ingin keajaiban itu menuntunnya pada Mika.
"Ya, seolah dia lah yang menyembukan dirinya sendiri, pertolongan kami hanya berusaha membuatnya tetap hidup, tak di sangka bahkan dia sekarang bisa duduk dan berdiri tanpa hambatan apapun".
"Bagaimana dengan matanya?"
"Dia mempunyai kelainan langka bernama Heterochromia Iridum, itu bisa terjadi karena kelainan genetik dan keturunan, itu tidak ada hubungannya dengan kecelakaan ini, dia sudah memilikinya sejak lahir, tapi ... " Kata dokter itu terpotong.
"Tapi apa?" Kata Angga memperhatikan dokter itu seksama.
"Aku rasa dia mengalami depresi berat, dia tidak mau bicara, dia juga sering termenung, aku rasa memang dia tidak ingin di selamatkan," kata dokter itu lagi.
"Maksudmu?," kata Angga.
"Nona Mika memang bermaksud bunuh diri, dia ada di laut karena dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri, karena itu saat dia sadar, dia malah menangis," kata dokter itu lagi.
Mendengar itu Angga nama Mika tersebut oleh dokter itu dia merasa tidak senang, apa lagi dokter itu bilang Mika tidak ingin di selamatkan?. Pikirannya terbang ke Mikanya, apa jika dia ditemukan, dia juga tidak ingin di selamatkan?.
"Seseorang yang depresi dan sudah melakukan percobaan bunuh diri, kemungkinan untuk melakukannya lagi akan ada," kata Dokter itu lagi.
Angga menatap dokter itu dengan dingin, menatapnya lama, membuat dokter itu gugup.
"Keluarlah, dan jaga dia agar tidak melakukan hal bodoh lainnya," kata Angga
"Baik Tuan, " kata Dokter itu berlalu, dia bisa bernapas lebih lega sekarang.
Angga masih duduk, pikirannya melayang, dia ingat tatapan kedua bola mata gadis itu, begitu indah namun juga memberikan rasa yang menyakitkan. Entah kenapa tatapan itu terasa menusuk dirinya, rasanya gadis itu berbagi kesedihan hanya dengan tatapannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
Mimilngemil
kok kaya mata kucing ya?
Apakah Mika mulai tersingkir ?
2023-12-10
0
Mimilngemil
Xavier Huxley , sodara Rain Huxley
2023-12-10
0
Mimilngemil
Masih misteri kenapa Angga ditakdirkan sendiri. Hemm...
2023-12-10
0