Aku bertanya pada sang awan, bagaimana caranya agar cinta ini dapat ku lawan?, karna hanya dengan suaramu saja bahkan rinduku tak bisa lagi tertahan.
____________________________________________
Angga merebahkan tubuhnya di sofa putih yang ada di ruangannya, masih di rumah sakit itu. badannya terasa cukup lelah hari ini, namun pikirannya lebih lelah.
Entah sudah berapa lama dia seperti ini, rasanya selalu ada beban yang dia pikul di pundaknya, terasa sangat berat, hingga terkadang dia tidak bisa memikulnya lagi.
Dia memejamkan matanya sebentar, menyerahkan segala lelahnya sejenak. Sebelum pintu ruangannya di ketuk seseorang, dia segera memperbaiki posisinya.
"Masuk," katanya dengan suara beratnya.
Asisten Jang masuk tergesa-gesa, matanya memancarkan kecemasan yang sangat.
"Ada apa?," kata Angga paham akan situasi.
"Nona Mika, dia ada di atap, duduk di tepian gedung Tuan," kata Asisten Jang panik.
Mendengar itu Angga langsung berdiri, dia lalu bergegas naik menuju ke atas, dia bahkan tidak menggunakan lift, langsung mengunakan tangga darurat.
Dia bahkan lari tergesa-gesa ke pintu yang ada di atap, di sana sudah berkumpul beberapa orang yang sepertinya mengawasi Mika.
"Bagaimana bisa terjadi begini?" kata Angga dengan wajah panik.
"Kami juga tidak tahu, tiba-tiba saat saya kembali ke kamarnya, Nona Mika sudah tidak ada, dia bahkan mencabut infusnya dengan paksa, untungnya gara-gara darahnya yang menetes kami bisa tahu dia di atas, saat kami datang, dia sudah duduk di sana, hingga sekarang dia masuk duduk, tapi kami tidak berani mendekatinya, takut dia akan melakukan hal yang tak diinginkan," kata Dokter itu.
Angga membuka sedikit pintu atap itu, dia melihat 'Mika' sedang duduk di sana, Angin berhembus sangat kencang, menerbangkan rambutnya yang terurai indah. Perlahan dia memberanikan dirinya untuk mendekati Mika, perlahan-lahan hingga bahkan Mika pun tidak menyadarinya.
Angga memperhatikan Mika yang terlihat kembali memucat, matanya kosong menatap ke arah depan, kakinya di gerakkan naik dan turun, seolah anak kecil yang menikmati duduk di kursi taman. Dia seakan merasa sangat nyaman duduk di atas gedung yang begitu tinggi, menikmati angin yang makin lama makin menusuk masuk ke pori-pori.
Angga memperhatikan tangan kiri Mika yang berlumuran darah, sepertinya darahnya sudah mengering, dia masih tidak terganggu akan kedatangan Angga di sampingnya, terus saja menatap lurus dengan mata kosongnya yang indah.
Angga perlahan-lahan duduk di sampingnya, duduk sedekat mungkin dengannya, namun tidak juga menganggu Mika. Mereka hanya diam, Angga mencoba menanti, mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengannya, mencoba mengerti dan memahami kondisi Mika saat ini, tapi ternyata dia sendiri pun mulai terhipnotis dengan suasana malam yang tenang, larut dengan kesepian yang membangkitkan semua kenangan, hanya gemuruh angin yang terdengar.
"Jangan lompat," kata Angga perlahan pada Mika.
"Aku tidak akan lompat," kata Mika dengan suaranya yang lembut.
Angga diam, baru kali ini dia mendengar suara wanita yang dia beri nama Mika ini, suaranya begitu lembut hingga membuai.
"Apa masalahmu hingga memutuskan untuk bunuh diri dengan terjun ke dalam laut dengan gaun pengantin?," tanya Angga, ini pertanyaan yang ada di kepalanya 2 tahun ini, sebenarnya pertanyaan ini ingin tanyakannya pada Mika yang asli, namun ternyata dia mengeluarkannya pada wanita ini.
"Kalau aku ingin bunuh diri aku tidak akan memilih cara dengan menceburkan diriku ke laut, jika aku mau bunuh diri, aku tinggal melompat dari sini dan pasti akan mati seketika," kata Mika itu dengan penuh kesedihan dan perasaan.
Dia tak pernah ingin mati, tapi merekalah yang menginginkannya mati, dia ingin hidup walaupun hidup tak pernah adil padanya.
"Lalu apa masalahmu hingga berakhir di sana?" kata Angga, dia sebenarnya bukan orang yang suka berbicara, namun entah kenapa saat ini dia begitu penasaran.
Gadis itu menatap Angga, senyumannya begitu menyiratkan keputusasaan. Angga menatap kedua bola matanya yang menghipnotis, namun juga tampak bergitu kosong, Angga terperangkap dalam tatapannya yang mengugah rasa yang tidak dapat di jelaskannya, air matanya turun begitu saja melewati pipinya yang putih itu.
"Mereka memanggilku Bella," Kata Gadis itu.
Angga mengerutkan dahinya.
"Aku tak tahu nama asliku, aku tak ingat, tapi mereka memanggilku Bella sejak aku dipisahkan dari orang tuaku," Kata Bella lagi.
Angga hanya terdiam, tak merespon, mencoba menjadi pendengar yang baik, ingin Bella merasa nyaman karena bagaimana pun sekarang mereka duduk di tepi gedung berlantai 10.
"Aku adalah Putri Alexandrite," kata Bella menatap Angga.
Angga tampak tak bisa menutupi ke kagetannya.
"Kau apa?," kata Angga.
"Aku Putri Alexandrite."
Angga tetap tidak percaya apa yang dengarnya, Seorang Putri Alexandrite?. Angin berhembus makin kencang membuat Angga dan Bella mulai agak gamang di atas sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
Mimilngemil
Keren K Quin 👍👍
2023-12-10
0
💠⃟⃝♠Yeyen
ternyata Bella bukan orang biasa..
puisinya bagus Thor.. SEMANGAT 🤗
2023-11-26
1
Bu herdin
baca ulang😍😍
2023-02-14
0