Pada malam aku bercerita, tentangmu yang tercinta, tentang caraku membuatmu tertawa, walau bukan namaku yang kau sebut dalam setiap doa.
____________________________________________
Dulu, ada seorang Pangeran yang jatuh cinta pada gadis biasa, namun gadis itu dibunuh oleh pihak kerajaan dengan sangat sadis, karena itu Pangeran memutuskan untuk menghunus pedang pada jantungnya, namun sebelum dia bunuh diri, dia mengatakan kutukannya bagi pangeran-pangeran setelahnya bahwa siapa saja Pangeran yang tetap menikahi gadis bangsawan, maka nasib buruk akan menimpa mereka.
Namun mencari gadis dari kalangan rakyat biasa yang sesuai untuk dinikahkan pada Pageran itu bukan hal yang mudah, mereka tak sebanding dengan gadis-gadis bangsawan yang telah terdidik sejak kecil, maka diam-diam kerajaan menculik para gadis cilik yang memiliki potensi untuk mereka didik hingga menjadi seorang yang pantas menjadi Putri, mereka menyebut gadis itu Putri Alexandrite, yang di ambil dari sebuah batu paling langka, di mana batu itu bisa berganti warna menjadi begitu indah.
Angga menatap Bella begitu dalam, melihat kecantikannya yang nyaris sempurna, jika memang benar yang di katakannya, maka dia memang cocok menjadi seorang Putri Alexandrite.
"Aku kira itu cerita tentang Putri Alexandrite hanya sebuah kisah dongeng," kata Angga tak percaya.
"Ibuku dulu suka menceritakan kisah itu, aku tak tahu kalau aku sendiri akan merasakannya," kata Bella, dia memalingkan wajahnya kembali menatap lampu kota itu, tampak indah sekaligus mengerikan.
Bella tampak memperhatikan jalan yang ada di bawah kakinya. Dia memeluk dirinya sendiri, merasakan angin yang makin seperti jarum jarum kecil yang menusuk.
Angga memperhatikan, dia lalu tahu, membuka jasnya dan meletakkannya pada tubuh Bella, dia berdiri perlahan, cukup gentar akan posisinya, saat dia sudah berdiri dengan benar, dia menjulurkan tangannya.
"Aku rasa kau sudah cukup menikmati malam ini, bagaimana jika kembali ke kamarmu," kata Angga tak bisa menolak untuk tidak peduli pada gadis ini, padahal biasanya dia bisa dibilang pria paling tak punya rasa empati.
Bella menatap Angga yang masih menjulurkan tangannya. Dia tersenyum sedikit, membuat semua hati akan meleleh karena kecantikannya. Angga menarik Bella, hingga dia bisa berdiri dengan baik.
Begitu Bella berdiri di tempat yang aman, para dokter dan suster yang dari tadi menunggu langsung berdatangan, mereka langsung membawakan kursi roda, berusaha untuk menjaga Bella agar tak melakukan hal yang tidak-tidak lagi. Bella duduk di kursi rodanya, dia menatap Angga sebentar.
"Terima kasih Tuan sudah menolongku," kata Bella.
"Nama ku Angga, panggil saja Angga," kata Angga tampak menarik sedikit sudut bibirnya.
Bella tidak menjawab, dia hanya sedikit tersenyum lalu para dokter membawanya pergi.
Angga tinggal sendiri di sana, Asisten Jang lalu menghampirinya.
"Tuan, bagaimana keadaan anda?," kata Asisten Jang membawakan jas yang tadi di pakaikannya pada Bella.
"Baik," Kata Angga seadanya saja, dia memakai jas itu kembali, hangat tubuh dari Bella masih menyelimuti jas itu, bahkan wangi tubuhnya pun tercium.
"Dokter akan memberikan obat tidur padanya, mereka takut Nona Mika akan melakukan hal yang lebih parah nantinya, saat ini dia mungkin sudah tertidur," kata Asisten Jang memberitahukann keadaan Bella.
Angga hanya diam saja, dia tidak merespon, dia hanya berjalan masuk, lalu menuju ke ruangan Bella.
Dia masuk dan melihat benar Bella sudah di beri obat bius, dia masih setengah sadar, melihat keadannya begitu Angga malah tak tega.
"Sudah dia tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak, tinggalkan kami, " kata Angga.
Dokter dan perawat saling berpandangan namun tidak mengatakan apapun, mereka lalu meninggalkan mereka.
"Jangan bunuh aku! tolong biarkan aku hidup!" Kata-kata itu keluar dari mulut Bella yang setengah sadar, membuat Angga terdiam, air matanya mengalir kesela-sela rambutnya, tampak wajahnya yang sedih menahan semuanya, sangat terluka.
"Siapa yang ingin membunuhmu?" kata Angga merasa kasihan.
"Aksa ... Tolong lepaskan aku!" kata Bella lagi sangat gusar. kengerian terpancar di wajahnya.
Angga menatap terus ke wajah Bella yang sedang meracau, tak lama dia tenang, sepertinya obat bius sudah menguasainya, bekas air mata masih terlihat di sudut-sudut matanya, Angga terus memperhatikan wajah Bella. Angga tak tahu apa yang terjadi padanya, untuk pertama kali dalam 2 tahun ini dia merasa sangat tersentuh, hingga merasa ingin membantu wanita ini, mungkin karena sama-sama merasakan kesedihan yang dalam, membuat Angga bisa merasakan kesedihannya.
"Tidak akan ada yang akan menyakitimu lagi, aku ada di sini," kata Angga lagi. dia menghapus air mata Bella.
Angga menelepon Asisten Jang.
"Siapkan semua keperluan Nona Mika, aku ingin perawatannya di pindahkan ke rumahku," kata Angga memerintah.
"Baik Tuan," Kata Asisten Jang.
Angga tersenyum, lalu memperhatikan Bella lagi yang sudah tertidur begitu tenangnya bagaikan malaikat. Angga lalu keluar meninggalkannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 261 Episodes
Comments
Komat Kamit
Gak mandi tapi wangi ya Thor...aroma tubuh, mungkin?!?!
2025-02-10
0
Komat Kamit
yang paling beruntung adalah si Untung
2025-02-10
0
Komat Kamit
luar biasa imajinasinya thor
2025-02-10
0