Qania berjalan gontai memasuki rumahnya setelah beberapa jam menghabiskan waktu di kafe Arkana untuk mengerjakan tugas besar bersama Yani dan Rey. Ia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya dan berpapasan dengan mamanya. Qania melempar senyum tipis namun sorot matanya menunjukkan hal yang berbeda.
“Kamu kenapa Qan? Perasaan tadi baik-baik aja deh. Arkana mana? Nggak mampir dulu?” Tanya mama Qania sambil menatap ke lantai bawah mencari sosok Arkana.
“Nggak tahu, ke laut kali ma” jawabnya asal.
“Loh kok gitu sih jawabnya” tegur mamanya.
“Qania capek ma, mau masuk dulu” jawabnya seraya meninggalkan mamanya yang masih kebingungan atas jawaban yang ia berikan tadi.
Qania masuk dan membanting keras pintu kamarnya, ia melempari tasnya ke atas sofa yang kemudian ia duduki. Qania meramas rambutnya penuh emosi, mengingat bagaimana tadi ia bertengkar dengan Arkana sebelum pulang dari kafe.
“Dasar kepala batu, keras kepala, sok jago, aku benci kamu Arkanaaa” teriak Qania yang marah-marah sendiri dalam kamarnya.
Qania berdiri dan berjalan ke tempat tidurnya kemudian menghempaskan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan penuh amarah karena ia sedang mengingat betapa Arkana membuatnya kesal. Ia memejamkan matanya mengingat bagaimana tadi ia bertengkar dengan pacarnya tersebut.
Flashback on.....
“Qan udah selesai nih, kita pulang aja yuk, udah mau magrib soalnya” ajak Yani setelah mereka selesai mengerjakan soal nomor satu.
“Iya nih Qan, minggu depan soal nomor dua kan baru akan dibahas, jadi minggu depan lagi kita kerjakan. Besok kita asistensi sama bu Lira” sambung Rey sambil memasukkan alat tulisnya kedalam tasnya.
“Oke, aku pamitan dulu sama Arkana. Kalian tunggu disini” ucap Qania setelah memasukkan alat tulisnya.
Qania berdiri dan berjalan menuju ruangan Arkana dimana ia dulu pernah masuk untuk wawancara pada papa Arkana. Pintunya terkunci namun Qania bisa mendengar jelas pembicaraan Arkana dan teman-temannya.
“Dua puluh lima juta Ka, cuma dua putaran taman loh” kata Fero dengan antusias.
“Yoi bro, rugi loe kalau nolak” sambung Rizal.
“Gimana ya, gue mau aja sih tapi gimana kalau Qania nggak ngizinin gitu. Dia dari dulu nggak suka gue balapan motor, bisa bisa gue dicuekin berhari-hari” jawab Arkana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya ampun Ka, loe bucin banget sih sekarang. Dulu aja loe pacaran sebelum Qania nggak gini amat, mau ini itu nggak perlu takut nggak dapat izin” cibir Fero.
“Loe ternyata bisa sebucin ini ya” ledek Rizal.
“Bucin itu baik untuk kesehatan hubungan, hehehe” sambung Arkana sambil melihat wallpaper ponselnya yang menampilkan gambar Qania.
“Jadi gimana? Mau aja ya, Qania juga nggak bakal tahu. Lagian balapannya juga jam satu, dia pasti udah terbang ke alam mimpi” bujuk Fero.
“Iya Ka, Qania nggak bakalan tahu. Kita juga nggak akan ada yang ngasih tahu dia” Rizal turut membujuk Arkana.
“Hmm gimana ya?” Arkana berpikir sejenak. “Oke lah, kali ini aja deh balapan liarnya, takut gue kalau Qania marah lagi” jawab Arkana yang kemudian setuju.
Qania yang sedari tadi panas mendengar perbincangan tersebut langsung menerobos masuk, membuat ketiga pria di dalam ruangan tersebut terkejut, terutama Arkana yang langsung bergegas mendekati Qania.
“Sayangnya aku sudah tahu” kata Qania dengan senyuman yang menakutkan.
“Maaf ya sayang, kali ini saja” pinta Arkana sambil memegang tangan Qania mencoba meredam amarah kekasihnya tersebut.
“Kalau kamu mau balapan itu terserah kamu, toh hidupmu adalah milikmu, tidak ada yang berhak mengaturnya” ucap Qania sinis.
“Maafin aku ya Qan, aku janji deh nggak bakalan balapan lagi setelah ini” bujuk Arkana.
“Tapi aku akan balapan lagi diam-diam di belakangmu” cibir Qania membuat Arkana terdiam, seolah Qania tahu apa yang ada di pikirannya. “Bisa nggak sih kamu memilih hobi yang nggak berbahaya bagi kesehatan hah?” Tanya Qania setengah terisak. “Aku khawatir kalau kamu kenapa-napa” lirihnya, membuat Arkana langsung memeluknya.
“Maafin aku Qania, tapi ini hobi aku dari dulu” jawab Arkana membuat Qania langsung mendorong paksa tubuh Arkana yang sedang memeluknya.
“Ya sudah silahkan saja nggak ada yang larang, seperti yang tadi aku bilang, hidupmu milikmu. Kamu bebas ngelakuin apa saja semaumu” ucap Qania. “Aku pun juga tidak berhak untuk melarang kamu Arkana. Aku bukan kamu yang hobi ngatur aku semaumu” sindir Qania membuat Arkana geram.
“Oh jadi kamu nyindir aku gitu. Selama ini aku juga ngelakuin itu demi kebaikan kamu juga. Aku hanya ingin ngejagain kamu dan berusaha untuk selalu ada di sampingmu” bentak Arkana membuat Qania tersentak.
“Apakah yang aku lakuin sekarang ini juga nggak sama, aku nggak suka kamu balapan karena aku mengkhawatirkan keadaanmu. Bagaimana jika kamu jatuh, bagaimana jika kamu kecelakaan, bagaimana jika kamu…” Qania menggantung ucapannya karena terlalu takut mengatakan hal terakhir yang paling ia cemaskan selama ini.
Qania kembali terisak saat mengatakan keresahannya selama ini jika Arkana sedang balapan, Arkana yang menyadari bahwa kekasihnya tersebut benar-benar sangat mengkhawatirkan dirinya itu langsung memeluk tubuh kekasihnya. Ia membelai rambut Qania, membuat gadisnya itu menghentikan tangisnya. Arkana melepaskan pelukannya kemudian memegangi kedua pipi Qania lalu mencium keningnya.
“Maafin aku karena membuatmu sangat khawatir, namun itu sudah menjadi risiko dari hobiku ini” ucap Arkana, membuat Qania yang tadinya sudah mulai luluh langsung menghadiahinya tatapan mematikan.
“Terserah” bentak Qania kemudian bergegas meninggalkan Arkana.
“Aku antar” teriak Arkana sambil mengejar Qania.
“Nggak perlu, diam disana dan jangan mengikutiku” tolak Qania yang bergegas menuju kearah parkiran.
Arkana terdiam, ia tidak berani mengejar Qania yang tengah kesal kepadanya. Sementara Rey dan Yani yang masih berada di dalam kafe tersebut langsung bergegas mengejar Qania.
Flashback off.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments