Pagi yang cukup cerah untuk melakukan aktivitas, namun tidak dengan Qania. Setelah tadi ia melaksanakan Shalat subuh, ia kembali ke tempat tidurnya. Meskipun sinar mentari kini tengah mengganggu tidurnya, namun ia tak urung bergerak, hingga suara ponselnya yang berkali-kali berdering itu mengusik mimpi indahnya.
“Ada apa sih Lin hooaammm” Tanya Qania sambil menguap ketika ia menjawab panggilan tersebut yang ternyata dari Elin.
“Ya ampun Qania, ini sudah jam delapan loh, bangun dong. Yuk kita jalan-jalan ke taman” gerutu Elin yang kini tengah berjalan naik ke lantai dua rumah Qania setelah menyapa mama Qania.
“Malas ah, aku mau tidur lagi” jawabnya sambil terus menguap.
“Nggak ada ya, aku sudah di depan pintu kamarmu. Sekarang bukain pintunya” kata Elin kemudian memutuskan panggilan telepon itu dan menyimpannya ke dalam saku celananya.
“What? Gila kam…” teriak Qania terputus karena terdengar bunyi tutt tutt tanda panggilan sudah berakhir, dan kini suara ketukan pintu kamarnya yang terdengar. “Iya bentar” teriaknya malas.
Qania bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu kamarnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ketika pintu kamarnya terbuka, dilihatnya Elin dengan pakaian biasa, hanya menggunakan kaos putih bergambar doraemon dan celana jeans selutut, serta sandal jepit. Ia tidak terlihat seperti ingin olah raga.
“Eh malah bengong, ayo sana cuci muka, sikat gigi, ganti baju dan jangan lupa rambutnya disisir ya” kata Elin berkacak pinggang dan sedikit meledek penampilan berantakan Qania.
“Tapi yang aku lihat kamu sepertinya tidak sedang ingin olah raga pagi” cibir Qania yang berjalan masuk kamar diiringi Elin di belakangnya.
“Siapa juga yang mau olah raga. Aku kan bilangnya mau jalan-jalan doang. Kan biasanya minggu pagi gini banyak jajanan tuh di taman, sekaligus tetangga kece kita” jawab Elin senyum-senyum seraya berjalan ke tempat tidur Qania kemudian mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur tersebut.
“Oh mulai nakal ya. Aku laporin kak Fadly baru tahu rasa kamu” timpal Qania dengan menatap tajam pada Elin, kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar mandinya.
“Ih jangan dong, becanda Qan” kata Elin sedikit khawatir.
“Rasain kamu Lin, aku kerjain. Siapa suruh ganggu tidurnya Qania Salsabila Einstein” batin Qania, ia cekikikan dalam kamar mandi.
Mereka kini berada di taman dekat rumah mereka, benar saja disana banyak jajanan tradisional. Keduanya pun langsung saja menyerbu jajanan tersebut seperti anak SD.
-------------------
Sementara kini di rumah Qania terlihat mama dan papanya tengah berbincang dengan seorang pria yang seumuran dengan Qania, siapa lagi kalau bukan Arkana.
Ia sudah berada di depan rumah Qania sejak pukul tujuh. Dan ketika ia melihat Qania keluar rumah bersama Elin, ia pun bergegas masuk ke dalam rumah Qania. Setelah meminta izin pak Roni satpam rumah itu, Arkana masuk dan disambut oleh bi Eti dan mengutarakan maksudnya ingin bertemu dengan orang tua Qania.
“Silahkan duduk dulu nak, saya panggilkan ibu dan bapak ya, sekalian saya ambil minum juga” kata bi Eti dengan ramah seakan terpesona akan ketampanan Arkana, sayang ia sudah berumur lanjut, hehehe.
Kedua orang tua Qania datang dari arah pintu samping, keduanya baru saja dari kebun kecil milik mereka. Berkebun adalah aktivitas keduanya saat libur, namun sehari-hari mama Qania yang merawat kebun itu karena suaminya seorang ketua Dewan Perwakilan Rakyat sementara ia hanya seorang ibu rumah tangga.
“Eh nak Arkana” sapa mama Qania ketika mereka sudah berada di depan Arkana di ruang tamu, kemudian ikut duduk bersama Arkana.
Papa Qania melirik istrinya itu, dengan tatapan yang mengartikan “Siapa dia? Kok kamu kenal”.
“Maaf om, tante saya sudah mengganggu aktivitas kalian pagi ini” kata Arkana basa-basi menutupi kegugupannya.
“Oh iya tidak apa-apa. Tapi Qania sedang keluar bersama sahabatnya” jawab mama Qania dengan lembut.
“Iya tante, saya tadi melihatnya keluar rumah. Saya kesini ingin bertemu sama om dan tante terlebih dahulu” tutur Arkana.
“Kalau boleh tahu nak Arkana ini ada hubungan apa ya dengan Qania?” Tanya papa Qania dengan ramah.
“Kami dulunya berpacaran, namun karena kesalah pahaman akhirnya Qania memutuskan saya sepihak dan tidak membiarkan saya untuk menjelaskan bahkan kontak saya diblokir” ungkap Arkana tanpa ragu.
“Sejak kapan kamu putus dengan Qania? Dan kesalah pahaman apa yang membuat Qania memutuskan kamu?” selidik sang papa.
“Saya sudah setengah tahun ini putus dengan Qania om. Dan masalah kesalah pahaman itu pun saya tidak tahu om. Ketika saya mengabarkan bahwa saya sedang dalam perjalanan pulang eh dia malah membalas pesan saya dengan memutuskan hubungan kami dan langsung memutus kontak dengan saya” cerita Arkana.
“Oh berarti bukan dia yang membuat Qania galau waktu itu” batin kedua orang tua Qania.
“Terus kamu kemari bertemu kami dengan tujuan apa ya?” Tanya mama Qania antusias.
“Jujur tante om, saya dari dulu sampai saat ini masih penasaran kenapa Qania memutuskan saya tanpa penjelasan, dan saya berpikir bahwa pendekatan yang kedua kali ini saya harus langsung kepada orang tuanya, karena saya sangat ingin hubungan kami berjalan dengan baik dan serius, serta tentunya dengan restu kedua orang tua Qania” kata Arkana, sorot matanya menandakan bahwa ia sangat serius dan berharap keinginannya bisa tercapai.
“Sejujurnya saya salut dengan keberanianmu itu untuk datang dan meminta izin kepada kami untuk menyayangi anak kami itu. Bagaimanapun memang benar bahwa hubungan yang baik harus dengan restu kedua orang tua dari kedua belah pihak tentunya” kata papa Qania dengan senyuman ramah dan juga bangga pada keberanian Arkana.
“Tapi nak, apakah Qania mau kembali berhubungan denganmu?” Tanya mama Qania.
“In sya Allah tante” jawabnya pasti.
“Jadi waktu kamu kemari dua hari yang lalu, tanggapan Qania ke kamu bagaimana?” Tanya mama Qania lagi karena rasa penasarannya.
“Dia awalnya menghindar tante, namun tak lama setelahnya dia menjadi sangat baik dan bersikap seolah kami tidak dalam masalah apapun. Dia bahkan tidak marah ataupun menjauhiku” jawab Arkana.
“Ya semoga Qania sudah berdamai dengan masa lalunya yang membuat dia memutuskanmu. Dan om rasa kalian berdualah yang harus menyelesaikannya” kata papa Qania .
“Iya om, saya juga akan menunggu Qania datang” jawab Arkana yang di jawab anggukan oleh papa Qania.
Qania baru saja sampai di depan rumahnya dan berpisah dengan Elin yang juga masuk ke rumahnya. Mereka bertetangga dengan rumah keduanya yang saling berhadapan. Sejak kecil mereka tumbuh bersama hingga kini mereka masih bersahabat akrab. Dari TK sampai SMA mereka sekelas dan sebangku, namun ketika di Universitas mereka memilih jurusan masing-masing dan Elin memilih jurusan Pendidikan.
Qania berjalan masuk ke halaman rumahnya, namun pandangannya tertuju pada motor sport berwarna merah itu.
“Seperti milik Arkana yang menyebalkan itu” gumam Qania. Ia berhenti sejenak di dekat motor itu.
“Mungkin Cuma mirip, kan nggak mungkin dia” sanggah Qania kemuadian kembali berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Qania memberi salam sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar karena ia merasa lelah beraktivitas bersama Elin. Bukan lelah olah raga, namun lelah karena menghabiskan jajanan, hihihi.
Qania yang begitu lelah ingin segera berbaring di kamarnya. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orang tuanya tengah serius mengobrol dengan seorang pria yang selalu membuatnya kesal di ruang tamu.
“Arkana Wijaya” ucap Qania masih dalam mode terkejut dan sontak membuat kedua orang tuanya menoleh begitupun dengan Arkana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
✰͜͡v᭄pit_hiats
hadir🤭
2021-12-29
0
banyubiru
likes 10
2021-12-28
0
❣️Lyla❣️
boom
2021-11-14
0