“Gila Qan, bisa–bisanya dia dipukuli, sama teman sendiri lagi. Gue mah ogah ya” potong Winda membuat Qania menghentikan ceritanya.
“Kan aku bilang juga apa, dia itu nggak waras dan ngeselin” timpal Qania.
“Terus gimana setelah itu? Apa dia baik? Berapa lama kalian pacaran? Kenapa bisa putus?” winda menghujani Qania dengan banyak pertanyaa.
“Heeh kamu ini bertanya banyak sekali ya” kata Qania sambil melirik Winda yang sedang berbaring di sebelahnya.
“Kan penasaran Qan” kata Winda sambil cengengesan.
”Aku malas ah ceritainnya, itu sama halnya mengungkit luka lama yang sudah aku kubur dalam-dalam” kata Qania mulai teringat kisahnya bersama Arkana.
“Maaf deh Qan, tapi aku boleh nanya satu hal nggak” Tanya Winda dengan sedikit memelas.
“Apa?” jawabnya malas.
“Arkana itu baik atau hanya pura-pura baik?” selidik Winda.
“Kok kamu nanya gitu?” penasaran Qania.
“Ya habisnya aku sering lihat dia gonta-ganti pasangan” jawab Winda lemas.
“Kamu lihat dimana?” Tanya Qania antusias.
“Ya tiap malam minggu kalau balapan” jawab Winda.
“Ya seperti itu lah dia. Itu semua penyebab kami putus, lebih tepatnya aku yang mutusin” Qania mulai merasa sedih sekaligus sakit hati, tatapannya menerawang jauh.
“Oh jadi dia itu tampangnya doang baik ya, aslinya munafik. Gila nggak banget” kata Winda seakan ilfeel.
“Dia baik kok, sangat baik malah. Ya Cuma itu tuh sifatnya yang playboy nggak bisa aku terima. Udah cinta dan sayang banget eh malah ngeliat dia selingkuh, kan akunya sakit hati” gerutu Qania.
“Baik gimana sih Qan, dimana-mana kalau dai selingkuh itu mah nggak baik namanya. Lagian kamu lihat sendiri dia selingkuh?” timpal Winda.
“Dia baik versi aku. Dia tipe aku banget. Kamu tahu kan aku sukanya sama cowok badboy, ya dan itu ada sama dia. Dia cuek tapi penyayang banget, jagain aku dari perbuatan nggak baik meskipun aku tahu dia susah nahannya, yah mungkin saja dia lampiaskan ke cewek yang bisa dia sentuh” cerita Qania sambil senyum-senyum.
“Eh itu buat aku tetap nggak baik. Kalau niatnya ngejagain ya jangan main di belakang juga dong. Kamunya udah setia eh dianya malah asyik bergulat dengan cewek lain” Windah masih tetap pada pendapatnya.
“Iya aku tahu itu, makanya daripada akunya sakit hati mulu, kan lebih baik putus” timpal Qania.”Padahal dalam hati masih sayang banget” teriaknya dalam hati.
“Itu kamu tahu. Terus kamu lihat dia dengan mata kepalamu sendiri saat sedang berselingkuh?” Tanya Winda penasaran.
“Hmm, jadi gini….” Qania mulai menceritakan.
Flashback on…
Qania sudah dua bulan menjalani hubungan dengan Arkana, namun mereka sangat jarang bertemu, terhitung sejak pertama pacaran baru dua kali bertemu, itu pun kalau Arkana ada waktu untuk menyapanya. Dia seakan cuek, setelah babak belur karena memintanya menerima cintanya eh giliran udah diterima malah di cuekin, parah kan.
“Perhatian gak ada, menghubungi jarang-jarang. Sekalinya teleponan marahan, giliran aku lambat balas pesan atau nggak menghubungi dia duluan akunya di tuduh macam-macam, giliran ketemuan eh seperti nggak ada masalah sama sekali” gerutu Qania saat membaca pesan dari Arkana.
“Apa lagi ini pake ngirim sms nggak jelas. Hahaha tapi lucu juga. Balas nggak ya?” Qania kesal sekaligus merasa lucu. Bagaimana tidak, masih pagi buta Arkana mengirimkan pesan yang isinya “AKU BENCI KAMU QANIA”.
“Emangnya aku ada salah apa” balas Qania.
Setelah itu ponselnya berdering dan itu panggilan dari Arkana.
“Aku benci kamu” kata Arkana pada saat Qania mengangkat teleponnya.
“Ada apa ini hah? Harusnya aku yang bilang gitu ya” timpal Qania.
“Kamu kenapa nggak hubungi aku hah? Selalu saja tunggu aku yang hubungi kamu. Mentang-mentang aku lagi jauh ya” kata Arkana yang sekarang tengah berada di luar kota.
“Oh jadi karena itu, hahahaha” tawa Qania pecah, karena pasti itu adalah pembahasan pertama yang selalu Arkana keluhkan saat sedang teleponan.
“Malah ketawa, pacarnya marah bukannya minta maaf malah diketawain” kesal Arkana.
“Iya deh maaf, mulai hari ini tiap menit, aku smsin kamu” jawab Qania.
“Itu baru kesayanganku. Oh ya lusa aku pulang” kata Arkana.
“Semoga selamat dalam perjalanan” doa Qania.
“Aamiin” jawab Arkana, setelah itu mereka mengobrol cukup lama dan kadang tidak nyambung namun itu yang membuat Qania selalu saja merindukan kekasihnya itu.
Setelah selesai mengobrol lewat telepon Qania memutuskan untuk mandi, perasaannya sangat senang karena saat bangun tidur langsung mendapat omelan dari kekasihnya itu.
Dering teleponku membuatku
tersenyum di pagi hari
Tawa candamu menghibur
Saat ku sendiri
Oooh ooohh
Qania terus saja bersenandung dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Qania memutuskan untuk mengerjakan tugas-tugasnya berhubung hari ini dia tidak ada mata kuliah.
Setiap menit Qania mengirim sms kepada Arkana hanya dengan menyapanya.
“Selamat pagi Arkana”
“Selamat siang Arkana”
“Selamat sore Arkana”
Pesan yang sama dikirimkan Qania setiap menitnya, jika dilihat hamper seratus ucapan setiap sapaannya. Hingga tiba malam hari ia akan tidur dan berniat mengirimkan ucapan selamat malam. Setelah dua puluh pesan selamat malam, ponselnya bordering dan Arkana yang meneleponnya. Qania sangat senang dan merasa sudah membuat Arkana kesal dengan ratusan pesannya.
“Rasain, biar kamu puas, biar nggak bilang benci” kata Qania terkekeh. Ia memutuskan untuk mengangkat telepon itu. Baru saja ia ingin tertawa namun suara di saluran seberang itu langsung membuat wajahnya merah padam.
“Eh loe ini siapa sih, gue muak tau nggak dari tadi hp cowok gue bunyi cuma loe doang yang ngirim sms. Asal loe tahu loe ngeganggu banget, dasar cewek genit, loe mau apa dari pacar gue hah? Awas aja loe ya kalau masih gangguin pacar gue, hidup loe nggak akan tenang” maki seseorang dari seberang sana dan langsung memutuskan panggilan tanpa memberikan Qania kesempatan untuk berbicara.
Qania seakan mendapat tamparan keras, tak ada air mata, namun lidahnya kelu tak dapat mengeluarkan kata-kata. Tangannya mengepal kuat seakan ingin menghancurkan ponselnya. Wajahnya terasa panas, dadanya sesak seakan kehabisan oksigen untuk bernapas. Seketika tubuhnya lunglai dan langsung terduduk di atas tempat tidurnya.
Ucapan dari perempuan tadi terus saja terngiang di telingannya. Ia tak tahu harus bertindak seperti apa, hanya diam mematung bersandar di tempat tidurnya. Pikirannya terus beradu sampai ia tak mampu menahan rasa kantuknya.
Setelah dua hari, Qania mendapatkan pesan dari Arkana bahwa ia akan pulang dan sedang dalam perjalanan.
Qania yang sangat marah kepada Arkana pun membalas pesannya.
“Kita putus, jangan pernah hubungi aku lagi, jangan balas sms ini dan anggap saja kita tidak saling kenal” balas Qania meluapkan emosinya, kemudian memblokir kontak Arkana.
Setelah kejadian itu pun Arkana seakan hilang bahkan tidak ada niatan untuk mencari Qania atau sekedar menguntitnya seperti yang ia lakukan saat belum pacaran dulu.
Flashback off..
“Jadi gitu Win” kata Qania, namun yang ia dengar hanya suara dengkuran. “Ih rese ya, orang udah capek-capek cerita eh dianya malah tidur” kesal Qania yang kemudian juga ikut memejamkan matanya. Tidak begitu lama, ia pun tertidur dan terbang ke alam mimpinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
✰͜͡v᭄pit_hiats
hooh penasaran🙈🙈🙈
2021-12-29
0
❣️Lyla❣️
aku komen lagi
2021-11-14
0