Kicauan burung yang merdu diikuti oleh sinar mentari yang tanpa permisi masuk ke dalam kamar Qania membuatnya menggeliat dan mengerjapkan matanya. Tak butuh waktu lama baginya untuk bangun pagi karena ia sudah terbiasa. Diambilnya handuk dan masuk ke dalam kamar mandinya. Tak butuh waktu lama, ia pun telah selesai mandi dan mengenakan pakaian, dia bukan orang yang memperhatikan penampilan, sehingga cantiknya alami.
Qania sedang duduk di depan meja riasnya, disana Cuma ada bedak baby, lip ice, parfum, hand and boddy lotion, serta pelembab rambut. Jangan tanyakan eye shadow, mascara, dan yang lain-lain, karena ia tak pandai menggunakan bahan bahan itu. Cukup polesan bedak dan lip ice serta menyisir rambut lurus panjangnya itu, ia telah siap untuk pergi ke kampus.
Qania memeriksa ponselnya namun ternyata Baron tidak bisa menjemputnya karena ia tidak masuk hari ini. Dengan malas Qania berjalan keluar kamar. Ketika ia membuka pintu, bertepatan dengan mamanya yang juga baru saja ingin mengetuk pintu, mamanya pun menurunkan tangannya.
“Ada apa ma?” Tanya Qania.
“Eh itu di luar ada tamu, nyari kamu?” jawab mamanya cengengesan.
“Teman kampus ma?” tanyanya lagi.
“Sepertinya bukan, karena mama nggak pernah lihat. Dan wah dia cakep ya, jangan jangan” mama Qania mencoba menggoda sang anak dan ya sedikit kepo.
“Tapi sepertinya aku tidak sedang membuat janji dengan siap-siapa” batinnya.
Mamanya yang melihat Qania dalam mode bingung langsung menarik tangannya.
“Hei, jangan melamun. Kasihan tamunya sudah lama menunggu kamu. Ayo cepat turun, sekalian ngantar ke kempus juga, soalnya mama lagi nggak bisa nih, ada acaranya tetangga sebelah” kata mamanya seraya berjalan masuk ke kamarnya yang tak jauh dari kamar Qania.
Dengan malas namun penasaran Qania melangkah turun untuk melihat siapa yang bertamu sepagi ini. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa pria itu.
“Arkana Wijaya” tuturnya lembut, matanya membulat seolah tak percaya.
Qania masih belum sadar dengan apa yang dilihatnya sehingga ia menepu-nepuk kedua pipinya. Arkana yang melihat tingkah konyolnya itu hanya tersenyum sambil geleng kepala.
“Apa kah aku setampan itu sampai membuatmu tak sadar saat melihatku” kata Arkana yang masih duduk sambil memperhatikan Qania.
Qania yang akhirnya sadar bahwa orang yang di depannya itu nyata langsung malu, pipi sangat merah dan membuat Arkana semakin bahagia,
“Kamu, kenapa kamu ada disini sepagi ini Arka?” Tanya Qania sambil berjalan mendekati Arkana.
“Menjemput bidadari tentunya” jawabnya enteng.
“Kamu salah alamat. Pulang sana, aku mau ngampus” kata Qania sambil berjalan ke arah pintu.
“Hei Qania Salsabila, aku jauh-jauh ingin menjemput dan mengantarmu ke kampus lalu kamu dengan gampangnya menyuruhku untuk pulang. Benar-benar gadis tidak sopan ya” balas Arkana dan kemudian menarik tangan Qania.
Debaran itu datang lagi ke jantung Qania, membuatnya merasa seolah matahari tengan berada di atas kepalanya. Panas, namun tangannya yang di sentuh Arkana tersa dingin.
“Tuh kan masih sama, pasti kamu degdegan ya? Dan ini tangannya dingin banget, aku tahu ini pertanda apa” goda Arkana yang semakin membuat Qania malu.
“Lepas Ka. Kalau mau nganterin ya udah ayo” Qania menarik tangannya dan berjalan lebih dulu.
Arkana naik ke atas motornya diikuti oleh Qania. Setelah Arkana memaki helmnya, ia pun mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Karena bosan dengan mode diam dari keduanya, Arkana tiba-tiba saja menghentikan motornya, sontak Qania terdorong kedepan dan memeluk erat tubuh Arkana.
“Nah gitu dong, biar romantic” kata Arkana terkekeh.
“Oh modus ya kamu” kata Qania yang kemudian melepaskan pelukannya namun kalah cepat dengan tangan Arkana yang sudah memegang tangannya.
“Biarkan seperti ini. Cukup nikmati perjalanan kita ini” kata Arkana dengan lembut namun terdengar romantic.
Qania pun menurut, karena jujur saja ia sangat nyaman dalam posisi itu. Senyumnya mengembang begitu pun dengan Arkana, ia dapat melihat senyum itu dari kaca spionnya.
“Tuh kan kamu menikmatinya” goda Arkana.
“Arkanaa aku murka nih” teriak Qania.
Arkana hanya tertawa dan kembali melajukan motornya dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya berda di atas tangan Qania yang memeluknya. Sesekali ia bersenandung, hari ini sangat membuatnya bahagia.
“Aku akan kembali membahagiakanmu Qania, maaf untuk waktu yang telah berlalu” batin Arkana.
Dua puluh menit akhirnya mereka sampai di kampus, Qania turun dan Arkana membuka helmnya. Kharismanya sangat terpancar dan sempat membuat Qania merona dan tentu saja dag dig dug .
“Itu kan Arkana, yang selalu menang kalau balapan” kata seorang mahasiswi
“Wah itu pacarnya, bukannya dia anak teknik ya”
“Ganteng banget ya, aduh Arkana”
Dan masih banyak lagi yang diam-diam membicarakan mereka. Qania merasa cemburu karena banyak mahasiswi yang mengenal Arkana, namun hal yang membuat dia merasa menang adalah tangannya yang masih digenggam oleh Arkana.
“Aku masuk ya Ka, makasih udah nganterin” kata Qania yang akan pergi namun genggaman Arkana menariknya.
“Eits, salim dulu dong” kata Arkana.
“Eh apaan sih, malu tahu” kata Qania sambil menatap orang-orang yang melihatnya.
“Salim atau nggak masuk” titahnya.
Dengan cepat Qania merai tangan Arkana kemudian dia mencium tangan itu seolah istri yang berpamitan pada suami. Sontak adegan itu mendapat tanggapan yang banyak, ada fans dan ada juga hatersnya. Semburat merah mewarnai pipi Qania saat Arkana tiba-tiba mengecup keningnya.
“Belajar yang rajin ya, focus dan jangan Cuma ngebayangin aku” kata Arkana menggoda.
“Arkanaaa aku beneran murka nih” teriak Qania namun hanya mendapat ledekan dari Arkana. “Hmm, aku masuk ya Ka. Daa” ucapnya lembut dan berjalan cepat meninggalkan Arkana yang masih duduk di atas motornya.
Qania masuk kedalam kelasnya dan disana sudah ramai karena sudah hamper masuk mata kuliah.
“Untung saja tidak ada dari mereka yang melihatku tadi bersama Arkana” batin Qania, senyumnya mengembang saat mengingat kejadian tadi.
Ponselnya berdering, tanda sebuah pesan masuk.
“Aku yang mengantar ke kampus, aku yang mengantar ke rumah. Aku tunggu disini” pesan Arkana.
“Dia sangat pandai membuatku terbang” gumam Qania yang semakin melebarkan senyumnya.
“Iya pak ojek, tunggu aku ya. Cuma dua jam kok pak” balas Qania.
Arkana yang membaca pesan itu terkekeh, ingin membalas namun ia urungkan karena khawatir Qania tidak akan focus belajar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
nanara
love
2021-09-29
0
nanara
wow hehe
2021-09-29
0