Qania menutup pintu kamarnya kemudian menaruh tasnya diatas kursi lalu menghempaskan tubuh diatas tempat tidur. Yang terlintas dibenaknya adalah perkataan pak Gunawan yang memuji dirinya manis.
“Masa iya manis” gumam Qania sambil tersenyum senyum.
Lamunan Qania terhenti karena Winda mengejutkannya.
“Ayo senyum senyum kenapa” ledek Winda.
“Ih Winda apaan sih, sejak kapan kamu disini? Kok aku nggak tahu kamu masuk kamar sih?” kata Qania yang kemudian mengubah posisinya menjadi duduk.
“Sejak kamu melamun dan senyum senyum sendiri” jawab Winda yang membuat Qania merasa malu dan memasang ekspresi wajah manjanya.
“Terus kamu ada apa nih, tumben main ke rumah?” sambung Qania.
“Berhubung loe sepupu gue yang paling pintar, gue mau minta tolong nih” kata Winda yag kemudian duduk disebelah Qania.
“Hm muji ya tapi ada maksud” tukas Qania.
Winda tertawa sambil menggaruk-garuk kepalanya padahal saat itu tak ada yang membuat kepalanya gatal.
“Emang mau dibantuin apa sepupuku yang hobbynya kelayapan?” lanjut Qania sambil tersenyum kepada Winda.
“Gue ada tugas nih, wawancara gitu sama pemilik caffe atau rumah makan, tapi gue maunya caffe Qan yang dekat taman itu loh, kan caffenya terkenal tuh. Bantuin ya Qan, please” tukas Winda sambil memasang wajah permohonan.
“Jadi Qania nemanin kamu nih?” tanya Qania.
“Hehehe, gue yang nemanin loe Qan, loe yang wawancarai ya pemilik caffenya, please” bujuk Winda.
“Loh kok aku, kan yang punya tugas itu kamu” serga Qania.
“Ayolah Qan please, bantuin ya” pinta Winda.
“Hmm iya deh, kapan?” tanya Qania dengan sedikit senyum tulusnya.
“Sekarang Qan, ayo cepat loe mandi terus ganti baju gue tungguin loe” jawab Winda.
“What, sekarang?” Qania sedikit terkejut yang diikuti ekspresi wajahnya.
“Emang kenapa Qan?” tanya Winda sedikit ragu.
“Caffenya buka mulai jam empat sore Winda sayang. Kamu lihat jam sekarang baru jam dua” jelas Qania.
“Wah, gue dikerjain nih sama si anak alay sok kecakepan tuh” kata Winda sambil memasang wajah geram.
“Emang dia bilang apa sama kamu?” tanya Qania.
“Katanya gue harus kesana jam dua dan paling lambat jam tiga, entar kalau sudah jam empat pemiliknya bakalan keluar” jelas Winda dengan kesalnya.
“Hahaha, makanya jangan asal percaya gitu aja Win. Emangnya dia juga mau wawancara disitu?” tanya Qania.
“Sepertinya, soalnya gue dengar-dengar nih ya, pemilik caffe itu ganteng banget. Dia satu-satunya anak laki-laki pemilik caffe itu. Bisa saja mereka nyari kesempatan buat ngedekatin anak si pemilik caffe itu” tukas Winda.
“Ya sudah kita cari tempat lain saja” jawab Qania.
“Pokoknya gue maunya caffe yang itu Qan, titik” tandas Winda.
“Oke oke. Tapi masih dua jam lagi sepupuku sayang” kata Qania sambil menarik selimutnya.
“Iya juga ya. Kalau begitu ayo kita tidur dulu Qan. Lumayan masih bisa bobo siang” Kata Winda sambil menutup matanya yang diikuti oleh anggukan Qania. Mereka pun tertidur.
Dari luar terdengar suara ketukan pintu diiringi oleh suara lembut khas mama Qania yang membangunkan mereka. Qania membuka matanya dan berjalan menuju pintu seraya membukakannya.
“Ada apa ma?” tanya Qania yang masih terlihat mengantuk.
“Sudah magrib sayang, masa mau tiduran terus. Tuh Winda juga dibangunin terus mandi. Mama sama papa tunggu buat makan malam” kata mama Qania sambil berlalu dan Qania menutup pintunya sambil berjalan kearah kamar mandi dengan langkah yang begitu pelan karena masih mengantuk.
“Nggak kerasa juga udah magrib. Sebaiknya aku mandi dulu baru bangunin Win..” perkataannya terputus dengan ekspresi terkejut, Qania berlari membangunkan Winda. “Winda bangun” kata Qania sambil menarik selimut.
“Ada apa sih Qan, masih ngantuk nih?” tanya Winda yang masih menutup matanya.
“Hei sekarang udah magrib” serga Qania.
“Oh udah magrib ya Qan..” kata Winda yang kemudian tersentak dan seketika duduk dan matanya melotot. “ Aduh Qan kita telat gimana dong yaa? Besok laporan wawancaranya harus di presentasikan Qan, aduh gimana dong?” Winda sangat pusing sambil mondar-mandir .
“Aku mandi dulu, terus kamu. Kemudian kita pergi. Setahuku caffe itu buka dua pulum empat jam” kata Qania berusaha menenangkan padahal sebenarnya ia tahu kalau caffe itu hanya buka dari jam empat sore sampai jam sebelas malam, ia mengetahuinya karena pernah sekali makan disana ketika pulang dari mengerjakan tugas besar bersama teman-temannya.
“Baiklah Qan, ayo cepat” suara Winda mulai datar.
Qania bergegas masuk ke kamar mandi dan Winda masih shock sambil mondar-mandir di dalam kamar. Lima belas menit berlalu Qania sudah keluar dari kamar mandi dan Winda segera berlari masuk.
Keduanya sudah siap dan setelah makan malam, mereka berpamitan untuk pergi melakukan wawancara tersebut. Dua puluh menit mereka sampai di caffe tersebut. Saat Winda tergesa-gesa, dilihatnya teman-temannya masih menunggu di luar sambil menikmati coffie. Keduanya berjalan masuk ke dalam caffe.
“Hei, mau ngapain loe?” teriak seorang cewek dari sudut ruangan caffe.
“Yaa mau wawancara lah, emangnya mau sunatan” jawab Winda.
“Loe ngaca dong, kita yang model begini aja belum masuk apalagi loe yang udah kaya badak” ledek cewek tersebut.
“Heh, kalian Ipnya berapa sih? Nggak mungkin 4,00 kan. Cara bicaranya saja sudah error” serga Qania yang membuatnya terdiam sambil menatap dengan sinis. “Kok tatapannya gitu, memangnya kata-kata saya tepat mengena dihati kamu ya?” sambung Qania.
“Sudah Qan, ayo kita masuk” serga Winda.
Saat Qania berbalik badan, tak sengaja ia melihat kearah sudut, disana ada sekumpulan pemuda yang sedang memperhatikannya sambil senyum-senyum. Qania juga melemparkan senyum kepada tiga orang pemuda tersebut sambil tersipu malu.
“Kaa, malaikat tak bersayap loe ada disini” teriak Ifan.
Arkana yang sedang asyik berbincang dengan papanya di ruangan kecil yang hanya berdinding kira-kira 150 cm itu segera keluar.
“Maksud loe Qania gue?” kata Arkana sambil melirik kearah ketiga temannya dengan ekspresi wajah seperti orang bodoh. Arkana menyisir keseluruh ruangan dan menemukan sosok yang sangat dikaguminya yang membuatnya salah tingkah. “Gawat, Qania lihat tingkah konyol gue” gumam Arkana sambil berjalan menuju ke arah Qania.
Seluruh pengunjung caffe saat itu kebetulan adalah mahasiswa dan remaja yang sangat mengagumi Arkana. Semua melihat tanpa berkedip kepada Arkana, termasuk teman Winda yang beradu mulut tadi. Winda ikut tak berkedip menatap Arkana, begitupun pandangan Arkana dan Qania. Hanya mata mereka yang mampu mengartikan tatapan tersebut.
Qania tersentak saat Arkana begitu dekat dari wajahnya. “Arkana Wijaya” suara pelan Qania.
“Qania malaikat tak bersayap gue” desah Arkana yang membuat Qania dan Winda tertawa dan Arkana segera tersadar. “Eh Qania, ngapain kesini, tumben anak dalam kamar ini masuk caffe” tanya Arkana mengalihkan.
“Huh Arka, aku tuh kesini mau wawancara sama pemilik caffe ini” jawab Qania.
“Oh, kalau begitu ayo ikut” kata Arkana sambil menarik tangan Qania dan Qania beserta Winda mengikut saja. Arkana membawa Qania dan Winda masuk ke dalam ruangan papanya.
“Pa, ini Qania mau wawancara sama papa” kata Arkana ketika ketiganya duduk.
“Oh iya boleh. Tapi tunggu, papa seperti kenal sama Qania deh Ka” kata papa Arkana sambil memperhatikan Qania.
“Ah masa iya sih pak. Saya baru sekali ini loh masuk di caffe ini” jawab Qania diikuti rasa penasaran.
“Hm, nanti saya pikirkan lagi. Ayo kita mulai wawancaranya” alih papa Arkana.
Selang sepuluh menit, wawancara tersebut telah berakhir. Namun selama wawancara tersebut, Arkana diam sambil terus menatap Qania. Setelah berjabat tangan, Qania dan Winda berpamitan, namun segera dicegah oleh papa Arkana.
“Qania, sekarang om sudah tahu” kata papa Arka sambil senyum-senyum.
“Oh ya om, tahu Qania darimana?” tanya Qania dengan ekspresi penasaran.
“Kamu ini yang photonya bersebaran di kamar Arka, lukisannya sangat besar dan itu wajah kamu” tukas papa Arkana yang membuat Qania tersedak.
“Ah papa, jangan bongkar rahasia dong pa” cegah Arkana yang tersipu malu.
“Kamu ini Ka, ternyata dia lebih cantik dan cerdas dari yang teman-teman kamu ceritakan sama papa” sambung papa Arkana yang membuat Arkana dan Qania tersipu malu. “ Ya sudah, papa mau lanjut kerja dulu ya. Ada meeting di luar” kata papa Arkana yang keluar lebih dulu.
“Terima kasih om” kata Qania yang dibalas dengan senyuman oleh papa Arkana yang kemudian berlalu.
Ketiganya keluar dari ruangan tersebut dan Arkana mengantar mereka sampai di parkiran.
“Sudah jam setengah sembilan nih Qan, ayo pulang. By the way terima kasih ya” kata Winda yang mulai menstater motornya.
“Eh tunggu dulu” cegah Arkana.
“Ada apa Ka?” tanya Qania.
“Boleh nggak aku jalan sama kamu Qan?” tanya Arkana.
“Tapi nanti aku dicariin sama mama papa Ka. Kan pamitnya pergi sama Winda” jawab Qania.
“Yah, lain kali kita jalan ya Qan” kata Arkana sedikit mellow.
“Aduh, loe tenang saja Ka, gue bakalan ngijinin kalian jalan. Tapi sampai jam sepuluh doang” serga Winda yang seolah-olah mengerti bahwa sang idola dan sepupu sangat ingin bersama.
“Terima kasih Win, makasih banget” kata Arkana yang kegirangan seolah-olah ia ingin melompat seperti anak kecil. “Ayo Qan, naik” kata Arkana yang langsung menstater motornya.
“Jaga sepupu gue baik-baik ya Ka” kata Winda sambil berlalu.
“Tentu Win. Dia nggak bakalan cacat sedikitpun” teriak Arka yang sudah agak jauh dari Winda.
Winda yang melihatnya hanya tersenyum puas melihat sang sepupu bersama idolanya. Dalam hati ia berdoa semoga Qania bisa balikan dengan Arkana dan selalu bahagia. Winda yang tadinya ingin pergi langsung mengurungkan niatnya.
”Sebaiknya gue tungguin mereka disini saja sambil ngemil, hehe” kata Winda yang kini sudah duduk di salah satu bangku sengaja dekat dengan teman kelasnya di kampus, tak lain maksudnya adalah untuk mengejek karena tugasnya lebih dulu selesai sementara mereka sama sekali belum diberi izin untuk masuk ke ruangan pemilik caffe.
Benar saja, mereka menatap Winda dengan perasaan jengkel dan juga cemas karena tugas mereka mungkin tidak akan selesai. Winda yang mengetahui itu hanya tertawa dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
❣️Lyla❣️
like lagi
2021-11-14
1
nanara
aku datang
2021-09-29
0
Tita Dewahasta
like 4
2021-03-29
2