Qania, Yani dan Rey baru saja keluar dari ruangan bu Lira setelah mengambil tugas besar mereka. Ketiganya berjalan menuju arah parkiran, Qania akan pulang bersama Yani yang kebetulan hari itu membawa motornya ke kampus dan Rey dengan motornya sendiri.
Namun langkah Qania terhenti karena melihat seseorang yang berada di parkiran yang juga tengah memperhatikannya. Canda tawa yang membuatnya senang bersama kedua sahabatnya tadi langsung berubah seketika menjadi rasa kesal lagi.
"Dia sudah seperti supir pribadi yang membawaku kemana-mana, aahh menyebalkan" umpat Qania sambil melangkah pelan.
Arkana yang melihat Qania dari kejauhan langsung terkekeh karena tahu bahwa gadisnya pasti sedang merasa kesal karena tiba-tiba saja dirinya sudah ada disini.
"Hei nona, bisakah kamu mempercepat langkahmu?" teriak Arkana semakin membuat Qania kesal saja.
Qania berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya karena sebal pada Arkana yang justru menikmati tingkahnya tersebut. Sementara Rey dan Yani menjadi bingung mengapa Qania tiba-tiba saja mengaktifkan mode kesalnya.
"Qania kenapa?" bisik Yani pada Rey.
"Nggak tau, dari pagi moodnya berubah-ubah. Lagi datang bulan kali" jawab Rey asal.
Kedua sahabat Qania yang berada di belakangnya memperhatikan tingkahnya dan mengikuti arah Qania melangkah. Keduanya tersentak saat mengetahui bahwa Qania berjalan dengan keadaan kesal tersebut menuju ke arah seorang pria.
“Itu bukannya pria yang di photo bareng Qania?” tanya Yani berbisik pada Rey.
“Oh iya ya wajahnya sama loh” jawab Rey. “Ayo kita kesana, sekalian kenalan” sambung Rey sambil menarik tangan Yani dan menyeretnya agar berjalan lebih cepat.
Sementara Qania yang kini berdiri tepat di hadapan Arkana melipat kedua tangannya di atas dada dan memanyunkan bibirnya. Wajahnya menunjukkan betapa saat ini ia sangat kesal terhadap pacarnya itu, namun si pria malah terkekeh membuat Qania memelotototkannmatanya sebagai ancaman. Namun sialnya Arkana malah mengikuti ekspresinya 😄😄.
“huh..huhh.. Qan kamu jalannya kok cepat sekali sih, aku jadi ngos-ngosan karena Rey menyeretku untuk mengejarmu” kata Yani sambil mengatur napasnya.
“Kamu saja yang jalannya lambat” timpal Rey yang di hadiahi tatapan membunuh oleh Qania, membuatnya langsung menutup mulutnya.
“Hei kamu bukannya Rey pacarnya Mita ya?” tanya Arkana tiba-tiba membuat Qania dan Yani melirik Rey yang juga kaget.
“I..iyaa, hehehe” jawab Rey cengengesan.
“Mita siapa?” tanya Qania penasaran namun masih dengan nada jutek.
“Oh Mita adik sepupu aku” jawab Arkana singkat.
“Kamu tahu darimana?” selidik Qania yang sangat penasaran, karena jika benar maka keduanya pun sama-sama kalah taruhan.
“Aku kemarin nganterin dia ketemuan, hanya saja aku nggak ikut masuk ke kafe itu” jawab Arkana.
“Itu benar Rey?” tanya Qania dengan tatapan yang mengerikan membuat Rey ngeri.
“I..iya Qan, hehehe” jawab Rey terbata karena merasa ngeri akan tatapan sahabatnya itu.
“Jadi kamu pun sama Rey?” tanya Yani yang juga terkejut.
“Iya sorry sorry ya. Kita satu sama deh Qan” jawab Rey cengengesan. “Tapi bantuin tetap bantuin gue ya Qan, please” pinta Rey sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Nggak” jawab Qania ketus.
“Ya ampun Qan kok gitu sih” rengek Rey.
“Ada apaan sih?” tanya Arkana yang tidak mengerti pembahasan mereka.
“Jadi gini, mereka membuat kesepakatan untuk tidak pacaran satu semester dan siapa yang gagal punya hukumannya masing-masing. Ya kita awalnya tahu bahwa Qania gagal dan sebaagai hukumannya dia harus membatu mengerjakan tugas besarnya si Rey tapi lebih tepatnya sih dia yang ngerjain, Rey Cuma tahu beres” cerita Yani membuat Arkana tertawa. “Ya ampun nih orang kalau ketawa kok manis banget ya. Eh sadar Yan dia pacar sahabatmu” batin Yani , ia memperhatikan Arkana secara diam-diam.
“Iya dan itu karena kamu” ketus Qania kepada Arkana. “Dan kamu juga Rey, ternyata kamu pun sama dan mau berusaha mengecoh aku ya, haah?” ucap Qania dengan nada sedikit membentak.
“Hey kenapa sih marah-marah mulu, nggak baik ah buat kesehatan. Kamu itu lebih cocok kalau tersenyum” kata Arkana sambil mencubit kedua pipi Qania.
“Ahh sakit Arkana” marah Qania sambil mengusap pipinya yang memerah.
“Makanya jangan marah lagi. Yuk pulang” ajar Arkana sambil menarik tangan Qania.
“Eh ngapain nih tarik-tarik. Orang akunya nggak janjian mau pulang bareng kamu” ucap Qania sambil menghempaskan tangannya.
“Atau mau digendong biar cepat?” goda Arkana.
Qania menatap tajam pada Arkana membuat yang ditatap menjadi terkekeh. Qania langsung melirik ke arah Yani dan Rey dengan maksud berpamitan, aku pulang dulu ya bareng si kampret ini. Heehe.
“Maaf ya Yan, kita nggak jadi pulang bareng. Nanti deh kita janjian lagi buat ngerjain tugasnya” ucap Qania dengan perasaan tidak enak.
“Nggak apa-apa Qan, besok saja” jawab Yani tersenyum.
“Emang lagi janjian mau ngerjain tugas?” tanya Arkana menyela.
“Iya, dan batal karena orang nggak jelas” gerutu Qania menyindir Arkana.
“Ya sudah, kalau gitu gimana nanti sore aja ngerjainnya di kafe. Aku yang traktir deh sebagai acara perkenalan dan ngerayain hubungan kami” usul Arkana.
“Benar banget tuh, setuju gue” ucap Rey kegirangan.
“Apalagi Yani, yee makan gratis lagi nih. Dimana?” kata Yani dengan senyuman lebar.
“Jam empat di kafe dekat taman” jawab Arkana sambil memasang helmetnya.
“Pantas saja, orang kafenya milik sendiri” cibir Qania membuat Arkana tertawa.
“What, jadi pacar kamu ini ownernya. Tapi nggak apalah kan yang penting makan gratis, hahaha” tawa Yani membuat Qania memanyunkan bibirnya.
“Ya sudah, kita pamit ya. Ayo sayang” ucap Arkana membuat pipi Qania merona karena malu dengan panggilan sayang Arkana di depan sahabatnya.
“Pamit dulu ya, sampai ketemu nanti sore” ucap Qania seraya naik ke atas motor Arkana.
“Oke. Hati-hati” jawab Rey dan Yani hampir bersamaan.
Qania dan Arkana pun pergi disusul oleh Yani dan Rey dengan motor mereka masing-masing menuju ke rumah mereka sendiri.
_______________
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments