Qania menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Rasa bahagia sekaligus kesal kepada Arkana yang terus saja menggodanya hingga membuatnya malu. Rasa lengket di badannya membuatnya ingin segera mandi, bagaimana tidak, Arkana membawanya jalan-jalan berjam-jam seolah mereka sedang mengukur jalan namun untung saja Arkana sempat mengajak makan siang, kalau tidak Qania pasti sudah pingsan.
Lima belas menit waktu yang dihabiskan Qania untuk mandi dan mengganti pakaian. Qania terkejut karena Winda kini tengah duduk di atas tempat tidurnya.
“Eh kamu kapan sampai disini Win?” Tanya Qania yang kini tengah duduk di depan meja riasnya sambil menyisir rambutnya yang basah.
“Baru aja kok” jawabnya singkat sambil memainkan ponselnya.
“Ada angin apa yang membawamu kemari, sepertinya aku mencium aroma-aroma tidak enak nih” kata Qania yang kini duduk bersandar di samping Qania.
“Ya ampun Qania, pikirannya suka benar ya, hehehe” tawa Winda yang membuat Qania geleng kepala. “Mama papa lagi keluar kota Qan, jadi nggak mungkinkan aku sendirian di rumah. Jadi boleh nggak nginap disini?” lanjut Winda sambil memasang puppy eyesnya.
“Ooh, ya nggak masalah dong. Boleh-boleh aja” jawab Qania tulus.
“Makasih ya, kamu yang terbaik” puji Winda.
“Kalau ada maunya” timpal Qania.
“Hehehe, kamu Qan. Nggak seperti itu dong. Oh iya hampir lupa, tadi aku kesini di suruh tante buat manggil kamu makan malam” kata Winda sambil menepuk jidatnya.
“Kamu ya, bisa-bisanya soal makan kamu lupa. Nih cacing di perutku sudah pada demo” kata Qania sambil memanyunkan bibir mungilnya.
“Ya udah ayo kita turun dan makan yang banyak” kata Winda sambil bergegas turun dari tempat tidur dan di ikuti oleh Qania.
Keduanya pun berjalan menuju ruang makan. Disana sudah ada mama, papa dan Syaquile adik Qania. Mereka pun duduk dan ikut menyantap makan malam mereka.
Setelah makan malam Qania dan Winda langsung pamit untuk masuk ke kamar. Mereka berdua kini tengah duduk bersandar di atas tempat tidur Qania. Masing–masing dengan urusan dan pikirannya sendiri.
“Qan, kok kamu bisa jadian sih sama Arkana?” Tanya Winda yang sudah lama penasaran.
“Karna dia nembak aku” jawabnya singkat.
“Ya iyalah Qania. Maksud aku itu kok bisa sih kamu kenal dan pacaran sama dia?” terang Winda.
“Oh itu, hmm. Eh kamu ingat nggak waktu itu aku pernah nyuci jacket yang kamu kira itu punya aku dan kamu mau pinjam tapi aku nggak ngasih” Tanya Qania yang kini antusias bercerita.
“Yang limited edition itu? Emang itu punya siapa sih?” Tanya Winda.
“Itu punya Arkana” jawabnya.
“What? Jadi itu punya dia. Kok bisa di kamu?”.
“Ya jadi aku nggak sengaja nemu di bangku bundaran terus karena aku kira nggak ada yang punya yah aku buang ke tanah, eh dia tiba-tiba datang marah-marah nyuruh aku nyuci itu tujuh kali. Besoknya aku balikin ke dia dan dari situ kita mulai kenalan dan mulai akrab” cerita Qania sambil tersenyum.
“Terus kapan jadiannya? Dan kenapa putus?” Winda semakin kepo.
“Ih kepo banget sih kamu” timpal Qania.
“Emang. Please ceritaiin dong Qan” rengek Winda.
“Oke simak baik-baik ya” kata Qania dibalas anggukan oleh Winda.
Flashback on…
“Ini jacket kamu” kata Qania dengan wajah sedikit kesal.
“Duduk dulu dong, oh iya makasih” kata Arkana sambil menarik tangan Qania hingga ia terduduk di sebelah Arkana.
“Kasar banget sih. Aku buru-buru nih, temanku sudah menunggu disana” ucap Qania semakin kesal.
“Ajak saja dia kemari. Hei kamu kemari, duduk disini” teriak Arkana kepada Yani namun yang di panggil enggan untuk mendekat.
“Aku pulang ya” kata Qania dengan lembut.
“Kita belum kenalan” serga Arkana.
“Qania, Qania Salsabila. Panggil saja Qania” kata Qania mengulurkan tangannya yang disambut manis oleh Arkana.
“Arkana Wijaya, panggil saja sayangku” jawab Arkana sambil menjabat tangan Qania.
Qania yang terkejut dengan ucapan Arkana langsung menarik paksa tangannya. Ingin rasanya cepat pergi dari sana.
“Oke Arkana, kita sudah saling mengenal. Bolehkah aku pergi?” Tanya Qania dengan lembut agar tidak berdebat lagi.
“Nomor telepon dan alamat” pinta Arkana.
“Buat apa sih?” Tanya Qania.
“Kambingku jomblo, siapa tahu kamu mau” jawabnya.
Qania makin geram dan langsung berdiri meninggalkan Arkana namun dengan cepat Arkana menghadang jalannya dan mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan ke Qania. Akhirnya karena tidak ingin lebih kesal Qania pun memberikan nomor ponselnya dan berpamitan pulang.
Sudah satu minggu setelah pertemuan itu Arkana tidak pernah menghubunginya, Qania awalnya cuek, namun ada rasa rindu dan penasaran kenapa sampai saat ini Arkana tidak menghubunginya.
Qania yang malam itu tengah sibuk dengan tugasnya mendapat panggilan telepon dari nomor yang tak dikenal.
“Hallo, ini siapa ya?” Tanya Qania hati-hati.
“Aku tunggu kamu di taman dekat rumah kamu ya” kata Arkana
“Tapi aku lagi sibuk dan nggak bis..” belum sempat Qania menyelesaikan kata-katanya panggilan sudah terputus. “Hei apa sih maunya tuh anak arghh” Qania berjalan tergesa dengan perasaan kesal dan tak henti mengumpati Arkana.
Taman yang dimaksud Arkana itu tidak jauh dari rumah Qania, tepatnya satu rumah sebelah kiri dari rumahnya. Tak lama kemudian ia sampai dan masih dengan mode kesal karena melihat Arkana bersama dengan teman-temannya yang semuanya adalah pria tengah asyik tertawa.
“Cepat katakan, aku nggak punya banyak waktu” serga Qania saat sampai di depan Arkana dan teman-temannya.
“Oh jadi ini si Qania itu” ucap teman-temannya berbarengan.
Qania mengangkat satu alisnya dengan kedua tangannya dilipat didepan dadanya. Arkana berdiri dan tersenyum, ia pun mengisyaratkan agar teman-temannya jangan berisik.
“Qania Salsabila, selama ini aku nggak pernah menghubungi kamu, muncul di depanmu, menggangu kamu, namun bukan aku tidak peduli. Setiap hari aku memantaumu, dengan siapa sedang apa dan dimana kamu, aku selalu ada disana memperhatikanmu dari jauh” ucap Arkana dengan canggung.
“Lalu?” potong Qania.
“Hmmm, aku sengaja tidak menghubungimu, bukannya aku cuek, tapi aku ingin mengenalmu sendiri, kebiasaanmu, siapa saja temanmu, dimana kamu, apa yang kamu lakukan” Arkana menggantung ucapannya. “Sial, haruskah segugup ini” umpatnya dalam hati.
“Terus kenapa?” Tanya Qania mulai penasaran.
“Susah juga ya hanya ingin mengatakan aku cinta kamu, maukah menjadi pacarku” teriak Arkana membuat semuanya kaget, termasuk Qania yang paling terkejut hingga matanya terbelalak.
“Hei tuan tidak jelas, apa-apaan ini hah? Tidak kenal, tidak berteman kemudian memintaku menjadi pacarmu. Error kamu ya” timpal Qania yang merasa kesal.
“Hei nona yang tampangnya biasa-biasa saja, aku cinta kamu. Aku mengenalimu dari jauh dan aku tahu tentangmu sangat banyak tanpa ada yang kamu tutupi. Makanya, jadilah pacarku agar kita bisa berteman dan saling mengenal” kata Arka seolah sedang memerintah.
“Benar-benar ya nih orang sudah gila. Kalau aku nggak mau, bagaimana?” tukas Qania.
“Hei bro, hajar gue. Dia nggak mau jadi pacar Arkana Wijaya, jangan berhenti sampai dia mengatakan iya” teriak Arkana yang membuat Qania semakin kesal dan juga terkejut karena mereka tiba-tiba langsung mengeroyok Arkana.
“Hei hentikan, jangan gila kalian” teriak Qania namun mereka seolah tuli dan masih meneruskan aksinya.
Qania kalang kabut, ingin pergi namun tidak tega. Ingin mengatakan iya namun jangankan cinta, suka pun ia tidak. Qania meramas jari-jarinya, menghembuskan napas kasar dan tanpa berpikir panjang ia pun langsung bertindak.
“IYA AKU MAU JADI PACAR ARKANA WIJAYA” teriaknya, sontak mereka langsung menghentikan aksinya dan Arkana terlihat babak belur.
“Terima kasih Qania, aku cinta kamu” kata Arkana yang langsung pingsan.
Qania panic, namun teman-temannya mengatakan bahwa sebaiknya ia pulang, biar mereka yang mengurusnya.
Flashback off…..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
❣️Lyla❣️
semangat thor
2021-11-14
0